Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Saya Joan


__ADS_3

Pagi ini Loly sangat bahagia. Dia tidak akan kesepian lagi.


Semua sedang menikmati sarapan yang telah mbak Eni siapkan. Namun berbeda dengan Loly, ia tetap masih belum puas memandangi suaminya itu. Sehingga ia makan dengan pandangan mata mengarah pada Joan yang berada di sebelahnya.


Mama Joan dan mama Fika hanya tersenyum melihat itu. Maklum saja. Baru sebulan menikah, eh sudah harus terpisah. Malah mendapatkan berita kematian. Ya wajar kalau saat ini Loly bersikap demikian. Loly sedang menikmati kebahagiaan yang meliputi dirinya. Berkat kembalinya Joan dalam keadaan hidup. Ternyata kesedihan Loly tempo hari adalah hal yang sia-sia.


Sedari tadi Joan juga menyadari kelakuan istrinya. Kalau saja tidak sedang sarapan dan tidak ada siapapun di tempat itu, Joan pasti akan menyeret Loly kembali ke dalam kamar. Mengulangi kembali kegiatan yang mereka lakukan sebelumnya.


"Makan dulu sayang. Nanti tersedak." Joan menegur dengan lembut seraya mengelus rambut Loly. Di dalam rumah, Loly tidak mengenakan hijabnya kecuali jika ada tamu saja.


Loly sedikit malu karena kelakuannya diketahui oleh suaminya. Berarti kedua ibu itu juga tahu dong ?


"Ah malunya diriku.."


"Mama sudah selesai. Mama ke depan dulu ya. Kalian lanjutkan saja sarapan kalian." mama Fika menyahut dengan menahan senyumnya. Mama Fika menyadari jika anak dan menantunya masih butuh waktu untuk meluapkan rindu yang terpendam.


Mama Fika mengedipkan sebelah matanya ke arah sang besan.


"Ehm, ah iya. Mama juga selesai. Kalian lanjutkan dulu sarapannya. "


Lalu melihat ke arah mama Fika. "Yuk jeng, kita ke depan. Sebentar lagi ada tukang gerabah keliling itu loh. Saya mau membeli sendok." mama Joan kini mengikuti langkah mama Fika yang meninggalkan ruang makan.


Kini tinggallah Joan dan Loly yang berada di ruang makan. Keduanya saling mengalihkan pandangan dari mama Fika dan mama Joan. Menertawakan tingkah ibunya. Bisa-bisanya punya ide membiarkan Loly dan Joan berdua. Tapi keduanya juga menjadi untung karena kembali memiliki waktu untuk berduaan.


Acara sarapan telah selesai.


Hari ini Loly memiliki jadwal kuliah di siang hari. Hanya satu mata kuliah. Karena di jam pagi, dosen sudah mengatakan bahwa beliau sedang sakit. Sehingga Loly memutuskan untuk berangkat di jam mata kuliah kedua saja. Lagian dosen hanya meninggalkan tugas yang bisa dikerjakan dimana saja. Asal dikumpulkan tepat waktu melalui email yang telah disebarkan ketua kelas melalui chat grup yang Loly baca padi ini.


"Nanti mau berangkat diantar atau sendiri?"


Loly yang mendapatkan pertanyaan tiba-tiba dari Joan pun menoleh.


"Memangnya kak Joan tidak lelah? Kan baru kembali. "


"Lelahku sudah hilang setelah melihatmu sayang. Ku antar saja ya?"


"Baiklah. Kalau begitu Loly siap-siap dulu ya kak. Kakak ingin memakai baju yang mana? Yang itu saja atau ganti yang baru?"


Loly sudah membuka lemari untuk mengambil pakaian untuk dirinya. Dan akan mengambilkan pakaian untuk Joan. Namun Joan menolaknya. Karena dia akan memakai baju yang sama saja.


Loly sedang berganti pakaian sedangkan Joan sedang melamun memikirkan bagaimana istrinya selama empat puluh hari ke belakang.


"Pasti banyak buaya yang senang karena akku meninggal. Pasti banyak yang berniat membuat Loly move on dariku. Lihat saja, aku akan menunjukkan kalau aku masih hidup. Dan Loly adalah istriku. Istri yang sangat ku cintai. Tidak mungkin aku meninggalkannya."


Dasar Joan. Othor kira dia masih ingin menikmati kebersamaan dengan Loly. Masih belum rela berjauhan. Eh ternyata punya niat terselubung.


Lagian siapa juga yang mau merebut Loly. Kecuali Mario sih. Dia sedang gelisah, galau, merana karena melihat kesedihan Loly kemarin.

__ADS_1


Loly telah selesai bersiap namun mendapati sang suami tengah melamun sambil senyum-senyum sendiri.


Loly pun mendatangi sang suami. Menepuk pundaknya dua kali karena sudah dipanggil berkali-kali Joan tetap tidak merespon. Malah semakin melebarkan senyumnya.


