Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Apakah Papa Surya Tahu?


__ADS_3

Kedatangan Joan cukup menyita perhatian teman-teman Loly. Tidak sadar kalau pria di hadapannya ini merupakan suami sahabatnya.


"Ekhem.." Suara deheman yang berasal dari Loly membuat Joan lantas menyimpulkan bibirnya. Membentuk senyum yang semakin membuat hati adek meleleh.


"Sudah kembali mas?" Tanya Loly.


Di situlah semuanya tersadar. Evi dan Erin saling pandang. Sedangkan Reni dan Dona tersenyum kikuk. Ternyata suaminya Loly yang datang. Dikiranya siapa juga tadi. Sirna lah sudah mendapat gebetan tampan.


Joan berjalan mendekat ke arah istrinya setelah meletakkan tas yang ia bawa ke sofa yang berada di pojok ruangan.


"Makan dulu ya ? Sudah waktunya minum obat."


"Iya kak."


Belum sempat menyentuh makanan. Teman-teman Loly beranjak ingin pamit pulang.


"Kita balik dulu ya Ly. Semoga kamu cepat sembuh. Biar kita bisa bertemu di kampus lagi. Sebentar lagi sudah waktunya KKN loh." cerocos Reni yang selalu ramai di mana pun berada.


"Iya.. Do'akan ya guys. " jawab Loly dengan senyum manisnya.


"Kalian hati-hati di jalan ya."


"Okay.. Bye."


"Mari kak. Kami pulang dulu ya. " Pamit Evi pada Joan.


"Iya. Terima kasih sudah menemani Loly tadi."


"Sama-sama ."


Loly kembali ke mode cemberut. Kepergian teman-temannya membuat ruangan ini menjadi sepi lagi.


Astaga. Kenapa lagi ini si Loly. Joan merasa bingung harus bagaimana. Bukannya tadi sudah senyum seria? Kok sekarang cemberut lagi?


Sepiring makanan dari jatah rumah sakit sudah berada di tangan Joan. Sudah siap akan menyuapkan istrinya. Eh kok malah tutup mulut?


Diletakkannya lagi piring itu di atas nakas.


"Kenapa sayang? "


"Aku mau pulang kak. Di sini bau obat, sepi."

__ADS_1


Huuuuft. Joan menghela nafas panjang. Ia harus sabar agar istrinya mau tetap dirawat di rumah sakit.


"Nanti setelah maghrib, mama dan mbak Eni kemari. Sekarang kamu makan dulu ya, minum obatnya agar lekas sembuh. Bisa pulang seperti yang kamu mau."


Akhirnya Loly mau juga makan. Menghabiskan setengah porsi makanan. Dilanjutkan dengan meminum obat sesuai anjuran dokter.


"Kakak sudah tahu belum kalau tante Erika sedang viral?" Tanya Loly tiba-tiba, ketika terlintas ingatan tentang mama tiri nya itu.


"Kamu sudah tahu ya?"


Ditanya apa jawabnya apa. Dasar suami Loly ini. Jawab bang, bukannya balik nanya. Karungin juga nih orang. Hehe


"Sudah kak. Kakak sudah tahu ya?" tanya Loly lagi. Memastikan apa suaminya sudah tahu atau belum.


"Sudah tadi, di jalan lagi dengar radio eh malah suara siaran beritanya tante Erika." terang Joan.


"Sudah jangan dipikirkan lagi. Sekarang fokus dengan kesehatanmu dulu. "


"Iya. "


Loly tampak termenung dengan pikirannya. Membuatnya mengabaikan suami tampannya yang sedari tadi bercerita demi mengusir kebosanan Loly.


"Mikirin apa sayang? Dari tadi bengong terus."


Sadar ketahuan melamun. Loly terkekeh sendiri.


"Aku masih kepikiran tante Erika kak. Apa dia juga dalang dibalik penembakanku?"


"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"


"Emm. Semenjak tante Erika tahu aku terjun di LF Corp, aku sering mengalami percobaan kejahatan." Loly menjeda ucapannya demi melihat reaksi suaminya. Benar saja, Joan tampak emosi dengan rahang kerasnya yang semakin mengetat menahan amarah.


"Lalu?" tanya Joan. Meski ia tengah diliputi emosi, Joan merasa ia harus menahannya di depan Loly. Loly masih harus memikirkan kesehatannya.


