Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Joan cemburu


__ADS_3

Dilema oleh pertanyaan Loly. Joan berusaha mengalihkan pembicaraan. Namun lagi-lagi pembahasan yang sama tetap saja berulang. Loly penasaran. Apakah papa Surya tahu atau pura-pura tidak tahu?


Jangan sampai kalau papa Surya justru bersekongkol dengan Erika untuk merebut LF Corp dari Loly. Astaga.. Memikirkan ini saja sudah tidak tahu bagaimana membayangkannya.


"Kenapa kakak malah mengalihkan pembicaraan? Menurut kakak bagaimana soal papa? "


Bukannya tidak tahu maksud istrinya. Joan hanya tidak ingin salah berucap, yang tentu saja imbasnya adalah perasaan Loly.


"Aku tidak tahu sayang. Nanti kita cari tahu. " Jawab Joan singkat. Ia benar-benar tidak ingin memperpanjang urusan tahu atau tidaknya papa Surya.


"Haisss.. Kakak ini. " Loly kesal sendiri akhirnya.


Tok tok tok.


Mendengar ketukan pintu membuat Loly dan Joan saling beradu pandang. Siapa yang datang? Bukan jam kunjung dokter. Mama Fika dan Mbak Eni kan kemari setelah maghrib? Lalu..


"Biar ku buka dulu pintunya. "


Tanpa menunggu tanggapan istrinya, Joan berlalu begitu saja untuk membuka pintu. Siapakah gerangan yang berkunjung?


Belum banyak yang tahu tentang Loly berada di rumah sakit selain keluarga dan teman-teman Loly yang tadi kemari.


Seorang pria?


Joan menajamkan tatapannya. Pria gagah dan tampan, bersama satu pria yang gagah juga. Tampan tapi.. Dingin sekali ekspresinya.


"Maaf cari siapa ya? " Tanya Joan. Bahkan ia belum membuka pintu sepenuhnya. Hanya sebagian yang muat untuk dirinya mengintip tamu tak diundang.


"Apa benar ini ruang Loly? "


Siapa mereka? Kenapa mencari Loly? Apa rekan bisnis? Atau jangan-jangan dia punya perasaan pada Loly?


Dalam keadaan seperti ini, tentu saja insting Joan sebagai lelaki berfungsi. Menilik pria di depannya berdiri tenang dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran.


Jangan sampai dia mantan Loly. Tapi kan Loly pernah bilang belum pernah berpacaran. Lalu dia..


Mungkin rekan bisnis. Joan mencoba untuk berpikir positif. Lagian Loly juga tidak mungkin menjalin hubungan di belakang suaminya. Loly itu tipe wanita yang setia terhadap pasangan. Ia percaya 100% pada istrinya.


"Benar. Saya suaminya. Mari silahkan masuk. "


Joan segera membuka pintu lebih lebar. Mempersilahkan dua orang yang tampak asing di matanya itu masuk. Sepertinya ingin melihat keadaan Loly. Mungkin..


"Sayang, ada tamu. " Panggil Joan. Karena Loly sedang fokus dengan ponsel di tangannya. Tadi ia bosan ketika menunggu Joan membuka pintu, tapi tidak segera kembali.


"Sia..pa ? " Sahut Loly.


Mata Loly membulat sempurna melihat kedatangan seniornya di kampus. Bukankah dia sudah lulus? Lalu dia tahu dari mana Loly sedang dirawat di sini? Oh bukan. Untuk apa dia ke sini. Lagi pula, selama di kampus tidak pernah dekat. Ngobrol pun sangat jarang. Ada apa ini?


Loly tidak sengaja melirik ke samping seniornya. Loh..


"Tuan Chan? "


"Iya bu Loly. Maaf kami datang mendadak tanpa pemberitahuan. " Jawab Chan. Ia meringis ketika tidak sengaja matanya terarah pada tuan mudanya yang melirik tajam.

__ADS_1


'Sial. Tuan muda cemburu bu Loly lebih tertarik bertanya padaku ketimbang pada tuan muda. ' Batin Chan berteriak. Ingin Loly bertanya dan fokus pada tuan mudanya saja.


"Tidak masalah. Lalu kamu.. " Loly mengarahkan pandangan matanya ke arah seniornya. "Bukankah kamu alumni kampus ? "


Huuuft.. Akhirnya Chan bisa bernafas lega. Tapi kenapa mendadak hawa di kamar ini seperti suram ya?


Chan pun menolehkan kepala ke kanan dan kiri.


Tap.


Matanya bersitatap dengan Joan.


Astaga. Mata itu menyeramkan seperti mata tuan muda.


Lihat ! Tangannya saja mengepal sempurna. Rahangnya mengetat. Pasti tengah menahan amarah yang bergejolak.


Siapa pula suami yang tidak cemburu melihat istrinya dikunjungi pria lain di depan matanya dengan menunjukkan wajah khawatirnya.


Astaga.. Tuan muda begitu ceroboh. Apa karena cinta?


Mampus lah kau Chan. Kau pasti akan diamuk tuan muda karena tidak mengingatkan kemungkinan jika suami Loly yang menungguinya di rumah sakit.


"Ya, aku Rayhan. Yang sempat jadi ketua panitia ospek. " Bahkan tuan muda menjawab pertanyaan Loly dengan mata berbinar.


Ampun Tuhan. Chan tidak tahan.


"Ehm. Maaf tuan muda. Saya izin mengangkat telepon dulu keluar. "


Akhirnya Chan terpaksa berbohong untuk menghindar dari hawa menyesakkan di dalam ruangan.