Hingga Joan dikejutkan oleh tepukan Loly yang ketiga. "Iya sayang. Sudah selesai bersiapnya?"


Joan pun memandangi istrinya dari atas hingga bawah.


"Cantik."


"Sudah kak. Ayo berangkat. Masih ada waktu satu jam. Biar kita bisa santai di jalan."


Keduanya pun berangkat. Karena kondisi Joan yang masih memiliki luka lebam di beberapa bagian tubuhnya. Mereka berangkat ke kampus menggunakan mobil.


"Silahkan naik tuan putri." Joan membukakan pintu lalu mempersilahkan Loly untuk masuk menaiki mobil lebih dulu. Kemudian Joan berjalan memutar dan mendudukkan dirinya di belakang kemudi.


Mobil yang mereka naiki telah melaju dengan kecepatan sedang. Saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, mereka pun berhenti. Joan menggenggam tangan Loly. Loly pun menoleh ke arah sang suami.


Senyum pun terkembang dari keduanya.. Lampu sudah menunjukkan warna dan mobil kembali berjalan.


Ciit.


Mobil telah berhenti setelah sampai di halaman kampus. Joan turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk istrinya.


Beberapa mahasiswa yang tengah melintasi tempat Loly dan Joan berhenti tampak tercilap-cilap.


"Lihat, bukankah itu Loly?"


"Dengar-dengar, suami Loly ternyata belum meninggal loh."


Begitulah kira-kira ucapan yang keluar dari beberapa mahasiswa yang melihat Loly bersama Joan.


Dari kejauhan Mario berdiri tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.


"Bukannya itu suami Loly?"


Mario pun segera bergegas mengarahkan langkah kakinya menuju ke tempat Loly.


"Kakak tidak pulang?"


"Emm. Kayaknya aku nunggu kamu selesai kuliah sekalian saja deh. Satu mata kuliah saja kan hari ini?"


"Iya kak. Memangnya kak Joan tidak bosan menunggu? Lama loh nanti."


Setelah sedikit berpikir Joan pun mengatakan akan menunggu di cafe depan kampus saja. Sekalian bertemu dengan Kevin yang sudah merengek ingin bertemu dengannya.


"Ku tunggu di cafe depan sana sayang. Aku akan menghubungi Kevin untuk menemaniku."

__ADS_1


"Ya sudah sana masuk kelas."


Baru Joan membalikkan badan dia pun menoleh kembali setelah seseorang datang menghampirinya dan Loly.


"Tunggu." Mario menghentikan Joan yang hendak melangkah menaiki mobil.


Joan yang sebelumnya sudah tahu siapa Mario pun tampak awas. Dia satu-satunya teman lelaki Loly yang berani mengancam Joan sebelum akad dilaksanakan.


Kedatangan Mario membuat Joan merapatkan badannya dengan Loly lalu menggenggam tangan Loly dengan posesif. Andai di luar kampus. Pasti Joan akan memeluk erat istri cantiknya ini. Masalahnya jika dia melakukan itu di kampus. Bisa-bisa Loly akan mendapat cemoohan dari mahasiswa karena tidak etis mengumbar kemesraan di tempat umum.


"Kamu Joan suami Loly?"


Mario yang sudah sangat penasaran pun membuka suaranya.


"Iya saya Joan. Ada perlu apa dengan saya?"


Mario pun tampak terkejut.


"Lalu berita yang kemarin?"


"Berita yang kemarin hanya kesalahpahaman saja."


Joan sedikit menghembuskan nafasnya.


Huuft. Bagaimana pun, dia tahu Mario lah yang dengan setia menjaga Loly selama dirinya tidak berada di sisi Loly kemarin.


"Thanks ya bro. "


"Tidak masalah. Semoga kamu tidak meninggalkan Loly lebih jauh lagi."


Joan menghela nafasnya kembali.


"Doakan saja aya. Semoga Tuhan selalu melindungi nyawaku."


Lalu Joan dan Mario pun saling berpelukan. Bukan tanda berdamai. Tapi hanya sebatas respect saja.


Mengucapkan atas kembalinya Joan dengan keadaan seperti sekarang.


Loly yang sedari tadi memperhatikan suami dan kakak tingkatnya ini tampak tidak mengerti. Tapi biar sajalah. Sekarang dia juga harus masuk kelas. Sebentar lagi kelas akan dimulai dalam waktu lima belas menit ke depan.


"Ehm, kak, Loly masuk kelas dulu ya."


Kedua orang yang baru saja melepas pelukan itu pun menoleh.


"Iya. Belajar yang rajin ya. Nanti kabari kalau sudah selesai. Aku di cafe depan."


"Iya."

__ADS_1


Kemudian Loly menoleh ke arah Mario. "Loly masuk dulu ya kak."


Yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Mario.


__ADS_2