guruku, imam ku

guruku, imam ku
26


__ADS_3

tiara terbangun dan melihat ke sekeliling, disana ada mamah yang sedang duduk di sampingnya.


" kamu sudah sadar sayang.. " kata mamah sambil mengelus rambut tiara


" mah aku bermimpi buruk, aku bermimpi kak fian udah gak ada dan papah membawa jenazahnya ke rumah ini mah.. " jelas tiara


" sayang kamu harus sabar ya, ini bukan mimpi fian memang sudah tidak bersama - sama dengan kita lagi.. " mamah pun mulai menangis


" mamah pasti bohongkan mah.. mamah gak bisa bohongin aku kaya gini.. " tiara pun mulai menangis


mamah berdiri dan mulai memeluk erat tubuh tiara.


" kita harus ikhlas sayang "


" aku ingin melihat kak fian " tiara langsung bangun dan berlari kebawah dia tidak memperdulikan keadaannya yang sedang hamil


sesampainya di depan jenazah fian tiara diam mematung.


papah yang melihat kedatangan tiara langsung menghampiri tiara dan memeluk menantunya itu.


tiara melepaskan pelukan papah dan berjalan ke arah jenazah itu, di pegangnya kain yang menutupi tubuh fian.


dia tidak merasakan perasaan ketika dirinya dan fian bersentuhan


" pah.. papah yakin ini kakak fian ? "


" sayang ini memang fian suami kamu anak papah "


" tapi pah... " belum sempat tiara menyelesaikan perkataannya papah sudah membawa tiara ke kamar papah.


mamah yang melihat kepergian suami dan menantunyan pun segera menyusul mereka masuk ke dalam kamar.


sesampainya di dalam kamar papah memberikan sebuah tas dan tiara menerimanya.


tiara mulai membuka isi tas itu dan ternyata itu adalah barang - barang milik alfian.

__ADS_1


" mereka menemukan ini di samping orang itu dan keadaannya yang sudah rusak sangat sulit untuk di kenali hanya ini bukti papah bisa mengenali dia.. " kata papah sambil menyerahkan sesuatu milik alfian


" mereka menemukan ini di dalam kantong celananya "


tiara mengambil barang yang di berikan papah, tiara memperhatikan sebuah sapu tangan yang ada sulaman namanya disana.


tiara ingat betul dengan sulaman itu karena dia yang menyulamnya untuk alfian, dan semua saputangan alfian tiara sulam.


tiara terjatuh kelantai dia mulai menangis, dia mengelus perutnya yang sudah agak membesar.


bagai mana nasib anaknya sekarang, bahkan fian meninggalkan mereka sebelum anak ini lahir.


mamah memeluk tubuh tiara mereka kini saling menguatkan.


pemakaman alfian berjalan dengan lancar para pelayat satu persatu meninggalkan pemakaman tapi tidak dengan keluarga alfian.


mereka masih setia menemani alfian di tempat peristirahatan terakhirnya.


mamah dan tiara saling berpelukan mereka menangis karena harus kehilangan orang yang mereka sayang dengan cara yang tragis.


karena hari sudah sore mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.


tiara duduk di atas sofa sambil memegang foto alfian di usap dan di ciumnya foto itu.


" kakak kenapa kamu ninggalin aku secepat ini..? apa kamu tidak ingin melihat anak kita lahir dan tumbuh besar.. kenapa tuhan tidak pernah adil dengan ku, dulu kedua orang tua ku kau ambil kini orang yang menjadi sandaran ku pun kau ambil.. " tiara terus saja menangis


dia memeluk foto alfian, dia berharap ini hanya mimpi buruk dan setelah dia terbangun dia akan melihat alfian di sampingnya.


tiara segera naik ke atas tempat tidur tidak lupa foto alfian dia bawa dan di peluknya. dia pun mulai memejamkan matanya, dia berharap besok saat dia bangun tidur alfian sudah ada di sampingnya sedang memeluk dirinya.


pagi pun datang tiara terbangun dan melihat kesamping dimana alfian biasa tertidur, tapi harapan tiara tidak menjadi kenyataan.


tiara pun mulai menangis lagi, dia merasakan sesak di dadanya, tiara mengelus bantal yang biasa alfian pakai untuk tidur.


di peluknya bantal itu, disana masih ada bau khas milik alfian dan tiara benar - benar merindukan laki - laki itu.

__ADS_1


tidak lama tiara mendengar pintu di ketuk


tok.. tok.. tok..


" sayang kamu sudah bangun nak.. ? mamah masuk ya "


tidak lama pintu terbuka dan tiara dapat melihat mamah membawa nampan berisi susu dan sepiring makanan.


mamah meletakan nampan itu di samping tempat tidur tiara


" sayang kamu sarapan dulu ya, dari kemarin pagi kamu belum makan apa pun, kamu juga harus memperhatikan kandungan kamu nak.. " pinta mamah


tiara melihat mamah, benar kata mamah dia harus kuat demi anak yang ada di dalam kandungannya.


tiara tidak ingin kehilangan anak ini juga,


" tiara mau cuci muka dulu mah.. " tiara pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi


tidak lama tiara sudah kembali lagi dia memakan nasi goreng yang di bawa mamah,


dia berusaha mengunyah serta menelan nasi itu.


sangat sulit menelannya seolah - olah tiara sedang memakan sebuah karet, tiara mulai meneteskan air matanya.


" sayang kita harus ikhlas biar fian juga tenang disana, dan kita juga harus melanjutkan hidup kita... kamu, mamah dan papah kita akan sama - sama membesarkan anak kalian ya.. " kata mamah sambil mengelus perut tiara


tiara hanya menganggukan kepalanya sebagau jawaban, di hapusnya air mata yang terus saja keluar dari matanya.


dia harus kuat demi anak dan mertuanya, kini cuma mereka yang dia miliki.


tiara memeluk tubuh mamah dengan sangat erat, terasa sangat nyaman dan menenangkan sama seperti pelukan ibunya dulu.


" terima kasih mah.. tiara beruntung memiliki kalian semua.. " kata tiara di dalam pelukan mamah


" kami juga sangat beruntung memiliki kamu di samping kami sayang.."

__ADS_1


setelah melepaskan pelukan mereka pun sama - sama tersenyum, mamah meminta tiara melanjutkan sarapannya dan tiara pun melakukannya.


walaupun sulit tapi tiara berusaha untuk menghabiskan makanan itu.


__ADS_2