Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Loly Siuman


__ADS_3

Menjelang subuh Joan masih belum bisa memejamkan matanya. Ia berusaha memikirkan kemungkinan apa dan siapakah dalang di balik penyerangan ini. Ia menoleh ke sampingnya, Mama Fika nampak terkantuk di kursi tunggu depan ruang rawat Loly.


"Aku tidak akan membiarkan mereka menghirup udara dengan bebas setelah membuat istriku terbaring di dalam sana." Joan merasa bersalah karena tidak mampu mencegah Loly tertembak.


Akan pergi ke kantin untuk membeli minuman penghangat badan. Joan sempat melirik ke dalam ruangan. Ternyata Loly telah membuka mata.


Tanpa menunggu lama, Joan mengarahkan kakinya menuju istrinya. Loly sudah siuman. Artinya ia telah selamat dari masa kritis.


Srek. Joan menarik kursi di samping brankar dan mendudukkan diri.


"Terima kasih sudah sadar." Joan meraih tangan Loly lalu menciumnya berulang. Betapa bahagia dan lega kini perasaannya.


Alhamdulillah. Joan sangat bersyukur atas keselamatan istrinya.


Loly tersenyum lemah menanggapi suaminya. Akibat kehilangan banyak darah, ia menjadi lemas. Ditambah baru saja terbangun dari masa kritis.


"Haus.." bibir pucat Loly berucap berusaha memberitahu Joan bahwa ia butuh minum.


"Sebentar kita harus panggil dokter dulu. Aku takut kamu masih belum boleh minum."


Loly mengangguk setuju.


Joan melepas genggaman tangan pada Loly lalu meraih dan menekan tombol darurat. Semoga dokter segera datang.


Tak berselang lama. Dokter berjalan tergesa memasuki ruang rawat Loly bersama seorang suster di belakangnya.


Sesampainya di dekat Loly sang dokter tersenyum lega. "Syukurlah ibu sudah siuman. Selamat datang kembali."


Loly hanya tersenyum menanggapi. Lalu dengan tangan lemahnya menyentuh ujung jari Joan.


Hingga Joan mengalihkan pandangannya ke arah Loly. Ia tersadar jika istrinya sedang haus.


"Apakah sudah bisa makan dan minum seperti biasanya dokter?"


"Sudah. Beruntung luka tembak hanya di bahu, sehingga tidak mempengaruhi apa yang bisa dimakan atau minum oleh bu Loly."


Karena sudah diizinkan, Joan mengambil air putih dalam gelas dari atas nakas di samping brankar.


Menaikkan tempat tidur menjadi posisi sedikit duduk sehingga mempermudah Loly untuk meminum air.


Dokter sudah keluar dari ruangan setelah pamit. Bertepatan dengan bangunnya mama Fika dari tidurnya.

__ADS_1


Mendapati sang dokter dari ruangan Loly, mama Fika bertanya-tanya. Apakah sesuatu terjadi kepada Loly? Ia khawatir karena setelah operasi tadi dokter mengatakan bahwa Loly kritis.


"Dokter, apakah Loly baik-baik saja?"


Dokter tersenyum lembut. Sangat menenangkan. "Ibu Loly baik-baik saja. Bahkan sudah sadar."


"Benarkah?" mama Fika menengok k belakang, jendela besar itu memudahkan mama Fika untuk melihat Loly dari tempatnya.


"Alhamdulillah." mama Fika merasa lega. Putrinya masih diberikan kesempatan untuk kembali bersamanya.


"Baiklah ibu, kami permisi dulu."


"Silahkan dokter."


Setelah kepergian dokter dari hadapannya, mama Fika segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ia tidak sabar untuk melihat Loly lebih dekat lagi.


"Anak mama.." mama Fika mendekati Loly dengan senyum lembutnya. Tanpa sadar air mata kembali meleleh membasahi pipi.


Sementara Joan menyisih untuk memberikan mama Fika ruang di dekat Loly.


Mama Fika sudah berada di samping Loly. Duduk manis dengan raut bahagia di kursi samping brankar yang diduduki oleh Joan tadi.


Tangan mama Fika terulur meraih wajah putri semata wayangnya. Membelai sayang permukaan wajah Loly. Dengan mata berkaca mama Fika mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya. Syukurlah masih bisa menyaksikan senyum Loly. Alhamdulillah putrinya selamat.


Tak kalah, Loly memandang haru mamanya. Tak menduga reaksi ini sama sekali. Ia tahu mama Fika pasti menyayanginya tapi sebesar inikah? Memang kasih ibu tiada duanya.


