Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Bahagia Ditengah Duka


__ADS_3

Setelah seminggu mengurung diri dalam persembunyian, hari ini Loly memutuskan untuk kembali menghadapi kerasnya hidup.


Hidup ini akan semakin keras. Mengingat status janda muda yang disandang oleh Loly.


Banyak yang mulai menggunjingkan hal ini. Orang-orang sekitar komplek, emak-emak. Mereka khawatir para suaminya akan mengalihkan perhatiannya pada janda muda satu ini.


Seperti yang banyak orang tahu. Dengan paras yang mampu menawan siapa saja yang melihatnya. Siapa yang tidak akan tergoda oleh pesona seorang Loly.


Bahkan Mario saja pernah mengatakan rela menunggu jandanya Loly. Padahal saat itu dia tidak bermaksud mendoakan hal buruk pada Loly. Tapi kenyataan kini menampar kesadarannya. "Setiap perkataan akan menjadi doa, karena kita tidak tahu. Pada kalimat mana malaikat mencatat dan mengaminkan ucapan kita. Maka berhati-hatilah dalam berucap. Sebaiknya katakan hal-hal yang baik saja."


Kemarin sore, Mario menerima kabar dari teman-temannya bahwa suami Loly yang gagah dan tampan itu telah gugur saat bertugas. Hati Mario turut berduka, meski sedikit terselip harapan semoga Loly dapat segera melupakan almarhum suaminya. Sehingga dia bisa mendekati dan masuk ke kehidupan Loly lebih jauh.


Pagi ini, Mario yang seharusnya datang ke kampus pukul sepuluh untuk mengumpulkan tugas skripsinya, sudah tiba di kampus sejak pukul tujuh.


Dia ingin menemui Loly. Dia masih belum memiliki cukup keberanian untuk bertandang ke rumah gadis pujaannya yang kini sudah menjadi single woman lagi. Janda sih, tapi kalau jandanya sekelas Loly ya siapa yang berani nolak?


Sedari tiba Mario sudah menduduki kursi di dalam pos satpam. Menemani satpam yang sedang bertugas. Saat ditanya Mario hanya menjawab menunggu kedatangan dewi yang turun dari kayangan. Akhirnya pak satpam hanya menggelengkan kepala dengan tingkah absurd Mario, lalu membiarkannya menempati tempat dinasnya yang berupa sepetak ruangan yanag terletak di depan gerbang itu.


Tepat pukul delapan, Loly menjejakkan kakinya di gerbang kampus. Hari ini dia pergi dengan menumpang taksi online yang dipesankan oleh mama Fika.


Begitu melihat sosok Loly sudah menampakkan wujudnya, Mario bergegas menggerakkan dirinya mendatangi Loly.


Mario berhenti tepat di hadapan Loly yang terkesiap dengan kedatangan Mario yang tiba-tiba entah dari mana asalnya.


"Loly.."


Suara Mario sedikit lirih, tidak seperti biasanya yang selalu menunjukkan semangatnya saat berhadapan dengan wanita yang satu ini.


Sejenak Mario dan Loly terlibat adu pandang yang terbilang hampir tidak pernah terjadi di antaranya keduanya.


Sorot Loly yang lemah mengatakan. Tolong jangan ganggu aku. Aku ingin dengan tenang menjalani sisa hariku. Maaf, tolong hapuskan perasaanmu padaku.


Selama ini, Loly bukan tidak menyadari pendekatan Mario. Dia hanya tidak ingin terlibat perasaan yang nantinya akan mengganggu konsentrasinya dalam mengejar karir dan prestasi dalam pendidikan. Seperti saat ini. Loly yang goyah karena kehilangan belahan jiwanya. Ini yang sangat ia takutkan ketika harus memutuskan untuk membuka hatinya untuk orang lain.


Namun dalam sorot mata Mario yang biasanya tajam itu, terlihat sedikit redup. Ya meski tidak bisa dipungkiri adanya binar mata bahagia karena bisa berjumpa dengan Loly.


Tapi dalam hati Mario yang paling dalam, ia merasa terluka. Melihat pujaan hatinya terlihat hancur seperti ini membuatnya seakan ingin menjungkir balikkan dunia.


Tangan Mario mengepal kuat hingga terlihat memutih. Ingin menggapai Loly namun ia tahu batasannya. Dia tidak seberani itu.


"Aku turut berduka atas gugurnya suamimu. Semoga hatimu tabah ya."


Lirih Mario.

__ADS_1


Air mata yang sedari tadi ditahannya untuk tidak keluar itu kini tampak menggenang memenuhi pelupuk mata. Hingga membuatnya harus menundukkan pandangan agar tidak terlihat oleh siapapun seang menangis.


