
Siang hari di kampus.
Loly tengah menikmati makan siangnya seorang diri.
Beberapa temannya sedang mengikuti kelas.
"Tumben sendirian? "
"Mana yang lain? ".
Loly menoleh ke samping kiri. Ternyata Vero yang bertanya.
" Yang lain masih ada kelas. "
Dari kejauhan Rayhan sedikit kesal karena langkahnya menemui Loly didahului seseorang.
Walaupun teman Loly sendiri. Tetap saja, yang saat ini sedang bersama Loly adalah lelaki. Dan dia sungguh tidak rela.
"ck. Bisa-bisanya dia mengambil kesempatanku mendekati Loly. "
"Setelah ini aku mau lanjut ke perpustakaan dulu,
lalu pulang. "
"Kamu masih ada kelas? " Loly bertanya pada Vero.
Dan Vero menjawab " Setelah ini aku masih ada satu kelas lagi. "
"Kalau begitu, ku tinggal dulu ya. Bye . "
Melihat Loly meninggalkan Vero. Dengan langkah besar dan tergesa Rayhan menyusul Loly yang sedang menuju ke arah parkir.
"Mau pulang ya? "
Berhasil juga menyusul sebelum sampai di parkiran motor.
Loly pun mengiyakan pertanyaan Rayhan.
Loly tengah mempersiapkan diri untuk menaiki motor. Tetapi tertunda karena dering ponsel miliknya terdengar berbunyi.
"Assalamu'alaikum Loly. "
Deg. Ini kan.
Suara yang sangat dirindukan Loly akhir-akhir ini.
Melihat Loly menghentikan aktivitasnya Rayhan mendekat dan akan bertanya. Tapi ia urungkan setelah tahu bahwa Loly sedang menjawab telepon seseorang.
Dengan sedikit terbata dan menahan gejolak di dalam dada.
"Ehm. Wa'alaikumsalam kak. "
Siapa yang berbicara dengannya. Kenapa wajahnya bersemu dan seperti malu-malu. Apa iya Loly punya pacar. Rayhan terusik dengan gelagat Loly saat berbicara dengan lawan teleponnya.
"Bagaimana kabarmu? Oh ya kamu pasti sedang kuliah. Kalau begitu ku akhiri dulu ya. Sampai bertemu nanti malam.
Assalamu'alaikum. " tut.
Loly dibuat melongo oleh tingkah seseorang dibalik teleponnya itu.
Apasih maunya? Tiba-tiba mematikan seenaknya saja.
Dasar aneh. Batin Loly.
"Tunggu Loly. "
"Astaghfirullah. Kak Rayhan kenapa disitu?"
Seru Loly sembari memegang dadanya.
Ia terkejut dengan kedatangan Rayhan yang tiba-tiba.
"Bolehkah suatu saat nanti aku datang ke rumahmu? ".
"Kalau ada kepentingan yang mengharuskan. Silahkan datang kak.
Maaf Loly pulang dulu. "
Di sebuah rumah. Tampak seorang ibu yang sedang heboh menyiapkan diri juga barang bawaannya.
Kepulangan anak lelaki kesayangannya kali ini membawa kabar yang sangat membuatnya bahagia.
"Kamu sudah memberi tahu keluarganya kalau malam ini kita kesana? "
"Tadi aku cuma bilang sampai bertemu nanti malam. "
"Astaga anak mama. " Teriak ibu itu dengan tangan menjewer telinga anaknya.
"Ampun ma."
" Bisa-bisanya kamu ya. "
"Sakit tahu. " Ia menggosok telinga dan berkata.
__ADS_1
"Yang penting ibunya sudah tahu mengenai kedatangan kita kan mamaku yang cantik jelita tiada tara.
Kalau anaknya, ya biar menjadi kejutan saja. "
"Terserah deh. " Kesal ibunya.
Menjelang maghrib.
Mbak Eni juga mama Fika tampak sedikit riweh dengan berbagai persiapan. Seperti akan menyambut tamu spesial saja batin Loly.
"Mama lagi ngapain sih ma?
"Mbak Eni juga ngapain dari tadi sibuk terus? ".