Tidak lagi memperdulikan ekspresi kesal bercampur cemburu Joan. Chan melesat secepat kilat keluar ruangan.


"Oh iya." Lalu Loly melirik ke arah suaminya. Ia tersenyum lembut ketika mendapati wajah suram dan rahang yang mengetat. Tidak pernah suaminya itu menampakkan raut cemburu hingga sedemikian rupa. Bahkan pada Mario yang secara terang-terangan menyatakan perasaan pada Loly pun, Joan tidak sampai sekesal ini.


Tangan Loly terulur ke arah Joan. Joan yang peka segera mendekat dan menggenggam tangan lembut istri cantiknya.


"Kak, kenalkan. Dia kakak seniorku di kampus. " Loly menoleh ke arah Rayhan. "Kak Rayhan ini suamiku. "


Joan dan Rayhan pun bersalaman.


Aneh. Kenapa harus bersalaman dengan mimik muka yang menunjukkan peperangan? Mana ada perkenalan yang sengit begitu?


Ekhem. Loly sengaja berdehem untuk menyadarkan dua manusia yang mendadak bertingkah aneh di depannya kini.


"Haus sayang? Mau minum? " Tanya Joan pada Loly. Sengaja menekan kata "SAYANG" saat menyebutnya. Menegaskan bahwa wanita itu milik Joan. Tidak ada yang boleh mengusiknya.


Loly menggeleng pelan dengan senyum kecilnya.


"Duduklah di samping ku kak. " Loly merengek pada Joan. Dengan senang hati. Joan segera menempati kursi di sisi tempat tidur Loly.


Sedangkan Rayhan dibiarkannya berdiri. Ini dilakukan agar suami tercintanya ini tidak menampilkan wajah suram bak rumah kosong lagi.


"Oh ya. Kak Rayhan tahu dari mana ya kalau aku sedang di sini ? "

__ADS_1


Loly merasa ada yang aneh di sini. Apa hubungan Rayhan dengan Chan? Kenapa bisa kesini berbarengan. Lagi pula, keadaan Loly saat ini masih dirahasiakan dari publik.


Mendapat pertanyaan yang tiba-tiba. Dengan setenang embun pagi. Rayhan pun menjawab.


"Tadi aku sedang menjenguk salah satu teman. Tidak sengaja bertemu teman-temanmu di lorong. Mereka bilang kamu sakit. Memangnya kamu sakit apa Loly? "


Tidak bisa dipungkiri. Rayhan memang sangat khawatir. Tapi kali ini dia salah. Menunjukkan kekhawatiran terhadap istri seseorang di depan suaminya. Siapa yang terima?


"Aa...aku sakit. Emm. Hanya kecapek an saja saja kok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "


Loly sengaja berbohong. Rayhan itu orang luar. Tidak ada kewajiban bagi Loly untuk berterus terang mengenai kondisinya dan masalahnya saat ini. Tidak tahu saja jika semua pergerakan Loly selalu dipantau oleh Rayhan. Bahkan penangkapan Erika adalah karena Rayhan. Jangan lupakan juga orang yang mengirimi Loly sebuah berkas berisikan semua hal tentang Erika.


Ting.


Bunyi denting ponsel Rayhan. Pertanda adanya pesan masuk.


Oh ya. Di mana Chan? Dasar asisten sialan. Berani sekali meninggalkan tuannya di dalam ruangan sendirian.


Diambilnya ponsel yang berada di saku jas sebelah kanan. Begitu membuka dan membaca isinya. Seketika mata Rayhan membulat sempurna.


Astaga. Betapa bodohnya dia?


*Chan


Tuan muda. Maafkan aku meninggalkan ruangan lebih dulu. Saya merasa salah tidak mengingatkan tuan muda kalau ada suami nona Loly yang berada di sana. Dia sepertinya menyadari kalau anda mengkhawatirkan istrinya*.


Sial. Ceroboh sekali Chan ini.


Padahal kecerobohan Chan juga karena Rayhan sendiri yang tidak tahan ingin segera melihat Loly. Memastikan dengan mata kepala sendiri keadaan Loly yang sebenarnya.


Beginilah nasib bawahan. Selalu menjadi sasaran. Salah benar nya bos. Tetap saja bos selalu benar. Dan tentunya bawahan lah yang selalu salah. Itu sudah menjadi aturan tak tertulis di poros bumi ini.


Menyadari masih berada di hadapan Lolu dan suaminya. Rayhan dengan segera mengubah mimik muka terkejutnya.


Tak lama Chan masuk dengan menenteng keranjang buah.


Meletakkannya di meja depan sofa.


"Maaf bu Loly. Tadi saya mendapatkan telepon kalau buah untuk bu Loly tertinggal kantor. Barusan sekretaris saya mengantarkan. "


"Tidak perlu repot-repot tuan Chan. "


Kejadian sebenarnya. Setelah Chan keluar dari ruang Loly. Ia segera memutar otak untuk mencari ide untuk menyelamatkan tuan mudanya.


Lalu ia teringat dengan lapak buah di depan rumah sakit. Beli buah saja ke sana.


Sambil menuju ke lapak buah, Chan pun mengirim pesan kepada tuan muda Rayhan.


Sial. Mengapa susah sinyal sih.


Ah ternyata kuota internet Chan sedang habis.


Sesampainya di lapak buah, Chan segera memesan bingkisan buah yang terbaik. Mengatakan akan mengambilnya sebentar lagi. Ia akan pergi ke counter pulsa di sebelah lapak untuk membeli kuota internet.

__ADS_1


Seorang Chan kehabisan kuota internet? Yang benar saja Chan ? Haha.


__ADS_2