
Setelah menjalani sidang dengan bermacam tuntutan. Akhirnya Erika di vonis hukuman kurung seumur hidup. Itupun sudah bentuk keringanan dari yang sebelumnya, hukuman mati.
Erika di tempatkan di suatu ruang yang sangat pengap sebagai hukumannya. Tanpa cahaya dan tanpa lawan bicara.
Tidak dapat menerima kunjungan dari siapapun. Setimpal dengan perbuatannya.
Di sisi lain. Jena terlihat menyedihkan. Setelah semua orang tahu Erika ibu dari Jena, kontras membuatnya dikucilkan dari pergaulannya.
Rasanya ingin saja menenggelamkan diri ke dasar bumi terdalam. Jena tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Ia memang berperilaku buruk, terutama kepada Loly. Namun mendapati keburukan dan kejahatan mama nya. Membuat Jena serasa tercekik dibuatnya.
"Aaaaagh... Kenapa aku punya mama sejahat dirimu ma? Kenapa aku harus menjadi anak dari wanita sejahat kamu? "
Kekecewaan yang mendera sungguh menyiksa. Kecewa, marah dan entah apa yang dirasakan Jena. Ia sendiri tidak bisa memahami perasaannya.
Hancur.
"Huuu huuu huuu... Aku tidak sanggup menanggung kejahatanmu ma. Aku tidak sekuat itu. "
Saat ini Jena tengah meringkuk di bawah lantai kamarnya.
Beberapa minggu mama nya itu sangat sulit dihubungi. Kemana mama nya ini?
Flashback
Siang itu, Jena tengah bersantai di sebuah cafe bersama teman-temannya. Namun ia sangat terkejut dengan berita yang ditayangkan di televisi cafe.
Nama Erika muncul sebagai terdakwa atas beberapa kasus kejahatan yang tidak bisa ditoleransi oleh semua orang.
Sungguh, Jena lemas seketika. Ia malu mengetahuinya. Tanpa kata Jena segera meninggalkan tempat dengan berlari.
Teman-teman Jena yang tidak tahu hanya menggelengkan kepala. Sedangkan yang tahu pun merasa iba dan tidak ingin berteman dengan Jena lagi. Khawatir kejahatan itu juga persekongkolan antara anak dan ibunya.
Flashback off
Pagi harinya kabar Erika sudah memenuhi di media manapun. Baik televisi, koran hingga majalah. Semua berisi tentang Erika.
Jena sendiri yang awalnya ingin berangkat menuntut ilmu di kampus berbalik memutar arah. Ia sangat malu dengan pandangan setiap orang yang ia lewati. Sinis dan jijik.
Mereka semua beranggapan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sehingga banyak sedikit apa yang Erika lakukan tentu saja akan menjadi contoh bagi Jena. Dan tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti Jena akan melakukan hal yang sama.
Tidak ada lagi Jena yang sombong dan angkuh. Kini ia sendirian di dalam kamarnya.
Jena akui, ia memang jahat. Tapi hanya pada Loly. Itu pun karena rasa iri menggerogoti hatinya hingga tega menikmati kesakitan Loly atas hancurnya keluarganya.
Apakah ini karma?
__ADS_1
Kenapa sesakit ini? Andaikan diperbolehkan. Ingin rasanya Jena menemui Loly untuk meminta maaf atas kesalahannya. Ia tidak bermaksud merebut papa Surya. Ia hanya ingin mendapatkan kasih sayang seperti yang Loly rasakan selama ini.
Apakah salah mengharapkan kasih sayang seorang ayah?
Sebenarnya Jena tidak harus mencari perhatian dari ayah yang lain. Karena papa nya sendiri Jaya, pun sangat menyayanginya.
Terbiasa hidup manja dengan gelimangan harta, membuat Jena meniru sifat Erika yang tidak bisa hemat.
Saat itu Jaya yang masih mengaku bangkrut telah membiarkan pilihan pada Jena. Dan Jena lebih memilih bersama Erika. Maka jadilah seperti sekarang.
Andaikan, andaikan dan andaikan.
Andai saja Jena tahu akan berakhir seperti ini, tentu ia lebih memilih hidup sederhana bersama papanya. Ia akan menuruti semua aturan papanya.
Penyesalan memang selalu datang di akhir.
...****************...
