
Joan sudah kembali pulang dalam keadaan masih hidup. Nyawa masih dikandung badan. Tiada yang lebih bahagia selain Loly dan keluarganya dalam menyambut kepulangan abdi negara satu ini.
Para tamu yang hadir turut merasakan kebahagiaan. Wala ada beberapa yang sedikit kecewa karena status janda pada Loly yang otomatis terhapuskan.
Dasar buaya.
Mengabaikan tanggapan semua orang. Loly telah larut dalam rasa harunya. Dengan asik memastikan keadaan sang suami. Namun hal tersebut terpaksa harus dihentikannya. Pasalnya para tamu yang hadir kini sudah akan pamit kembali ke rumah.
masing-masing.
Semua orang sudah pulang, termasuk teman-teman Loly.
Tertinggal mama Joan, Loly, mama Fika, mbak Eni dan Joan.
kelima orang ini sedang berkumpul di ruang tamu setelah pintu ditutup rapat oleh mbak Eni.
Dengan duduk bersila di lantai yang dilapisi oleh karpet. Mama Joan, Mama Fika, Loly dan mbak Eni tampak memperhatikan Joan dengan seksama. Terutama Loly dan mama Joan yang sudah berada di sisi kanan dan kiri Joan.
Joan menggenggam erat tangan kedua wanita tercintanya ini. Selama empat puluh hari ini dia melewati hari-hari yang sangat berat. Bahkan nyaris merenggut nyawanya. Andai saja salah seorang kenalannya tidak datang untuk menyelamatkan dirinya dan satu rekannya, pasti saat ini Joan sudah berada di alam yang berbeda. Tidak dapat memandang orang-orang tercintanya.
Joan mengeratkan pandangan matanya pada sang istri. Lalu mengecup punggung tangannya. Beralih ke sebelah kanan, dilihatnya mama Joan dengan penuh kasih. Mamanya memandang sang putra dengan pandangan yang sudah jelas bisa ditebak sangat bahagia juga haru karena putranya belum mati seperti berita yang beredar.
Kemudian Joan melakukan hal yang sama pada mamanya seperti yang ia lakukan pada Loly, yaitu mengecup punggung tangan mamanya.
"Maaf Joan terlambat pulang. Saat itu Joan masih harus menyelesaikan urusan yang belum selesai. Jadi tidak bisa pulang bersama rekan yang lain."
Sebenarnya Joan sangat ingin menceritakan setiap kejadian yang menimpanya sehingga menghambat kepulangannya. Namun saat memperhatikan ekspresi kebahagiaan orang-orang terkasihnya, ia jadi berubah pikiran. Biar saja Joan simpan sendiri kejadian pahit itu. Kejadian yang nyaris merenggut paksa nyawanya.
Flashbak
Saat itu, setelah Joan dan satu rekannya tertembak. Keduanya menjadi tawanan musuh.
Bahkan Joan baru menyadari bahwa sang ketua mafia yang ia buru adalah mantan seorang satuan pengamanan di bawah naungan PBB. Entah apa yang yang membuat dia banting setir menjadi mafia.
"Ada apa kapten? Tidak perlu terlalu terkejut. Seharusnya kamu membebaskan saja aku. Jadi kamu tidak perlu merasakan menjadi tawanan." oceh sang ketua mafia. Dia tidak terima tawanannya dibebaskan. Namu ketika mendapatkan ganti Joan sebagai tawanan, senang bukan kepalang yang ketua mafia rasakan.
__ADS_1
"John, kamu salah telah menangkap ku. " balas Joan sambil memperhatikan melalui sorot tajamnya.
"Hahaha. Aku tidak pernah salah kapten. Darimu aku akan mendapatkan tambang emas yang lebih besar. Sekarang beritahu aku password keamanan di negara mu. Setelah itu aku berjanji akan membebaskan dirimu. "
Cuih. Joan meludahi kata-kata busuk John. Bagaimana bisa dia berpikir Joan akan menuruti permintaan konyolnya itu. Dasar manusia bajingan.
Karena kesal, John terpaksa harus membuat Joan dan rekannya menyesal telah menentang keinginannya.
Setiap beberapa jam sekali para anggota mafia datang silih berganti mengunjungi jeruji besi tempat Joan dikurung. Bukan untuk memberi makanan atau minuman. Melainkan melayangkan berbagai macam siksaan yang membuat rasa pedih teriris di setiap helaan nafasnya.
