
Hari ini adalah hari pertama Loly masuk kuliah kembali setelah menikah.
Kali ini ia tidak berangkat sendiri. Karena ada sang suami yang masih siap sedia sebelum tugas.
Pagi ini jalanan agak lengang. Dengan mengendarai motor matic milik Loly. Joan dan Loly tampak sangat menikmati momen.
Karena jarak dari rumah menuju kampus tidak terlalu jauh. Loly enggan diantar menggunakan mobil. Akan merepotkan Joan, katanya. Jadi lebih baik menggunakan motor saja. Sembari menikmati udara pagi yang belum terlalu bercampur dengan asap kendaraan.
"Nanti pulangnya dijemput jam berapa sayang?"
"Hari ini mata kuliah Loly ada 3. Kira-kira jam satu siang sudah bisa dijemput kak."
"Siap tuan putriku."
Keduanya tersenyum. Sesekali saling melemparkan candaan.
Kabar pernikahan Loly sudah menyebar ke seantero kampus.
Ada pro dan kontra mengenai ini.
Baru semester satu, tiba-tiba sudah menikah.
*Apa dia hamil duluan?
Jangan-jangan jadi simpanan lagi*?
Semoga saja Loly tidak terpengaruh oleh kata-kata buruk dari para mahasiswa julid di kampus tempat ia menempuh pendidikan.
Berbeda lagi dengan sebagian orang yang sudah mengenal baik Loly. Mereka mendoakan kebaikan untuk Loly. Kebahagiaan juga kelanggengan dalam rumah tangganya.
Sampai juga di kampus.
Dari kejauhan, Jena yang hari ini memiliki jam kuliah pagi pun sudah tiba.
Melihat Loly dibonceng seorang pria pun menghampiri.
"Jadi ini suami lo?" tanya Jena yang tiba-tiba sudah berada di belakang Loly. Mengganggu momen romantis saja.
"Iya." Jawab Loly dengan senyum santai.
Di mata Jena, ini sangat mengganggu. Loly tidak boleh bahagia.
"Suami miskin aja bangga. Tampangnya sih boleh ya, tapi sayang banget tidak layak."
Jon baru pertama bertemu dengan wanita jadi-jadian yang berkata seenaknya sendiri.
Miskin? Memang Joan bukanlah orang kaya terpandang. Yang mampu mendirikan gedung-gedung bertingkat tinggi menjulang dan mewah. Tapi untuk dibilang miskin seharusnya tidak cocok lah ya.
Baru Loly akan menjawab perkataan Jena, sudah disela oleh Joan.
"Sayang, kamu masuk dulu saja ya. Nanti tolong kabari kalau sudah selesai. Akan segera ku jemput." kata Joan sembari meletakkan tangannya di pipi sang istri.
Melihat itu Jena bak cacing kepanasan.
"Dasar laki-laki miskin gak tahu diri."
Loly sudah ingn meradang. Tapi dialihkan lagi oleh Joan.
"Aku pulang dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya kak."
Keduanya saling bertukar ciuman jarak jauh.
"Cih, dasar gk tahu malu." lirih Jena.
__ADS_1
Loly yang sedari tadi sudah sangat berang pun bersuara.
"Apa masalahmu? Kamu masih tidak bahagia ya sudah merebut papa ku? "
Skakmat.
Kata-kata Loly memang sangat pas untuk menggambarkan tingkah laku Jena. Tidak bahagia walaupun sudah merebut seseorang yang selama ini menjadi sumber kebahagiaannya.
Merasa tersudut, Jena akhirnya pergi dengan menahan amarahnya.
"Awas kamu ya. "
Loly hanya menertawakan tindakan Jena.
"Huuft, merusak keindahan pagi ku saja." Loly menggerutu sepanjang lorong kampus menuju kelasnya yang akan dimulai sepuluh menit lagi.
"Wah pengantin baru sudah lepas kandang ya."
"Cieee pengantin baruu."
"Bahagianya yang sudah menikah."
Loly hanya tersenyum menanggapi selorohan teman-teman sekelasnya.
Mata kuliah pertama sedang berlangsung. Loly dengan seksama memperhatikan sang dosen yang tengah memberikan penjelasan mengenai hasil diskusi bersama. Menambahi beberapa bagian yang kurang.
Lima menit lagi mata kuliah pertama akan usai. Dari depan kelas Loly, tampak salah seorang mahasiswa laki-laki yang tengah resah. Sebentar-sebentar melirik ke dalam kelas. Memastikan kapan pembelajaran akan selesai. Begitu mengetahui dosen telah keluar dari kelas.
