
Sehari telah berlalu dari saat malam Joan melamar Loly di rumah Loly.
Sebenarnya Loly sudah sangat ingin mengutarakan jawaban yang ia punya.
Tapi biarlah kak Joan menunggu dulu. Lagian di hati Loly juga masih ada beberapa hal yang cukup mengganjal.
Setelah mata kuliah terakhir. Loly memutuskan untuk mampir ke kedai bakso favoritnya. Bakso lava beranak.
Setelah membungkus tiga porsi bakso lava beranak. Ia bergegas pulang.
Agar saat sampai di rumah. Bakso bisa ia nikmati dalam keadaan hangat. Bersama mama Fika juga mbak Eni.
"Assalamu'alaikum.
Mama, mbak Eni. Makan bakso yuk. Loly bawa bakso lava loh. "
Mendengar suara Loly, mbak Eni sedikit panik.
Pasalnya mama Fika belum juga kembali dari bekerja di rumah catering yang tak jauh dari rumah.
Mbak Eni pun segera ke depan menyambut Loly dengan ponsel yang ia genggam.
"Mama mana mbak? "
Loly tak begitu memperhatikan mbak Eni. Sehingga ia tidak tahu kalau mbak Eni sedang panik.
"Eh anu neng. Ibu lagi keluar sebentar tadi. "
"Keluar kemana mbak En? "
"Saya gak tahu neng. Tadi cuma pamit keluar sebentar. "
Aduh, maafkan saya ya neng Loly. Saya terpaksa berbohong agar neng Loly tidak tahu kalau ibu bekerja di luar.
"Ya sudah. Kalau begitu tolong disiapkan ya baksonya. Loly mau bersih-bersih dulu.
Lengket nih. "
"Baik neng. "
Seperginya Loly dari hadapan nya. Mbak Eni mencoba menghubungi mama Fika.
Tidak bisa di telepon akhirnya mbak Eni mengirim pesan saja.
Maaf ibu. Mbak Loly sudah sampai rumah. Kalau ibu sudah selesai tolong segera pulang ya. Terkirim.
Semoga ibu Fika segera membuka pesanku. Mbak Eni.
Tak lama kemudian. Nampak mama Fika memasuki rumah.
Dengan sedikit tergesa, mama Fika menuju kamarnya dan segera mandi.
Berganti pakaian rumahan. Daster favorit pemberian Loly.
Mama Fika berjalan santai menuju meja makan. Melihat adanya bakso. Mama Fika bersuara.
"Mbak Eni beli bakso ya? "
Mbak Eni yang sedang di dapur membuat minuman jeruk hangat pun menyahut.
"Bukan bu, itu neng Loly yang membelinya. "
Mbak Eni yang mendapat kedipan mata dari mama Fika pun paham. Majikannya ingin bersandiwara.
"Oh Loly sudah pulang?
Mana dia mbak? ".
" Masih mandi mungkin bu. "
Loly sudah selesai membersihkan badan dan sudah berganti pakaian juga.
Ia berjalan menuju meja makan. Bersiap untuk menyantap bakso lava beranak bertiga bersama mama dan mbak Eni.
Mereka bertiga makan dengan diselipi obrolan dan candaan.
"Mama tadi dari mana? " tanya Loly tiba-tiba.
"Ah mama tadi ingin berjalan-jalan sebentar. Sudah lama mama tidak menikmati udara sore di komplek ini. "
"Oh. Lain kali jangan sendirian ya ma. Tunggu Loly atau ajak mbak Eni, biar mama ada yang menemani. "
"Iya sayang.
__ADS_1
Loly sudah menjawab lamaran Joan? "
"Belum ma, Loly masih sedikit bimbang dengan masa depan Loly nanti jika menikah saat masih kuliah. "
"Apa yang membuat Loly bimbang nak?
Sepertinya Joan itu lelaki baik. Dia pasti mendukungmu. "
"Loly takut putus kuliah di tengah jalan ma. "
Loly menundukkan kepala nya ke bawah.
"Mengenai itu, sebaiknya kamu bicarakan saja dengan Joan. Agar hatimu menjadi yakin untuk menerima nya atau tidak. "
"Jangan terlalu lama menjawab lamaran orang nak. Tidak baik membuat orang lain menunggu. "
Setelah mendengar nasihat mama nya. Loly bermaksud untuk mendiskusikan tentang masa depannya bersama Joan.
Lalu mengambil keputusan menerima atau tidak. Sesuai nasihat dari mama Fika.
Setelah melaksanakan sholat isya. Loly meneguhkan hatinya untuk memanggil Joan melalui ponselnya.
"Assalamu'alaikum kak. Bolehkah Loly meminta waktu kak Joan sebentar? "
Loly akan sangat berhati-hati dalam pembicaraan kali ini. Ini menyangkut proses kehidupan selanjutnya.
"Wa'alaikumsalam Loly. Kebetulan aku sedang santai.
Ada apa? Apakah Loly sudah memiliki jawaban dari lamaran ku tempo hari? "
"Alhamdulillah. Sebenarnya ada beberapa hal yang mengganjal di hati Loly kak.
Loly ingin berdiskusi mengenai itu. "
"Jadi apa yang mengganjal hatimu?
Apakah mengenai pendidikan dan karir Loly? "
Tepat sekali tebakan Joan. Dia lelaki dewasa. Tentu saja memiliki wawasan yang luas. Sebagai tentara instingnya pun kuat.
