Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Dia Bukan Mama Ku


__ADS_3

Menjelang subuh. Loly sudah membuka matanya. Di perutnya ada tangan kekar yang melingkar. Sedikit susah untuk bergerak.


Dengan sedikit usaha akhirnya Loly dapat melepaskan diri dari rengkuhan Joan.


Sudah satu minggu ini Loly mulai rajin mengerjakan sholat malam. Sebelumnya bukan tidak pernah. Hanya tidak se-rajin sekarang saja.


Loly telah mengambil wudhu, kemudian bersiap dan melaksanakan sholat tahajud dua rakaat. Sesudahnya Loly bermunajat kepada Sang Ilahi lalu dilanjutkan dengan bersenandung ayat suci al-qur'an.


Samar-samar Joan mendengar suara orang mengaji. Perlahan ia membuka matanya. Meraba sebelahnya yang ternyata sudah kosong. Dipandanginya sekeliling ruangan hingga ia menemukan Loly tengah bersimpuh di atas sajadah dengan al-qur'an di tangannya.


Joan pun segera bangun dari pembaringan. Menuju ke kamar mandi hendak melakukan hal yang sama dengan Loly. Selesai Joan berwudhu terdengar adzan subuh telah berkumandang.


Loly menyudahi bacaannya. Lalu melaksanakan sholat subuh berjama'ah dengan Joan.


Selesai sholat. Keduanya berdo'a memohon ampunan dan mengutarakan hajat kepada Tuhan. Berharap dan pasrah terhadap segala ketentuan yang telah diberikan.


***


Semalam karena mengantuk dan lelah keduanya langsung tertidur begitu saja.


Kini Loly hendak mengutarakan maksudnya untuk meminta pendapat dari Joan.


"Apa tugas kakak sudah selesai?"


"Sudah sayang. Tapi sepertinya akan ada lagi. Kali ini lebih lama."


Mendengar itu, Loly murung dibuatnya.


Sebagai pengantin baru, tentu Loly masih sangat ingin menghabiskan banyak waktu bersama pasangannya. Terlebih Joan adalah lelaki pertama yang berhasil menyusupi hatinya.


Melihat istrinya yang nampak murung, Joan berusaha menghiburnya.


Namun Loly teringat kembali dengan pikirannya. Mengenai LF corp.


"Kak, apakah kakak akan mengizinkan jika Loly terjun ke perusahaan?"


"Bukannya kita sudah membicarakan hal ini sebelum menikah sayang?"


"Maksudnya, kalau seandainya Loly akan mulai mengurus perusahaan kakek dalam waktu dekat ini. Bagaimana menurut kak Joan."


"Kenapa, hmm? Apa terjadi masalah?"


Loly pun menceritakan masalah-masalah yang terjadi di LF corp. Ya walaupun Joan tidak begitu mengerti bagaimana mengurus sebuah perusahaan. Tapi sedikit banyak dia cukup tahu bahwa dunia bisnis itu kejam. Yang kuat menghancurkan yang lemah.


Dalam pikiran Joan berusaha menelisik hal-hal yang mengganggu hatinya. Ia juga khawatir jika suatu saat nanti akan terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa istrinya.


Terlebih yang menjadi musuh Loly sangat nyata. Orang terdekatnya. Ayah juga ibu tiri Loly.

__ADS_1


Setelah mempertimbangkan segala konsekuensi yang terlintas di kepala, akhirnya Joan menyetujui Loly untuk mengurus LF corp dalam waktu dekat ini.


Loly sangat berterima kasih atas dukungan dari Joan. Dia akan menghubungi paman pengacara dan memberitahukan hal ini.


***


Keesokan harinya semua jajaran petinggi perusahaan dikejutkan dengan kehadiran Loly bersama pengacara mendiang pemilik LF corp.


Surya yang saat ini sedang meeting di dekat kantor pun tergopoh agar segera sampai.


Orang-orang penting telah berkumpul di ruang meeting. Pengacara kakek tengah memperkenalkan CEO dari LF corp yang baru, yaitu Loly.


BRAK.


"Ada apa ini?" tanya Surya. Mengapa semua dikumpulkan tanpa menunggu kehadirannya.


"Papa." Loly.


"Selamat datang pak Surya. Mari, kita lanjutkan pembicaraan ini." sambut pengacara kakek.


Setelah memastikan semua kondusif pengacara kakek kembali menjelaskan maksud kedatangannya bersama Loly.


