Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Kecemburuan Joan


__ADS_3

Kedatangan Chan bagai membawa angin segar dari pegunungan bagi Rayhan. Si tuan muda yang entah mengapa bisa bertindak bodoh hanya karena Loly.


Kalau kata upin ipin. Ish ish ish, tak patut. Hehe.


Melihat keadaan Loly yang sudah tampak baik-baik saja, kontras membuat Rayhan pun tenang. Karenanya Rayhan dan Chan beranjak ingin pamit pulang.


Meski dalam hati kecil Rayhan sebenarnya terselip sebuah harapan kecil Loly akan menahannya.


Jangan bodoh Ray. Loly tidak akan pernah menahan mu. Kau bukan siapa-siapa baginya. Berteman dekat saja tidak pernah. Ini malah mengharapkan hal konyol. Astaga tuan muda.


"Syukurlah Bu Loly sudah tampak sehat. Semoga lekas pulih dan segera melanjutkan rencana proyek kita." Akhirnya Chan membuka suara kembali. Kali ini untuk berpamitan.


"Alhamdulillah tuan Chan. Terima kasih sudah menyempatkan untuk berkunjung kemari. "


"Sama-sama. Kami pamit dulu bu Loly. " Lalu Chan menolah ke arah Joan yang sudah lebih tenang dengan keberadaan dua makhluk asing di hadapannya ini.


"Mari pak Joan. Kami permisi. "


Jret.


Pintu tertutup pelan. Menghilangkan Rayhan dan Chan dari selayar pandang.


Kini tinggallah dua sejoli, Joan dan Loly. Tampak beradu pandang dengan pikiran yang berbeda. Joan yang masih bergulat dengan kecemburuannya.


Sedangkan Loly dengan sejuta penasarannya. Kenapa suaminya cemburu? Lalu hubungan antara Chan dengan Rayhan. Mengapa Chan memanggilnya dengan sebutan tuan muda? Apakah Chan bekerja untuk Rayhan? Atau mereka hanya berteman? Tapi dari gelagatnya. Sepertinya..


Ah sudah lah. Loly tidak ingin menebak-nebak lagi. Urusan Chan dan Rayhan bukanlah hal yang penting. Toh hubungan antara Chan dan Loly hanya sebatas rekan bisnis. Tidak lebih dan tidak kurang.


yang lebih penting dan butuh perhatian ekstra saat ini adalah sami tampannya. Lihatlah ! Sedari tadi Joan masih bermuka masam. Sepertinya masih cemburu dengan Rayhan atau dengan Chan. Loly masih belum faham. Ah gemas sekali sih. Senang rasanya kalau pasangan kita cemburu. Itu tandanya dia benar-benar cinta pada kita kan? Bukan perasaan palsu. Apalagi abal-abal.


"Kak.." Panggil Loly pada Joan dengan nada lembut dan manja. Tidak biasanya Loly bersuara mendayu merdu seperti ini.


Namun hal tersebut mampu membuat Joan tersenyum kecil. Dasar bucin. Begini saja sudah tergila-gila.


"Ya sayang. Kamu mau apa?"

__ADS_1


Apapun keinginan Loly pasti akan dikabulkan oleh Joan. Asal tidak ingin pergi dari sisinya. Selain hal itu. Semuanya akan ia berikan. Ibaratnya, langit dan bumi sekalipun akan ia raih demi Loly.


"Aku mau kamu."


Blush..


Ya ampun. Loly merayu Joan. Haha.


Lihat guys! Pipi Joan bersemu. Bukankah ini hal yang langka?


Pria bertubuh tegap dan gagah proporsional itu bisa malu-malu seperti itu juga. Ternyata hati Joan bisa menyerupai hello kitty ya.


"Mau apa sayang." Uyel-uyel pipi Loly. Mendengar Loly berkata mau dirinya, Joan segera mendekat dan bermanja dengan istrinya. Tetap dengan menjaga jarak aman. Bahu Loly masih terluka.


Adzan maghrib berkumandang. Joan pamit untuk melaksanakan sholat maghrib. Loly pun mengiyakan. Toh Joan akan melaksanakan kewajibannya itu di ruangan ini.


Melihat suaminya yang tengah sholat. Loly menjadi terbayang kejadian beberapa tahun yang lalu.