" Eh neng Loly. Mau ada tamu agung neng.
Mbak Eni tinggal dulu ya. Mau lanjutin biar cepat selesai. "
hmm.. Siapa sih tamu agungnya.
"Mbak, sudah maghrib tuh. Sholat dulu yuk. Nanti lanjut lagi. "
"Oh, iya bu Fika. Saya letakkan dulu buahnya. "
Selesai melaksanan sholat maghrib berjamaah bertiga. Mbak Eni sibuk menyiapkan minuman yang akan disuguhkan nanti.
"Mau ada tamu dari mana ma? "
"Mau ada tetangga kita berkunjung nak. "
Mama Fika mengelus rambut anak gadisnya.
"Anak mama cantik sekali. Sekarang sudah besar. Bagaimana kalau sudah menikah nanti ya?
Mama pasti kesepian. "
"Ih mama ngomong apa sih?
Kan Loly belum akan menikah ma. Loly masih ingin fokus menyelesaikan study lalu berkarir. "
"Tapi kalau sudah dipertemukan dengan jodohnya, ya mau apa lagi? "
"Mama. Loly masih ingin bersama mama."
"Sudah sana bersiap menyambut tamu. Dandan yang cantik ya. "
"Loh kok Loly yang bersiap. Kan tamu mama. "
Mama Fika tergelak setelah berhasil mendorong Loly memasuki kamarnya.
Berbalik dan mengusap air matanya yang sedikit basah.
Apa pun yang membuat Loly bahagia. Mama pasti akan berusaha mewujudkannya.
Semoga semua berjalan dengan baik. Dan benar-benar terwujud sebelum mama kembali ya nak.
TOK TOK TOK.
"Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam. Wah sudah datang ya.
Silahkan masuk. "
Dua orang telah memasuki rumah dan duduk setelah dipersilahkan oleh mama Fika.
Siapa ya tamunya? Ada yang tahu nggak?
Apa sih tujuan mereka?
"Jadi begini bu Fika. Apa anak saya Joan sudah menjelaskan maksud kami untuk datang kemari? "
Mama Fika diliputi antara rasa bahagia, haru juga sedih dalam waktu bersamaan. Bingung akan merespon dengan bagaimana.
"Ah iya bu. Nak Joan sudah menjelaskan kepada saya bahwa akan datang malam ini untuk melamar Loly. "
"Maaf, tapi apakah tidak terburu-buru ya nak Joan. "
"Memang kesannya terburu-buru tante. Tapi menurut Joan. Daripada nanti akan timbul fitnah ketika kami akan bertemu. Lebih baik saya mengikat Loly lebih dulu. Agar orang lain juga tidak salah faham mengenai kedekatan kami. "
"Jadi kalian sudah dekat begitukah? " tanya mama Fika.
"Benar tante. Kami sudah mulai pendekatan sejak nek Ratih masih ada. "
"Baiklah kalau begitu. Tetapi maaf sekali saya tidak memberikan jawaban atau memberikan kepastian apapun. Semua keputusan ada di tangan Loly. Karena dia lah yang akan menjalani nanti.
Jadi sebaiknya saya panggilkan Loly sebentar ya. "
Mama Fika berjalan ke arah kamar Loly. Di depan pintu, Loly sudah terlihat cantik dengan sedikit polesan make up yang sangat tipis.
Mama Fika berdiri di samping Loly yang sedang berdiri mematut penampilannya dengan cermin.
"Apakah begini tidak berlebihan ma? "
__ADS_1
"Tidak sayang. Anak mama ini cantik sekali. Sudah pas. "
Loly mencoba mencari tahu akan siapakah gerangan yang sedang menjadi tamu mamanya ini.
Namun jawaban mama Fika adalah "Ini surprise untukmu sayangnya mama. "
Akhirnya setelah memastikan penampilannya sudah pantas Loly merapikan sedikit bagian bawah gamisnya yang terlihat menekuk.
"Yuk keluar. Sudah ditungguin sama mereka. "
Siapa mereka? Ah sudahlah. Temui saja dulu. Batin Loly.
Di ruang tamu.
