
Sebagai manusia, kita memang boleh berencana, berharap dan berekspektasi terhadap hasil yang indah di akhir.
Namun semua tetap kembali pada takdir-Nya.
Semua sudah dalam ketentuan yang tertulis di lauh mahfudz. Jodoh, mati, rejeki, semua sudah ditentukan sesuai takaran-Nya.
...****************...
"Bagaimana kondisi anak saya dok? "
"Anak ibu hanya syok saja. Sebaiknya perbanyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran agar tidak stres. "
Dokter menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan resep obat yang harus ditebus.
"Semoga Loly segera pulih. Saya permisi. "
"Terima kasih banyak dokter. Silahkan. "
Dokter telah pergi dengan diantarkan oleh mbak Eni. Lalu mama Fika kembali masuk ke dalam kamar Loly.
Loly terbaring lemah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Lagipula, hati siapa yang tidak hancur. Tiada angin dan hujan. Tiba-tiba badai menerjang bagai gelombang ombak besar di lautan.
Cinta yang sedang bersemi indah harus terpisahkan. Kebersamaan yang terjalin sangat singkat namun mampu membuat seorang Loly menjadi lemah.
Perlahan kelopak mata Loly bergerak. Mama Fika yang mengetahui hal tersebut segera lebih mendekatkan diri ke arah putrinya.
"Kak Joan.. " suara lemah Loly membuat mama Fika menangis lirih. Hatinya juga sedih.
Dengan lembut mama Fika mengulurkan tangannya lalu mengelus puncak Loly.
"Yang sabar sayang. " suara mama Fika juga sangat lirih. Mama Fika juga menahan diri agar Loly tidak semakin lemah. Bagaimanapun hanya mama Fika lah sandaran Loly saat ini.
"Kak Joan ma.. " Loly mulai terisak sembari menekan dadanya menahan hujaman yang serasa membekukan aliran oksigen.
"Kita doakan semoga Joan mendapatkan tempat yang terbaik, disisi-Nya. "
Mama Fika masih setia dengan kegiatan mengelus puncak Loly. Berharap semoga dapat memberikan kekuatan padanya.
"Loly tidak sanggup tanpa dia ma. Bawa kak Joan kembali. "
Tangis Loly semakin pecah setelah mendengar ucapan mamanya. Bagaimana dia bisa rela kehilangan suaminya. Dia baru saja merasakan indahnya dicinta dan mencintai.
"Kamu jahat kak. Kau bilang akan lama kembali. Tapi kenapa malah tidak kembali? Bagaimana denganku? "
"Mama yakin ini yang terbaik dari-Nya. Loly yang sabar ya. "
Dalam hati mama Fika juga sangat tidak tega mengatakan hal ini. Namun dia juga harus membawa Loly dari keterpurukannya.
"Loly istirahat saja dulu ya. Mama mau ke rumah mertua mu. "
Dengan lemah Loly melirik ke arah mamanya. Dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mama mertuanya nanti. Putra kebanggaannya sudah gugur. Putranya tidak akan kembali ke pelukannya. Bahkan jasadnya juga tidak kembali pulang ke rumah.
"Loly ikut ma. "
Mama Fika menggelengkan kepalanya.
Dia tidak bisa membiarkan Loly memberi kabar duka ini kepada mama Joan sendiri. Loly masih sangat lemah.
__ADS_1
"Tidak nak. Kamu istirahat saja. Nanti biarkan mama Joan yang akan mama ajak kesini. "
Meski berdebat di awal. Akhirnya Loly menyetujui hal itu.
Dan mama Fika segera bersiap untuk pergi ke rumah mama Joan.
...****************...
Kedatangan mama Fika dengan penampilan yang kusut juga wajah sembabnya membuat mama Joan heran.
Dia khawatir sesuatu terjadi pada menantunya.
Mama Fika yang hendak bicara pun terpotong oleh kekhawatiran mama Joan pada Loly.
"Apa yang terjadi pada Loly, jeng? Dia kenapa? "
"Ehm, Loly baik-baik saja jeng. Tapi ada kabar duka yang harus saya sampaikan. "
"Kabar duka apa jeng? "
Mama Joan penasaran mengenai kabar duka yang mama Fika ingin sampaikan.
Mama Fika pun sedikit ragu untuk menyampaikannya. Akhirnya mama Fika memutuskan untuk mengajak besannya itu ke rumahnya saja.
