
"Mi, Ley pingin sekolah seperti mereka." ungkapku waktu itu, saat mami sedang duduk di teras depan setelah mengantar kak Nathan yang mau berangkat sekolah.
"Iya, mami sudah carikan kamu sekolah." sahutnya.
Ponsel mami berdering, dan itu adalah papi yang sedang menelpon mami dari luar negeri.
"Iya pi, kemarin mami sudah mencoba mendaftar di sekolah reguler, tapi Weslay tidak bisa di sana." ucapnya.
Terdengar ada helaan nafas kecewa dari papi. Aku yang tidak tau apa itu sekolah reguler dan privat aku hanya diam mendengarkan obrolan mami dan papi.
"Ya sudah, jika memang harus di SLB papi tidak apa apa, dari pada tidak sekolah." ucap papi kecewa, sebagai seorang ayah. jika mampu memberi kehidupan yang layak untuk keluarganya, namun ada salah satu anaknya tidak sekolah itu seperti sudah gagal mendidik.
"SLB, apa itu SLB mi?" tanyaku setelah menutup ponselnya
"Itu sekolah untuk anak anak cacat sepertimu." ucapnya dengan gelak tertawa. Aku tidak tau apa yang mami tertawakan. Aku hanya memandang punggung mami yang semakin tidak terlihat
Mami sudah masuk kamar lebih dulu. Dan akupun segera menyusul, aku berhenti ketika mami tertawa di dalam kamar. dengan mengatakan
"Tian, obat itu sebenarnya gi mana sih reaksinya. kenapa Weslay seperti tidak ada masalah lagi." tanyanya. dan aku tidak bisa mendengar apa yang di sampaikan om Tian pada mami.
"Iya aku faham, tapi kan jika Weslay tidak bisa kita buat cacat. kita harus menyingkirkannya, aku tidak mau hidup dengan bayangan kemiskinan itu setiap hari, jika Weslay tetap seperti itu." kata Mami lagi.
"Iya Tian, kakak ngerti. dan kakak sudah memalsukan data Ley dari RSJ. kamu tenang saja. aku akan mengirim dia pada anak anak berkebutuhan khusus yang lebih parah. biar dia semakin tertekan." ucap mami lagi. lalu mami tertawa hingga tersedak saat ku dengar.
Aku mulai bingung, kenapa ibuku sendiri ingin menghancurkan kehidupan anaknya. ibu macam apa wanita yang ada di dalam itu.
"Iya, Weslay harusmenyusul ibunya keneraka." ucap mami lagi, kali ini suara terdengar sangat lirih. namun aku masih bisa mendengarnya.
"Den," tegur bibik Arnetta. yang mampu membuatku langsung Terjengkit. bik Arnetta segera membawaku menjauh dari depan pintu mami. aku hanya diam karena masih shock. sehingga bibik mengira aku kembali kumat seperti 2 tahun yang lalu saat aku histeris.
__ADS_1
"Aden tidak apa apa?" tanya bibik. Aku tak mampu berkata, lalu aku segera meninggalkan bik Arnetta yang masih tertegun dengan sikapku yang tiba tiba berubah.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menjadi pria cacat seperti yang di rencanakan mami. aku pura pura menjadi pria autisme. terkadang aku memilki prilaku layaknya anak kecil. terkadang aku egois dan tidak pernah mau memahami sekitarnya, jika keinynaku tidak di turuti aku akan mengamuk seperti waktu itu.
Hingga aku memasuki usia 23 tahun. mereka tidak ada yang tau jika aku hanya berpura pura. aku berperan begitu sempurna sebagai pria cacat mental.
Hingga suatu hari. bik Arnetta duduk di sebelah ku yang sedang bermain piano.
"Den, sepertinya bibik sudah lelah mengurus den Lay, bibik mau istirahat di rumah saja, menikmati hari tua bersama cucu dan anak." ucap bik Arnetta.
Sontak saja aku menghentikan kegiatanku yang sedang bermain piano. "Jika bibik pergi dari sini. siapa yang akan mengurusku." batinku.
"Tidak, bibik tidak boleh pergi, bibik adalah ibu kedua yang aku miliki saat ini. hanya dia yang bisa menjagaku 24 jam." batinku lagi.
Lagi lagi aku terdiam. sekali aku bicara dengan kalimat yang sempurna. bisa di pastikan penyamaranku langsung di ketahui.
"Aden nanti, ada yang jagain kok. keponakan bibik yang akan mengganti bibik." ucapnya lagi.
