Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Jangan Takut Lagi Ya.


__ADS_3

Dini hari menjelang subuh, Loly yang sedang tertidur lelap di pelukan suaminya nampak terkesiap. Terbangun dengan keterkejutan yang begitu mengganggu dirinya hingga membuatnya bangun dari mimpi indahnya.


Ketika membuka matanya, Loly merasakan tubuhnya yang berat dan tidak dapat digerakkan. Rupanya kejadian semalam bukanlah sebuah mimpi. Dada Loly sudah bergemuruh hebat membayangkan andai semuanya hanya mimpi dalam tidurnya.


Suaminya kini berada dihadapannya. Merengkuh dengan penuh kasih dirinya seakan tak ingin terlepas meski sekejap saja.


Merasakan ada pergerakan dari sekitar, Joan mulai mengerjapkan matanya lalu membuka dengan sempurna.


Saat membuka mata, dengan jelas Joan dapat melihat Loly yang tengah memandanginya dengan penuh kekhawatiran. Wajar saja, Loly masih dihantui rasa takutnya. Rasa takut kehilangan orang terkasihnya yang tengah berada di tempat yang sama, menghirup udara yang sama.


Dengan lembut Joan membelai sayang istrinya.


"Kenapa, hmm? "


Loly menggelengkan kepala lalu tersenyum. "TIdak apa-apa. Loly takut semua ini mimpi."


Joan semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri. Mengecup berkali-kali di seluruh bagian wajah Loly.


"Terasa kan. Lihat! Aku sudah pulang. Kita sudah kembali bersama. Dan ini nyata, bukan mimpi sayang. Jangan takut lagi ya."


Kemudian Loly menganggukkan kepalanya pelan.


"Sekarang sudah mau subuh. Ayo bersiap sholat."


"Iya kak. Kakak mau mandi air hangat atau air dingin saja? "


"Air dingin biasa saja. Lebih baik buat kesehatan."


"Kakak mau mandi lebih dulu atau setelah Loly?"


Joan tampak sedikit berpikir lalu timbul seringai jahil dari bibirnya yang sedikit membiru di pinggirnya karena luka lebam yang belum pulih secara sempurna.


"Bagaimana kalau kita mandi berdua saja?" usul Joan. Dalam otaknya sudah muncul berbagai ide untuk mengerjai Loly.


Loly terbengong lucu setelah mendengar usul yang sedikit menggelikan bagi Loly.


"Kita sudah lama tidak mandi bareng loh sayang?" lanjut Joan seraya menaik turunkan alisnya. Senyum jahilnya itu sungguh membuat Loly merinding dibuatnya.


Rencana apa yang sedang Joan pikirkan? Loly menjadi sedikit curiga dengan gelagat Joan yang menunjukkan ekspresi sedikit mesum.


"Kita mandi sendiri-sendiri saja ya ? " pinta Loly sedikit memelas. Dia sudah ngeri dengan bayangan di otaknya. Takut-takut akan dikerjai habis-habisan oleh suaminya ini. Mengingat ini adalah pertemuan mereka setelah sekian lama terpisah. Biasalah kalau sudah menikah pasti berpikir ke arah sana. Ada yang sedang butuh belaian Loly. Masa tidak tahu sih ? Hahaha

__ADS_1


"Ayolah sayang. " Joan sedikit merengek kepada istrinya.


Loly memicingkan matanya ke arah Joan. Menimbang akan mandi bersama atau tidak. Bukan bermaksud tidak patuh. Tapi waktu yang mereka miliki sangat sedikit. Bisa-bisa akan terlambat melaksanakan sholat subuh.


"Tidak bisa. Kak Joan pasti merencanakan sesuatu. Sebentar lagi sudah subuh. Kalaupun tebakanku benar. Aku harus mencari solusi. Karena pasti tidak akan sebentar. Kami baru saja dipertemukan. Pasti dia akan mengerjaiku tanpa ampun."


Tring


Seperti muncul bola lampu terang di otak Loly.


"Yes. Aku tahu solusinya."


"Hei, kenapa malah melamun? Suamimu ini sedang ingin mandi bersamamu sayang."


Loly kembali menormalkan dirinya.


"Ehm, begini saja kak. Bagaimana kalau kita melakukannya setelah sholat subuh saja?"


Joan tampak mengulum bibirnya, menyembunyikan senyum bahagianya karena sang istri nampak paham dengan keinginannya tanpa harus dijelaskan seperti saat pertama.


Setelah menyadari perkataannya Loly langsung menundukkan kepalanya. Mengarahkan padangan matanya tepat di kaki nya yang bersentuhan dengan lantai.


"Aduh, kenapa aku ngomong begitu sih? Kan tadi kak Joan tidak mengatakan mau melakukan itu sambil mandi. Bagaimana kalau dia cuma benar-benar mau mandi bersama saja? Dasar Loly ! Kenapa jadi punya otak mesum sih? "


Joan yang melihat istrinya sudah terserang oleh rasa malu pun segera bangun dari duduknya. Menghampiri Loly yang berdiri di dekat ranjang yang ia duduki.