"Loly pasti kembali ma.." lirih Loly, tak lupa senyum ia sematkan untuk mama Fika.


...****************...


Braaakkkk.


"Kau! Bagaimana bisa lalai Chan?"


"Maafkan saya tuan muda. Saya tidak tahu kalau mereka akan berbuat nekat."


"Saya tidak mau tahu. Cepat cari pelakunya. Berani sekali melukai Loly ku."


Tuan muda Rayhan terlihat murka ketika mendapatkan sebuah kabar yang sangat mengejutkan. Diluar dugaan, seseorang mencoba melukai Loly dan berhasil meninggalkan luka tembak pada bahunya.


"**** ! " Loly pasti sangat kesakitan. Astaga ! Bagaimana Chan bisa lengah tidak menempatkan perlindungan di sekitarnya.

__ADS_1


Baru saja menumpahkan amarah. Namun ditengah-tengah ponsel Chan berbunyi. Tuan muda Rayhan memberikan kesempatan pada Chan untuk mengangkat telepon. Barangkali akan ada kabar baik mengenai kondisi terbaru Loly setelah di rumah sakit.


"Apa?" Tapi kenapa Chan menunjukkan reaksi terkejut dan takut? Apa yang sedang terjadi? Apakah berhubungan dengan Loly? Apakah Loly terluka parah akibat tembakan itu? Ada apa sebenarnya. Jantung tuan muda Rayhan berpacu dengan kencang. Gejolak dalam pikiran dan hatinya yang tidka seimbang membuatnya semakin ingin murka pada orang kepercayaannya itu.


Bukan salah Chan sebenarnya. Karena Chan juga tidak akan bertindak tanpa perintah. Tetapi ini berbeda. Seakan nafasnya tercabut. Mendengar Loly terluka mengapa begitu menyakitkan dan sesak.


Dengan mata yang membuka lebar menantikan Chan menyelesaikan sambungan telepon dari lawannya.


"Emm. Tu.. Tuan.. Maafkan saya. Nona Loly.." Ah Chan sungguh berat menyampaikan berita ini. Ia sudah merasa ngeri dengan kemarahan tuan mudanya. Mendengar Loly tertembak saja sudah semarah tadi. Apalagi kalau..


"Katakan !"


Sungguh Chan ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi terdalam. Dengan menguatkan diri. Chan menghela nafas besar melihat ketidak sabaran tuan muda.


"Nona Loly kritis tuan."


Bahkan Chan tidak ingin melihat bagaimana raut tuan muda Rayhan saat ini. Ia langsung menunduk begitu kalimat itu ia sampaikan.


"Brengsek. Temukan dia. Beri dia hukuman yang setimpal."


"Baik tuan. Tetapi suami dari nona Loly sudah menyerahkan urusan ini kepada polisi. Apakah tuan masih ingin saya mencarinya?"


Ini tidak mudah. Kalau saja Joan suami Loly tidak menyerahkan kasus ini ke pihak kepolisian, justru akan mempermudah Rayhan untuk menangkap dan menghukumnya sesuai kemauan dan sepuas hati demi membalaskan luka Loly.


"Temukan dan tangkap dia. Aku akan bermain sedikit lalu serahkan ke polisi setelahnya."


"Baik tuan."


Chan sedikit membungkuk memberikan hormat untuk tuannya kemudian pergi melaksanakan perintah. Menangkap seseorang yang telah melukai Loly.


Lain Loly dan Joan, lain pula Rayhan. Juga lain dengan seseorang yang kini tengah tersenyum manis. Meski gagal mencuri berkas perusahaan dari Loly. Namun mendengar jika orang suruhannya berhasil memberikan hadiah untuk Loly tentu saja ia merasa senang.


Selama ini susah payah mencelakai Loly. Seperti ada yang melindunginya.


"Selamat menikmati hadiah dariku Loly. Kau tidak akan pernah ku biarkan hidup dengan tenang."


Menurutnya, enak saja Loly bisa berlimpahan harta, menikmati hasil dari LF Corp yang akan ia raih sebentar lagi.


Gara-gara Loly semuanya gagal. Juga gara-gara wasiat lelaki tua itu.


"Huh. Untung saja sudah ku lenyapkan dia. Ha ha ha."

__ADS_1


Dasar iblis. Mendahului kuasa Tuhan. Seenaknya saja mengambil paksa nyawa sesama manusia. Hanya demi harta.


__ADS_2