Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Loly Hamil


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Pagi ini Joan kembali dari tugasnya. Namun ia harus berangkat lagi untuk menjaga keamanan di perbatasan negara.


Huuft. Tak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Loly. Istrinya itu sedang mengandung calon buah hati mereka. Dan di trisemester ke dua ini sedang sangat manja-manjanya. Susah sekali untuk berjauhan.


"Makan dulu sarapannya kak. Kenapa melihatku seperti itu? Makananmu di meja. " Ujar Loly dengan mengarahkan tatapan matanya pada piring yang sudah diisi makanan.


"Bukan aku. " lanjutnya memonyongkan mulutnya. Kesal sekali rasanya. Baru juga bertemu, kok malah bengong saja.


Ajak ngobrol kek. Katakan rindu, misalnya.


Huuh. Loly menghentakkan kakinya, namun tetap melayani suaminya. Kali ini menyeduhkan segelas kopi hitam pahit tanpa gula, kesukaan Joan.


"Terima kasih istriku. "


Blush..


Pipi Loly yang semakin chubby itu masih menggembung kesal. Namun mendapat ucapan terima kasih dari suaminya. Membuatnya memerah. Bahkan sudah akan menjadi ibu, masih saja malu-malu kucing.


Gemas rasanya. Ingin sekali Joan segera mengukungnya di kamar seharian.


"Sudah, sana makan itu. Keburu dingin. "


Joan hanya tersenyum kecil menanggapi respon istrinya. Dari awal pernikahan hingga sekarang ini. Loly tidak pernah berubah. Selalu lembut dan manja. Terkadang juga jutek begini kalau sedang kesal. Tapi yang membuat Joan merasa lega adalah sifat malu-malu Loly. Hal itu menunjukkan ia masih berada dalam fitrahnya sebagai perempuan.


Kata Nabi, “Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1932)


***


Sedang menjemur pakaian.


Loly dikejutkan dengan pelukan sepasang tangan kekar dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan Joan, suaminya.


"Ih, sana dulu kak. Biar ku selesaikan dulu jemurannya."


Bukannya melepaskan rengkuhannya, justru Joan semakin merapatkan dirinya dengan istrinya. Mengeratkan pelukan lalu membaui aroma tubuh istrinya. Inilah yang sangat ia tunggu. Saat bersama istrinya.


"Masih lama?" Tanya Joan. Masih bergelayut manja pada istrinya.


"Kalau begini terus ya bakal tambah lama. Tuh cucian masih menumpuk di keranjang. Nunggu dijemur."


Bibir Loly monyong mengerucut lucu mengarah ke keranjang pakaian yang sudah dicuci, tinggal menjemur saja.


Hahaha.

__ADS_1


Joan tergelak melihat ekspresi Loly dari arah samping. Segera ia melepaskan diri dan menarik bangku plastik yang berada tak jauh dari sana.


"Sini, kamu duduk saja. Biar aku yang selesaikan."


"Kamu itu baru datang kak. Masih capek. Kok malah jemur baju."


Mulut yang tidak seirama dengan tindakan. Mengomeli suaminya agar istirahat, tetapi dirinya malah mendudukkan diri di kursi.


Loly.. Loly.. Ada saja kelakuanmu ini.


Joan langsung fokus pada pakaian-pakaian yang harus dijemur. Mengambilnya dari keranjang, memberikan hanger lalu digantung.


Berbeda dengan Loly. Entah sejak kapan dan dari mana ia mendapatkan keripik singkong itu.


Krauk krauk.


mendengar suara makanan, Joan segera menoleh ke arah Loly.


Astaga, istrinya ini. Orang lagi jemur pakaian kok malah ditonton sambil ngemil. Kayak lagi nonton layar lebar saja.


"Ini bukan bioskop sayang. Kok sampai bawa camilan."


"Kata siapa bukan layar lebar?" raut polos Loly sungguh menggemaskan. Andaikan boneka. Sudah dikarungi oleh Joan.


Krauk krauk. Masih melanjutkan menikmati keripik singkong dengan rasa original itu. Gurih dan manis. Sangat pas menemaninya menikmati pemandangan indah di depannya ini.