"Baiklah kita mandi sendiri-sendiri saja biar cepat. " kemudian Joan mendekatkan dirinya pada Loly. Membisikkan kalimat yang mampu membuat Loly semakin menunduk malu tapi juga suka.


"Kita lakukan setelah sholat subuh saja ya? Aku sudah sangat merindukanmu. "


Setelah berbisik di telinga Loly, Joan langsung meninggalkan Loly yang diam bak patung. Saat Loly menyadari sesuatu, suaminya itu sudah tidak lagi berada di dekatnya. Joan sudah memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya sebelum melaksanakan ibadah sholat subuh. Dan anu.


"Dasar suami jahil. Suka banget jahilin istrinya."


Joan telah selesai mandi kini berganti dengan Loly yang mandi secepat kilat karena adzan subuh sudah terdengar di telinga.


Kini untuk pertama kalinya dua insan berpasangan ini melaksanakan sholat berjamaah setelah perpisahannya.


Selesai sholat, kemudian dilanjutkan dengan membaca wirid pagi secara bersama. Dengan memohon pertolongan dari Allah melalui bacaan dzikir ini, kita akan terhindar dari hal-hal yang buruk terutama ain.


Dzikir telah selesai. Joan sedang melipat sajadah dan Loly sedang melepas mukenah yang ia kenakan.

__ADS_1


Sete;ah selesai. Joan nampak mendekat ke arah istrinya. Keduanya diliputi rasa bahagia dan syukur karena dipertemukan kembali dalam keadaan yang sehat dan lengkap tanpa cacat dan kurang suatu apapun.


Perlahan Joan meraih tubuh mungil Loly. Memeluknya dengan lembut. Loly dapat merasakan kerinduan yang dirasakan oleh Joan. Karena Loly pun merasakan hal yang sama.


Kini keduanya tengah hanyut dengan rasa rindu yang semakin menggebu.


"Boleh sekarang?" Joan meminta izin kepada Loly sebelum memulai penyatuan dirinya. Hal ini bukan dilakukan sekali dua kali. Tetapi setiap kali akan melakukan ibadah yang satu ini. Joan selalu meminta izin dari Loly. Bermaksud menghargai istrinya yang memiliki tubuh yang akan diajaknya mengarungi kenikmatan surga dunia.


Loly melihat ke arah Joan. Pandangan Loly dan Joan bertemu. Loly menganggukkan kepalanya. Pandangan keduanya sudah sangat berkabut. Bahkan Loly juga sudah menantikan hal itu.


Penyatuan pun dilakukan. Dua insan yang tengah bergelut di bawah selimut itu sudah akan basah oleh keringat.


Tak jarang terdengar erangan juga rintihan nikmat dari keduanya.


Hingga akhirnya Joan terbaring lemas di samping Loly. Kini keduanya tampak tersenyum.


Dari sorot mata yang bertemu pandang itu seolah mengatakan dunia hanya milik berdua. Setelah mengistirahatkan badan beberapa puluh menit. Akhirnya Joan memboyong tubuh Loly masuk ke kamar mandi. Loly yang terkejut memekik tertahan.


"Aaa, kenapa digendong kak? Loly bisa jalan sendiri."


Joan tidak menghiraukan protes Loly. Dia hanya tersenyum dana tetap berjalan ke arah bath up lalu keduanya membersihkan tubuh lengketnya akibat pergumulan panas tadi.


tepat pukul tujuh pagi. Mama Fika juga mama Joan sudah berdiri di depan pintu kamar Loly dan Joan. Kedua ibu ini sudah sangat tidak sabar menunggu pasangan muda itu keluar dari sarangnya.


"Kenapa mereka lama ya jeng?" seru mama Fika.


Mama Joan yang juga sama tidak sabarnya juga menggerutu. "Apa tidak bisa ya mereka menunggu nanti malam dulu? Kita ini kan sudah menunggu mereka. Pasti Joan yang berulah."


"Sudahlah jeng. Kita tunggu di ruang makan saja."


Begitu mama Fika membalikkan badannya, pintu kamar terbuka dari dalam.


Tahu sang penghuni kamar sudah menampakkan wujudnya dari persembunyian.


Mama Fika langsung memberondong kedua orang ini dengan pertanyaan-pertanyaan absurdnya.


"Kalian ini, kenapa lama keluar dari kamarnya? Biasanya kan setelah sholat subuh sudah jalan-jalan di depan rumah."


Tak mau ketinggalan. Mama Joan juga melakukan hal yang sama.


"Pasti kamu sudah membuat menantuku ini tidak bisa keluar kamar." ujar mama Joan sambil menunjuk ke arah putranya.

__ADS_1


Loly dan Joan hanya tersenyum canggung di depan mamanya.


"Namanya juga kangen ma, masa tidak boleh." Joan.


__ADS_2