Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Perampok?


__ADS_3

Assalamu'alaikum. Apa kabar kalian?


Maafkan author yang tak kunjung update kelanjutan kisah Loly ya. Karena kondisi author yang drop akhirnya author belum bisa melanjutkan cerita ini.


Alhamdulillah. Sekarang kondisi author sudah membaik dan cukup sehat.


Terima kasih banyak-banyak untuk kalian yang masih setia menunggu kelanjutan Loly.


...****************...


Joan berhasil menangkap penyusup yang tadi berhasil memaksa masuk ke kamar Loly melalui jendela. Tapi karena terlalu fokus pada orang tersebut, Joan menjadi sedikit lengah karena kecolongan dengan adanya seorang lagi penyusup yang berhasil masuk menyusul rekannya.


Dor !


Suara tembakan itu. Satu peluru melesat ke arah Loly. Karena khawatir Joan segera melepaskan tawanan yang berhasil ia tangkap. Menuju ke arah istrinya untuk memeriksa bagian mana yang tertembak.


Ah. Joan tercekat memandangi Loly yang mulai mengucurkan darah dari tubuhnya. Lengannya tertembak. Ah tidak. Ternyata bahunya. Tapi tetap saja tidak merubah kalau Loly tetaplah terluka.


"Bertahanlah sayang. Kita ke rumah sakit sekarang." Joan segera mengangkat tubuh mungil Loly ke dalam gendongannya.


Di luar kamar mama Fika dan mbak Eni berdiri dengan raut cemas. Mendengar suara tembakan di tengah malam membuat mereka terangun dari tidurnya yang lelap.


"Apa yang terjadi Jo? Kenapa Loly seperti ini?"


Joan hanya menoleh sekilas ke arah mama Fika. Belum mampu menjawab pertanyaan sang mertua. Menurutnya, nanti saja menjelaskan setelah kondisi Loly terselamatkan. Jangan sampai semakin banyak darah yang keluar. Loly bisa kehabisan darah nanti.


"Kita ke rumah sakit dulu ma. Nanti akan Joan jelaskan."


Mama Fika pun mengekor di belakang Joan. Mbak Eni juga sangat cemas. Tak ingin ketinggalan dan mengikuti mereka menuju mobil.


Pintu belakang dibuka Joan meletakkan Loly di bangku mobil.


Mama Fika mengikuti dengan duduk memangku kepala Loly.


Mbak Eni segera duduk di bangu depan samping kemudi. Sedangkan Joan segera berjalan memutar dan bergegas menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


"Sayang. Bertahanlah, kita akan segera sampai di rumah sakit." mama Fika berucap dengan beruraian air mata. Putri kesayangannya sedang lemah. Bagaimana bisa kejadian ini bisa menimpa Loly?


"Sakit ma.." kata itu keluar dari bibir pucat Loly. Ia sendiri terkejut. Mendengar suara tembakan di tengah tidurnya. Begitu terbangun justru mendapati bagian tubuhnya terasa sakit. Sadar jika tertembak karena melihat Joan yang sangat panik menghentikan aliran darah yang mengucur deras dari luka tembakan itu.


Mobil yang Joan kendarai melaju dengan kencang. Untungnya tengah malam, jadi tidak ada drama macet di jalan oleh pengguna jalan yang lain.

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit.


Joan segera menggendong Loly. Berlari menuju UGD rumah sakit.


"Tolong selamatkan istri saya." Joan berteriak dengan suara lantangnya. Dokter yang kebetulan berjaga pun segera mendatangi Loly yang berada di gendongan Joan.


"Letakkan pasien di sini." dokter menunjukkan brankar di dekat Joan.


"Tangannya tertembak dok. Selamatkan istri saya."


Mendengar keterangan dari Joan. Dokter segera memanggil rekannya dan mendorong brankar menuju ruang operasi.


Di depan ruang operasi Joan dan mama Fika menunggu dengan cemas. Semoga Loly baik-baik saja.


Melihat lampu ruang operasi yang masih menyala. Joan berulang kali menghela nafas untuk menenangkan dirinya. Dia harus tenang meski sedang panik. Karena jika ia panik, maka mama Fika akan lebih panik lagi. Bagaimana pun mama Fika adalah mama Loly.


"Apa yang terjadi Jo? Kami tidak pernah mempunyai musuh. Kenapa mereka melukai Loly?"


Joan menoleh ke arah mama Fika. Menghela nafas sekali lagi.


"Joan juga tidak tahu ma. Tadi Joan merasa tidak nyaman saat tidur. Begitu bangun ternyata ada orang yang sedang mencoba masuk kamar kami melalui jendela samping. "


"Perampok?" tanya mama Fika dengan panik.


