Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Tunggu Sebentar Lagi


__ADS_3

Batas waktu yang telah diberikan Loly pada Surya, telah sampai.


Siang hari, Loly telah sampai di kantor pusat LF corp.


Begitu menjejakkan kakinya di lobi, dari arah dalam tampak dua pegawai yang berjaga di meja resepsionis berdiri lalu membungkuk, memberi hormat pada Loly.


Kasak kusuk pun terdengar sepanjang jalan Loly menuju ruangan CEO.


*Ternyata bu Loly masih sangat muda ya.


CEO kita sangat cantik*.


Loly tidak memperdulikan tatapan memuja dari para pegawai. Namun terlihat sesekali Loly membalas sapaan pegawai dengan senyum lembutnya.


Salah seorang wanita berusia tiga puluh tahun-an, berjalan tergopoh setelah mendengar kabar kedatangan Loly.


"Selamat siang, bu Loly. "


Ia menghormat dengan membungkukkan sedikit badannya.


"Selamat pagi, mbak Tia. Bagaimana perkembangannya? "


"Bapak sudah menemukan pelakunya bu, tapi masih belum bisa membuktikan siapa dalangnya. "


Smirk.


Loly sedikit tersenyum sinis mendengarnya. Erika memang terlalu pintar menyembunyikan kebusukannya.


Papanya yang terkenal hebat saja bisa kecolongan seperti ini.


"Sudah mbak Tia siapkan semuanya? "


"Sudah bu. "


Tiba juga Loly di depan ruangannya. Loly menghentikan sejenak langkahnya. Menghirup banyak udara demi melegakan dadanya yang sedikit sesak.


Begitu memasuki ruangan. Loly segera mendudukkan diri di kursi kebesarannya.


Sedikit menyapu ruangan yang sudah dua kali ini ia tempati.


"Berikan berkasnya mbak. "


Pinta Loly dengan lembut nan tegas.


Mbak Tia, asisten Loly. Segera memberikan berkas yang Loly minta.


Sebelumnya mbak Tia adalah sekretaris kakeknya. Meski di usianya yang sangat muda saat itu. Mbak Tia termasuk karyawan teladan, dia cekatan terhadap tugas yang diberikan. Mampu berada di bawah tekanan berat sekalipun. Dan kesetiaannya pada LF corp, tidak bisa diragukan lagi.


Sehingga tanpa Surya tahu. Kakek memberikan visi pada mbak Tia. Memintanya mengawasi Surya dan melaporkan setiap perkembangan LF corp. Tentunya berkat dukungan orang kepercayaan kakek juga. Mbak Tia mampu bertahan sampai saat ini. Hendak membersamai perjuangan Loly di LF corp.


Setelah membaca beberapa berkas itu, tampak Loly menghela kasar nafasnya.


"Tidak ku sangka, paman Hans yang sangat dipercaya papa juga berkhianat. "


Kurang apalagi seorang Hans ini. Perusahaan sudah memberikan fasilitas tingkat prima padanya, memberikan tunjangan pendidikan untuk anak-anaknya. Masih saja ingin meraup keuntungan yang lebih.


Cih, serakah.


Mbak Tia masih setia berdiri tegap di hadapan meja kerja Loly. Menunggu aba-aba untuk melaksanakan titah Loly.


"Mbak Tia boleh kembali kerja. Saya akan ke ruangan bapak. "


"Baik bu Loly. Kapan pun anda membutuhkan, saya siap. "


Mbak Tia membungkuk lalu berjalan mundur untuk menggapai pintu. Lalu keluar meninggalkan Loly.

__ADS_1


Resah, tentu saja. Loly akan kembali berhadapan dengan Surya. Loly sangat tidak menginginkan ketegangan terjadi.


Setelah mempersiapkan diri dan meneguhkan hatinya, Loly bergegas menuju ruangan Surya.


Untuk menyapa papa nya. Dan meminta hasil investigasi mengenai kerugian LF corp.


Sejenak Loly memandangi pintu ruangan Surya. Dalam pikirannya menerawang akan seperti apa pertemuan dirinya dengan Surya nanti. Namun ia segera menepis hal itu. Prioritasnya saat ini adalah mengungkap bukti kejahatan Erika. Lalu mengatasi kerugian LF corp.


TOK TOK.


"Masuk."


Jantung Loly sedikit berdegup mendengar seruan Surya dari dalam.


Dengan segera Loly membuka pintu lalu memasuki ruangan.


Melihat tidak ada suara ataupun pergerakan dari orang yang baru saja memasuki ruangannya. Surya mengangkat kepalanya yang sedari tadi fokus menandatangani beberapa file.


Sorot lelah Surya bertemu dengan mata Loly. Terpancar kerinduan antara keduanya.


Namun gengsi telah menyelimuti pikiran Surya.


"Ada apa Loly? "


Sejenak Loly memandang Surya, kemudian melepasnya dengan segera setelah mendengar kalimat tanya Surya.


"Sudah satu minggu, pa. Loly menagih bukti dari papa. "


DEG


Ingatan Surya yang entah terbang kemana, kini sudah kembali ke tempatnya.