Sungguh indah Allah menciptakan makhluknya. Celetuk Loly pelan, tanpa didengar Joan.


Melihat suaminya yang tampan dengan lambaian kain yang tertiup angin sedikit menutup dan membuka. Seperti video klip film bollywood yang artisnya sedang menari dan bernyanyi membawa selendang lalu tertiup angin.


Bedanya, suaminya ini memiliki paras yang sangat tampan, meski berprofesi sebagai pengaman negara, Joan memiliki kulit yang bersih. Tidak kecokelatan seperti para angkatan lainnya.


Saking menikmatinya, Loly tidak sadar suaminya sudah menyelesaikan menjemur pakaian. Bahkan sudah membungkuk mensejajarkan diri dengan posisi Loly yang sedang duduk di kursi.


Krauk.


Joan menarik tangan Loly yang akan menyuapkan sepotong keripik, dan berhasil melahap sepotong keripik itu.


Barulah Loly tersadar.


"Kok dimakan? Itu kan keripikku?" lirih Loly dengan muka memerah.


Ia malu, memandangi suaminya hingga tidak sadarkan diri begini. Ya meski sudah halal. Tapi mau diapakan lagi kalau malu?


"Lagian ngelihatin suami kok sampai se begitunya. "

__ADS_1


Loly hanya terdiam saja.


"Aku... Tampan ya?"


Tidak sadar, Loly menganggukkan kepalanya dengan wajah bengong menatap wajah suaminya yang berada beberapa centimeter di hadapannya.


"Apa tampan banget?"


"Iya." lagi. Loly menjawabnya tanpa sadar. Ia masih terpesona oleh suaminya sendiri.


Sudah berapa lama menikah, tapi Loly masih akan tetap terpesona jika sedang dalam posisi begini.


Biasanya Loly akan malu memuji suaminya secara langsung meski berulang kali Joan bertanya pendapatnya, tetap saja Loly hanya akan mengatakan oke sambil menunjukkan jari jempolnya.


Cup.


Loly mengerjapkan matanya. Ia baru tersadar jika sedang dalam posisi yang...


Astaghfirullah.. Bisa-bisanya suaminya itu menciumnya di tempat terbuka begini. Kalau ada yang melihat bagaimana?


Pluk.


Tepukan tangan Loly mendarat ke pundak Joan.


"Auh, kok dipukul sih?" keluh Joan. Harusnya kan balas cium.


"Ini di luar kak. " Pekik Loly.


"Bagaimana kalau ada yang melihat?" lanjutnya dengan mata melotot.


"Ya biarkan saja ada yang melihat. Mereka kan punya mata. Lagian kita ini suami istri, sudah halal sayang. Lihat!" Joan menunjuk perut Loly yang sudah membuncit.


"Kita juga akan segera menjadi orang tua. Jadi biarkan saja yang lain mau berkomentar apa."


Ih suaminya ini. Sudah halal ya halal. Tapi tidak mengumbar kemesraan di tempat terbuka begini. Bagaimana kalau ada tetangga yang lewat. Loly kan jadi akan malu kalau harus bertemu nantinya.


Dan, dalam islam sendiri juga melarang mengumbar kemesraan. Karena dapat menimbulkan keburukan.


Kalau bagi yang senang, tentu saja ikut senang dan mendoakan yang baik-baik. Tapi kalau yang kebetulan melihat adalah orang yang tidak menyukai kita kan bisa mengundang rasa iri dan benci. Dan yang paling dihindari adalah doa buruknya.


Bermesraan setelah menikah memang sesuatu yang dihalalkan. Tapi kita perlu ingat, tidak semua yang halal boleh ditampakkan dan dipamerkan di depan banyak orang.


Syaikh Muhammad bin Ibrahim – Mufti resmi Saudi pertama – menyatakan tentang hukum mencium istri di depan umum,


Sebagian orang, bagian bentuk kurang baik dalam bergaul dengan istri, terkadang dia mencium istrinya di depan banyak orang atau semacamnya. Dan ini tidak boleh. – kita berlindung kepada Allah dari dampak buruknya –. (Fatawa wa Rasail Muhammad bin Ibrahim, 10/209).

__ADS_1


__ADS_2