Joan merasakan degupan jantungnya semakin keras.
"Semoga dia tidak menolak lamaranku. "
Terlihat Loly dan mama Fika memasuki ruang tamu. Loly masih belum menyadari siapa yang berada di depannya. Ia hanya menunduk ke bawah.
Sementara lelaki di depannya, Joan terpsona dengan dandanan Loly. Mengenakan gamis sederhana namun justru menambah keanggunanya.
Ehm. Mama Joan berdehem untuk menggoda putranya.
Mama ini ngapain sih dehem segala? Tengsin dong kalau ketahuan. Batin Joan dalam hatinya.
"Baiklah nak Joan. Loly sudah berada disini. Bagaimana kalau nak Joan menanyakannya langsung keepada Loly?"
Mendengar nama Joan yang mama Fika sebut. Loly langsung mendongak dan melihat apakah benar Joan sang pujaan hatinya yang berada di hadapannya.
Dengan tidak sabar, Joan langsung menghadap ke arah Loly.
"Hai Loly. Gimana kabarmu?"
Bodoh. Kenapa malah nanya kabar. Rutuk Joan. Dasar mulut. Grogi ya grogi aja. Tetap sinkron dong sama otak.
"Kabar Loly baik kak."
Ehm. Demi mengurangi rasa groginya.
"Loly kedatangan ku bersama ibuku kemari adalah untuk melamar mu.
Apakah kamu bersedia untuk menerima lamaranku dan menjadi pendamping hidupku?"
Deg deg deg.
Jantung Loly serasa mau meledak. Tuhan, secepat ini kah perjalanan ku? Aku memang menyukainya. Hatiku pun bergetar walau hanya mendengar namanya.
"Kak Joan, terima kasih atas niat baik kakak terhadap Loly.
Emm. Bolehkah Loly memikirkannya terlebih dulu?"
"Apa aku ditolak?"
"Bukan kak, Loly hanya meminta waktu untuk memantapkan keputusan Loly. Bolehkah Loly meminta waktu terlebih dulu?"
Alhamdulillah. Bukan ditolak. Joan.
"Apakah sehari cukup?'
Mama Joan menepuk lengan putranya.
Joan hanya melirik. Apa sih mama ini.
"Maksudku aku tidak ingin terlalu lama menunggu. Karena pekerjaan yang membuatku harus bergegas melaksanakan tugas. Dan aku berharap Loly dapat mempertimbangkan itu."
"Loly mengerti kak. Insyaallah secepatnya akan Loly beri kabar mengenai keputusan yang Loly ambil."
Saat Joan meminta ijin untuk berkunjung ke rumah dengan tujuan melamar Loly.
Pagi hari setelah Loly berangkat kuliah ke kampus.
Joan tengah jogging melewati rumah Loly. Ia melihat mama Fika tengah menikmati mentari pagi sembari mengupas buah di halaman depan rumah.
"Selamat pagi tante."
Tanpa membuang kesempatan, Joan langsung mengutarakan niatnya.
"Maaf jika saya lancang, apakah Loly sudah mempunyai kekasih atau sudah memiliki calon suami?'
"Selamat pagi nak Joan. Setahu tante, Loly belum terlihat bersama siapa pun.
Maksud nak Joan menanyakan hal itu apa ya?"
"Saya menyukai Loly tante. Dan saya bermaksud untuk mempersuntingnya. Apakah tante berkenan jika malam nanti saya ijin untuk melamar Loly ke rumah tante?"
Setelah sedikit berbincang, akhirnya mama Fika mengijinkan Joan berkunjung hanya dengan mamanya saja.
Malam pun datang. Akhirnya Joan dan mamanya berkunjung ke rumah Loly dan mama Fika.
Tetapi Joan terpaksa harus pulang dengan tangan kosong. Karena Loly belum memberikan jawaban apapun. Lebih tepatnya, ia masih meminta waktu untuk berfikir.
Sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumahnya. Joan hanya berdoa dan berharap. Semoga Loly benar-benar mempertimbangkan waktunya yang sangat terbatas. Agar jawaban yang Loly berikan sesuai dengan apa yang diharapkan.
__ADS_1