Sejenak membuang nafas berat.


Loly kembali menelisik mimik muka Surya. Melihatnya yang hanya diam seraya membuang nafas berat, Loly seakan tahu jika Surya belum menemukan dalang yang sebenarnya.


"Tidak. Hanya belum. "


Surya menentang keras tuduhan Loly. Ia tidak terima kinerjanya diremehkan oleh anak seumur jagung di hadapannya ini. Yang tidak lain putrinya sendiri.


Loly menampakkan senyum sinisnya.


"Biarkan Loly yang menangani ini. "


Surya melotot tajam mendengar pernyataan Loly. Dia tidak ingin putrinya mengambil alih LF corp. Jadi bagaimanapun caranya. Dia harus mencegah Loly terlibat dalam urusan apapun yang menyangkut LF corp. Meski secara sah pemilik LF corp adalah Loly.


"Tidak perlu. Kamu tunggu saja sebentar lagi. "


Loly mengernyitkan dahinya. Surya tidak menyangkal tentang kejahatan Erika lagi. Apakah papa nya ini sudah mulai tersadar? Atau apakah ada hal lain yang disembunyikan lagi?


Karena Loly yang sebenarnya malas jika berurusan dengan dunia bisnis. Ia pun memutuskan untuk memberikan kelonggaran waktu pada Surya.


Loly seperti menemukan benang kusut yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


Sepertinya Surya mengetahui salah satu tindakan bodoh Erika.


Masa bodoh. Bagi Loly, asalkan LF corp tetap berlangsung sebagaimana mestinya saja ia sudah tenang.


Mengenai siapapun yang memimpin LF corp. Loly atau Surya. Bukan masalah besar bagi Loly.


Ia hanya akan memastikan warisan kakeknya ini berada di jalur yang sudah dirancang kakeknya. Jalur kejayaan dan kemakmuran. Serta dapat memberikan kesejahteraan bagi banyak orang.


"Baiklah. Papa atur saja. Kali ini tidak akan ada kesempatan lagi jika papa tidak bisa mengungkap dalangnya. "


Surya terkekeh mendengar ancaman Loly.

__ADS_1


"Kau meremehkan ku? "


"Tunggu saja tiga hari lagi. Hans juga orang yang berada di baliknya itu akan mendapatkan ganjaran dari perbuatannya. "


"Aku menantikan itu. "


Setelahnya Loly melenggang pergi meninggalkan Surya.


Dia tidak percaya. Kenapa Loly menjadi sulit diatur.


Kemudian Surya tersenyum sendiri. Putrinya sudah dewasa. Tentu saja tidak akan mudah baginya untuk membohonginya lagi.


***


Saat ini Loly sedang dalam perjalanan pulang.


Dalam hatinya sangat merindukan sosok yang beberapa hari ini tidak dapat diraihnya.


Ia membayangkan seandainya Joan berada di sisinya.


Tiba-tiba pipi Loly memanas. Pandangan matanya sedikit berkabut kala dalam bayangan itu terlintas bagaimana perlakuan Joan terhadapnya.


Bahkan saat bercinta, Joan tetap memperlakukannya dengan sangat lembut.


Pertarungan yang menghasilkan banyak peluh itu kini membayangi pikiran Loly.


"Astaghfirullah." Apa yang sedang ku pikirkan.


Kemudian Loly tersenyum sendiri.


Dia sangat merindukan Joan. Merindukan rengkuhan hangatnya.


Kemudian ia meminta sopir taksi segera mempercepat lajunya. Ia ingin segera sampai di rumah.


Dalam perjalanan ia melihat ada penjual cilok. Sudah lama dia tidak memakan makanan kenyal itu.


Ingin menghentikan sopir taksi. Namun ia menyadari laju mobil taksi ini sudah bertambah sesuai keinginannya tadi.


Loly pun mengurungkan niatnya.


Sampai lah Loly di depan rumah mertuanya.


Bergegas ia turun dari taksi setelah membayarnya dengan melebihkan sedikit dari tarif semestinya.


Loly mengucapkan salam dengan sedikit keras dan tergesa.


Mendengar suara sang menantu. Mama Joan tergopoh untuk segera membukakan pintu.


Begitu tampak di hadapannya berdiri seorang Loly. Keduanya langsung menyergap saling memeluk erat.


Kerinduan kedua insan pada sosok Joan mereka luapkan dengan saling merengkuh.


Terdengar lirih isak tangis Loly. Perlahan mama Joan menjauhkan diri dari Loly.


"Kenapa nak? "


Loly kembali memeluk mama Joan.


"Loly sangat merindukan kak Joan ma. "


"Sabar ya sayang. Kita harus tetap mendoakan keselamatannya. "


Loly hanya mengangguk. Lalu keduanya masuk ke dalam dan bercengkerama hangat.


Tak lupa ia mengabari mama Fika jika malam ini ia akan menginap di rumah mertua.

__ADS_1


Loly sedang merebahkan dirinya di kasur empuk kamar Joan.


Berusaha menghirup aroma maskulin Joan yang tertinggal. Lalu memejamkan matanya sambil memeluk foto Joan dalam pigura kecil.


__ADS_2