
"Aku mau makan itu, itu sama itu. Sekarang kak Joan pesan, aku tunggu di sini. "
Ting.
Loly mengedipkan sebelah matanya genit.
Joan menggelengkan kepala akibat tingkah istrinya itu. Tadi mencak-mencak karena cemburu, lalu mengancam tidak memberi jatah.
Setelah puas menguras isi rekening, sekarang menjadikan Joan sebagai juru pesan makanan. Sekali lagi celetukan Joan yang hanya berani ia ucapkan dalam hati. "Untung sayang. "
Loly sedang fokus membaca artikel tentang ibu hamil trisemester dua. Mencari tahu apa-apa saja yang harus ia lakukan dan apa saja yang harus ia hindari.
Dari sebuah web, menuliskan jika pada trimester ini, organ vital bayi seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan otak sudah lebih berkembang, sehingga ukurannya menjadi lebih besar. Bayi juga mulai bisa mendengar suara dan menelan.
Rambut-rambut kecil bayi akan mulai tumbuh dan tubuhnya juga sudah bisa melakukan gerakan-gerakan kecil. Pada awal trimester kedua, berat bayi sudah mencapai 1,5 ons. Jika dibandingkan dengan trimester pertama, ibu hamil akan memiliki lebih banyak energi di trimester kedua ini. Gejala kehamilan yang tidak nyaman pun juga mulai berkurang, sehingga trimester kedua dianggap sebagai periode kehamilan yang paling nyaman.
Memasuki trimester kedua kehamilan, gejala mual dan lelah yang sering terjadi pada trimester pertama mulai menghilang. Ada beberapa perubahan fisik lain pada trimester kedua, yaitu ; perut dan payudara membesar, kontraksi braxton hicks, perubahan kulit, masalah hidung, masalah gigi, pusing, kram kaki, keputihan, infeksi saluran kemih.
Kehamilan bisa menjadi waktu yang menyenangkan. Namun, penting juga untuk merasakan kecemasan yang meningkat atau suasana hati yang rendah yang rentan muncul. Terkadang salah satu atau kedua orang tua mengalami emosi yang sulit selama kehamilan. Hal ini dapat dipicu oleh perasaan khawatir tentang persalinan atau tentang bagaimana berperan sebagai orang tua.
Perasaan cemas rentan terjadi, dan beberapa wanita hamil berisiko mengalami gejala kondisi yang disebut gangguan kecemasan. Selain itu, ada juga risiko depresi antenatal, yaitu gangguan suasana hati yang mencakup perubahan emosional yang intens di luar yang mungkin diharapkan selama kehamilan.
Jika ibu khawatir tentang perasaan cemas, suasana hati yang buruk, atau depresi, pastikan ibu memeriksakan kondisi ke psikolog atau dokter kandungan.
Di dalam artikel tersebut masih tertulis banyak lagi informasi-informasi penting mengenai kehamilannya. Selesai membaca, Loly memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Kemudian berdiam sejenak memikirkan sesuatu yang membuatnya sedikit cemas. Benar yang tertulis dalam artikel tadi.
Akhir-akhir ini Loly merasakan sebuah perasaan yang cemas yang cukup mengganggu. Cemas memikirkan bagaimana persalinannya nanti, apa yang harus ia lakukan ketika persalinan tiba. Lalu apakah ia bisa merawat anaknya dengan kedua tangannya ini?
Huuuft...
"Hai Loly. " Seseorang menyapa kemudian duduk tanpa permisi di hadapan Loly.
"Kamu, ngapain kesini? " Loly merasa jengkel namun masih tersirat rasa rindu pada seseorang di hadapannya.
"Apa kabar? "
"Seperti yang kamu lihat. Aku bahagia bersama suami dan calon anakku. " Jawab Loly sinis sembari menunjuk ke perut buncitnya saat menyebut "calon anak".
Orang tersebut pun melototkan matanya. Tidak menyangka Loly berbicara dengan nada sinis padanya. Tidak salah memang, tapi ia berharap semua akan kembali seperti sedia kala.
" Syukurlah. Loly, aku ingin meminta maaf padamu dan tante Fika. Tapi aku malu. " Cicit orang tersebut. Ia sangat menginginkan teman seperti Loly ada untuk mendukungnya seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Jena. Apa lagi rencanamu dan mama mu kali ini? "
"Aku sudah berubah Loly. Kemarin aku baru saja pulang dari rumah sakit. "
"Kamu sakit? " Meski berucap sinis. Loly masih mengkhawatirkan sahabatnya itu. Bagaimana pun. Mereka tumbuh dan bermain bersama sejak kecil. Rasa sayang di antara mereka tidak akan mudah hilang begitu saja.
"Bukan sakit parah. Tapi aku masih membutuhkan perawatan. "
Jena merasa malu namun juga bahagia di saat yang bersamaan. Mungkin Loly marah dengan dirinya. Namun ia dapat melihat dengan jelas. Di mata Loly masih ada dirinya sebagai sahabat tercinta.
Ini sangat melegakan. Saat ia pergi nanti, ia tidak harus mengkhawatirkan rasa bersalah ini menggantung tanpa ucapan maaf.
