
Iri dan dengki akan membuatmu semakin terluka ketika melihat seseorang dapat dengan mudah memiliki sesuatu yang bahkan ia tidak menginginkan sesuatu itu menjadi miliknya , sedangkan kamu yang sudah berusaha keras hanya mendapatkan hasil yang nihil.
---------------------------
Pagi hari.
"Huhuhuuu... " Seseorang menangis dengan keras.
"Siapa yang sudah mencuri kamera ku? " Lanjutnya seraya meraung-raung.
Banyak yang mulai mendatanginya, beberapa senior juga sudah ada yang berkumpul untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Ada apa ini? " Rayhan bertanya dengan tegas. Sebentar lagi upacara penutupan ospek akan dilaksanakan, bukannya bersiap malah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Dasar bocah. Cih. Ini akan menjadi poin minus dari para dekan kalau membiarkan dia membuat drama sekarang". Bisik Rayhan dalam hati.
" Jena. Apa yang kau tangisi? " Tanya senior Ani.
"Kamera ku hilang kak. Padahal semalam sudah aku simpan di dalam tas". Jelas Jena dengan suara tangisnya. Ia mengeraskan suara agar semuanya dapat mendengar bahwa seseorang telah mencuri barang berharga.
Sungguh tidak bermoral pencuri ini. Dalam benak masing-masing yang mendengar Jena.
" Aku yakin. Ada seseorang yang tidak menyukai ku disini. Makanya dia mencuri kamera ku".
"Kameraku itu sebenarnya tidak mahal. Tapi itu hadiah dari kakek ku yang sudah meninggal". Lirih Jena. Dia akan membuat semua orang memihak padanya. Sehingga tidak akan ada yang membela orang yang akan dituduh mencuri nanti.
" Mampus kau. Rasakan itu. Aku tidak sabar melihat kau dipermalukan di depan banyak orang". Gumam Jena di dalam hati. Berbeda dengan ekspresi nya yang terlihat menyedihkan. Justru ia sedang membayangkan keberhasilan dari rencana busuknya.
"An. Kumpulkan saja semuanya di lapangan. Sebelum kita memulai upacara, semua tas harus digeledah". Johan si ketua BEM.
" Ya kak".
Sesaat kemudian semua mahasiswa baru tak terkecuali para panitia yang hadir sejak kemarin sudah dikumpulkan di lapangan.
"Baiklah selamat pagi semuanya. Mohon persiapkan tas kalian di hadapan masing-masing". Rayhan
" Karena ada laporan kehilangan. Jadi sebelum upacara ini dilakukan, semua yang hadir harus digeledah". Lanjutnya.
"Saya sangat kecewa. Dengan pendidikan yang akan kita tempuh selanjutnya, mengapa masih ada sikap tidak bermoral yang kalian lakukan. Jadi sebelum malu karena ketahuan mencuri. Sebaiknya siapapun orang itu, silahkan mengakui perbuatan kalian. Tidak ada yang akan mengolok kalian nanti. Apakah ada yang mau mengaku? " Lanjut Rayhan memberikan kesempatan mengaku secara pribadi agar perbuatan mencuri si pelaku tidak menjadi momok selama masa kuliah nanti.
"Saya hitung sampai sepuluh jika tetap tidak ada yang mengaku. Dengan sangat terpaksa , kalian harus rela digeledah".
Sudah hitungan ke delapan masih saja tidak ada yang mengaku. Ini merepotkan.
Satu per satu tas mulai digeledah. Diantara begitu banyak nya mahasiswa tidak ditemukan kamera Jena berada di dalam salah satu tas siapa pun.
" Gawat. Lalu dimana kamera ku. Rencana ini tidak boleh gagal. Bisa malu aku sama kak Rayhan". Hati Jena mulai gelisah.
__ADS_1
"Bagaimana Jena? Kamu sudah melihat tidak ada yang mencuri kameramu". Tanya Rayhan.
" Jangan-jangan cuma ngarang lagi" Teriak Evi.
Huuuuuuu mahasiswa lain ikut menyoraki Jena.
"Tapi kak Rayhan. Kamera ku benar-benar hilang"
"Tolong bantu aku kak". Jena memohon sekali lagi.
Sebenarnya Rayhan sudah curiga sedari awal melihat Jena menangis.
Karena semalam saat dia sedang melakukan patroli di sekitar tenda putri, Rayhan melihat Jena keluar dari tenda tim Loly.
Sebaiknya ikuti saja permainan Jena.