Berita gugurnya seorang Joan Andi Tama. Meruntuhkan kekuatan dan juga semangatnya. Separuh nyawa yang telah pergi membuatnya serasa hampa. Tak ingin lagi memandang dunia.


Tak sadar yang sedari tadi dipandangi nya itu kini berbalik memandang dengan selayar senyum yang bisa membuat hati wanita mana saja meleleh olehnya.


Masih dengan posisi duduk bersila di atas sajadah. Joan terkekeh gemas dengan istrinya yang memandanginya tanpa sadar jika sudah ketahuan.


Apa gerangan yang sedang dipikirkannya itu.


Ehem.


Loly tampak mengerjapkan mata karena terkejut. Lucu sekali.


Malu sekali ketahuan menatap suaminya hingga tidak sadarkan diri begini. Astaga Loly.


Loly merutuki dirinya sendiri. Eh tapi tidak salah kan. Joan kan suaminya.


"Mikirin apa sih?" Sambil berjalan mendekati istrinya. Joan merapikan jilbab Loly yang sedikit tersingkap. Khawatir saja jika tiba-tiba ada tamu tak diundang seperti Rayhan dan Chan.

__ADS_1


Mengingat Rayhan dan Chan. Seketika hati Joan kembali terserang rasa cemburu. Huuh. Joan menghela nafas menenangkan dirinya.


"Mana ada ?" Elak Loly. Ia tidak akan mengatakan pada Joan. Ingatan tentang berita gugurnya Joan cukup mengundang rasa bersalah suaminya hingga beberapa bulan lamanya. Kini ia tidak ingin hal itu kembali.


"Kamu tidak membohongi suami mu ini sayang." Joan menekankan bahwa ia tahu istrinya tengah menyembunyikan sesuatu.


Gawat ! Apakah ini ada hubungannya dengan Rayhan dan Chan? Tidak bisa. Sepertinya Joan akan membatasi pertemuan antara mereka dengan Loly. Tidak bisa dibiarkan sering-sering bertemu dengan istrinya yang cantik jelita tiada tara ini.


"Mana ada membohongi kak." Loly bertutur lembut,namun sedikit tergagap. Astaga, alasan apa ya yang tepat agar Joan tidak lagi bertanya.


Ayo Loly. Putar otakmu, atau cari saja pembahasan yang lain. Alihkan dulu perhatian suami mu.


"Boleh aku bertanya?"


Ada apa ini? Kok suara Joan lirih seperti menahan sesuatu. Loh kok..


"Mau bertanya apa? "


"Tolong jawab dengan jujur. Jangan sembunyikan apa pun dari ku sayang. Aku.. Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita. "


Kini tangan Joan sudah terulur membelai wajah istrinya. Membingkai keseluruhan nya. Berusaha melukis wajah cantik Loly dalam matanya untuk yang kesekian kalinya. Wanita yang dengan mudahnya mengobrak abrik ketenangan batinnya hanya karena cinta dan rindu. Pertemuan awal mereka yang tanpa disengaja, Joan yakini itu adalah bagian dari takdir hidupnya yang sudah digariskan oleh Allah.


Gugup. Jelas saja. Tatapan mata penuh cinta dengan gerakan tangan yang membelai lembut wajahnya. Apa gerangan yang hendak ditanyakan suaminya itu. Loly pun menginginkan hal yang sama, tidak ada rahasia diantara kita. Seperti kata Joan tadi.


"Katakan kak. Aku akan menjawab dengan jujur. "


Mata lentiknya kini saling bertatapan dengan Joan. Pancaran cinta dan sayang itu tengah beradu. Seakan mencari pemenang. Siapakah di antara keduanya yang memiliki cinta lebih besar?


Jawabannya adalah tidak ada yang lebih besar. Perasaan yang mereka miliki sama besarnya terhadap sattu sama lain.


Bahkan mereka tidak bisa mengukurnya, apakah bagai dunia dan sesinya? Atau seluas samudera lautan? Setinggi gunung?


Entahlah. Author juga tidak tahu. Intinya mereka itu sam-sama bucin. Hanya saja Loly masih sering gengsi. Kalau Joan, bucin nya itu tertutupi oleh sikapnya yang bisa memanipulasi lawannya.


"Adakah hubungan khusus antara kamu dengan dua pria yang tadi sempat ke sini?"

__ADS_1


Hah? Loly melongo seketika. Pertanyaan macam apa itu?


__ADS_2