Terlihat Surya menahan amarah yang tengah memuncak di kepalanya. Belum selesai masalah hilangnya dana perusahaan yang entah kemana. Kini sudah datang Loly sebagai CEO yang baru.


Pertemuan selesai. Semua menjabat tangan dan mengucapkan selamat datang kepada Loly.


"Selamat bergabung ibu Loly. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."


***


Ruangan mendiang kakek yang selama ini dibiarkan tanpa pemilik, kini akan bertemu dengan pemilik barunya.


Loly telah memasuki ruangannya. Ia berkeliling sejenak untuk melihat-lihat ruang kerjanya. Semuanya masih sama seperti saat kakek masih ada.


Bahkan foto Loly bersama kakek masih terpampang di atas meja di samping monitor.


BRAK.


Loly menoleh ke arah pintu untuk mencari tahu siapa yang dengan lancang membuka pintu ruangannya tanpa permisi. Tidak sopan.


Mengetahui yang datang ke ruangannya adalah sang papa. Loly pun menyambutnya.


"Selamat datang papa. Ada yang bisa Loly bantu? "


Meski ia menyambut dengan senyum pahitnya. Tapi di lubuk hati terdalam. Loly tetap merindukan Surya. Telah lama ia tidak dapat menjangkau sang papa. Sangat ingin memeluk namun gengsi menghalanginya.


"Apa-apaan ini Loly? "

__ADS_1


"Kenapa pa? " Loly bertanya seakan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.


Sorot mata Surya mengatakan kesedihan yang sama. Entah setan apa yang merasuki. Hingga hanya harta yang saat ini ingin dipertahankannya.


"Apa kamu berniat mengambil alih perusahaan papa?


Jangan mengada-ada kamu. Kamu ini tidak tahu menahu soal bisnis. Biar papa saja yang mengurusnya. "


Memang benar apa yang dikatakan Surya. Tapi menilik kembali dengan apa yang terjadi saat ini. Perusahaan sudah menelan kerugian yang sangat besar hingga bernilai miliaran rupiah. Bukan jumlah yang kecil bagi Loly.


"Oh ya? Lalu apa yang akan papa lakukan pada tante Erika? "


Surya terheran, kenapa Loly membawa nama Erika dalam urusan LF corp.


"Dia sama sekali tidak memiliki urusan dengan LF corp Loly. "


"Benarkah? "


Surya berusaha mencari jalan keluar agar Loly tidak mengambil alih LF corp dari genggamannya.


Berusaha menilai dan menelisik namun sama sekali tidak menemukan apapun.


"Apa maumu Loly? "


"Aku hanya ingin mengusut tuntas tikus-tikus yang sudah menggerogoti LF corp dari dalam. "


"Apa maksudmu ada yang berusaha korupsi dariku? "


"Loly yakin papa tahu hal ini. "


"Entah, papa tahu atau tidak jika yang bertindak di balik ini semua adalah istri kesayangan papa. Tante Erika. "


"Tidak mungkin ada yang berkhianat. "


Surya masih berusaha menyangkal kebenarannya. Walaupun dia sendiri sudah tahu kejanggalan dalam laporan keuangan selama tiga bulan ini.


"Bagaimana jika yang mendalangi kerugian LF corp adalah wanita kesayangan papa? "


Loly tersenyum miring. Bukan meremehkan Surya. Dia menjadi lebih kesal, kenapa papanya menjadi bodoh dan dibutakan oleh wanita begini.


Dulu papanya ini yang membawa LF corp hingga sejaya sekarang. Kehebatan Surya sudah tidak diragukan lagi. Bahkan kakek mengakui itu.Sayangnya harus takluk di bawah kuasa wanita laknat seperti Erika.


"Sudah papa bilang. Mama Erika tidak berurusan dengan LF corp Loly. Jaga bicaramu. " mata Surya semakin melotot mendengar tuduhan Loly.


"Dia bukan mama ku! " Loly pun berteriak kepada papanya. Menegaskan batas Erika bagi dirinya.


"Baiklah, buktikan itu dalam waktu satu minggu pa. Jika sampai saat itu papa tidak bisa membuktikan bahwa tante Erika bukan dalangnya. Jangan salahkan jika Loly bertindak sendiri. "

__ADS_1


Setelahnya Loly bergegas meninggalkan ruangan.


Surya terduduk di ruangan yang sama. Menyesali satu hal. Kesalahan yang ia lakukan pada anaknya. Ia menyesal telah membentak juga bersinggungan dengan Loly. Meratapi kenapa hidupnya jadi seperti ini?


__ADS_2