
Pagi hari, Joan dan Loly tampak berjalan beriringan di halaman depan rumah. Menikmati udara berembun. Sejuk.
Loly dan Joan memutuskan untuk tidak berbulan madu lebih dulu. Mengingat petuah Jawa. Kalau belum melewati tujuh hari dari hari pernikahan atau biasa disebut sepasar, bisa juga disebut pendak pasar. Pengantin baru tidak boleh keluar jauh dari rumah.
Seperti yang dilakukan oleh Loly dan Joan sekarang. Mereka tengah mematuhi petuah itu. Hanya menikmati masa pengantin baru di pagi hari ini dengan berjalan dan menikmati udara sejuk di halaman depan rumah.
"Kamu gak apa-apa kita tidak berbulan madu? " Joan memastikan sekali lagi pada Loly.
"Gak apa-apa kak. Lagian juga kita masih belum diperbolehkan kemana-kemana. Pun Loly masih berhalangan. Sayang waktunya terbuang. " tutur Loly.
Mendengar itu Joan pun tersenyum.
Loly baru menyadari perkataannya. Loly menunduk sambil menahan malunya. Bisa-bisanya membahas soal tamu bulanannya.Tapi kan benar. Jika berhalangan ngapain pergi bulan madu?
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Saatnya sarapan. Baru Loly akan mengajak Joan memasuki rumah. Mbak sudah memanggilnya lebih dulu.
"Neng Loly. Waktunya sarapan. Ibu sudah menunggu di meja. "
"Iya mbak Eni. Kita kesana sekarang. "
Loly masih merasa sedikit malu. Tapi itu lucu bagi Joan.
"Ayo sarapan dulu kak. "
"Iya sayang. "
BLUSH.
Pipi Loly merona seketika. Padahal berulang kali Joan sudah menyematkan panggilan sayang saat berbicara.
Namun baru kali ini Loly mendengarnya secara jelas. Jelas saja membuat Loly salah tingkah.
Joan pun berhenti di depan pintu. Karena Loly masih tertinggal di belakangnya.
"Hei, katanya mau sarapan? Ayo. " Ajak Joan.
Mendengat ajakan Joan, Loly mulai terketuk kesadarannya.
"Ah, iya kak. "
Joan dan Loly sudah memasuki rumah. Berjalan menuju dapur lalu mencuci tangannya di wastafel.
Setelahnya berjalan ke arah meja tempat semua makanan disajikan. Di Sana sudah terlihat mama Fika menunggu dengan senyum manisnya.
"Duh pengantin baru mama. " Goda mama Fika.
"Mama ih. " Balas Loly.
Mama Fika mulai mengambil makanan untuk dirinya. Lalu memerintahkan Loly mengambilkan makanan untuk suaminya, Joan.
"Loly, ambilkan Joan lebih dulu ya. "
"Loly ma? "
"Lah iya dong. Masa mbak Eni. Kamu kan istrinya. Jadi kamu yang harus melayani suamimu. Mengambilkan makanan untuknya dan menyiapkan segala keperluannya. "
Merasa dibicarakan Joan pun mengangkat suara.
"Joan bisa ambil sendiri kok ma. "
__ADS_1
"Tidak Joan, Biarkan Loly belajar menjadi istri yang baik ya. " terangnya.
Joan hanya mengangguk.
"Iya iya. Nih Loly ambilkan kok."
Loly mengangkat piring dari depan Joan. Lalu mengisinya dengan nasi goreng dan telur ceplok. Dengan acar mentimun sebagai pelengkapnya.
"Silahkan kak. " Serahnya pada Joan dengan senyum manis.
"Terima kasih, kamu juga segera makan ya. "
"Siap komandan. " Jawab Loly.
Dan itu membuat Joan serta mama Fika tertawa.
Loly mengambil makanan untuknya lalu memulai berdoa bersama yang dipimpin oleh Joan sebagai lelaki di rumah ini.
Sarapan dimulai dan diselipi dengan candaan ringan sebagai bentuk pengakraban diri antara mertua bersama menantunya.
Menanyakan tugasnya sebagai tentara dan dinasnya biasanya dimana. Namun sesuai perjanjian bersama negara. Tidak ada yang boleh mengetahui tugasnya selain sang pemberi tugas, rekan satu tim dan istrinya.
Joan hanya mengaku sebagai tentara biasa dan meminta maaf karena tidak mengadakan pesta pedang pora saat pernikahannya bersama Loly berlangsung.
Loly yang mengerti itu pun menimpali.