Setelah menghadiri persidangan Erika yang ditayangkan live di beberapa stasiun televisi. Loly dan mama Fika segera pulang ke rumahnya. Mama Joan pun tadi ikut menemani, tapi ia ada keperluan di luar sehingga tidak pulang bersama.
Di perjalanan, Loly dan mama Fika banyak bercerita. Andaikan suatu saat nanti diberikan kesempatan. Semoga Erika mendapatkan kesempatan itu untuk bertaubat.
Setelah menyaksikan sendiri vonis hukuman bagi Erika. Mama Fika dan Loly saling menggenggam tangan menguatkan. Mereka berdua masih menyayangi Erika karena pernah berbuat baik sebelumnya.
Tapi, kejahatan tetap harus mendapatkan hukuman.
Loly tidak berniat membalas Erika. Ia hanya ingin Erika menyesal dan menghentikan kejahatannya.
Namun, hukuman mati?
Astaghfirullahal 'adhiim..
Begitu mendengarnya hati Loly terasa di remat-remat dengan kerasnya. Lantas, Loly memberitahukan pada paman Salman untuk tidak menuntut hukuman mati. Cukup penjara seumur hidup.
Dengan harapan semoga kesempatan hidup ini dipergunakan Erika dengan baik.
Ciiit.
Mobil yang membawa Loly telah berhenti di halaman depan rumah.
Mama Fika turun lebih dulu, disusul dengan Loly.
Kedua orang ini pun bergegas memasuki rumah. Menuju kamar masing-masing untuk menenangkan diri.
Di sisi mama Fika.
__ADS_1
Setelah memasuki kamar, mama Fika segera mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan lalu berbaring di kasur.
Mama Fika seorang ibu. Tentu saja ia memikirkan nasib Jena. Bagaimana ya nasib anak dari sahabatnya itu?
Jena memang sempat kurang ajar padanya. Tapi bagi mama Fika, hal itu Jena lakukan karena Erika tidak tegas mendidik Jena.
Jena.. Bagaimana pun. Dia anak perempuan yang ia sayangi sama seperti Loly.
Jangan sampai karena mamanya ini Jena menjadi berpikir buruk dan mengambil tindakan yang pendek.
Masih memikirkan tentang Jena, terdengar nada dering telepon dari ponsel mama Fika.
Dua kali berbunyi tapi belum mama Fika jawab. Ia masih enggan berbicara dengan orang lain.
Ketika berdering untuk yang ketiga kalinya barulah mama Fika menjawab telepon itu.
Sepertinya penting. Tapi kok nomor tidak dikenal?
"Halo.. Dengan siapa? "
"Aku Jaya, Fika. Maaf mengganggu. Boleh minta waktunya sebentar? Ini tentang Jena. "
Jaya? Tentang Jena? Ada apa ini? Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk.
"Ya Jaya. Ada yang bisa ku bantu? "
"Maaf merepotkan mu Fika. Tapi bolehkah aku meminta alamat Jena yang baru? Aku khawatir padanya. Tentunya ia sudah menyaksikan berita mama nya ini. "
Benar apa yang Jaya katakan. Saat ini Jena tidak bisa dibiarkan sendiri. Tapi di mana alamat Jena yang baru? Mama Fika juga tidak tahu.
"Emm.. Bukannya tidak mau membantu, tapi aku benar tidak tahu alamat Jena yang baru. Maaf Jaya. Hubungan kami memburuk setelah aku bercerai. "
"Ya Fika. Tidak apa. Ini bukan salahmu. Bolehkah aku minta tolong kau tanyakan pada Loly? Mungkin ia tahu alamat Jena atau teman Jena. "
"Baiklah aku tanyakan pada Loly. Tunggu sebentar ya. "
Tanpa mematikan sambungan telepon mama Fika bergegas menuju kamar Loly.
Astaga. Hampir saja mama Fika bertabrakan dengan Loly karena tergesa.
"Ada apa ma? Kenapa buru-buru? "
"Ini om Jaya telepon. Dia menanyakan alamat Jena, kamu tahu nak? "
"Dia sekarang tinggal di apartment dekat kampus ma. Yang mewah itu. "
__ADS_1
"Halo Jaya. Kau masih di sana? "
"Halo Fika. Ya aku juga mendengar suara Loly. Terima kasih sudah mau membantu ku. "