Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Tuan Muda


__ADS_3

Pelayan segera pergi untuk menyiapkan pesanan Loly dan Joan.


Sambil menunggu pesanannya, Loly bersenda gurau bersama suaminya. Sekaligus bertukar cerita tentang apa saja yang terjadi dan dilakukan Loly. Sebenarnya bukan bertukar cerita. Karena hanya Loly yang menceritakan tentang dirinya. Sementara Joan, hanya menyimak dan sesekali tersenyum menanggapi Loly.


"Kenapa kamu terlihat kurus sayang?"


Ya gimana tidak kurus. Makan saja kalau tidak dipaksa juga tidak akan dilakukan oleh Loly. Mama Fika sampai pusing dibuatnya.


Ketika Loly akan menjawab pertanyaan Joan pelayang datang dengan membawa pesanan Loly. Sehingga Loly mengurungkan hal tersebut.


Hmmmm.


Aroma iga bakarnya sangat harum. Menggugah selera siapa saja yang menciumnya.


Mata Loly nampak berbinar sangat cerah.


"Permisi kak, ini pesanan kakak."


Pelayang sedang menyusun makanan di meja Loly.


Dan Loly memperhatikan itu dengan sangat antusias. Sudah lama dia tidak setertarik ini melihat makanan.


"Selamat menikmati kak. Kalau ada yang tidak cocok boleh panggil saya kembali." pelayan pun pergi.


Kini Loly memandangi iga bakar yang mengebulkan asap panas. Aroma yang tercium sungguh memporak-porandakan isi perut Loly yang sudah meronta ingin segera diisi.


Sesuap iga bakar tengah Loly nikmati. Hmm, benar-benar enak. Tidak salah kalau menjadi resto favorit banyak orang. Dan sekarang akan masuk ke dalam list resto favorit Loly.


Joan sangat senang melihat istrinya menikmati makanan. Hal ini jugalah yang Joan rindukan. Melihat kebahagiaan Loly. Selama empat puluh hari kemarin, dia sudah kehilangan momen itu.


Joan mengelus puncak Loly. "Makan yang banyak ya." lalu tersenyum dan mulai menikmati makanan miliknya.


Tap. Tap. Tap.


Langkah kaki seorang pria yang selama ini memperhatikan Loly diam-diam tampak memasuki kedai tempat Loly makan siang saat ini.


Ketika melihat Loly tengah menikmati makanan dengan manisnya dia tersenyum. Namun di detik berikutnya senyum itu pudar dan berubah menjadi tatapan terkejut juga heran. Langkahnya pun terhenti tidak jauh dari meja Loly.


"Bukankah suaminya sudah meninggal? Lalu siapa dia? Apa hanya mirip atau memang suaminya?" gumam pria tersebut.


"Sudahlah, kalaupun memang dia suaminya juga tidak masalah. Asalkan Loly kembali bahagia. " lanjutnya.


Lalu pria tersebut kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.


"Aiissh. Ngapain juga aku mikirin Loly?"


Selama ini secara tidak sadar selalu memantau setiap apapun yang Loly lakukan. Bahkan sehari tanpa mendengar kabar tentang Loly, dia sudah menjadi uring-uringan. Pria dengan watak sedikit arogan itu, bahkan sampai menempatkan beberapa orang kepercayaannya untuk memantau kegiatan Loly. Tapi kenapa dia tidak mendapatkan kabar mengenai laki-laki yang saat ini sedang makan bersama Loly itu?


Tut.


"Selamat siang tuan muda. Ada yang bisa kami bantu?" seseorang menyahut dalam sambungan telepon. Ternyata pria itu sedang menghubungi orang suruhannya.


"Apa ada yang terlewat ? "

__ADS_1


"Maaf tuan muda. Saya baru akan memberitahukan kepada anda setelah ini. Kemarin anak saya sakit, jadi saya harus merawat dan menunggunya menggantikan istri saya yang sedang hamil."


"Romi, seharusnya kamu tetap menyampaikan apapun yang terjadi pada dia secepatnya. Katakan apa yang sudah kau dapatkan?"


"Baik tuan muda. Maafkan kesalahan saya. Saat pengajian memperingati empat puluh hari kemarin, ternyata suaminya kembali lagi tuan muda. Suaminya masih hidup."


Tut


Sambungan telepon pun terputus secara sepihak.


Entah mengapa, mendengar kabar ini ada sedikit sesal yang terbesit dalam benaknya.