"Apa aku masih pantas mendapatkan maaf darimu Loly. "
Loly terdiam, menutup rapat mulutnya. Ia ingin memaafkan namun juga harus tetap waspada. Jangan sampai permintaan maaf ini hanya sebagai kedok untuk mengelabui Loly sehingga lengah.
Berjaga-jaga demi keselamatan semua orang. Jena ini anak dari Erika. Wanita jahat yang dengan teganya mengkhianati sahabatnya sendiri demi kepuasan duniawi.
Mendapati Loly hanya diam. Jena merasa rendah diri. Tak dapat dipungkiri, siapa saja pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Loly.
"Aku tidak akan memaksa merebut maaf itu Loly. Aku kemari karena tidak sengaja melihatmu di sini. Dan aku dengan tulus memohon maaf darimu. Tapi, kalau kamu belum bisa memaafkan aku. Aku rela. Aku akan menganggap ini hukumanku. "
Kemudian Jena bangun dari duduknya. Saat akan beranjak meninggalkan tempat. Jena menghentikan langkah karena panggilan namanya.
"Tunggu Jena. "
"Jangan maafkan aku kalau itu berat untukmu Loly. Aku cukup sadar diri dan posisi. Aku... "
"Jena, aku sudah memaafkanmu. Tapi aku tidak akan melupakan perlakuan keji mu dan mama mu kepada ku dan mama ku. "
Nada suara Loly terdengar bergetar.
Grep. Seseorang dengan tangan kekar memeluknya dari samping dengan lembut.
"Maaf, aku meninggalkanmu terlalu lama sehingga harus menghadapinya sendirian. " Joan mengira, Jena kemari ingin menyakiti istrinya. Terlebih raut muka Loly yang terlihat sedih dan sulit dibaca.
Mata itu berkaca-kaca membuat rasa bersalah Joan bercokol.
"Dia tidak melakukan apa pun, kak. "
"Maaf kak, kita bertemu di saat yang tidak tepat. Bahkan saat hubungan di antara kami memburuk karena ulahku. Aku kemari ingin meminta maaf pada istrimu. " Jena berusaha menjelaskan kepada Joan agar tidak salah mengira.
"Jena."
__ADS_1
Seorang pria paruh baya menghampiri Jena dengan raut khawatirnya. Memeriksa wajah Jena dengan teliti.
"Kamu kemana saja, nak? Papa mencari mu dari tadi. "
"Tadi Jena melihat Loly, pa. Jena mau minta maaf dan memperbaiki persahabatan kami. "
"Loly? Di mana? "
Jaya mengedarkan pandangan lalu bertemu tatap dengan seorang wanita muda dengan perut sedikit buncit sedang duduk di sebuah kursi.
"Mari duduk dulu om Jaya, kau juga, Jena. "
Mereka berempat duduk mengitari meja bundar dalam food court mall tersebut.
"Om mau pesan dulu? " Tanya Loly.
"Tidak, kami sudah makan. Kamu hamil, Loly? "
"Iya, Om. Sudah enam bulan. "
"Wah.. Sebentar lagi om bakal punya cucu nih. Harusnya kau juga segera menikah, Je. "
Muka Jena memerah mendengar tutur kata Jaya. Tidak tahu situasi, gerutu Jena dalam hati.
Sebenarnya, Jaya hanya berusaha mencairkan suasana canggung ini. Loly sudah ia anggap layaknya putri sendiri. Kedudukan Loly sama seperti Jena putri kandungnya. Bagi Jaya dua putri ini sama-sama anaknya. Tidak akan dibedakan dalam hal apapun terutama kasih sayang.
"Ehm.. Loly, om mewakili Jena meminta maaf atas perlakuan buruk Jena dan mama nya terhadap kamu dan mama mu. Om tahu, kamu pasti sangat berat memaafkan mereka. "
"Loly sudah memaafkan Jena, om. Om tidak perlu mengkhawatirkan itu. Untuk persahabatan kami. Biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya. "
"Syukurlah... Sebenarnya om mau menemuimu, tapi Jena masih perlu perhatian khusus karena sakitnya... "
"Pa.. " tegur Jena. Ia tidak ingin, Loly mengkhawatirkan dirinya setelah membuat keluarganya berantakan.
"Iya.. Papa akan diam. "
"Kamu sakit apa Jena. " Lirih Loly. Ia bingung. Tadi Jena berbicara baru keluar dari rumah sakit, sekarang Jaya berkata Jena perlu perhatian khusus. Sakit apa sahabatnya ini?
"Aku tidak sakit apa-apa Loly. Terima kasih sudah bertanya tentang aku. Terima kasih banyak sudah memaafkanku. "
Obrolan mereka terhenti sejenak saat pelayan sedang meletakkan pesanan Loly di meja.
"Kalian lanjutkan dulu makannya. Aku pulang dulu ya. Kapan-kapan kalau diijinkan, aku mau meminta maaf pada tanta Fika. "
__ADS_1
"Ya.. Aku akan bilang mama dulu. "
"Terima kasih banyak Loly. Kau tidak pernah berubah. Selalu baik. "