Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Tidak Mungkin


__ADS_3

Pagi hari Joan terbangun lebih dulu dari istrinya. Tidak seperti biasanya.


Saat dibangunkan Loly hanya merenggangkan badannya tanpa membuka mata. Joan terkekeh gemas karena itu.


Setelah membuka selimut yang membungkus tubuh Loly, Joan lantas mengangkat Loly ke gendongannya. Kemudian melangkah memasuki kamar mandi. Menceburkan tubuh Loly ke dalam bath up dengan perlahan.


"Aaa.." kaget Loly karena mendapati tempatyna basah. Tidak tahunya ini ulah suami tampannya. Loly memicingkan matanya pada Joan yang sama sekali tidak merasa bersalah. Justru tertawa melihat kekagetan istrinya.


"Kenapa tidak membangunkan dulu kak? Loly kaget tahu!"


Tak tega melihat istrinya yang sudah mulai memberengut itu Joan pun mendekat.


"Maaf sayang. Tadi sudah ku bangunkan kok. Tapi kamu malah makin tidur."


"Masa?" tidak percaya Loly. Karena Loly bukan tipe yang susah dibangunkan. Jadi tidak mungkin kan kalau dibangunkan tapi malah makin tidur? Tapi tidak mungkin juga suaminya ini berbohong padanya.


"Iya. Ayo mandi dulu." acara mandi bersama pun dimulai dan berakhir tanpa lama.


***


"Gimana mbak Tia? " Loly tengah berada di ruang kerjanya di LF Corp. Tengah melakukan penyelidikan lebih jauh tentang kecurangan Erika dan siapa saja yang terlibat dengan Erika. Yang ternyata sangat rumit.


"Masih belum bisa bu." jawab mbak Tia dengan gelengan kepala.


Huuft. Susah sekali menembus keamanan data Erika. Padahal Loly sangat yakin di sana akan tertulis tentang apa saja tindakan yang Erika lakukan demi mendapatkan LF Corp.


Tok tok tok


Loly dan mbak Tia menoleh ke arah pintu secara bersamaan ketika mendengar suara pintu yang diketuk tiba-tiba.


"Biar saya buka pintunya bu." izin mbak Tia yang ditanggapi dengan anggukan kepala Loly.


"Ada apa?" tanya mbak Tia pada seseorang yang mengetuk pintu tadi. Ternyata seorang wanita yang menjaga meja di lobi depan.


"Permisi bu, saya ingin mengantarkan map ini. Tadi kurir menyampaikan bahwa saya harus menyampaikan langsung kepada ibu."


"Saya?" tunjuk Loly pada dirinya sendiri.


"Iya bu." jawab wanta itu. Kemudian menyerahkan map yang berada ditangannya.


"Apa ini?" tanya Loly.


"Saya tidak tahu bu. Tadi kurir juga menyampaikan kalau isi dari map tersebut akan sangat dibutuhkan oleh ibu. "


"Terima kasih. Kamu boleh kembali ke tempatmu."


"Baik bu. Saya permisi."


Pintu sudah kembali tertutup sesaat setelah wanita itu pergi. Loly sangat penasaran dengan isi map yang sudah ia pegang. Apakah gerangan isinya? Bagaimana pengirim ini tahu apa yang dia butuhkan? Apakah dia penguntit?


Jangan sampai deh. Serem bayanginnya.


Karena sudah dilanda rasa penasaran Loly segera membuka map lalu membacanya.

__ADS_1


Brak.


Loly menjatuhkan map yang berisi setumpuk lembaran itu di atas meja.


Mata cantik Loly membelalak terkejut dengan apa yang dia baca.


"I.. Ini tidak mungkin." Loly gemetar dibuatnya. Padahal belum ia baca secara keseluruhan. Artinya Loly masih membaca hanya sebagian saja.


"Apa yang terjadi bu?" mbak Tia khawatir. Melihat dari ekspresi yang Loly tunjukkan sepertinya bukan hal baik.


"Mbak Tia.." Loly masih dengan suara yang sedikit gemetar.


"Kamu baca ini dan pelajari isinya. Lalu segera serahkan ke paman."


"Baik bu." mbak Tia pun menerima map yang diberikan Loly. Lalu membacanya. Bahkan mbak Tia merasakan emosi yang bisa membuatnya merasakan sesak di dada.


Ini bagaimana mungkin terjadi? Tapi siapa yang memberikan informasi sepenting ini? Apa jangan-jangan suatu saat nanti si pemberi informasi akan meminta imbalan?


"Oh ya mbak Tia. Berikan saya salinannya. Jangan melalui email, saya yakin mereka akan meretas email saya." titah Loly pada mbak Tia. Dia tidak boleh lengah. Meski dia khawatir dengan permintaan si pemberi informasi di kemudian hari. Tapi Loly juga tidak bisa membiarkan seseorang ini membuat kekacauan lebih jauh lagi dalam keluarganya.


"Baik bu, saya akan menyalin lebih dulu."


"Ya."


***


"Saya sudah memberikan file tesebut melalui costumer service tuan. Saya juga menyampaikan bahwa harus langsung disampikan kepada bu Loly. "


"Bagus. Lalu?"


