
Flashback
Tengah selesai meeting bersama salah satu kliennya. Salman, pengacara pribadi kakek Loly sedang duduk santai di depan mini market yang menyediakan rest area.
Ketika akan beranjak dari duduknya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan seorang pemuda.
"Rian.. "
Paman Salman membatu di tempat sembari memegang dadanya yang terasa nyeri begitu saja. Entah sejak kapan, begitu menyadari, paman Salman sudah lemah dan..
Brukk...
"Astaghfirullahal 'adhiim... Tolong ada orang pingsan."
Ibu-ibu paruh baya yang bertepatan akan memasuki mini market itu pun berteriak ketika mendapati seseorang pingsan di depan matanya. Tak ingin disalahkan, beliau pun menjelaskan kronologinya. Yang ibu katakan hanyalah tiba-tiba paman Salman terjatuh dengan memegang dadanya.
Hans yang kebetulan berada di sana segera membopong paman Salman dengan dibantu tukang parkir.
"Apa perlu saya temani mas?" Tukang parkir bertanya kepada Hans. Bermaksud menemaninya membawa paman Salman ke rumah sakit.
Dengan terburu Hans menolak sungkan.
"Terima kasih pak. Bapak menunggu di sini saja, barangkali nanti ada keluarganya yang mencari bapak ini."
Hans merogoh saku jas nya lalu memberikan selembar kartu nama miliknya pada tukang parkir.
"Tolong bapak hubungi saya di nomor ini jika ada yang mencari beliau. Saya pergi dulu, sepertinya beliau membutuhkan pertolongan secepatnya."
Paman Salman terbaring dengan kaki menekuk di kursi belakang. Sedangkan Hans duduk di bangku kemudi dengan fokus memperhatikan jalanan. Ia harus cepat sampai rumah sakit. Jangan sampai terlambat.
Sesampainya di rumah sakit.
Hans dibantu dua suster memindahkan paman Salman ke brankar lalu mendorongnya memasuki UGD.
Hans tidak terlalu mengerti dengan tindakan dokter. Namun ketika tak sengaja melihat ke dalam ruangan, sepertinya tindakan itu dilakukan pada penderita jantung.
Wajah dokter dan perawat tampak tegang beberapa saat yang lalu. Namun di menit berikutnya, alhamdulillah. Dengan mengusap peluh di dahi, sang dokter tersenyum lega.
Tak berapa lama, dokter keluar ruangan.
__ADS_1
"Apakah anda keluarga pasien di dalam?"
"Bukan dokter. Saya hanya kebetulan berada di sana saat beliau tidak sadarkan diri. Bagaimana keadaannya dokter?"
"Pasien mengalami syok. Ditambah beliau memiliki riwayat penyakit jantung. Syukurnya anda segera membawanya kemari. Sehingga dapat segera tertolong. Kalau saja anda terlambat beberapa menit lagi, mungkin beliau tidak akan bisa bertahan. Mengingat pasokan oksigen yang semakin berkurang."
"Terima kasih dokter. Ini kartu nama saya. Kalau ada sesuatu dengan beliau, dokter bisa menghubungi saya di nomor itu."
"Iya. Semoga pasien lekas membaik."
"Boleh saya melihatnya ke dalam dokter?"
"Silahkan, saya permisi dulu."
Entah mengapa, melihat paman Salman mengingatkannya pada sang ayah yang telah berpulang ke pangkuan Tuhan sebulan yang lalu.
Perlahan Hans melangkahkan kakinya memasuki ruangan. Selang oksigen terpasang menutupi mulut dan hidungnya.
Kondisi yang sama persis saat ia harus kehilangan ayahnya.
"Semoga anda segera membaik paman." Lirih Hans.
Dua hari paman Salman terbaring tidak sadarkan diri. Dan dua hari itu pula Hans rela bolak balik dari kantor ke rumah sakit demi mengetahui kondisi terkini paman Salman.
Pagi ini merupakan hari ketiga paman Salman di rumah sakit. Hans datang dengan membawakan sebuah album foto keluarganya yang terdiri dari dia dan ayahnya saja.
Layaknya berbicara dengan seseorang. Hans bercerita panjang lebar tentang lembaran-lembaran album yang berisikan foto dirinya.
