
"Bik Arnetta? apa bersama tuan Ando?" batinnya.
"Ran, aku pulang dulu ya." pamitnya.
"Ya sudah kita pulang bersama sama saja." sahut Rania
Mereka pun segera beranjak dari rumput yang mereka duduki. Mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah mereka.
Tak berapa lama, Chalondra sudah sampai di depan rumah. Dan melihat mobil milik tuan Landolfo yang sering membawanya pergi bersama Weslay.
"Selamat sore,." ucap Chalondra setelah berada di ambang pintu.
Arnetta dan pak Budi segera menoleh dan melihat gadis yang sedang mereka datangi.
"Pak Budi, bibik.. Ada apa?" tanyanya
"Chalondra, kenapa kau meninggalkan tuan Weslay.?" tanya bik Arnetta dan pak Budi bersamaan
"Saya, saya..." ucapnya yang belum berani bercerita.
"katakan pada kami Cha, apa yang sudah tuan Weslay lakukan. sehingga kau tega meninggalkan dia. apa kau tau, sekarang tuan Weslay sakit." ucap bik Arnetta
"Sakit? Sakit apa bik?' tanya Chalondra yang terdengar begitu hawatir
"Tuan Weslay menyebut namamu, bahkan dalam keadaan tidak sadarpun hanya berucap minta maaf padamu. Sebenarnya apa yang terjadi?" desak pak Budi
Tiba tiba Chalondra tak bisa membendung air matanya. " Saya tidak akan kembali lagi bik. Saya takut.. Tuan.. Tuan akan melakukan hal yang akan merugikan saya. Saya tidak mau kembali padanya." ucapnya
"Londra, bukankah kau sudah tau jika tuan Weslay tidak mungkin melakukan itu. Tuan Weslay itu cacat Cha, dia tidak mungkin melakukan itu padamu." kata bik Arnetta
"Bibik salah..." ucapnya dengan lirih. Air mata Chalondra benar benar sudah keluar
"Salah, apa yang kamu katakan itu Cha?" tanya bik Arnetta
Namun Chalondra masih terdiam. memandang pak Budi yang sudah jauh jauh datang untuk membawanya kembali pada keluarga Landolfo.
"Jangan bilang.." ucap bik Arnetta yang mulai curiga.
"Iya bik, tuan Weslay sudah menodai saya." ucapnya lirih. Walau sangat lirih ketiga manusia yang ada di depan Chalondra mampu mendengar dengan sangat jelas.
Sang nenek lalu langsung berhambur ke pelukan sang cucu. Nek Iroh sudah menduga, bahwa pasti sudah terjadi sesuatu. Karena kepulangan sang cucu yang mendadak.
Sedangkan bik Arnetta hanya menutup mulut sangking terkejutnya. Pak Budi terdiam dengan menundukkan kepalanya. Tidak bisa di percaya, jika tuan muda mereka yang berstatus penyandang autisme memilki gairah. Mereka pikir Weslay adalah cacat secara biologis juga.
"Kenapa kamu tidak cerita sama nenek, padahal nenek sangat hawatir denganmu." tanya sang nenek
__ADS_1
"Londra tidak ingin nenek terbebani oleh apa yang Londra alami. Maafkan Londra nek." ucapnya.
Setelah itu, Arnetta dan pak Budi tidak bisa memaksa Chalondra untuk kembali ada keluarga Landolfo. Takutnya jika tuan mudanya itu akan melakukan lagi dan malah akan sangat membuat malu keluarga besar mereka.
"Ya sudah pak Budi, sebaiknya kita segera pulang saja. Kita tak bisa memaksa Chalondra untuk kembali." ucap bik Arnetta
"Iya bik," balas pak Budi
♡Di tempat yang berbeda ♡
Landolfo masih menunggu Weslay di rawat. tangannya sibuk mengirim pesan pada seseorang. namun sialnya pesan yang di kirim sejak lagi belum di buka. dan di telpon tidak di angkat oleh si pemilik nomer
Tuuttt...
Tuuttt
Landolfo putus asa, di saat genting seperti ini sang istri malah tidak bisa di hubungi. "Irena, kau kemana sihh.. kenapa tidak mengangkat ponselnya." gumam.Landolfo.