Hingga suatu hari, wanita yang bik Arnetta janjikan datang. Aku tidak menyukainya karena gadis itu masih terlalu kecil. apa mungkin dia bisa menjagaku, yang ada aku malah yang menjaganya. itulah yang di benak pikiranku
Gadis itu mendekatiku, mencoba untuk berkenalan denganku. namun aku menolaknya karena aku yakin gadis itu malah akan menyusahkan ku saja. Hingga tibalah waktunya bibik Arnetta harus berhenti bekerja. dan mau tidak mau aku harus menerimanya.
Dan dengan waktu yang bersamaan papi dan mami juga sudah berada di indonesia
Interaksi pertama gadis itu pada papi sangat baik, gadis itu ternyata sangat ceria dan sangat menghibur untukku. Hingga aku mulai nyaman dengan dirinya, begitu juga dengan papi, papi juga sangat menyukai gadis itu.
Akupun mulai biasa dengan dia. hingga papi harus kembali keluar negeri bersama mami dan Nathan.
Sore itu, Chalondra mengajakku bermain busa di halaman belakang. aku mulai tertarik dengan Chalondra, ternyata wanita itu sangat penyayang. wajah cantiknya itu sangat serasi dengan perilakunya. walau kadang ngeselin karena selalu memergokiku sedang melihat video.
__ADS_1
Awalnya aku menodai Chalondra karena penasaran bagaimana rasanya, sebenarnya tidak tega melihat Chalondra ketika menghiba untuk menghentikan kegilaanku, namun karena gairah sudah di ubun ubun dan rasa penasaran yang semakin menggebu, Aku mengabaikan rintihan dan jeritan Chalondra.
Sampai pagi aku menyesal, namun aku tidak boleh terlihat menyesal, yang aku perlihatkan di depan mereka adalah ketakutan, ketakutan jika Chalondra membenciku dan berujung meninggalkanku.
Ahirnya Chalondra memaafkan ku dan kembali baikan. Namun sialnya lagi, aku melihat Chalondra begitu tulus ingin menolongku. di saat kami didalam gudang. Chalondra terlihat tengah mencurigai sesuatu. dan aku yakin dia ingin menyelidiki kematian mamiku.
Dari gerak gerik langkah yang akan Chalondra hadapi membuatku ingin memilki Chalondra seutuhnya. aku menginginkan Chalondra bisa menjadi milikku bagaimana pun caraku mendapatkannya. Hingga aku melakukan lagi dengan menodai Chalondra. Aku pikir Chalondra tidak serius mengancamku. ternyata dugaan salah, Chalondra benar benar meninggalkan ku. disitulah aku mulai menyesal yang begitu dalam. aku mengamuk agar orang orang yang ada didalam rumahku tau. jika aku hancur di tanpa Chalondra
...♡♡♡...
"Tu.. Tuan..." ucap Chalondra terbata. Sangat terkejut ketika tiba tiba kedatangan tamu yang sangat ia hindari.
Terlambat, seandainya Chalondra sudah berangkat dari pagi tadi. Mungkin tidak akan bertemu dengan majikannya.
Landolfo mengangguk, Landolfo datang bersama Gisel,
Tadi malam, Landolfo menghubungi Gisel untuk menemuinya di mensionnya, karena ada sesuatu yang harus ia mintai pendapat.
"Apa kau tidak akan menyuruhku masuk, Londra.?" tanya Landolfo begitu lembut. Yaa pria itu memang tidak pernah terdengar garang. Bahkan di saat marah sekalipun, Landolfo tidak akan berkata kasar dan membentak.
"Sil.. Silahkan tuan." balasnya, Mendengar setiap pria paruh baya itu bertutur, membuat hati Chalondra memciut
"Bagaimana kabarmu?" tanya Landolfo setelah di persilakan duduk di kursi yang tidak seempuk kursi majikannya.
"Baik Tuan." jawabnya
"Londra, kami datang kesini untuk meminta maaf pada atas apa yang Putraku lakukan." ucapnya.
Chalondra masih terdiam menunggu kalimat apalagi yang akan majikannya sampaikan. Chalondra masih menunduk, hingga sang nenek sudah pulang dari pasar.
__ADS_1
"Ada tamu to?" tanya nenek tiba tiba. Chalondra jadi serba salah, awalnya tidak ingin mempertemukan mereka. Karena Chalondra takut, sang nenek tidak bisa mengendalikan emosinya.