
Hari ini, waktu yang direncanakan Loly telah tiba.
Dua hari sejak kepulangannya dari rumah sakit. Alhamdulillah, luka bekas tembak di bahunya sudah mengering, meski belum sepenuhnya. Ia masih harus berhati-hati dalam bertindak. Agar tidak membuat luka itu kembali terbuka.
Pukul sembilan tepat. Loly sudah bersiap dengan rapi. Memakai setelan kemeja dengan blouse, juga celana panjang berbahan kain. Sangat pas dan cocok untuk tumbuhnya yang mungil dan berbentuk.
Tuk tuk tuk.
Suara sepatu Loly mengetuk lantai rumahnya. Berjalan menuju ruang tamu, di sana mama Fika tengah bersantai membaca majalah. Beberapa hari ini, mama Fika sudah tidak lagi bekerja di catering setelah ketahuan Loly.
"Kau sudah rapi, nak? "
Loly berjalan mendekati mama Fika.
"Iya ma. Loly pamit ke kantor dulu. "
"Ya sayang. Bekerja lah dengan tenang. Jangan mudah terpancing emosi. "
"Iya mama ku sayang. "
Sungguh, Loly sangat beruntung terlahir dari wanita di depannya itu. Sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Terutama tidak silau harta seperti Erika.
Sudah jam sembilan lebih lima menit ketika Loly mengangkat lengannya. Memperlihatkan jam tangan berbentuk oval kesukaannya.
"Loly berangkat dulu ma. Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam."
Loly pun berjalan meninggalkan mama Fika. Menuju ke depan.
"Assalamu'alaikum, bu Loly. "
Astaghfirullah.. Mbak Tia ini kok datang tiba-tiba. Mengejutkan saja.
"Wa'alaikumsalam." Loly masih memegang dadanya.
Mbak Tia hanya tersenyum kecil mengetahuinya.
"Maaf, saya mengagetkan. "
Mbak Tia pun membukakan pintu belakang untuk bos cantiknya.
"Di depan saja mbak. Aku mau menemanimu. "
"Baik, silahkan bu. "
Bruk. Pintu mobil tertutup dan mbak Tia berjalan memutar, menyusul memasuki mobil. Segera melajukan mobil ke tempat tujuan.
Lima belas menit terlewati.
Loly dan mbak Tia sudah sampai di tempat tujuan.
Kantor polisi.
Loly hanya berdiam menatapi bangunan itu. Berusaha meredam amarahnya. Ia akan menemui ibu tirinya. Loly akan mengungkap seluruh kejahatan Erika. Yang tersembunyi sekalipun.
Selama ini, Loly berdiam bukan karena ia menyerah. Justru karena ingin mengumpulkan lebih banyak lagi bukti kejahatan Erika. Beruntungnya, ada seseorang yang berbaik hati mengirimkan bukti-bukti yang Loly cari. Dengan bukti yang ia punya, ditambah dari orang misterius itu, Loly akan menuntut hukuman yang berat pada Erika.
Karena Erika pantas mendapatkan hukuman yang setimpal. Penjara seumur hidup? Kita lihat saja nanti.
Huuft..
"Paman sudah di mana, mbak? "
"Tuan sudah berada di dalam menunggu ibu. "
" Kita ke sana sekarang. "
Loly memberikan sebuah map pada mbak Tia.
"Berikan itu pada paman nanti. " lanjut Loly.
"Baik bu. "
__ADS_1
Sesampainya di dalam kantor.
Ternyata sedang ada kegaduhan yang berasal dari ruang besuk. Entah apa yang terjadi. Sepertinya bukan urusan Loly.
Di sini, siapa yang tidak putus asa? Semua yang mendapatkan hukuman, kebanyakan akan berteriak putus asa. Hingga menimbulkan kegaduhan seperti itu.
Tak mau membayangkan yang tidak-tidak. Langsung saja Loly berjalan mengikuti mbak Tia. Menuju ke ruang besuk. Ternyata paman pengacara pribadi kakeknya sudah menunggu di depan ruangan itu.
"Assalamu'alaikum paman. "
"Wa'alaikumsalam, Loly. Bagaimana kabar mu? Maaf paman tidak menjengukmu di rumah sakit. Kemarin baru saja tiba dari malaysia. "
"Tidak apa, paman. Paman bersedia kemari membantu ku saja, aku sudah bersyukur sekali. "
"Ini tugasku, Loly. "
Brakkk.
"Aku tidak terima ini. Kau pasti bohong kan? Kau bukan pengacara perusahaan yang biasanya. Aku tidak mungkin diceraikan. Tidak mungkin dia menjadi miskin secepat kilat. Aku akan menuntut harta gono gini. "
Astaghfirullah.. Loly berjingkat kaget oleh suara dari dalam. Kasihan sekali wanita itu. Sudah masuk penjara, sekarang diceraikan suaminya. Mau menuntut harta gono gini pun tidak bisa.
Tapi...
Kenapa suara itu tidak asing?
Semoga Loly dan mama Fika dijauhkan dari nasib buruk seperti yang menimpa wanita di dalam sana.
"Ayo kita masuk. " Ajak paman pengacara pada Loly.
