Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
SAH


__ADS_3

Tiba juga hari yang sangat dinantikan oleh semua orang.


Pagi hari menjelang akad.


Miss drama, Reni dan Dona. Mereka tiba lebih dulu dan sekarang berada di kamar tempat Loly sedang dirias.


"Kok nikahnya mendadak sih Ly.


Kamu gak hamil duluan kan. "


PLAK


Tanpa sungkan Reni melesatkan pukulan ringan ke lengan Dona.


"Aduh. Apa sih Ren. Aku ini bertanya pada Loly. "


Reni melirik ke arah MUA, meminta maaf atas ucapan serampangan Dona.


Yang ditanya pun hanya diam dan tersenyum.


Teman-temannya ini konyol sekali. Pacaran saja tidak pernah. Kok bisa hamil.


"Reni, Dona. Maaf ya kalau mendadak. Ini juga bukan kemauanku.


Aku sudah bertemu dengan takdirku. "


"Ah senangnya. Ku harap takdir itu juga segera datang padaku. "


"Huss. kalau kamu menikah juga. Terus aku sama siapa Ren.? "


"Noh sama Vero. "


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Yang disebut muncul juga ke permukaan.


Vero dan yang lainnya pun tiba di rumah Loly. Untuk menyaksikan hari bersejarah bagi sahabat tercintanya ini.


Primadona apalah-apalah squad.


Melihat Dona yang menahan senyum dengan wajah memerah tomat. Reni akhirnya menengok ke arah belakangnya.


Ternyata ada orangnya ya.


Erin pun tak ingin ketinggalan. Ia hadir dengan bergandengan tangan sama Deni.


Sedang kesengsem dengan lelaki yang ia anggap sebagai pangerannya. Pun dibuat potek kratak-kratak.


"Maaf, boleh aku berbicara dengan Loly sebentar? "


Bak dikomando. Semua melipir terkecuali para MUA dan hijab stylist yang masih berkutat dengan tugasnya.


Lekas Reni menyahut tangan Dona untuk bergegas keluar ruang make up.


"Mau bicara apa Vero? "


Bagi Vero. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Apalagi menyangkut rasa pertama yang tak seharusnya tumbuh.


"Loly, maafkan atas tindakan bodohku ini. "


Loly yang hanya tersenyum canggung itu belum mampu mengurai. Hendak apa yang berusaha Vero sampaikan.

__ADS_1


Senyum yang sungguh mampu meluluh lantakkan dinding hati Vero. Baru pertama ia dibuat takluk.


"Loly. Maaf. Aku mencintaimu. "


Senyum canggung itupun surut akan pernyataan yang sedikit mengguncang kesadarannya.


"Vero. Kamu tahu? "


Dengan menundukkan pandangannya. Loly harus mengaskan bahwa ini seharusnya tidaklah terjadi.


"Aku sangat berterima kasih dengan perasaanmu padaku.


Aku juga harus meminta maaf padamu. Tapi alangkah lebih baiknya kamu ganti perasaan itu pada orang yang juga mencintaimu? "


Sontak Vero meluruskan pada Loly.


Ia mengutarakan bahwa dia menyampaikan perasaannya bukanlah untuk mendapat pembalasan yang sama. Ia hanya tidak menginginkan penyesalan suatu saat nanti.


Pembicaraan mereka pun usai dengan adanya Dona memasuki ruangan. Ia menyembunyikan patah hatinya demi berjalannya dengan baik pernikahan sahabatnya.


Loly menghela nafas panjang setelah kepergian Vero. Dalam hatinya. Berdo'a semoga kelak Vero dipertemukan dengan jodoh yang dapat melupakan dirinya.


Kita berteman Vero. Cukup itu saja di antara kita.


Dikabarkan Joan dan rombongan sudah memasuki halaman rumah.


Loly, si pengantin wanita ini justru dibuat gelisah. Sebentar lagi aku bukan wanita lajang.


Apakah papa akan menghadiri pernikahanku? Kalau tidak..


TOK TOK TOK


Mengingat mantan suaminya, mama Fika pun meneteskan air mata.


Mengetahui mama nya meneteskan air mata di hari bahagianya. Loly bangkit dari duduknya. Dengan penampilan yang sungguh menarik siapapun yang melihatnya.