Dengan tidak sabar ia menerobos memasuki kelas.
Brak.
Seseorang menabrak bangku lalu mendudukinya.
"Loly, apa benar kamu sudah menikah?"
"Jawab dulu dong, kamu benar sudah menikah?"
Dengan santai Loly menjawabnya.
"Loly memang sudah menikah kak, seminggu yang lalu."
"Jadi benar sudah menikah ya?" Mario meyakinkan sekali lagi.
"Sudah kak. Sudah dulu ya, Loly mau ke ruang F. Mau lanjut ke mata kuliah selanjutnya."
Loly bangun dari duduknya dan segera bergegas menuju ruang F.
"Amsyong deh gue. Belum berjuang sudah kandas duluan."
Seharian ini Mario tidak bersemangat menjalani hari-harinya.
Berbeda dengan Loly dan apalah-apalah squad. Sangat bersemangat dan berenergi.
"Tadi aku denger gosip kalau Jena rese ke Loly." Erin membuka pembicaraan mereka.
Sambil menikmati makan siangnya yang lain menunggu jawaban dari Loly.
Yang ditunggu malah sedang asyik bertukar pesan dengan suaminya.
"Astaga Loly." pekik Reni.
"Eh, ada apa?" polos Loly bertanya, karena sedari tadi ia sedang terfokus hanya pada pesan suaminya.
"Tadi, Erin denar gosip kalau Jena lagi rese sama kamu Loly, emang bener?" tanya Evi.
__ADS_1
"Dia ngapain kamu?" berondong Dona.
Loly menyudahi aktivitas bertukar pesan dengan suaminya. Kemudian memasukkan gawai itu ke dalam tas.
Menyeruput es jeruk dan menjawab dengan perlahan berbagai pertanyaan dari teman-temanya.
"Kurang ajar benar tuh cewek." Reni dibuat emosi olehnya.
"Sudah lah, lagian sudah lewat. Dia tidak akan berbuat macam-macam selagi jauh dari mamanya." cegah Loly.
Brak. Dona menggebrak meja.
"Dia keterlaluan Ly, bagaimana kalau kita beri dia pelajaran." Usul Reni.
"Em, sepertinya tidak perlu." jawab Loly dengan memberi isyarat satu jarinya mengatakan tidak.
"Selagi tidak kelewat batas. Biarkan saja. "
"Kita awasi saja dia." usul Erin.
"Setuju." jawab semua serentak.
Loly hanya menghela nafas panjangnya.
"Baiklah itu terserah kalian. Asal jangan ada yang bertindak tanpa sepengetahuanku ya." peringat Loly.
"Siap bos."
Hahaha. Mereka menertawakan itu.
"Bos apaan ?"
"Bos pengantin baru."
Akhirnya pembicaraan mereka berganti pada pernikahan yang baru saja dijalani oleh Loly.
Pasalnya, kedua orang tua Loly berpisah karena orang ketiga. Mereka khawatir jika Loly akan terbayang oleh masa lalu orang tuanya.
"Sebenarnya aku juga ragu dengan pernikahan ini. Tapi setelah berbagai pertimbangan, Insya Allah aku yakin. Kami akan bertahan sampai akhir."
Dan hal itu hanya bisa di amin kan oleh teman-temannya.
Semoga pernikahan Loly jauh-jauh dari orang ketiga. Selalu bahagia dan harmonis.
"Oh ya Ly. Kan suami mu itu tentara. Terus kalau nanti dia sedang bertugas di negara lain gimana?"
"Ya gak gimana-gimana dong. Kan aku juga masih harus menyelesaikan kuliahku."
"Kamu gak bakal kangen gitu Ly?" goda Evi.
Yang lain pun penasaran dengan jawaban Loly.
"Em, kasih tahu gak ya..?" hahaha, Loly tertawa di atas rasa penasaran temannya.
"Ah, Loly gak asik nih." Evi pura-pura ngambek.
"Haha, iya-iya ini mau aku jawab nih. Dengerin ya."
"Kalau kak Joan sedang bertugas di luar kotta atau luar negeri dalam waktu sebentar mungkin biasa saja. Tapi kalau dalam waktu yang lama. Mungkin aku akan sangat merindukannya."
Melirik pada teman-temannya yang dengan serius mendengarkan jawaban Loly. Melihat ini, Loly ingin menjahili teman-temannya.
"Pasti aku sangat merindukan pelukan darinya."
"Aaaa dasar Loly." pekik Reni.
__ADS_1
"Jangan gitu dong di depan jomblo." timpal Dona.
Dalam benak Loly pun bertanya. Apa iya nanti aku akan sangat merindukan kak Joan?