"Periksa semua tenda" Perintah Rayhan pada panitia.
Setengah jam kemudian masih dinyatakan kamera tidak ditemukan dimana pun.
Jena yang semula pura-pura sedih dan gelisah karena kehilangan kamera, menjadi gelisah betulan.
Ia tidak ingin kehilangan kameranya.
Evi dan Dona meninggalkan barisan lalu maju ke depan barisan.
Jena yang merasa frustasi karena rencana nya tidak berhasil. Langsung meneriaki mereka.
Huh. Dasar miss drama.
"Apa benar kalian yang telah mencuri kamera Jena? " Tanya Rayhan dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukan kak. Kami hanya mau menunjukkan sebuah rekaman kejadian pencurian kamera". Dona.
Deg. Bagaikan ikan kepanasan. Keringat Jena bercucuran. Tangannya mulai dingin. Matanya bergerak ke kanan dan kiri.
Jena merasa sangat gugup.
" Sial. Bukannya semalam sudah tidur semua. Kenapa mereka bisa punya rekaman sih". Rutuk Jena. "Tidak bisa dibiarkan. Aku harus menghapus rekaman yang mereka bawa, sebelum dilihat oleh kak Rayhan". Lanjutnya.
"Maaf kak. Bolehkah Jena lihat lebih dulu? ". Jena bertanya dengan nada gemetar.
Evi sangat menikmati respon Jena ini.
Ia tersenyum miring. Cih. Mau menyakiti sahabatku?. Tidak akan ku biarkan rencana mu berhasil.
" Emm. Bagaimana kalau kita lihat bersama saja?. Iya kan Vi?" Dona.
__ADS_1
"Iya kak. Agar rasa penasaran teman-teman segera dipastikan. Hitung-hitung menebus kekesalan kami yang jam pulangnya sudah tertunda karena kejadian konyol ini". Pinta Evi dengan wajah polosnya.
Sepertinya Rayhan mulai mengerti. Sebenarnya Jena tidak benar-benar kehilangan kamera. Dia hanya sedang ingin mempermalukan seseorang. Tapi sekarang justru ia yang akan dibuat malu.
" Benar-benar bocah". Kesal Rayhan.
Setelah semua tenda dibubarkan. Semua mahasiswa diminta untuk berkumpul di gedung olahraga lebih dulu. Di sana dilengkapi dengan layar proyektor yang lumayan lebar. Sehingga dapat dilihat oleh orang banyak dengan sangat jelas.
Setelah dipastikan semuanya siap.
Rekaman dinyalakan.
Terlihat seseorang memasuki tenda dengan sangat pelan. Seperti pencuri.
Di dalam rekaman terlihat orang yang memasuki tenda tadi memasukkan sebuah benda yang diyakini adalah kamera Jena yang hilang.
Memang video rekaman tidak menunjukkan dengan jelas siapa orang itu. Tetapi dilihat dari pakaian yang digunakan. Itu adalah pakaian yang Jena gunakan.
"Bukankah itu Jena sendiri? " Celetuk teman tenda Jena.
"Sial. Kenapa bisa ketahuan sih? " Jena merasa sangat kesal.
Kasak kusuk mulai terdengar. Semua mengiyakan bahwa satu-satunya yang terlihat hanya Jena.
"Aku melihat Jena sendiri yang memasukkan kamera ini ke dalam tas Loly kak. " Adu Evi dengan melirik jutek ke arah Jena.
Mendengar itu. Loly merasa syok.
"Kenapa Jena melakukan ini? Aku bahkan tidak tahu Jena juga akan kuliah disini".
Akhirnya selesai sudah permasalahan pagi ini.
Huuft..
Upacara pembubaran ospek sudah selesai.
Peserta juga sudah dibubarkan.
Jena mendapatkan hukuman dengan pengurangan poin dari dekan.
Ia akan ditandai oleh seluruh mahasiswa.
Apalah-apalah squad pulang dengan perasaan bahagia.
Selamat Jena. Hadiah tahun ajaran baru yang kamu dapatkan sungguh indah. Batin Loly.
Ia memutuskan untuk tidak lagi kasihan terhadap Jena. Ia sadar. Jena sudah sering melakukan ini sejak dulu. Tetapi Loly selalu memaafkan.
__ADS_1
Sekarang ia tidak akan memaafkan Jena dengan mudah.
Jangan mengusikku lagi Jena. Kita sudah bukan siapa-siapa. Selain kamu adalah parasit yang mengganggu. Loly.