"Tapi di dalam masih ada yang ribut paman. "
Loly ingin melangkah, namun ragu.
"Ayo. Kita akan menemui orang itu juga. "
Tunggu.. Jangan-jangan, dia..
"Paman... "
Deg.
Timbul perasaan aneh di hati Loly. Benarkah?
Apakah setelah itu papa nya akan kembali padanya dan mama Fika?
Loly tidak bisa menampik keinginan di hati kecilnya. Ia masih sangat mengharapkan kehadiran Surya. Impian memiliki keluarga yang utuh dan bahagia tetaplah ingin terwujud. Meski tidak bisa dipungkiri pula. Hatinya masih retak oleh ulah Surya yang seakan membuangnya dan menggantinya dengan yang lain.
Lalu, apa tidak salah yang ia dengar?
Tadi wanita itu mengatakan tidak bisa menuntut gono gini karena mantan suaminya mengaku miskin?
Sejak kapan?
Meski keseluruhan LF Corp menjadi milik Loly. Surya bukanlah orang bodoh. Ia memiliki pundi-pundi kekayaan yang lain di luar LF Corp.
Heran..
"Kau... Kenapa kemari? Sudah puas merebut harta Surya, hah? "
Astaghfirullah...
Baru saja menginjakkan kaki, sudah disambut dengan cacian. Meski begitu Loly enggan menjawabnya. Baginya, menjawab perkataan Erika hanya akan membuang-buang tenaga saja.
Erika semakin mendelik kesal ketika perkataannya diacuhkan begitu saja.
Kurang ajal sekali anak ingusan ini. Batin Erika.
"Hei, aku pastikan kau tidak akan mendapatkan apa pun. Karena semua harta Surya sudah beralih atas nama ku. "
Astaga.. Sudah dikurung di dalam sini. Masih saja bermimpi yang tidak-tidak.
Erika... Erika. Kau benar-benar sudah tidak bisa berpikir waras.
__ADS_1
"Kau tahu? Separuh LF Corp sudah menjadi milikku Loly. Sebentar lagi, kau akan kehilangan perusahaan warisan kakek tua mu yang sudah dipendam tanah itu! "
Karena diacuhkan. Erika masih saja melancarkan cacian yang tidak berarti bagi Loly.
Menjadikan LF Corp sebagai miliknya?
Yang benar saja.
Loly menoleh ke paman. Memberikan kode padanya agar membuka suara.
"Nyonya Erika yang terhormat. Kami kemari ingin memberitahukan bahwa seluruh kejahatan anda sudah terbongkar. Percobaan pembunuhan pada bu Loly, juga bisnis ilegal anda sebagai germo. Oh saya satu lagi. Penculikan anak-anak kecil untuk memperjual belikan organ tubuhnya. "
Dugh..
Erika jatuh terduduk. Lututnya lemas seketika.
Semua ini tidak mungkin. Dia sudah bekerja sama dengan orang-orang yang bekerja di dunia bawah. Pemerintah tidak akan mampu mencium kejahatannya yang satu itu.
"Tidak mungkin.. " lirih Erika dengan wajah pucat pasi.
Siapa yang tidak takut? Penculikan anak-anak. Lalu pembunuhan dan bisnis jual beli organ tubuh dari hasil penculikannya.
Hukuman apa yang akan menimpanya nanti?
"Suruh dia masuk, paman. "
Lantas Erika segera mengangkat kembali wajah pucatnya. Menatap tajam ke arah Loly.
Sial. Gara-gara gadis di depannya itu, semuanya jadi hancur berantakan.
Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai keramik khas kantor polisi mengalihkan pandangan Erika.
Hah?
Seketika Erika membelalakkan matanya. Dia..
"Selamat datang tuan Hans. "
"Terima kasih tuan. "
"Kau... "
Kenapa Hans bisa kenal dengan pengacara kakek? Dari mada bicaranya pun terdengar akrab dan ramah. Ada apa ini?
Loly sendiri tidak merasa heran. Karena dia sudah diberi tahu. Jika Hans merupakan putra angkat paman.
Rupanya, kejahatan yang Hans lakukan hanyalah sebagai kedok untuk menjebak Erika. Berkat Hans, paman dapat membongkar bisnis ilegal Erika.
"Terima kasih sudah membantu kami.. "
"Panggil kakak saja. Kau boleh menganggapku kakak jika mau. "
Loly tersenyum manis mendengarnya.
Bolehkah?
Loly akan senang jika diizinkan memiliki kakak seperti Hans. Rela berkorban untuknya meski tidak memiliki ikatan darah dengannya.
"Hai Nyonya Erika tersayang. "
Astaga Hans.. Sempat-sempatnya menggoda wanita menjijikkan itu.
Erika pun gelagapan dibuatnya.
Namun secepatnya ia merubah ekspresi. Ia marah dengan pemuda itu.
"Kau mengkhianatiku, Hans. "
"Saya tidak berkhianat nyonya. Bukankah saya tidak pernah berjanji untuk setia pada anda? "
Cemooh Hans pada Erika. Sial.
Erika meradang dengan semuanya.
__ADS_1
Aaaaagh..