"Bagaimana dokter?" tanya Landolfo hawatir
"Sepertinya panasnya sudah mulai turun. Dan saya harapkan, sebaiknya pertemukan pasien dengan pemilik nama yang selalu di sebut." ucapnya
"Baik dokter, terimakasih." ucap Landolfo
Seandainya masih ada istrinya, sudah pasti Landolfo tidak akan sepabik ini.. namun kini.. dirinya hanya sendiri tidak ada yang menghibur ataupun mengajak ngobrol.
Landolfo memejamkan matanya sebentar untuk mengurangi rasa pening karena kurang istirahat.
"Tuan, sebaiknya tuam istirahat di rumah saja. biar saya yang menjaga tuan Ley." ucap bik Sam.
"Apa pak Budi sudah sampai, bik?" tanya Landolfo seraya menegakkan badannya.
"Belum tuan," jawabnya.
"Tuan, ini makan malam untuk tuan." ucap bik Sam
"Teeima kasih bik, saya mau pulang dulu saja. saya akan istirahat sebentar. " ucapnya. lalu segera menekan kontak yang ada di layar telpon.
"Hallo Gis, kirim Refan untuk menjemput saya di rumah sakit." titah Landolfo pada Gisel. wamita cantik yang berusia sekitar 30 th
"Baik Tuan." jawabnya dari balik layar.
"Bik, saya titip Ley ya. jika sudah bangun segera hubungi saya." ucapnya. Bik Sam pun mengangguk
Landolfo segera keluar dari kamar rawat Weslay. setelah itu segera berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.
__ADS_1
Tak berapa lama, mobil yang Di minta Landolfo datang. "Kemana Refan?" tanya nya
"Refan sedang ada pekerjaan tuan." jawab Gisel
Landolfo segera masuk setelah Gisel membukakan pintunya. Setelah itu Gisel pun segera masuk dari pintu samping. Gisel melirik Landolfo yang sepertinya sangat kelelahan. "Tuan muda bagaimana tuan?" tanya Gisel
"Sepertinya putraku sudah memilki perasaan pada lawan jenisnya Gis." balasnya
"Maksud tuan.?" tanya Gisel, Gisel memang belum tau keadaan Weslay. karena tadi waktu di perjalanan Landolfo hanya cerita sedikit tentang putranya. hanya mengatakan jika putranya sedang tidak baik baik saja.
Hhh.. Landolfo menghela nafas untuk melonggarkan sedikit rasa sesak yang ada di dadanya. lalu mulai bercerita jika putra nya mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan.
Landolfo bercerita secara detail dari usianya yang masih dalam kandungan dan ketika sang istri meninggal.
"Jadi, nyonya Irena bukanlah ibu kandung tuan Weslay?" tanya Gisel sedikit terkejut.
Landolfo mengangguk, mengiyakan pertanyaan Gisel
"Apa sudah pernah di bawa kerumah sakit, untuk pemeriksaan lebih lanjut tentang semua yang menimpa tuan, Weslay?" tanyanya
"Beruntung sekali saya memilki istri seperti Irena, Irena tidak pernah malu dengan keadaan Weslay, dia juga yang selalu membawa Weslay kedokter." ucapnya.
"Nyonya Irena sangat menyayangi tuan Weslay." ucap Gisel
"Hehemm." balasnya
"Tuan ini sudah sampai. Saya langsung kembali apartemen saja." ucapnya.
"Terima Gis, hati hati di jalan." pesannya.
"Terima kasih tuan." balasnya
Landolfo segera memasuki rumahnya, dan melihat mobil yang Di pakai oleh pak Budi sudah ada di halaman.
Landolfo segera masuk dengan penuh semangat. Berharap Chalondra juga ikut bersama pak Budi.
"Pak Budi, di mana Londra." ucap Landolfo seraya mencari keberadaan Chalondra
"Tuan, mohon maaf, saya tidak berhasil membawa Chalondra kesini." ucapnya
"Ada apa? Kenapa dia tidak mau? Apa karena bayarannya kurang?" tanya Landolfo dengan suara yang sedikit meninggi
"Bukan tuan, tapi Chalondra takut. Tuan muda akan kembali menodainya." ingin sekali pak Budi berkata seperti itu. Namum yakin jika tuannya murka dan Chalondra sudah mengada ada.
"Sebaiknya tuan istirahat sebentar, nanti saya ceritakan" ucapnya
__ADS_1
"Ceritakan sekarang pak Budi, saya paling tidak suka menunda nunda sesuatu yang rahasia." ujar Landolfo mulai emosi
"Tuan, Tuan muda sudah menodai Chalondra. "