
Semua manusia di dunia ini memiliki kedudukan yang sama. Dengan posisi yang sama. Sebagai hamba dari Tuhan Yang Maha Esa.
Tiada yang lebih berhak atas suatu hal terkecuali Dia (Allah).
...****************...
Seorang wanita paruh baya yang biasanya berpenampilan elegan bak sosialita kelas atas, kini tak terlihat lagi.
Di dalam lapas, di balik ruangan sempit berbataskan jeruji besi. Erika tampak lusuh dengan baju seragam khas lapas berwarna orange.
Karena bukti yang kuat, ia bukan lagi sebagai tersangka. Melainkan tahanan.
Masih merasa tidak bisa menerima apa yang sedang ia alami.
"Aaaaa... " Suara jeritan putus asa dari Erika terdengar pilu.
'Aku tidak bisa menerima ini. Sebenarnya siapa tuan muda itu? Aku bahkan tidak mengenalnya. Aku tidak pernah punya musuh selain mantan sahabatku dan anaknya.'
Erika duduk meringkuk memeluk kedua lututnya. Di dalam sel ini dia sendirian. Sebelumnya ia menempati sel dengan seorang wanita juga. Tapi karena ia cukup berisi, itu mengganggu ketenangan yang lain. Sehingga ia dipindahkan ke dalam sel ini. Sendiri, tanpa alas selain tikar anyam yang masih bisa menembus dingin ketika diduduki.
Meski berteriak sekencang apapun, tahanan lain tidak akan mendengarnya. Karena sang sipir yang sebenarnya adalah orang dari tuan muda itu telah diberikan instruksi, untuk menempatkan Erika di dalam sel yang terletak agak jauh dari sel yang lain. Hal ini akan memudahkan pihak tuan muda Rayhan jika ingin memberikan pelajaran tambahan bagi Erika. Tapi dengan melihat frustasinya seorang Erik saat ini, dirasa sudah cukup dulu untuk saat ini.
...****************...
"Assalamu'alaikum."
Tiga orang paruh baya memasuki ruang rawat inap Loly. Siapa lagi kalau bukan kedua mama dengan mbak Eni.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Joan yang diikuti oleh Loly.
"Bagaimana kabarmu sayang? Apa sudah lebih baik?" Mama Joan bertanya demi rasa khawatirnya.
"Alhamdulillah Loly sudah baikan ma. "
"Maaf ya, mama baru tahu kalau kamu mengalami ini. " Mama Joan merasa menyesal tidak tahu kondisi menantunya lebih awal. Padahal jarak rumah mereka hanya terpisah oleh komplek sebelah.
Jangankan mama Joan. Tetangga sebelah rumah saja tidak tahu apa yang menyebabkan Loly terbaring di rumah sakit sekarang.
Pluk.
__ADS_1
"Auuh.." Mama ini kenapa sih? Keluh Joan setelah menerima pukulan di bahunya.
"Kamu ini gimana? Istri bisa sampai terluka begitu. "
"Maaf ma. Joan sedang fokus menangkap penyusupnya, tahu kalau dia datang tidak sendiri."
Wajah Joan memelas memandang Loly. Merasa bersalah karena tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.
Melihat suaminya kembali ke mode bersalah membuat Loly merasa iba. Lagian bukan salah Joan jika dia terluka atau kenapa-kenapa.
Tidak ada yang ingin terluka, juga tidak ada yang menginginkan orang yang dicintai terluka.
"Kamu gak bersalah kak. Terima kasih sudah menyelamatkanku." Tutur lembut Loly cukup menenangkan. Namun rasa bersalah seperti enggan meninggalkan Joan.
Loly mengalihkan pandang ke arah mama mertua. "Loly sudah tidak apa ma, tolong jangan salahkan kak Joan."
"Huh, mama kesal nak. Dia bahkan tidak memberitahu mama keadaanmu. Tidak mengabari sama sekali kalau kamu sedang terluka begini."
"Sudah lah mbak. Yang terpenting saat ini Loly sudah baik-baik saja. Tadi Joan sedang sangat panik. Jadi tidak memikirkan yang lain." Mama Fika mengelus lengan besannya. Berusaha membuatnya tenang. Gara tidak lagi menyalahkan Joan. Mama Fika cukup kasihan meliihat Joan yang sudah khawatir dengan istrinya justru disalahkan atas kejadian yang menimpa Loly.