Tuan muda Rayhan menganggukkan kepala.


Tersenyum puas dengan kinerja Chan. Rayhan membantu Loly menembus data diri Erika lalu mencetaknya. Menyerahkannya kepada Loly tanpa mengungkap siapa dirinya.


Dengan begini Loly tidak perlu kesulitan lagi untuk melakukan penyelidikan terhadap kejahatan-kejahatan Erika. Semua sudah tertulis lengkap di sana.


***


"Sial ! " seseorang mengumpat setelah diberi tahu oleh hacker sewaannya jika seluruh data tentang dirinya telah bocor karena ulah sebuah akun anonim.


"Dasar tidak becus ! Saya sudah membayar mahal dirimu tapi hanya begini kerjamu?" kesal Erika.


Tadi Erika tengah bersenang-senang dalam sebuah pesta para sosialita. Sesaat setelahnya wajahnya berubah menjadi merah padam saat menerima telepon dari seseorang. Hacker sewaan Erika mengabari bahwa dia telah gagal melindungi data diri Erika. Artinya dia juga gagal melakukan tugasnya.


"Maaf nyonya. Saya sudah berusaha tapi hacker mereka lebih ahli dari pada saya. "


"Kamu tahu siapa dia?"


"Saya hanya mengetahui sebatas dia hacker hebat yang menjadi incaran para pebisnis dunia."


"Lalu untuk apa mereka mencuri dataku? Aku tidak pernah berurusan dengan orang-orang itu."


Hacker sewaan Erika hanya terdiam saja. Dia tidak berani membuka suara sama sekali. Bukan tidak berani. Dia hanya tidak ingin menerima imbas dari kemarahan Erika.

__ADS_1


Mengenai data diri yang berhasil dicuri sebenarnya juga bagian dari rekayasa. Karena sejujurnya hacker tersebut adalah saudara dari Chan. Ketika saudara kesayangannya itu meminta tolong padanya, maka dengan senang hati dia memberikan seluruh data Erika tanpa tertinggal satupun. Termasuk semua kebusukan yang disembunyikan oleh Erika.


Dia juga tidak tahan berkerja untuk orang jahat seperti Erika.


"Aku ingin segera keluar dari sini Chan. Tapi kontrak itu menjeratku." keluh si hacker.


"Tenanglah dulu Al. Tuan muda berkata, saat ini kau berada di bawah naungan beliau. Masalah kontrak dengan Erika, kau akan terbebas begitu permainan ini berakhir."


"Kau yakin?" tanya Aldo pada saudaranya. Saat ini mereka tengah bertukar suara melalui telepon genggam mereka.


"Ya aku yakin. Kau tahu kan? Tuan muda tidak pernah ingkar janji kecuali jika dikhianati. Maka jangan harap bisa dengan bebas menghirup oksigen di dunia ini."


"Baik, baiklah aku percaya padamu. Sampaikan terima kasihku pada tuan muda mu ya."


"Akan ku sampaikan. Dan tunggu instruksi selanjutnya dariku."


"Kapanpun tuan muda membutuhkan. Kau boleh menggangguku."


Tut. Telepon berakhir.


***


Tengah malam. Ketika tengah terlelap dalam tidur. Joan memicingkan matanya di tengah kegelapan dalam kamarnya.


Sepertinya ada yang tidak beres.


Ceklek.


Suara jendela dibuka dari luar.


Benar saja, ada yang sedang mencoba masuk secara paksa dengan membobol jendela kamar.


Setelah memastikan sang istri tertidur dalam posisi yang aman. Dengan gerakan cepat Joan berhasil mendekat namun masih belum melakukan apa-apa. Dia masih ingin mengawasi apa yang sedang dicari oleh orang asing yang menggunakan kain penutup kepala itu.


Saat tahu bahwa sang pembobol menuju ke meja kerja Loly, istrinya. Joan segera menangkap tangan si pembobol untuk menghentikan tindakannya.


"Apa yang kau cari?" tanya Joan dengan suara rendah menahan amarah.


"Bukan urusanmu." jawab orang asing tersebut.


Perkelahian pun terjadi dimulai dengan si pembobol yang mengajukan tinjuan ke arah Joan yang berhasil ditangkisnya dengan mudah. Setelah selama lima belas menit berkelahi, si pembobol mulai resah karena dia sudah lelah tetapi lawannya ini kenapa tidak merasa lelah sama sekali. Seperti seseorang yang terlatih.


Akhirnya dengan tindakan tergesanya. Si pembobol mencoba untuk kabur namun tetap ditahan oleh Joan.


"Sial. Biarkan aku pergi."


"Tidak akan." seringai Joan.


Namun tanpa disadari rekan dari si pembobol tadi menyusul. Saat tahu rekannya sedang terlibat adu tenaga dengan Joan. Maka ia mengacungkan senjata pada Loly yang sedang tertidur di ranjang.


"Lepaskan temanku atau ku tembak dia."


Raut Joan menegang ketika menyadari ada satu lagi penyusup masuk.

__ADS_1


Dor.


__ADS_2