
Sesuai dengan yang disarankan oleh dokter Ima. Loly yang masih terbaring di brankar pun mulai melepaskan bawahan yang ia kenakan.
"Permisi ya bu Loly." suara dokter Ima memecah ketegangan yang meliputi Loly.
"Relax ya bu. Jangan tegang." lanjut dokter Ima. Kemudian nampaklah hasilnya di layar monitor.
Di sana terlihat bentuk rahim yang lebih jelas dari pada saat usg melalui perut tadi.
"Alhamdulillah normal bu Loly. Sel telurnya pun sudah mencapai ukuran yang sesuai. "
Pemeriksaan selesai. Dokter Ima kembali menuju meja kerjanya lalu duduk di kursi di balik meja tersebut.
Setelah mengenakan bawahannya kembali, Loly mengikuti dokter Ima duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerja dokter Ima.
"Baiklah bu Loly, untuk bu Loly sejauh ini alhamdulillah normal. Nanti akan saya resepkan vitamin pendukung untuk ibu ya." dokter Ima mengubah pandang ke arah Joan yang masih setia mendengarkan dokter Ima.
"Untuk bapak, sebaiknya juga dilakukan pemeriksaan juga. " dokter Ima tampak memberikan secarik kertas yang dilipat dan dimasukkan ke dalam amplop.
"Ini adalah surat pengantar untuk bapak melakukan pemeriksaan analisa ******. Di sana sudah tertulis nama laboratorium yang bekerja sama dengan klinik kami."
Joan menerima amplop putih persegi panjang itu dengan tatapan bingung. Dokter Ima tersenyum lembut. Ia tahu kebingungan pasiennya ini.
"Sebelum analisa ******, sebaiknya bapak puasa dulu selama tiga hari. " kemudian dokter Ima menjelaskan lebih lanjut mengenai langkah apa saja yang harus Joan lakukan saat pemeriksaan nanti.
Setelah memastikan Joan sudah paham, dokter Ima kembali melihat kertas yang bertuliskan hasil analisa terhadap rahim Loly melalui usg.
Konsultasi sudah selesai.
Loly mendapatkan dua lembar kertas. Satu berisi resep beberapa vitamin yang harus ia konsumsi. Yang satu lagi berisi tentang jadwal berhubungan yang berdurasi seminggu tiga kali.
Ternyata program hamil bisa serumit ini ya.
Tidak selesai sampai disitu. Beberapa hari selanjutnya Joan melakukan analisa ******. Dari hasilnya terlihat normal.
Alhamdulillah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini hanya soal waktu.
***
"Kangeeen..." teriak Dona saat melihat Loly dari kejauhan yang berjalan ke arahnya.
Setelah jarak semakin dekat, dengan tidak sabar Dona mengikis jarak lalu memeluk Loly. Melihat Dona dan Loly berpelukan, membuat Reni, Evi dan Erin tidak mau ketinggalan juga.
Bruk.
Kelima gadis ini saling menubrukkan diri. Bukan lima, tetapi empat gadis dan satu wanita bersuami.
Hari ini adalah hari yang sudah sangat mereka nantikan. Bertemu untuk sekedar menghabiskan waktu bersama sebelum semester baru dimulai.
Setelah puas berpelukan seperti teletubbies, semuanya segera duduk melingkari meja sebuah cafe tempat mereka janjian.
__ADS_1
"Gimana kabar kalian? Maaf ya aku tidak pernah bisa meluangkan waktu. " sesal Loly sambil menatap satu persatu temannya.
"Tidak masalah Ly. Aku juga tidak pernah ikut berkumpul kok." Erin.
"Oke. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus saja sama pertemuan kita hari ini. Kita nikmati waktu ini selagi masih di sini." Bijak Evi.
"Iya benar itu." Reni menjawab dengan semangat.
Tidak terasa tiga jam waktu yang sudah mereka habiskan dengan mengobrol dan saling curhat.
"Ah aku masih belum ingin pulang." rengek Erin.
"Aku juga."sahut Evi sedikit sendu.
Jam masih sore. Pasti di rumah sangat sepi. Evi benci kesepian. Tapi ya itulah kehidupan yang harus Evi telan setiap harinya.
"Dua hari lagi kuliah sudah masuk lagi kok." hibur Loly.
"Lagi pula aku juga harus pulang. Dokter berpesan tidak boleh terlalu lama beraktivitas di luar rumah." lanjut Loly kembali.
Akhirnya mau tidak mau mereka memisahkan diri untuk kembali ke rumah masing-masing.
***
"Bagaimana tadi? Senang?" tanya Joan.
Keduanya tengah duduk bersama dengan Loly bersandar di dada Joan.