"Sayang, maaf ya.. Aku tidak bisa melindungi mu dengan baik."
"Jangan meminta maaf seperti itu kak. Kamu sudah melakukan yang terbaik."
Semuanya pun terkekeh.
"Oh ya, gimana perkembangan kasusnya Jo? Apa polisi sudah berhasil melacak siapa pelakunya?"
"Belum ada titik terang ma. Tapi.."
"Tapi apa nak? Apa kalian curiga terhadap seseorang?" Tebak mama Joan.
"Emm.. Iya ma. Kami juga belum yakin jika pelaku yang sebenarnya."
"Apa Erika?"
Mendadak pias. Wajah Loly dan Joan sedikit menegang mendengar nama Erika. Bagaimana pun, kedua orang ini sangat tahu seberapa sayangnya mama Fika terhadap sahabatnya yang satu itu. Mereka takut mama Fika sedih karena kecewa sahabatnya yang berada dibalik terlukanya Loly.
"Jadi benar dia."
__ADS_1
Melihat anak dan menantunya hanya diam dengan raut yang menegang. Membuat mama Fika yakin dengan tebakannya. Ia tidak heran, tapi cukup terkejut jika Erika akan bertindak sejauh ini.
Berani sekali melukai anakku. Begitulah geramnya mama Fika.
"Maaf mbak. Erika siapa ya?" tanya mama Joan ragu-ragu. Pasalnya nama Erika memang tidak asing ditelinga. Dia salah satu selebritas, tentu saja semua orang tahu Erika. Hanya Erika yang sama atau bukan, itulah yang menjadi pertanyaan mama Joan.
"Dia artis yang wara-wiri di televisi mbak. Perusak keluargaku, kini dia berusaha mengacaukan keluargaku lagi. Ku pikir dia akan berhenti setelah merebut papa Loly. Sepertinya ia tidak akan puas sebelum membuat kami bangkrut."
"Apa?" Mama Joan terkejut mendengarnya. Heran deh. Bisa-bisanya seorang selebritas melakukan hal serendah itu.
Erika itu publik figur. Tindak tanduknya sedikit banyak bisa mempengaruhi masyarakat. Terlebih dia sudah sangat senior di dunia pertelevisian. Ternyata, terkenal baik belum tentu sebaik yang dipertontonkan. Ini membuktikan bahwa memang benar, tidak semua isi buku sama dengan covernya.
Sebagai publik figur seharusnya menjadi contoh bagi yang lain. Tapi apa mau dikata. Bukan kita yang mengendalikan hidup ini.
Termasuk hati dan pikiran orang lain.
"Iya mbak. Sudah lah jangan pikirkan dia lagi. Aku sudah cukup muak dengan tingkahnya. Sebenarnya, dia dulu orang yang baik. Entah kerasukan setan apa hingga merubahnya menjadi seperti sekarang."
"Maaf mbak. Aku tidak tahu kalau.."
"Iya mbak. Sekarang kita fokus saja pada mereka berdua ini."
"Maksud mbak..?"
"Ya, kita fokus saja pada dua anak ini. Kapan mereka memberikan cucu?"
Mama Fika berucap dengan raut wajah yang dibuat bahagia dengan pengharapan baru. Cucu dari hasil pernikahan Loly dan Joan.
Meski begitu, sorot mata mama Fika tidak bisa dibohongi. Layaknya memendam kesedihan, kekecewaan, juga kemarahan.
Akhirnya hingga malam hanya pembahasan seputar calon cucu yang menjadi topik pembicaraan di dalam ruang rawat Loly, hingga Loly tertidur.
Kedua mama dan mbak Eni pulang ke rumah setelah Loly tertidur pulas.
Di dalam taksi.
Mama Fika terdiam cukup lama. Mengabaikan keberadaan mama Joan yang duduk di sampingnya.
Mama Joan beberapa kali mengelus lembut lengan besannya. Sebagai sesama perempuan, ia cukup paham dengan perasaan mama Fika.
__ADS_1
"Aku baik--baik saja mbak."
"Ya, mbak memang seorang perempuan yang luar biasa. Semoga musibah yang menimpa keluarga mbak segera usai."