
Ada banyak hal yang belum tentu kita sadari. Bahwa setiap orang berhak untuk bahagia. Terlebih karena dia mau berusaha keras demi mencapai kebahagiaannya.
Sebagai orang lain. Kadang kita merasa "kenapa mereka bisa sebahagia itu? Atau kenapa kita tidak bisa bahagia sepertinya?"
Readers, sebenarnya titik kebahagiaan setiap orang itu berbeda. Kita tidak berhak mencela jika orang lain sudah bisa bahagia hanya karen hal yang sepele bagi kita. Bisa saja mereka harus bersusah payah untuk mencapai titik itu.
Juga, kita tidak boleh iri dan dengki apabila orang lain bahagia karena memiliki sesuatu hal yang mewah menurut kita. Kita semua berhak bahagia.
...****************...
Loly kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Hanya saja saat ini ia belum mendapatkan kepastian, kapan Joan akan kembali dari tugas negara.
Ketika akan pulang dari kampus.
Tepat di depan gerbang kampus, Loly diberhentikan oleh seseorang yang tidak lin adalah sopir pengacara kakeknya.
Sesuai kesepakatan. Mereka melakukan pertemuan di sebuah resto.
Di ruang VIP, pengacara kakek menjelaskan kepada Loly bahwa saat ini perusahaan sudah membutuhkan kehadiran Loly.
"Paman, bukankah Loly sudah bilang kalau sudah siap pasti akan mendatangi paman."
"Benar, tapi saat ini perusahaan sedang membutuhkan mu nak. Ibu tiri mu sudah berani mengalihkan dana perusahaan secara diam-diam."
"Apa papa tidak mengetahui tindakan tante Erika?"
"Bahkan beliau tidak mengetahui bahwa orang kepercayaannya sudah berkhianat darinya."
"Loly akan memikirkannya lebih dulu mengenai hal ini."
"Kabari saya secepatnya ya."
"Baik paman. Loly permisi."
Paman pengacara merasa prihatin dengan Loly. Bagaimana bisa nanti ia akan melawan ayahnya sendiri. Yang pasti paman pengacara akan selalu berada di pihak Loly. Apapun yang terjadi keselamatan Loly dan keberlangsungan LF corp adalah prioritasnya. Sesuai perintah mendiang kakek.
Dalam perjalanan menuju ke rumah. Fokus Loly terbagi antara jalanan dan juga keputusan apa yang harus diambilnya. Sementara Joan belum kembali. Loly berpikir akan meminta pendapat dari mama Fika saja.
Tak pernah terbayang bagaimana bisa papa nya terlibat perasaan engan tante Erika.
Harusnya papa tahu kelakuan busuk tante Erika. Tapi kenapa papa diam saja.
"Akhirnya sampai juga di rumah."
"Assalamu'alaikum. "
Mama Fika menyambut kedatangan putrinya dengan senyuman hangat. Walau hari ini adalah hari yang berat juga buatnya.
"Wa'alaikumsalam sayang. Ini minum dulu. Kebetulan mbak Eni baru saja membuat es jeruk."
__ADS_1
Loly menerima minuman pemberian mama Fika dengan sedikit lesu. Meminumnya perlahan hingga tandas.
"Kenapa seperti itu?" mama Fika bertanya karena tidak biasanya Loly pulang dari kuliah dengan wajah lesu.
"Loly bingung nih mah."
"Sini cerita sama mama. Siapa tahu bisa mengurangi beban Loly. Tapi kalau Loly belum siap bercerita juga tidak apa-apa."
"LF corp yang ruwet ma. Tante Erika membuat ulah."
Mendengar itu mama Fika hanya dapat menerka, keputusan apa yang akan Loly ambil. Apakah Loly akan terjun ke dunia bisnis?
Loly sendiri diliputi rasa bimbang. Dia masih terlalu muda untuk memimpin sebuah perusahaan. Terlebih perusahaan tersebut masih memiliki Surya sebagai pemimpin saat ini.
"Memang tante Erika berbuat apa nak? Papa mu pasti tidak akan tinggal diam jika tahu tante Erika membuat rugi perusahaan."
Mama Fika berusaha menyampaikan pendapatnya dengan lembut agar Loly juga dapat berpikir secara matang.
Loly pun menjelaskan pada sang mama, kalau diam-diam tante Erika berusaha mengalirkan dana perusahaan ke rekening pribadinya. Loly juga memberitahu kalau dia belum memastikan apakah papa Surya tahu atau tidak mengenai masalah tersebut.