"Lalu, beberapa hari yang lalu aku mendapatkan kiriman dokumen yang sangat rahasia dari orang misterius."


Menyebut hal itu, kontras pikiran Joan mengingat tentang map yang sempat ia buka tadi. Semua isinya hanya tentang Erika.


"Apakah map bertuliskan urgent?" tanya Joan.


"Kok kakak bisa tahu?" Kaget. Kok bisa Joan tahu. Apakah selama ini Joan selalu memeriksa semua dokumen yang ia bawa? Walupun suami istri, tapi kan..

__ADS_1


Joan tersadar telah bersikap lancang. Ia pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Tadi itu aku gak sengaja menyenggol map itu karena terburu-buru. Tapi pas ku ambil, ternyata sampulnya terbuka. Jadi tidak sengaja membaca bagian depan. Maaf karena penasaran ku baca juga sampai akhir."


Baca sampai akhir? Bukankah itu berarti Joan sudah tahu semua tentang Erika? Termasuk percobaan kejahatan yang berulang kali gagal karena Loly selalu mendapatkan bantuan dari sosok misterius.


Hanya ketika berada di dalam rumah, justru musuhnya berhasil melukainya. Mungkin mata-mata Erika sudah tahu mengenai Loly yang memiliki catatan kejahatan Erika yang luput oleh polisi. Sehingga Erika menyewa orang untuk mencuri data tersebut. Karena gagal maka Loly ditembak di bahunya.


"Kak, apakah punya pikiran yang sam dengan ku..?" tanya Loly dengan menatap Joan. Mata bulatnya itu terlihat serius namun menggemaskan bagi Joan.


Bukannya menjawab. Joan malah mendusel Loly. Mengendus pipi kanan dan kiri bergantian hingga Loly memekik kegelian.


"Iiihhh.. Bukannya menjawab ini malah.."


Joan terkekeh sendirian. Andai saja Loly tidak sedang sakit. Pasti Joan akan.."


"Jawab dulu kak. Malah bengong. Yeee" Loly menggerutu dengan bibir mancung.


Melihat itu Joan semakin gemas saja dengan istrinya. Di rangkumnya bibir mancung itu dengan lima jari.


"Sudah jangan manyun-manyun gitu. Apa mau..?" Rese. Sungguh suaminya itu sangat rese kali ini. Lihat saja wajah ngeselinnya. Menaik turunkan kedua alisnya dengan senyum tengilnya.


"Kaaak.." Loly merengek karena godaan suaminya.


"Iya sayang.." Lihat saja ! Joan masih tersenyum dengan raut wajah tak berdosanya itu. Astaga..


Fix. Loly ngambek. Rasain tuh Jo. Haha


Istri lagi serius juga, digoda mulu. Kan nanti juga bisa.. Eh eh, bisa apa thor? Haha


Sadar istrinya sudah ngambek mode on. Joan pun menjelaskan dugaannya yang sebelum menemukan map itu. Tetapi setelah menemukan map tersebut, justru Joan menjadi semakin yakin jika Erika, mama tiri Loly itu memang dalangnya.


"Emm, menurut kakak lagi. Kira-kira papa sebenarnya sudah tahu atau belum tentang perilaku tante Erika selama ini?" Tanya Loly ragu-ragu.


Pasalnya, jika papa tahu tentang semua perilaku tante Erika yang mencoba mencelakai Loly sebagai putri kandungnya. Apakah tidak terbesit rasa ingin mencegah atau.. Entahlah. Loly sudah kehilangan respect terhadap papa nya itu. Ya meski tidak bisa dipungkiri, jika terkadang ia juga merindukan kasih sayang seorang ayah.


Bagaimana ya? Joan juga tidak tahu harus menjawab apa. Mau bilang papa mertuanya tidak tahu menahu, rasa-rasanya itu tidak mungkin. Mengingat bagaimana selama ini sepak terjang seorang Surya.


Mau bilang tahu juga rasa-rasanya seperti akan semakin menghancurkan hubungan anak dan ayah. Karena jika papa Surya tahu tetapi tidak berusaha mencegah, bukankah akan menghancurkan perasaan Loly?


Ia sudah merasa terbuang dengan kehadiran Erika dan Jena dalam kehidupan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2