Ia tidak boleh lemah.


Loly mengusap pelan matanya. Mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya untuk menenangkan hati. Dan berhasil.


Setelah sedikit tenang, Loly kembali menegakkan kepalanya.


Menampakkan senyum lembutnya yang terpaksa.


"Terima kasih kak. "


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Bohong kalau Loly bilang baik-baik saja. Terima kasih doanya kak. Loly ke kelas dulu."


Kepergian Loly dari hadapan Mario meninggalkan sesak yang tidak pernah Mario rasakan sebelumnya.


Mario memang sangat mencintai Loly. Makanya ia rela melepas Loly untuk menikah dengan Joan.


Seandainya saja dia bisa melihat masa depan. Dia tidak akan membiarkan Loly menerima pinangan Joan.


Mario akan bersikap egois dengan menghalalkan segala cara untuk menjadikan Loly sebagai miliknya. Meratukan Loly dalam hidupnya. Dan membuat bahagia Loly nya. Nyatanya, Mario adalah manusia biasa yang tidak bisa apa-apa untuk mencegah kesedihan Loly.


...****************...


Kabar gugurnya Joan sebagai suami Loly kini menyeruak hingga ke sudut kampus.


Bagaimana tidak. Sebagai mahasiswa baru yang cukup populer, apapun mengenai dirinya selalu saja menghebohkan.


Belum selesai patah hati dan keterkejutan para mahasiswa karena pernikahan Loly. Kini kembali dikejutkan dengan kabar duka yang menimpa mahasiswa baru yang cantik mempesona itu.


Mereka pun terlibat dilema. Antara harus bahagia atau sedih. Ingin sedih tapi bukan keluarga yang meninggal. Ingin bahagia karena Loly yang sudah tidak memiliki ikatan dengan siapapun, tapi juga tidak bisa mereka lakukan. Tidak etis jika harus berbahagia ditengah penderitaan orang lain.


Kabar Loly yang ditinggal suaminya itu kini telah sampai di telinga Jena.


Terbesit sedikit iba namun segera berganti dengan raut dan rasa bahagia.


Sedari tadi Jena tidak berhenti menampakkan senyum manis di bibir tebalnya.


Ternyata aku tidak perlu bertindak lebih jauh untuk membuatmu hancur Loly. Tuhan sedang membantuku.


Jena merasa sangat bahagia dan bersyukur atas meninggalnya Joan. Berkat itu kini Jena bisa menikmati kesedihan Loly.

__ADS_1


Jahat sekali wanita ini. Pengen ku cekik rasanya.(othor gregetan sama Jena gengs. Kalian gimana?)


Tanpa menunggu lebih lama, Jena segera memberi kabar pada mamanya. Berita ini harus segera tersampaikan. Tidak boleh ditunda nanti-nanti.


"*Halo ma, Jena punya kabar yang sangat bagus."


"Kabar apa sayang? Kenapa sepertinya kamu sangat bahagia sekali?"


"Oh my God.. Jena tidak tahu harus berkata apa, ma*? "


Jena cekikikan sendiri dengan menempelkan telepon di telinganya. Membuat mahasiswa yang melewatinya menatap heran.


"*Memangnya ada apa, Je?"


"Mama tahu tidak, di kampus sekarang ini lagi heboh tahu?"


"Aduh Jena, sudah deh. Jangan muter-muter terus. Mama sedang sibuk ini. Sebentar lagi harus syuting. Memangnya di kampus kamu heboh karena apa? Hingga membuat kamu sebahagia ini.?"


"Dengarkan Jena ya ma. Tadi Jena dengar dari anak-anak kampus lain. Katanya suaminya Loly sudah meninggal seminggu yang lalu ma. "


"What?? Kamu tidak bercanda kan sayang?"


"Tidak ma. Ya sudah itu saja yang mau Jena katakan. Byee*."


Telepon berakhir secara sepihak.


...****************...


Erika merasakan hal yang sama seperti Jena. Bahagia ditengah kabar duka yang menimpa Loly.


Tuhan memang sedang baik padaku. Erika.


Tunggu sebentar lagi Loly. Kamu akan lebih hancur lagi dari ini.


Jangan bersedih terlalu dalam. Aku ingin menambahi kesedihan kalian juga.


Lalu Erika tertawa dengan kerasnya tanpa memperdulikan dimana ia berada saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gimana gengs?


Othor kok mewek ya tiap nulis bab kepergian Joan.

__ADS_1


Tapi tunggu episode selanjutnya yaa. Akan ada kejutan yang membuat Loly kembali tersenyum bahagia tanpa ragu.


__ADS_2