Di balik sosoknya yang tegas dan dingin. Hans memiliki hati yang hangat. Saat ini ia sangat merindukan ayahnya. Maka dari itu, dia mencurahkan segala rindu pada paman Salman. Meski tak dapat berkata dan bergerak. Menurut keterangan dokter, paman Salman masih bisa mendengar dengan jelas. Untuk itu dokter menyarankan untuk sering mengajaknya bicara agar segera kembali membuka mata.
Hans tengah asik bercerita. Ia fokus membuka lembaran demi lembaran di tangannya.
"Hei.. Kau sudah menceritakan itu dua kali. Dasar pria cengeng."
Hah? Suara siapa itu? Apakah hantu?
Ketika menyadari dirinya hanya berdua dengan paman Salman. Hans segera menoleh ke arah paman Salman.
Pria paruh baya itu sudah membuka mata. Bahkan bibirnya yang pucat sudah tersenyum mengejek ke arah Hans.
__ADS_1
"Paman sudah sadar?" Lirih Hans dengan mata yang berkaca. Ah.. Andaikan yang membuka mata seperti itu adalah ayahnya.
"Kenapa memanggilku paman? Aku terbiasa mendengarmu menyebut ayah."
Tidak menghiraukan perkataan paman Salman. Hans segera menekan tombol yang terletak di sebelah nakas.
"Tunggu dokter datang memeriksa dulu. Jangan bicara terlalu banyak."
Begitulah pertemuan antara Hans dan paman Salman bermula. Hingga lama kelamaan keduanya pun menjadi saling bergantung.
Hans, memiliki rupa seperti Rian. Anak kandung paman Salman yang hilang diculik saat berusia sembilan tahun. Dan setelah ditemukan, malang sekali. Bocah cilik itu ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan. Dengan tubuh yang dijahit asal di sepanjang dada hingga perutnya. Setelah autopsi, barulah diketahui jika Rian menjadi korban pencurian organ dalam.
Istri paman Salman sangat syok hingga stress dan mengakhiri nyawanya. Sejak saat itu paman Salman memutuskan tidak akan menikah lagi. Dan akan menemukan dalang dibalik penculikan yang menimpa Rian.
Mendengar cerita dari paman Salman. Hans pun bertekad akan membantu ayah angkantya itu mengusut tuntas tragedi yang menimpa Rian.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tiada hasil yang mengkhianati usaha.
Usaha paman Salman dan Hans pun membuahkan hasil. Benang merah dapat ditemukan. Tidak disangka. Erika lah dalang dibalik penculikan Rian dan pencurian organ dalamnya.
Bertepatan dengan itu. Erika tengah menghubungi Hans. Menawarkan diri untuk berkencan dan akan memberikan berbagai keuntungan untuk Hans kalau mau menerima tawaran dari Erika.
Akhirnya paman Salman meminta Hans untuk bersandiwara menerima tawaran Erika untuk berkencan. Dan seperti yang mereka duga. Dibalik tawaran Erika, Erika akan mengajak Hans untuk turut serta melancarkan aksinya. Beruntung Hans hanya kebagian mengurus perusahaan, sehingga ia tidak perlu mencari alasan yang berbelit-belit jika diminta menculik anak atau membedah tubuh para anak-anak yang berhasil Erika culik.
Flashback off.
Surya telah mendengar dari pengacara pribadinya mengenai Hans. Ternyata di balik Hans, tersembunyi paman Salman. Pantas saja selama ini Surya kesulitan mencari jejaknya.
Ah.. Surya merasa dibodohi oleh asistennya itu.
Kencan dengan Erika nyatanya hanya sebagai kedok untuk mengungkap kejahatan-kejahatannya.
"Ku akui. Kau menang kali ini Salman." Kekeh Surya.
Ia masih berdiam di rumahnya. Menunggu waktu yang tepat untuk menemui putrinya.
Besok, Surya akan kembali ke kota asalnya. Menepikan diri dari keramaian kota dan kejamnya dunia bisnis.
Semuanya sudah ia serahkan pada Loly melalui pengacaranya. Semoga Loly tidak menolak.
__ADS_1
Andaikan menolak, tentu saja tidak bisa. Karena Surya telah memindahkan aset itu dalam bentuk surat wasiat.
Semoga Tuhan selalu melindungimu nak. Maafkan papa yang bodoh ini.