Pukulan dan cambukan beriringan dengan rintihan suara rekan Joan. Joan hanya terdiam merasakan luka yang semakin bertambah setiap harinya.
Hingga suatu hari. Dua orang suruhan baru telah datang dan sampai di depan pintu kurungan.
"Bro, kita harus menghabisi dua orang ini dengan segera. Bos sudah bosan menunggu. Lebih baik kita akhiri nyawa mereka saat ini juga."
"Ya, kau benar. Kita eksekusi sekarang saja."
Dua orang ini berbicara dengan suara yang lantang dengan sedikit tawa.
Namun di detik berikutnya tampak seseorang jalan mengendap-endap di belakang dua orang itu.
Tubuh kedua orang yanng berniat hendak menghabisi Joan dan rekannya itu kini merosot ke bawah lantai. Dari belakang muncul sosok yang sama sekali d luar dugaan Joan.
Seseorang yang pernah Joan selamatkan kini datang untuk menyelamatkan Joan.
Dulu Joan pernah menyelamatkan seorang abdi ngara yang hendak dikhianati oleh pejabat negaranya sendiri. Memang orang itu telah berjanji akan membalas perbuatan baik Joan. Dan inilah saatnya.
"Aku datang untukmu kapten. Aku membalas kebaikanmu. Mari kita pergi dari sini."
"Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini, kapten?" ternyata dia juga seorang kapten di satuannya.
"Itu tidak penting. Ayo kita segera pergi sebelum mereka menyadarinya. Helikopter sudah menunggu kita. Waktu kita tidak lama."
Dengan segera orang tersebut membuka pintu jeruji besi dan mengeluarkan Joan beserta rekannya.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya dapat keluar dari tawanan dalam keadaan selamat.
Flashback off
Karena Joan hanya diam saja. Mama Fika menyimpulkan sang menantu masih lelah setelah perjalanan jauhnya yang entah dari mana. Tebaknya adalah perjalanan yang melewati antara hidup dan mati.
Mama Fika pun mempersilahkan Joan dan Loly untuk memasuki kamar mereka. Pasangan muda ini pasti saling merindu satu sama lain. Mama Fika dapat merasakan itu. Biarkan mereka berdua memiliki waktu untuk saling melepaskan rindu yang selama empat puluh hari ini menyiksa kalbu.
Karena sudah malam. Semua orang juga beranjak menuju tempat peristirahatan masing-masing.
Dalam kamar Loly dan Joan.
Keduanya tengah terbaring sambil memeluk erat. Loly tidak hentinya memandang wajah yang sangat dirindukannya itu. Keduanya saling menyalurkan rindunya hanya dengan saling memeluk dan memandang.
"Apa yang terjadi kak? Kenapa aku harus mendengar berita kepergianmu?"
Loly membuka suaranya. Suara lembut itu kini menuntut jawaban dari suaminya.
"Aku hanya harus menyelesaikan satu tugas rahasia sayang." Joan mengangkat tangannya yang masih terasa nyeri akibat pukulan benda tumpul yang pernah diterimanya. Joan mengernyitkan sedikit matanya lalu kembali ke kondisi biasa kemudian mengelus rambut Loly.
"Kenapa lama sekali kak?"
"Maaf untuk keterlambatan ku pulang. Dan maaf.. " Joan membelai kedua kelopak mata Loly. "Maaf telah membuat air mata ini harus jatuh karena ku."
"Kamu suami ku. Kepergianmu jelas membuatku sedih dan menangis. " Air mata Loly kembali menetes. Dia masih terbayang hari-hari berat yang sudah dilaluinya tanpa Joan.
"Maaf, aku sekarang sudah kembali. Kamu bisa menghukum aku sekarang."
"Jangan konyol kak. Mana mungkin aku melakukan hal itu.
Aku sudah sangat bersyukur dengan kembalinya dirimu ke rumah ini. Kepadaku. Tolong jangan tinggalkan aku lagi kak !"
Loly kembali terisak karena bayangan hidup tanpa Joan sudah menjadi momok yang sangat Loly takuti.
"InsyaAllah aku tidak akan pergi. Doakan suamimu ini ya sayang."
__ADS_1
Keduanya pun terlelap karena lelah berbincang. Entah siapa di antara keduanya yang memejamkan mata lebih dulu othor juga tidak tahu.
Akhirnya ya. Joan sudah kembali. Loly tidak perlu bersedih lagi.