Air mata mama Fika luruh kembali. Dalam pikirannya tidak pernah terlintas sedikitpun kejadian ini akan menimpa putrinya.


Setelah Loly memutuskan menerima wasiat kakeknya, Loly memang sering mengalami tindakan kejahatan. Ketika pelaku tertangkap ternyata hanya suruhan yang bahkan tidak tahu identitas yang menyuruh mereka melakukan tindakan kejahatan terhadap Loly.


Tapi ini yang terparah karena membahayakan nyawa. Dan terjadi di dalam rumah sendiri. Di kamar Loly.


"Bagaimana ini Jo? Kita harus lapor polisi. Mama takut Loly kenapa-napa."


"Iya ma. Joan sudah melapor. Mungkin sebentar lagi polisi akan segera tiba."


"Sekarang lebih baik kita berdoa. Semoga Loly baik-baik saja ya ma." lanjut Joan. Ia terlihat sangat tenang. Meski begitu, dalam hatinya cemas tidak terkira. Pelaku harus segera tertangkap. Jika polisi tidak berhasil meringkus pelaku beserta antek-anteknya. Maka Joan akan bergerak sendiri. Mungkin akan meminta sedikit bantuan pada rekannya.


Joan adalah pasukan elit khusus di kesatuan. Menangkap penjahat seperti mereka bukanlah hal yang sulit. Tapi ia mencoba untuk menyerahkan semuanya pada kepolisian. Semoga mendapatkan hasil seperti yang ia harapkan.


Selang beberapa waktu lampu ruang operasi sudaha padam. Melihat itu mama Fika dan Joan segera berdiri mendekati pintu.


Benar saja, dokter keluar dari sana. Tampak wajah lega dari sang dokter. Namun, saat melihat sorot mata sang dokter, Joan merasa tidak yakin. Semoga ini kabar baik. Harap Joan.

__ADS_1


"Alhamdulillah peluru sudah berhasil dikeluarkan dari bahu bu Loly. Karena kehabisan banyak darah saat ini bu Loly masih kritis. Tapi sejauh ini kondisi bu Loly tidak perlu dikhawatirkan. "


"Alhamdulillah. Apakah kami boleh melihatnya dokter?"


Mama Fika sudah mewakilkan pertanyaan Joan. Ia ingin memastikan sendiri keadaan istrinya.


"Silahkan. Tapi harus bergantian dan tolong jangan ganggu istirahat pasien. Agar lekas pulih."


"Baik dokter." jawab mama Fika.


"Saya permisi dulu."


Saat ini di salah satu ruangan vvip. Loly tergolek lemah di brankar kesakitan. Dengan wajah yang pucat namun tidak sepucat tadi.


"Mama masuklah dulu. Joan akan masuk setelah mama." Joan tahu mama mertuanya sangat mencemaskan putrinya. Jadi ia tidak ingin egois. Lebih baik mendahulukan mama Fika. Orang yang melahirkan istrinya ini pasti lebih cemas dari dia.


Mama Fika hanya mengangguk dan berlalu membuka pintu ruang Loly.


Joan hanya memandangi melalui jendela lebar.


Lihatlah baru masuk saja air mata mama Fika tidak berhenti mengalir. Pasti ia sangat sedih dengan kondisi putrinya. Pemandangan ini sungguh sangat tidak indah di mata. Joan bersumpah akan menghukum pelaku dengan setimpal.


Lima menit berlalu. Mama Fika sudah membuka pintu dan keluar dari sana.


Ketika Joan akan berganti masuk, terlihat dua orang polisi menghampiri.


"Selamat malam, kami dari kepolisian. Apa benar bersama bapak Joan Andi Tama?"


"Ya saya Joan. Apakah bisa jika saya meminta untuk segera menangkap pelaku?"


"Kami akan mengusahakan yang terbaik. Tetapi saya butuh keterangan dari anda agar memudahkan kami dalam bertugas."


"Baik. Mari kita berbicara di sana saja." ucap Joan seraya menunjuk bangku di dekatnya.


"Mama tunggu di sini sebentar ya. Joan tidak akan lama."


"Iya nak. Tangkap pelakunya. Hukum dia Jo. Mama tidak rela mereka melukai putri mama."


Joan hanya mengangguk dan berlalu bersama dua polisi tadi.


Setelah memberikan keterangan dengan sejelas mungkin. Dapat disimpulkan bahwa kemungkinan ini berhubungan dengan LF Corp yang tengah ditekuni Loly.

__ADS_1


Semoga saja bukan pak Surya dalangnya. Dia ayah kandung Loly. Tidak mungkin kan dia akan setega itu kepada putrinya sendiri?


__ADS_2