"Dia pasti merasa sepi." Joan menyahut.
"Ya. Aku beruntung masih ada mama dan mbak Eni yang setia menemani."
Joan mengernyitkan dahinya. Mama dan mbak Eni? Lalu dia bagaimana?
Merasa tidak terima dengan pernyataan istrinya itu Joan langsung membalik tubuh Loly menghadapnya.
"Hanya mama dan mbak Eni ya?" tanya Joan dengan wajah sendu dibuat-buat.
Loly yang melihat tingkah tidak biasa suaminya itu menjadi gelagapan dibuatnya.
"Emm.. Kamu juga mas." malu-malu Loly menjawabnya. "Dengan hadirnya dirimu, aku merasa semakin lengkap."
Kini wajah Joan yang memerah. Tidak biasanya Loly menyatakan perasaannya dengan kata-kata manis seperti itu.
Dengan wajah merahnya, Joan menghirup udara lebih banyak. Ia merasa kekurangan oksigen saat mendengar kalimat manis istrinya.
Masih dengan posisi yang sama. Loly mengalungkan tangannya ke leher Joan. Ditatapnya suami tampannya ini. Semakin dilihat semakin tampan. Loly jadi berpikiran buruk. Pasti dulu Joan sering bergonta-ganti pacar. Pasti Joan menjadi jajaran playboy yang diincar oleh para wanita.
Memikirkannya saja membuat Loly menjadi kesal.
__ADS_1
Huh. Loly menarik lagi tangannya dari leher Joan. Menatap sengit suaminya. Aura permusuhan dilayangkannya pada sang suami yang tidak mengerti apa-apa.
"Kenapa, hmm?" tanya Joan.
Loly semakin kesal mendengar pertanyaan dari Joan. Kenapa?
Heh. Dasar lelaki tidak peka. Loly mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kesal sekali rasanya.
"Sayang." Joan meraup wajah Loly, membuat tatapan mereka bertemu kembali.
"Apa aku berbuat salah?" suara Joan semakin rendah. Melembut seakan dapat mengobrak-abrik suasana hati Loly yang semakin memburuk.
Masih dengan kecemburuan yang tidak jelas. Loly masih memikirkan hal yang sama. Dengan wajah tampan itu, Loly percaya pasti suaminya memiliki banyak mantan.
Lihatlah! Kalian dengar suara lembut itu. Pasti dia pandai merayu wanita.
Huh. Loly mendengus sekali lagi.
"Boleh aku tahu salahku di mana, hemm? Tolong bantu aku agar mengerti letak kesalahanku." wajah Joan memelas. Dia tidak mengerti dengan perubahan emosi Loly yang tiba-tiba.
Bukankah barusan masih baik-baik saja? Bahkan Loly masih berkata manis tadi.
Karena tidak menemukan kesalahan dirinya. Joan menunggu jawaban dari istrinya. Mungkin saja tanpa dia sadari sudah menyakiti istrinya. Tapi apa ya?
"Apa dulu mas mempunyai pacar?" cicit Loly dengan wajah polosnya.
Astaga. Apa yang sedang Loly pikirkan. Kenapa bisa berpikir sejauh itu. Lagipula itu kan masa lalu.
"Jadi kamu tiba-tiba kesal karena memikirkan itu?" tanya Joan tidak percaya. Wah.. Sungguh, Joan ingin melahap habis istrinya saat ini juga.
Tanpa menunggu jawaban dari Loly. Joan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Baru akan melayangkan ciuman. Namun pergerakan Joan terhenti.
Loly menutup bibirnya dengan satu tangannya. Lalu menahan bibir Joan dengan tangan yang satunya lagi.
"Jawab dulu mas. Apa dulu mas mempunyai pacar? Pasti pacar mas banyak ya?"
Mendengar pertanyaan yang sama. Bukanya menjawab. Joan malah melanjutkan aksinya lagi. Mencium istrinya paksa, namun tetap dengan lembut.
Awalnya Loly bergerak memberontak. Namun karena kelembutan Joan, Loly kemudian menikmatinya jug. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Seakan meluapkan kesalnya. Loly membuat gerakan tubuhnya menjadi sangat erotis saat peperangan terjadi.
Setelah mengalami beberapa kali pelepasan, Loly merasa sedikit baik. Tapi tidak dengan kecurigaannya terhadap masa lalu sang suami.
Dalam kondisi yang masih lemas. Loly kembali mempertanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya.
"Aku tidak pernah berpacaran. Hanya kamu satu-satunya yang sudah membuatku jatuh cinta. Sekarang tidur ya."
Cup.
__ADS_1
Mata Loly terpejam setelah mendapatkan jawaban dan kecupan dari suaminya.