Dengan menggenggam kedua tangan yang sudah mulai timbul keriput.


"Kenapa mama menangis? Apakah mama tidak bahagia dengan pernikahan Loly? "


Mama Fika berusaha menghentikan tangisnya dan kini tengah memandangi potret Loly dengan lebih intens lagi.


"Maafkan mama gagal membawa papa mu untuk menjadi wali nikah nak. Hari ini terpaksa kamu diwalikan oleh pihak lain. "


Tes


Tanpa permisi, air mata Loly runtuh. Dalam hatinya ia sungguh sangat tersakiti. Betapa tidak.


Papa nya itu. Telah mangkir dari tanggung jawab terakhirnya. Menyerahkan Loly ke tangan suaminya.


Apa memang benar papa tidak menginginkan menjadi wali nikah Loly? Atau papa ingin tetapi dicegah oleh keluarga barunya?


Dalam benak Loly timbul berbagai macam pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh papa nya saja.


Memandangi mama nya lagi. Loly berusaha tegar. Biarlah papa hanya menjadi masa lalu nya saja.


"Ma, kalau memang papa tidak mau ya sudah. Loly tidak apa-apa. Suatu saat papa akan sadar dan menyesali keputusannya karena telah melepas tanggung jawab nya ini. "


Teman-teman Loly yang berada di ruangan yang sama. Mereka pun tak terelak dari tangis. Bahkan Dona dan Reni sudah menghabiskan hampir separuh box tisu.

__ADS_1


Jika menjadi Loly, mereka tidak akan sanggup setegar itu.


Tangan mama gemetar dibuatnya. Anak mama sayang. Semoga setelah pernikahanmu nanti. Semuanya berjalan dengan baik.


"Apakah kak Joan sudah tiba? " tanya Loly pada mamanya. Mengalihkan pembahasan tentang papa.


"Mereka baru tiba. Saat ini akad sudah akan berlangsung. "


Mengelus puncak Loly.


"Nanti dia akan menjemputmu kemari.


Mama tinggal dulu ya sayang. "


Menilik ke arah teman-teman wanita Loly.


"Tante titip Loly sebentar ya. "


Dengan serempak mereka menjawab "Baik tante. "


Bah, sedang paduan suara atau apa mereka ini.


Dona dan Reni yang sudah sangat tidak tahan segera menuju ke Loly.


"Aku kesal Loly. Kenapa pernikahan yang sempurna ini harus rusak? ".


Keluh mereka.


" Sudahlah teman-temanku yang cantik.


Kita nikmati saja acara ini. Yang tidak diinginkan. Cukup tidak kita ingat lagi ada. "


Erin berusaha mengusir duka yang menyelimuti saat-saat sebelum akad ini.


"Loly benar. Buat apa juga kita mengingat hal yang menyakitkan.


Lagi pula calon suami Loly cakep loh. Aku sudah melihatnya tadi. "


Di ruang tamu. Tempat akan berlangsungnya akad nikah antara Loly dan Joan.


Ruangan yang biasa nya polos ber cat putih krem itu kini berubah menjadi meriah dengan berbagai hiasan. Dilengkapi dengan back drop yang estetik. Foto pra-wedding mereka pun terpampang nyata di sisi nya.


Ditengah ruang. Di sisi kanan kiri sudah terisi oleh Joan, pak penghulu, wakil wali nikah Loly juga para saksi yang sudah hadir.


"Saudara Joan Aditama. Apakah pernikahan ini tanpa paksaan?.


" Tidak pak. "


Suara Joan yang cukup lantang dan terkesan gugup itu ditertawai banyak orang yang melihat dan mendengarnya.


Pak penghulu tersenyum karena nya.


"Baiklah saudara Joan Aditama, saya nikahkan dan saya kawinkan saudara dengan seorang wanita bernama Loly Veronica Binti Surya Atmaja dengan mas kawin satu set perhiasan emas dengan total berat 50 gr dibayar tunai.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Loly Veronica binti Surya Atmaja dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai."


"Bagaimana para saksi? "


Dengan serentak seisi ruangan menjawab "SAH."

__ADS_1


__ADS_2