
Bagi seorang wanita yang sudah bersuami. Hidup tanpa suaminya adaah mimpi paling buruk dalam hidupnya.
Walau seberapa seringnya terjadi pertentangan karena prinsip yang bertolak belakang, atau karena konflik sepele yang berakhir menjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tetap saja, tanpa suaminya, wanita akan menjadi pincang. Keseimbangan yang sudah terjalin diantara kedua insan itu, kini harus terpisah oleh suatu keadaan.
Ya,, begitulah hidup. Akan ada perpisahan setelah pertemuan. Keselarasan itu sudah menjadi hukum alam.
Hari ini seluruh penghuni rumah Loly tengah disibukkan dengan persiapan acara pengajian dalam rangka mengirim doa, empat puluh harinya Joan.
Loly sudah bisa tersenyum di depan khalayak. Namun di kesendirian, tetaplah hampa yang ia rasa. Belahan jiwanya telah pergi dan tidak akan pernah kembali. Mau menyusul sudah pasti tidak mungkin. Itu menyalahi takdir. Sangat tidak pantas.
Di dapur sudah rami orang sedari pagi. Beberapa tetangga telah berbaik hati membantu persiapan pengajian. Ada juga Evi yang sedang mengiris wortel, Reni sedang mencampur mie bihun dengan bumbunya, Dona sedang menghitung kotak nasi yang harus disiapkan dan Erin yang dari tadi membantu Loly membuat kue sambil mencicipinya. Mereka bahkan sudah menginap dari semalam.
Hari tengah siang. Suasana di rumah Loly semakin riuh. Walau masih berduka. Semuanya berusaha untuk kembali seperti biasanya. Tidak baik bersedih terlalu lama. Apalagi mengenai urusan hidup dan mati. Semua sudah berjalan sesuai semestinya. Yang terjadi biarlah terjadi. Kita harus menerima takdir. Begitu kata Loly yang akhirnya mampu menguasai hatinya yang sudah rapuh itu.
Acara akan dilangsungkan setelah isya.
Setelah maghrib terlihat beberapa teman Loly nampak hadir. Turut mendoakan Joan. Juga sedikit mencari kesempatan untuk menarik perhatian si janda muda.
Adzan isya telah berkumandang, Loly menghela nafas lega. Akhirnya isya sudah tiba. Semua persiapan telah selesai. Konsumsi juga telah tersedia. Semoga tidak kurang.
Ya, meski kebanyakan tamu adalah orang yang mendapatkan undangan dari empu nya rumah. Tapi tetap saja Loly berjaga-jaga dengan melebihkan nasi kotaknya. Barangkali nanti ada tamu yang tidak diundang. Dan ternyata benar. Ada lumayan banyak tamu yang turut berdoa bersama hadir diluar tamu yang sudah masuk daftar undangan.
"Alhamdulillah, lihatlah kak. Banyak orang antusias dengan acara kirim doa untuk. Kamu sudah pergi selama ini. Semoga hatiku tabah menjalani sisa hari yang akan Loly **la**lui nanti."
Kini acara telah dimulai oleh pemuka agama setempat. Namun ditengah acara doa yang sedang dijalankan dengan khusyuk. Fokus semua orang nampak terbagi.
Ada yang merinding karena takut. Ada yang melotot tidak percaya. Dan ada yang menjerit histeris.
Saat pemuka agama tengah mengkhususkan doa dengan menyebut nama Joan. Dengan tidak terduga wujudnya nampak.
Ada beberapa yang meneriakkan nama Joan dengan tubuh gemetar hebat. Kebanyakan dari mereka merasa takut. Bagaimana tidak, orang yang sudah mati selama empat puluh hari dan sedang berlangsung acara doa bersama untuknya malah hadir.
Ya, ditengah acara doa itu Joan hadir.
Joan berdiri tegak di halaman depan rumah Loly. Dengan penampilan yang sangat berantakan. Semua mengira dia hantu Joan.
Di dalam rumah. Loly sedang sangat khusyuk mendoakan arwah suaminya. Berharap semoga Joan mendapatkan pengampunan dari Allah dan mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya.
__ADS_1
Fokus Loly terpecah karena beberapa orang yang berteriak histeris dengan memanggil nama Joan.
Loly yang akhir-akhir ini dapat menguasai emosinya kini menjadi lemah. Tangisnya pecah seiring teriakan beberapa orang yang menempati bagian depan rumah.
