
Rencana awalnya tuan muda Rayhan ingin mengirim Erika langsung ke kantor polisi. Namun hal tersebut dicegah oleh sang asisten, Chan.
Chan hanya bermaksud mencegah dari hal yang tidak diinginkan terjadi di luar prediksi.
Meski dari pihak tuan muda Rayhan memiliki seorang hacker handal dengan kehebatan yang tidak bisa diragukan lagi. Tetap saja, bisa jadi tim kepolisian juga memiliki hacker sama handalnya.
"Tim kepolisian bergerak cepat tuan. Hanya berselang beberapa menit dari orang yang mengembalikan Erika ke rumah itu."
Hemm. Tuan muda Rayhan tersenyum lagi.
Senyuman yang tidak lagi sinis. Tapi...
Gusti.. Tuan muda benaran kasmaran. Senyum itu bahkan tidak pernah pudar dari bibirnya sejak meninggalkan rumah sakit.
Saat ini Rayhan hanya sedang berdua dengan Chan saja, masih dalam perjalanan menuju kediaman utama. Untung saja tidak ada yang melihat tingkah tidak biasa Rayhan.
Sadar diperhatikan, Rayhan pun kembali menetralkan wajahnya. Menyembunyikan senyum bahagianya karena bisa bertatap muka secara langsung dengan Loly.
Loly...
Akan melayangkan angan membayangkan sang pujaan hati.
"Maaf tuan muda. Tuan besar ingin menjodohkan anda dengan putri dari Star Entertaint."
Huhh..
Baru saja merasa sedikit senang dan bahagia. Sudah diganggu saja oleh pak tua itu.
"Putar balik Chan. Saya tidak mau menemuinya sekarang."
"Maafkan saya tuan muda. Kita sudah sampai kediaman. Beliau sudah menunggu di depan pintu."
Sial.
Benar saja. Setelah menengok ke arah pintu utama, netra Rayhan menangkap sosok bertubuh tinggi gagah dalam usia yang tidak lagi muda.
Ada apa lagi ini?
Tidak mungkin dia tahu perbuatanku.
Kesal tiada tara. Rayhan keluar dari mobilnya setelah dibukakan pintu oleh Chan.
"Silahkan tuan." Sambil Chan menunduk sebentar.
Huh.
Rayhan melirik sinis ke arah Chan.
Tap tap tap.
Langkah tegas seorang tuan muda Rayhan berjalan menapaki pelataran kediaman utama. Menghampiri pria tua yang sudah berusia senja.
__ADS_1
Dalam langkahnya beberapa orang maid berbaris rapi di sisi kanan dan kiri, menyambut kedatangan sang pewaris.
"Selamat datang kembali tuan muda. "
Tuan muda Rayhan mengangkat tangan lalu mengibaskannya sekali. Pertanda sudahi saja penyambutan ini.
Ia tidak suka diperlakukan layaknya pangeran mahkota kerajaan.
Menurutnya, dia hanya seorang Rayhan. Di luar statusnya sebagai pewaris tunggal Ray Corp yang didirikan oleh pak tua di depannya beberapa langkah lagi itu.
Biar bagaimana pun. Semua manusia sama di mata Tuhan. Yang membedakannya hanyalah amal ibadah dan tingkat ketaqwaan. Dan seorang Rayhan sangat menyadari, dia masih jauh dari itu.
Buktinya saat ini ia sedang meragukan takdir Ilahi. Dia memendam perasaan terhadap istri orang lain.
Ctak ctak.
"Ah, aduh. Apa-an kakek ini? "
Rayhan mengangkat kedua kakinya bergantian. Berusaha menghindar dari pukulan tongkat kakek.
"Dasar bujang lapuk. Kau ini sudah berumur berapa, hah? "
Masih dengan memukul pelan tongkatnya ke arah kaki Rayhan.
Huuft.
Kakek menghela nafasnya. Berusaha mengatur, memperbanyak menghirup oksigen.
Takdir berkata, Rayhan cucunya. Dialah satu-satunya pewaris Ray Corp yang sudah ia dirikan di masa muda, dengan nama Roxy Company ia melanglang buana membangun bisnis kerajaan hingga menjadi jaya pada masanya. Kini setelah Rayhan memutuskan mengambil alih. Maka Roxy Company ia ubah menjadi Ray Corp. Tidak tahu alasannya. Hanya saja, kakek menginginkan seseorang mengenal Ray Corp sebagai identitas seorang Rayhan. Dialah pemiliknya. Tidak ada yang boleh mengusik keberadaan Rayhan dari sana.
"Kau ! " Mata tua itu mendelik kesal menatap cucunya.