"Loly takut suara pedang juga ma. Jadi tidak menggunakan pesta pedang pora. "
Sarapan pagi pun sudah usai.
Baik piring Loly, Joan maupun mama Fika bersih tanpa sisa walau hanya satu butir nasi.
Joan menunggu Loly menjawab. Karena apapun yang akan diminta Loly pasti akan diiyakan olehnya.
"Emm. Sepertinya Loly mau mengerjakan tugas kuliah Loly saja ma. Biar tidak masuk tapi Loly tidak ingin absen tugas. Sayang kalau nilainya berkurang. "
"Ya sudah. Nak Joan, mama tinggal dulu ya."
"Loh mama mau kemana? " tanya Loly.
"Mama mau menata gudang. Banyak beras, gula sama sembako lainnya pemberian tetangga saat pernikahan kalian kemarin. Biar lebih rapi. "
"Mau Joan bantu ma? " Joan menawarkan diri untuk membantu sang mertua.
Namun sayang hal itu ditolak oleh mama Fika.
"Tidak usah, mama sudah dibantu mbak Eni kok. Kamu temani saja Loly mengerjakan tugasnya. "
Mama Fika sudah meninggalkan meja makan.
Loly pun mengumpulkan piring kotor lalu meletakkannya di tempat cuci piring. Saat akan mencucinya mbak Eni melarang.
Akhirnya Loly dan Joan menuju ke kamar Loly.
Loly sudah menduduki meja belajarnya. Sedang Joan duduk bersandar di ranjang.
"Kak, Loly mengerjakan tugas dulu ya. "
"Iya, kamu selesaikan saja tugas kuliah mu. "
__ADS_1
Loly sudah fokus dengan tugasnya. Mengerjakan dengan teliti. Kali ini tugas individu. Kalau tugas berkelompok sudah selesai dan bahkan Loly tidak ikut mengerjakannya. Beruntung ia masih mendapatkan nilai. Karena teman satu kelompok Loly mengerti, bahwa kemarin-kemarin Loly masih disibukkan dengan persiapan pernikahannya.
Joan sedang asik dengan gawainya. Memainkan sebuah game yang sangat seru. Disukai berbagai umat tentunya.
Sesekali menengok ke arah Loly.
Tiba-tiba terdapat panggilan masuk ke ponsel Joan. Dengan segera Joan menekan tombol hijau dan menggesernya ke atas.
"Halo ma, assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam anak mama. Loly mana? "
Tut tut tut.
Ternyata mama mengalihkan panggilan ke mode panggilan video.
Joan tersenyum mendapatinya.
"Tuh menantu mama. Lagi ngerjain tugas kuliah. "
"Aduh menantu mama satu ini rajin sekali. "
Samar-samar Loly mendengar suara, lalu menoleh ke arah Joan. Hendak mencari tahu dengan siapa ia berbicara. Dan mendapati bahwa bersama mertuanya lah Joan bertukar suara.
Mengetahui bahwa mertuanya yang menelepon, Loly sejenak menghentikan aktivitasnya lalu ikut bergabung bersama Joan.
"Hai ma, maaf tadi Loly sedang mengerjakan tugas kuliah. Tenggat waktunya besok. Jadi harus segera selesai. "
"Iya nak, kamu lanjutkan saja mengerjakan tugasnya. Mama cuma ingin tahu saja kalian sedang apa. Oh ya, kalian kapan kesini? "
"Mungkin hari ke tujuh ma. " Bukan Loly yang menjawab, melainkan Joan.
Loly hanya memperhatikan pembicaraan kedua ibu dan anak itu.
Setelah berbincang dengan suami dan mertuanya. Loly kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya yang tertunda tadi.
Dua jam kemudian.
"Alhamdulillah selesai. "
Loly melirik jam yang menempel pada dinding kamarnya.
"Astaghfirullah, sudah dua jam aku meninggalkan kan Joan sendiri. "
Lalu menengok ke arah suaminya.
"Dia tertidur. "
Lalu Loly berjalan ke arah suaminya. Melihat lebih dekat wajah tenang suaminya saat tertidur.
"Tampan sekali suami ku ini. " Lirih Loly.
Joan yang baru saja memejamkan mata dapat mendengar itu. Namun karena diserang rasa kantuk, ia merasa berat membuka matanya.
Diam-diam.
Cuup. Loly mencium kening suaminya.
Saat hendak menjauh ia terkejut oleh tarikan kuat suaminya.
__ADS_1
Bruk. Loly terjatuh di pangkuan Joan.