***
Sesampainya di rumah mama Fika.
Baru keduanya menapakkan kaki di teras rumah. Sudah dikejutkan oleh teriakan Loly.
"Kak Joaaaaaaan ! "
Melihat keadaan menantu tersayangnya yang sangat berantakan membuatnya merasa prihatin.
Ada apa dengan menantunya ini? Kenapa berteriak memanggil nama Joan dengan keadaan seperti itu?
Saat akan memasuki kamar Loly, mama Joan beru tersadarkan oleh sesuatu yang terlewat dari pikirannya.
Deg.
"Tidak mungkin. "
Mama Joan baru menyadari satu hal.
Langkahnya mulai goyah. Dengan sedikit tertatih juga diliputi keraguan mama Joan segera meraih Loly ke dalam pelukannya.
Mama Fika hanya melihat interaksi anak dan besannya dari depan pintu.
"Loly. Ada apa sayang. "
Mendengar namanya disebut. Loly menoleh ke asal suara lalu mendapati mertuanya tengah memeluk dirinya.
"Kak Joan, ma. "
"Iya sayang. Joan kenapa, hmm? "
Mama Joan pun bertanya dengan nada sedikit gemetar. Ketakutan akan sesuatu yang tidak diinginkannya itu sudah terbayang sejak melihat keadaan Loly.
"Kak Joan pergi ma. "
__ADS_1
Deg.
Masih dengan memeluk menantunya.
Mama Joan kembali menanyakan kepada Loly. Apa yang terjadi pada Joan ?
"Joan kan pergi bertugas sayang. Nanti pasti akan kembali. "
Tangis Loly semakin pecah karena jawaban mertuanya.
Kepalanya menggeleng keras.
"Kak Joan pergi ma. Dia. Dia tidak akan kembali lagi. "
Bagai dihantam sesuatu yang sangat besar. Mama Joan lemas seketika.
Ini tidak mungkin. Putranya pasti masih hidup. Joan tidak mungkin pergi dengan cara seperti ini. Joan, putra tersayangnya itu mana mungkin meninggalkannya juga istri yang sangat dicintainya itu.
Bruk.
Mama Joan terjatuh tidak sadarkan diri. Pelukan eratnya pada Loly pun terlepas.
Segera Loly menghambur memeluk mertuanya.
Mama Fika segera memanggil mbak Eni. Mencari bantuan untuk merubah posisi mama Joan agar lebih nyaman. Sehingga terbaring di sisi Loly. Bersama Loly.
Loly dan mama Fika berusaha membuat mama Joan bangun dari pingsannya.
Mbak Eni menyerahkan minyak aroma terapi kepada mama Fika. Mama Fika segera menerima itu dan mengoles pada beberapa bagian tubuh mama Joan.
Berharap segera tersadar kembali.
Di alam bawah sadar mama Joan. Terputar kembali segala momen tentang Joan. Dari mulai terlahir, masa balita, masa sekolah hingga dewasa. Bayangan terakhirnya adalah momen di mana Joan bersimpuh di hadapan mamanya. Meminta restu untuk meminang wanita pujaannya. Tiba-tiba bayangan Loly meraung-raung memanggil nama Joan terlintas. Mama Joan pun membuka matanya.
"Di mana Joan, nak? "
Tes.. Air mata itu menetes deras dari sumbernya.
Mama Joan menangis tanpa suara.
Loly tidak mampu lagi harus menjawab pertanyaan mertuanya. Loly hanya terus menangis histeris.
Dia merasa sangat hancur. Ditambah melihat keadaan mertuanya yang sama-sama kehilangan orang yang dicintainya itu.
Kenapa Joan harus pergi?
Kenapa ini harus terjadi padanya?
Joan. Lelaki pertama yang mampu menggetarkan hatinya. Membuatnya merasakan indahnya gelora asmara. Kini pergi tanpa pamit.
Pergi tanpa menunjukkan wujud terakhirnya.
Kalau boleh meminta. Tidak bisakah Joan pergi dengan cara yang normal seperti orang kebanyakan?
Loly sangat ingin melihat wajah Joan meski untuk terakhir kalinya.
Namun keinginan Loly itu adalah hal yang mustahil diwujudkan saat ini.
Joan nya. Suaminya. Cinta pertamanya telah pergi.
__ADS_1