"Aku baru datang kek. Dasar pak tua. "
"Apa kata mu? " Mata tua itu semakin melotot saja. Dasar cucu kurang ajar. Bisa-bisanya mengatakan kakeknya tua.
Tapi memang benar sih. Kan kakek, sudah tua dong?
Kakek dan Rayhan berjalan beriringan memasuki kediaman. Chan masih setia menemani tanpa mengeluarkan satu suara pun. Begitu lah ia. Tidak ditanya, suaranya pun tak terdengar. Menghemat energi. Alasan Chan sangat tidak masuk akal.
Menuju ruang makan karena sudah waktunya makan malam.
Lekas kakek menduduki kursi utama dan Rayhan berada di sebelahnya.
Chan?
Tentunya berada di sisi lain kakek. Dia juga ikut serta menyantap makanan yang sudah tersaji memenuhi meja makan besar itu.
"Kapan kau akan menikah, Ray? Kakek ini sudah tua. "
Ucapan singkat kakek menghentikan pergerakan Rayhan yang akan menyentuh makanannya.
__ADS_1
"Aku masih belum tertarik kek. "
Pembahasan ini bukan pertama kali diutarakan. Berkali-kali hingga Rayhan sendiri bosan menjawab.
Tidak ada satu pun wanita yang mampu menarik perhatiannya. Tidak bisa dipungkiri. Para wanita yang dipilihkan kakeknya cantik-cantik. Dari keluarga yang sama sederajat. Namun bukan itu yang Rayhan inginkan.
Loly..
Memikirkan pernikahan, entah mengapa selalu bayangan Loly yang muncul di ingatannya. Inilah mengapa ia tidak bisa mempersunting wanita lain.
Rayhan tak ingin menjalani rumah tangga tanpa cinta. Pun tak ingin bayang-bayang Loly terus saja menghantui di saat ia berdekatan dengan wanita lain.
Tidak lucu kan kalau sedang "ehem" malah yang diingat Loly, bukan istrinya.
Rayhan mendesah pelan.
"Kakek sudah mengatur pertemuan antara kau dan Sarah, pastikan menemuinya di Resto biasanya. "
Tegas tak terbantah.
"Aku tahu kau mengejar istri orang lain, Ray. Jangan mempermalukan dirimu dengan hal gila itu. "
Rayhan terbengong dengan tutur kata kakek. Mengejar?
Ia tidak sedang mengejar istri siapapun. Hanya perhatian saja.
Ia hanya ingin melindungi wanita itu. Ingin senyum di wajah cantik itu selalu terukir cerah tanpa ada yang mengganggunya.
"Tidak perlu mengelak. Perbuatan itu menunjukkan identitas bukan seorang pria sejati. Ray, kau boleh menginginkan wanita mana pun. Siapa pun, jangan istri orang lain. "
Belum menjawab apapun. Kakeknya sudah melanjutkan perkataannya.
Apakah benar ia sedang mengejar Loly?
Apakah benar ia sedang ingin merebut Loly dari pangkuan suaminya?
Tidak. Rayhan ingin menyangkal. Berusaha sekeras mungkin karena memang ia tidak ingin merebut Loly dari Joan.
Mendapatkan tuduhan dari kakek, Rayhan mengetatkan rahang tegasnya.
"Aku tidak pernah merebut siapapun dari suaminya kek. "
Satu hal yang baru ia sadari. Ia mengakui itu. Cinta.
Rasa yang entah sejak kapan sudah tumbuh begitu besarnya, hingga mengalihkan seluruh dunia dari pandangannya, hanya tertuju pada satu orang. Loly..
"Aku baru tahu, aku mencintainya. Aku hanya ingin melindungi kebahagiaannya. Menjadikan ia satu-satunya wanita yang berhak bahagia. Menikmati indahnya dunia tanpa terluka. Tapi aku gagal saat melihatnya terbaring di rumah sakit itu. "
Kakek merasa sedih dengan pernyataan cucunya. Wajahnya yang semula mengetat menahan amarah, kini sudah melembut, berubah sendu. Menatap cucunya yang sedang menunduk menghadapkan mukanya pada piring di depan.
"Ray, jangan lukai dirimu sendiri dengan perasaan yang menyiksa itu. Dia memang berhak bahagia, begitu juga dengan mu. Jika dia berhak bahagia dengan pilihannya. Bukankah itu juga berlaku untukmu? "
__ADS_1
"Pikirkan itu ! Jangan buang-buang waktumu dengan melindungi kebahagiaan orang lain. Sedangkan dirimu sendiri tersiksa melihatnya bahagia. "