"Iya kak. Loly tidak ingin putus kuliah setelah menikah. Loly juga memiliki tanggung jawab besar suatu saat nanti. "
"Kalau soal kuliah, Loly masih bisa melanjutkannya sampai S2 sekalipun. Insyaallah aku akan mengusahakan untuk itu.
Joan berpikir sebesar apa tanggung jawab Loly itu. Ia hanya menebak soal tanggung jawab rumah tangga dan mengurus anak-anak mereka nanti.
"Benarkah itu kak? Syukurlah kalau kakak tidak keberatan dengan pendidikan Loly.
Jadi sebenarnya Loly itu pewaris perusahaan kakek. Apakah kakak tidak keberatan jika suatu saat Loly harus terjun ke dunia bisnis.
Sedangkan urusan rumah tangga juga sama pentingnya. "
Joan sedikit terkejut dengan penuturan Loly. Selama ini Loly dan keluarganya bergaya sangat sederhana.
Ia tidak mengira jika wanita yang ia persunting adalah calon pemilik perusahaan ternama di kota ini.
"Mengenai tanggung jawab besar yang akan Loly emban. Apakah tidak ada seseorang yang bisa mewakilinya nanti?
Saudara mungkin? "
"Loly anak tunggal kak. Dan kakek tidak ingin perusahaan ini jatuh ke tangan papa dan istri barunya. "
"Baiklah kalau begitu. Loly bisa mengambil tanggung jawab itu. Tetapi dengan syarat harus bisa membagi waktu untuk keluarga ya. Jika ada proyek luar kota kamu tidak boleh berangkat tanpa teman. Kalau bisa diwakilkan saja. "
"Apa itu artinya kak Joan tidak keberatan dengan keinginan Loly? "
"Iya, aku tidak keberatan. Kita bisa menyesuaikannya nanti. "
"Bismillah, kalau begitu Loly menerima lamaran kak Joan. "
Deg Joan yang tidak siap dengan jawaban Loly yang tiba-tiba itu meloncat-loncat kegirangan.
Dasar bujang lapuk. Seperti ABG sedang kasmaran saja.
"Benarkah itu Loly?
Kamu tidak bisa menarik jawaban itu lagi ya. "
Seru Joan dengan senyum lebarnya.
"Iya kak. Loly juga tidak berniat untuk menarik jawaban itu kembali. "
"Alhamdulillah. Sebaiknya Loly segera persiapkan berkas-berkasnya ya.
__ADS_1
Kita ajukan permohonan izin kawin ke kantor. "
"Mengenai isi berkasnya biar ku kirim melalui pesan saja,
Agar lebih jelas. "
"Baik kak. Loly tunggu. "
Di rumah Joan.
"Hei, kamu sedang apa?
Teriak-teriak, loncat-loncat seperti ABG habis jadian saja. "
Seru mama Joan.
"Biar saja. Memang habis jadian. "
Joan masih dengan euforia nya.
"Dasar ABG tua. "
"Ma, Joan bukan ABG tua ya. ABG ganteng ini. " hahaha
"Astaga jejaka mama. Ada apa? "
Mama Joan sudah mulai jengkel dengan tingkah absurd putranya.
"Loly menerima lamaran ku ma.
Aku diterima. " Joan berteriak lagi.
"Hei malu sama umur. Jangan teriak-teriak lagi. Kedengaran tetangga nanti. "
Joan berlari ke arah mama nya lalu memeluk sayang.
"Akhirnya mama akan punya menantu ya ma. "
Dengan lembut mama juga mengusap lengan putra nya.
"Alhamdulillah, semoga urusan kalian nanti dimudahkan ya nak.
Kamu sudah mau menikah. Kurangi keras kepala nya. "
" Baik ibunda ratu. Hamba siap melaksanakan perintah. "
Beberapa saat kemudian surat permohonan izin kawin sudah terbit.
Lelah setelah menjalani berbagai tes pun terbayar sudah.
Kini tinggal meresmikan pernikahan secara agama dan negara.
Joan sudah mengajukan cuti menikah.
Persiapan sudah dilaksanakan 60%.
Semuanya diserahkan pada WO.
Jadi Loly juga Joan tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mempersiapkan sendiri.
Hari ini mereka akan melaksanakan fitting baju akad san resepsi di sebuah butik ternama.
Awalnya Loly memilih baju sewa saja. Tetapi Joan bersikeras untuk membeli saja. Agar memiliki kenang-kenangan di masa mendatang.
Sesampainya di butik.
Setelah memberitahukan kedatangannya yang sudah reservasi sebelumnya.
Loly dan Joan dipersilahkan ke ruang tunggu.
Tak lama kemudian datang lah seseorang yang akan melayani mereka.
Loly tengah berganti pakaian untuk mencoba kebaya putih yang nantinya akan digunakan saat akad pernikahan.
Sangat pas dan Loly juga menyukainya.
Untuk meyakinkan kembali Loly membuka tirai dan menunjukkan pada Joan.
Yang dikira sudah selesai oleh Joan ternyata malah menunjukkan dirinya dengan memakai kebaya putih.
Joan dibuat melongo tak berkedip.
Hingga pelayan butik yang sedang membantu Loly pun tertawa.
__ADS_1