
"Pak tolong udangnya yang besar 1 kilo ya. "
Akhirnya pilihan Loly jatuh pada udang yang berukuran besar.
Dia berniat memasak udang dengan bumbu asam manis. Membayangkannya saja, lidahnya sudah hampir berair. Pasti sangat lezat.
Setelah membayar udang, Loly meraih belanjaan yang sebelumnya berada di tangan mertuanya.
"Biar Loly yang bawa belanjaan nya ma. "
"Mama masih kuat kok. " mama Joan menolak. Namun tetap saja Loly memaksa.
Barang bawaan sudah berada di tangan Loly. Hanya sayur-sayuran ditambah udang yang baru dibelinya.
Loly dan mama Joan berjalan mengelilingi pasar. Memilah dan melihat apalagi yang hendak dibeli.
Mata Loly berbinar cerah ketika melihat di ujung sana ada penjual jajanan leker dengan aneka rasa.
"Mama mau leker, gak? "
"Loly mau beli? "
"Mau ma. Masih ada yang mau mama brli lagi gak setelah ini? "
"Sepertinya tidak ada yang mau mama beli lagi. "
"Ya sudah Loly mau beli leker dulu ya. Yuk. "
Kedua mertua dan menantu kini sedang mengantri untuk membeli leker.
"Bang, mau leker pisang cokelat dua sama strawberry marshmellow dua ya. "
"Mama mau rasa yang lain lagi? "
Mama mertua Loly hanya menggelengkan kepalanya.
Kemudian loly menyudahi pesanannya.
Mama Joan dan Loly menunggu pesanannya yang sedang dibuatkan oleh abang leker.
Sesekali Loly melirik tidak sabar ke arah tempat memasak leker.
Mama Joan hanya menanggapinya dengan tersenyum.
...****************...
Misi rahasia yang tengah diperjuangkan oleh Joan sudah mendekati 80% keberhasilan.
Saat ini ia tengah berunding dengan rekan satu tim untuk membuat beberapa strategi. Hal ini bertujuan apabila strategi pertama tidak berhasil, maka misi akan tetap berjalan dengan strategi yang lain.
Kesepakatan sudah tercapai.
"Kita makan dulu. Setelah ini lanjutkan misi. "
"Siap, kapten. "
Waktu yang diberikan kepada tim Joan ini tidak banyak. Namun Joan berusaha menyelesaikannya dalam waktu sesingkat mungkin.
Wajah tegas itu kini sedang sangat serius bahkan saat mengunyah makanannya.
Keamanannya dan juga tim harus tetap terjaga apapun yang terjadi.
Dia tidak ingin kehilangan rekannya lagi, seperti yang sebelumnya.
Makanan sudah habis.
"Siapkan senjata. Tetap waspada dan jangan sampai kecolongan. "
"Siap, kapten. " semua dengan serentak menjawab perintah Joan.
Joan berjalan seraya memeriksa persiapan untuk misi akhir.
Mengecek persediaan senjata juga amunisinya.
"Lapor, kapten. Jebakan untuk musuh sudah siap. "
"Semua bersiap. Kita akan menyerang sesuai rencana. "
"Laksanakan kapten. "
Semua tampak bersiap dengan cepat. Saling memeriksa rompi sesama rekan. Sebentar lagi misi untuk menyelamatkan anggota PBB yang menjadi sandera mafia harus segera diselesaikan.
__ADS_1
Tiba di tempat penyandera. Pasukan Joan dengan gerakan lincah segera merapat.
Joan memasuki gedung tua itu dengan hati-hati.
Sreeet.
Satu penjaga telah dilumpuhkan.
Joan dan yang lain kembali berjalan memasuki gedung lebih ke dalam lagi.
Sandera sudah ditemukan.
Namun penjagaan sangat ketat.
Dan di depan sandera tampak sang ketua mafia duduk dengan menikmati minumannya.
Dia tidak tahu pasukan Joan berhasil melumpuhkan penjaga depan.
Dorrr
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar. Sang mafia sedikit terkejut. Namun juga segera kembali ke tingkat waspada.
Mafia berusaha menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. Namun nahas. Dari pintu belakang ia harus berhadapan dengan Joan.
Aksi saling baku tembak tidak terelakkan lagi.
Dari arah belakang lebih banyak anggota mafia yang tiba. Joan harus bersembunyi.
"Lapor sandera sudah aman. "
"Segera keluar dari ruangan. "
Dua pasukan Joan bergerak keluar untuk mengamankan sandera.
Namun Joan dan beberapa pasukan lagi melawan mafia dan anggotanya.
Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah memaksa memasuki gedung dan sang ketua mafia berhasil kabur.
Anggota mafia yang lain pun mengikuti bosnya.
Masih dengan baku tembak.
Setelah memastikan semua pasukannya lengkap. Semuanya masuk ke dalam heli bersama sandera.