"Sepertinya Loly harus bergerak cepat deh ma. Tapi Loly akan meminta pendapat kak Joan dulu deh. Bagaimana menurut mama?"
"Kalau menurut mama, memang sudah seharusnya kamu meminta pendapat Joan. Bahkan persetujuannya sangat penting. Kamu sudah memiliki suami, jadi sebisa mungkin apapun yang akan kamu lakukan harus atas persetujuan suami kamu."
"Loly mengerti ma. Kalau begitu Loly akan mencoba kirim pesan ke kak Joan dulu. Siapa tahu sedang bisa dihubungi."
Loly pun berpamitan akan membersihkan diri dan menghubungi suaminya.
Loly telah selesai mandi. Saat ini ia sedang memandangi ponsel di tangannya.
Menunggu balasan dari sang suami yang sudah berhari-hari tanpa kabar.
"Tugas apa yanag sedang kakak lakukan saat ini? Kenapa sampai sekarang tidak memberi kabar?"
Ting.
Loly segera membuka pesan. Yang ternyata bukan dari suaminya. Dengan lemas ia membalas.
Sudah lima belas menit Loly hanya memandangi ponsel yang ia genggam di tangan kanannya.
Setelah memastikan tidak ada pesan ataupun panggilan Loly berniat meletakkan ponsel tersebut di atas meja. Namun urung.
Ponsel tersebut berbunyi. Melihat nama Joan yang tertera, segera Loly menggeser tombol berwarna hijau ke atas.
"Assalamu'alaikum sayang. Maaf baru memberi kabar. Kamu sedang apa?"
"Wa'alaikumsalam kak. Loly sedang menunggu kabar kakak."
"Benarkah? Apa istriku merindukanku?"
__ADS_1
BLUSH.
Pipi Loly tetap saja masih merona walau yang menggoda tidak sedang berhadapan dengannya.
"Ehm, kapan kakak akan pulang?"
Namun Loly masih merasa malu untuk menjawab pertanyaan rindu dari Joan. Walau kenyataannya Loly memang merindukan Joan. Bahkan sejak hari pertama Joan berangkat bertugas.
"Sekarang sedang dalam perjalanan menuju markas. Insyaallah nanti malam sudah sampai di rumah. Ada apa, hmm? Semua baik-baik saja, kan?"
"Alhamdulillah semua baik-baik saja kak. Kalau begitu Loly tunggu di rumah ya."
"Baiklah. Kalau mengantuk, kamu boleh tidur lebih dulu."
Keduanya mengakhiri dengan salam. Loly bersyukur. Joan sudah memberi kabar dan ternyata akan pulang. Dia berniat menyampaikan secara langsung saja. Semoga Joan dapat memberikan pandangan yang lebih baik nantinya.
***
Berulang kali Loly menguap. Menahan kantuk hingga matanya berair. Demi menunggu kepulangan Joan. Namun yang ditunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Akhirnya dia pun tertidur.
Pukul sebelas malam. Joan mengetuk pintu rumah. Mbak Eni yang mendengar pintu depan diketuk pun segera mengintip dari balik jendela. Lalu membukanya setelah tahu kalau Joan yang mengetuk dari luar.
Saat memasuki rumah, Joan menemukan Loly tertidur di kursi ruang tamu.
Mbak Eni mengatakan kalau Loly tidak mau masuk ke kamar sebelum Joan pulang.
Melihat itu Joan segera menghampiri Loly.
Lalu menggendong tubuh mungil Loly dan memindahkannya ke dalam kamar.
Perlahan Joan memindahkan Loly dari gendongannya ke ranjang. Setelah berpindah, justru Loly membuka matanya.
"Kakak sudah pulang?"
Dengan senyum manisnya. Joan menjawab pertanyaan Loly. "Sudah sayang."
"Apa kak Joan lapar?"
"Tidak, kita beristirahat saja setelah ini. Aku akan berganti pakaian dulu."
Dalam hati, Loly sudah sangat tidak sabar. Ingin segera mengutarakan permasalahannya kepada Joan. Tapi setelah melihat wajah lelah Joan, Loly menjadi tidak tega.
Besok saja dibicarakan. Sepertinya kak Joan sangat lelah. Loly.
Lalu keduanya mengistirahatkan diri. Melepas segala penat.
...****************...
selamat malam.
__ADS_1
Selamat beristirahat. Terima kasih atas dukungannya. Author mohon maaf apabila ada typo atau out of line.
doakan author segera sehat ya..sudah seminggu ini sakit. Huhuu