"Kenapa kakak datang dengan menampakkan wujud? Tolong perlihatkan wujudmu pada Loly saja, kak. Semua orang takut dengan kehadiran kakak."
Namun Loly terkesiap begitu acara doa bersama yang belum tuntas dihentikan.
"Kenapa doanya dihentikan ustadz?" mama Fika bertanya pada pak ustadz yang sedang terbengong menghadap ke arah halaman.
"Apakah semuanya juga melihatnya?" tanya pak ustadz yang mempertanyakan penglihatannya.
Dan semua orang mengiyakan pertanyaan pak ustadz.
Beberapa orang sudah mengkerut berdesakan demi menyembunyikan diri agar tidak melihat hantu Joan.
"Astaghfirullah al 'adhiim." pak ustadz beristighfar begitu melihat bahwa kaki Joan menapak tanah. Dia bukan hantu.
Dengan tergesa pak ustadz langsung berdi dan mendatangi posisi Joan.
Memandangi fisik Joan dari atas hingga bawah. Tidak ada yang nampak seperti hantu.
Joan memandang aneh semua orang yang terkejut ketakutan akan kehadirannya.
"Benar pak ustadz. Saya Joan. Kenapa semua orang melihat saya dengan aneh?"
Mendengar itu lantas pak ustadz segera menjabat tangan Joan. Mengucapkan selamat datang kembali ke rumah.
Joan semakin heran saja mendengar pak ustadz mengucapkan selamat datang padanya.
"Sebenarnya ada apa ini?"
Joan yang sudah tidak tahan dengan segala keanehan ini pun segera melepaskan diri dari pak ustadz.
"Maaf pak ustadz. Saya ingin masuk ke dalama rumah lebih dulu."
"Ya, silahkan masuk mas Joan. Istrimu pasti sangat menanti kepulanganmu yang tidak diduga ini." pak ustadz menjawab dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Sungguh, kuasa Allah benar-benar nyata. Orang yang sudah dinyatakan gugur dalam tugas itu kini sudah pulang di hari ke empat puluh nya.
Maha Besar Allah dengan segala kehendak-Nya. Tiada yang dapat melampaui batas selain diri-Nya.
Mama Fika yang sedari tadi memperhatikan pak ustadz dari mulai menghentikan doa secara tiba-tiba lalu menghampiri seseorang dengan penampilan berantakan di halaman rumah.
Namun dirinya diserang rasa kaget bukan main. Menantunya pulang. Bagaimana bisa? Dia sudah meninggal.
Tubuh mama Fika masih membeku di tempat semula ia menegur pak ustadz.
Joan telah sampai di hadapan mama Fika. Lalu segera meriah dan mencium tangan mertuanya yang tengah terbengong itu.
Mama Fika hanya melirikkan mata dengan tangan dalam genggaman Joan.
"Assalamu'alaikum, ma. Maaf Joan terlambat pulang."
Mama Fika pun berteriak histeris seraya memanggil putrinya.
"Loly.."
Loly yang mendengar suara mamanya berteriak pun segera menghapus air mata yang sudah membanjiri pipinya.
Loly bergegas menghampiri mama Fika namun langkahnya terhenti begitu melihat sosok tinggi gagah tengah berdiri tegak di hadapan mama Fika.
Bukankah itu suaminya? Apakah benar suaminya ada di sini?
Terbesit harapan kecil dalam hatinya. Apakah suaminya itu kembali hidup?
Dengan lemah Loly menapakkan kakinya selangkah demi selangkah mendekat ke arah mama dan suaminya.
Joan yang melihat istrinya yang terlihat hancur pun sangat tidak tega. Hatinya sangat sakit.
Dengan langkah lebarnya Joan melangkah menuju ke arah Loly. Meraih tubuh gemetar Loly lalu memeluknya dengan erat.
Dengan disaksikan banyak orang. Kini Loly tengah menangis tersedu di pelukan suaminya. Suaminya yang dipercaya telah meninggal dunia selama empat puluh hari ini ternyata kembali pulang dalam keadaan hidup.
Joan pun tidak mampu berkata-kata, begitu pula dengan Loly. Keduanya tengah menyalurkan rasa rindu juga hancur kaena terpisah selama ini.
__ADS_1
"Loly rindu." kata pertama yang Loly ucapkan setelah dapat menguasai tangisnya. Kemudian mengangkat tangannya. Meraup wajah sang suami. Membingkai setiap inci bentuk wajah suaminya yang tersisa memar di wajahnya.
"Terima kasih sudah pulang."