Namun Joan dan satu rekannya tidak muat. Karena tempatnya sudah ditempati oleh sandera yang mereka selamatkan.
"Kalian berangkatlah dulu. Aku dan dia akan menunggu heli kedua menjemput. Mereka sudah dalam perjalanan. "
"Tapi kapten.. "
"Tidak apa. Berangkatlah. "
Heli pun segera mengudara sesuai perintah.
Saat heli sudah mulai lebih tinggi dan menjauh.
Doorrr..
Dua tembakan melesat tepat mengenai lengan Joan dan rekannya.
Dari atas, dalam heli. Semua pasukan meraung ingin menyelamatkan Joan namun heli sudah terlanjur tinggi dan sandera harus segera mendapatkan penanganan khusus.
Dalam bayangan, Joan hanya melihat senyum Loly. Loly tersenyum lembut, dan sikap malu-malu Loly saat Joan menggodanya.
"Loly.. "
Hanya itu yang lolos terucap dari bibirnya sebelum akhirnya Joan menutup mata.
...****************...
Malam ini Loly tampak sangat resah. Hatinya dilanda kegundahan yang tidak bisa dia jelaskan.
Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu Joan.
Loly yang sudah sangat merindukan suaminya itu menghambur ke pelukan Joan.
Namun lama kelamaan tubuh Joan menjadi tidak tersentuh.
Kabur menjadi bayangan.
Loly segera terbangun. Jantung nya berdebar hebat. Dalam kegelisahan itu dia menangis.
__ADS_1
Mengkhawatirkan sesuatu yang tidak-tidak terjadi pada Joan.
Bergegas ia mengambil air wudhu. Mungkin karena ketiduran dan belum melaksanakan sholat isya. Hingga ia mengalami mimpi aneh seperti itu.
Setelah melaksanakan kewajibannya. Dia berdoa memohon perlindungan dan keselamatan untuk Joan.
Namun saat menyebut nama Joan. Hati Loly bagai teriris. Sangat sakit. Air mata Loly berjatuhan dengan cepat. Saat diusapnya air mata itu kembali menetes lagi
"Ya Allah. Ada apa ini? Mengapa hatiku begitu sakit?
Lindungilah suami hamba Ya Allah. Hamba tidak sanggup tanpa dirinya. Kembalikan suami hamba dalam keadaan selamat. "
Loly pun mengakhiri ritual berdoanya.
Ingin kembali tidur namun sangat sulit untuk kembali memejamkan matanya.
Loly meraih ponselnya dari atas meja. Melihat isi galeri.
Dalam sana dia melihat kembali foto-foto kebersamaannya bersama Joan.
Namun ada gelenyar aneh yang menghinggapi hati Loly. Dia menjadi kalut dan tidak bisa mengontrol dirinya.
"Apa begini sakitnya merasakan rindu? "
Loly mengelus wajah Joan yang memeluknya di dalam foto.
"Bagaimana kabarmu di sana kak? Loly sangat rindu. "
...****************...
Pagi hari Loly tampak bersiap akan pergi ke kampus.
Akhir-akhir ini dia sering izin tidak masuk kelas, karena LF corp.
Saat sedang mematut dirinya di depan cermin. Loly dikejutkan dengan panggilan mamanya yang mengatakan ada utusan dari atasan Joan.
Dadanya bergemuruh hebat.
"Tidak mungkin. Kak Joan pasti baik-baik saja. Dia pasti hanya sedang bersiap memberikan kejutan untukku. "
Sebelum pergi bertugas, Joan memang berkata dia akan membawakan kejutan yang hebat saat pulang.
Tapi kejutan apa ini?
Dengan langkah tergesa, Loly segera menghampiri utusan itu.
Loly segera mendudukkan dirinya di sofa.
Lalu terheran melihat utusan itu malah berdiri lalu membungkukkan badannya.
"Kami turut berduka cita atas kepergian kapten Joan. "
Duaarrrr
Bagai disambar halilintar.
Badan Loly gemetar seketika.
"Tidak mungkin. "
Air mata Loly luruh berjatuhan seraya menerima surat terakhir dari Joan.
Tangannya sangat gemetar hingga tidak sanggup memegang dengan benar, suratnya terjatuh ke lantai.
Utusan itu mengucapkan bela sungkawa nya lagi lalu berpamitan untuk kembali.
Kepergian utusan itu meninggalkan luka yang sangat dalam.
Bagaimana ini?
Apa yang harus Loly katakan pada mama Joan?
Apa yang harus Loly lakukan tanpa Joan?
Membayangkannya saja dia tidak sanggup.
Akhirnya Loly jatuh pingsan di pelukan mama Fika.
Mama Fika merasakan kesedihan yang sama dengan Loly.
Melihat putri kesayangannya yang baru saja merasakan indahnya rumah tangga. Sekarang sudah harus merasa kehilangan.
__ADS_1