"Selamat siang tuan muda. Mari saya tunjukkan tempat untuk anda." Sapa salah seorang pelayan yang melihat kedatangannya.


"Apakah ada makanan yang sedang tuan muda inginkan?"


"Berikan makanan seperti yang sedang dia makan." sambil memberikan isyarat melalui lirikan matanya yang menunjuk ke arah Loly.


Pelayan sedikit terkejut. Namun segera menormalkan dirinya.


"Baik tuan muda. Mohon bersedia menunggu. Kami akan segera menyiapkan makanan seperti yang orang tersebut makan."


Tuan muda hanya mengangguk. Lalu pelayan segera pergi menyiapkan makanan untuk tuan muda.


***


Acara makan siang Loly dan Joan sudah selesai. Loly mengelus perutnya yang kekenyangan.


"Alhamdulillah, Loly kenyang kak."


"Kok ketawa sih?" tanya Loly.


"Kamu masih kurang ya?"


Loly menggelengkan kepalanya. Tapi matanya masih tertuju pada piring kosongnya.


"Ya sudah. Kita pulang sekarang ya?"


"Iya kak."


"Kalau begitu kamu tunggu di depan sebentar ya. Aku mau ke kasir dulu."


Loly pun menganggukkan kepalanya. Lalu berbalik menuju ke depan kedai.


Seiring langkah Loly tidak lepas dari pandangan seseorang yang tidak lain adalah tuan muda.


Loly berjalan dengan menggerutu. "Kok kak Joan tidak peka sih? Kan aku masih pengen makan itu. Tapi kan aku juga sudah kenyang. Ya kan seharusnya kak Joan membelikan untuk dibungkus."


Huuft. Loly menghembuskan nafasnya melalui bibirnya yang mengerucut.


"Lucu." gumam tuan muda.


Ehm. Tuan muda pun berdehem untuk mengurangi groginya.

__ADS_1


Joan sudah selesai membayar dengan membawa tentengan beberapa iga bakar. Joan itu bukan tidak peka, Loly. Dia bahkan sangat peka. Secara diam-diam tadi dia sudah memesankan beberapa iga bakar untuk dibungkus.


"Ayo pulang." tegur Joan.


Loly yang semula berdiri dengan mulutnya yang manyun itu pun tersenyum lebar setelah melihat kedatangan Joan. Tepatnya setelah melihat apa yang Joan tenteng di tangannya.


Istrinya ini sungguh lucu. Ditawari membungkus tidak mau. Tapi keluar dengan wajah sedih. Joan menggelengkan kepalanya dengan bibir yang tersenyum manis.


Lalu dengan gemasnya mengusap puncak istrinya.


***


Malam ini rumah Loly tampak sedikit ramai. Karena teman-temannya datang berkunjung. Ingin mengetahui kabar sahabatnya.


Erin, Dona, Evi, Reni, dan Deni sangat senang melihat temannya telah bahagia lagi. Dan itu berkat kembalinya sang suami. Sedangkan Vero, sedari tadi ia hanya diam dan sesekali menanggapi obrolan teman-temannya jika ditanya.


Bukan dia tidak senang dengan kembalinya Joan. Justru dia sangat bahagia. Asalkan Loly bahagia, Vero akan ikhlas.


Huuuft. Joan menghela nafasnya berkali-kali.


"Astaga. Bukan hanya Mario yang menginginkan istriku. Lihatlah temannya yang satu itu. Sedari tadi tidak melepaskan matanya dari Loly."


Yang sabar ya Jo, salah sendiri punya istri secantik dan seanggun Loly.


Jadi kau harus menerima resikonya. Jaga baik-baik Loly ya.


Dona yang melihat sang pujaan hati terus-terusan melihat Loly pun berdehem. "Ehm, ehem."


Vero pun mengalihkan pandangannya pada Dona. Dia pun tersenyum tipis. Menandakan permintaan maafnya.


Meski posisi Loly masih belum tergantikan, tapi kini Dona sudah punya tempat tersendiri di hati Vero.


Semenjak Loly menikah. Dona semakin gencar mendekati Vero.


Saat itu Vero merasakan patah hati. Dia membutuhkan seseorang untuk sekedar menemaninya. Dan Dona ada di saat yang tepat. Hingga Vero mampu bangkit kembali. Cintanya yang terlampau besar itu mampu membuatnya merelakan Loly untuk bahagia.


Berkat Dona.


Flashback


"Vero, aku pernah mendengar. Bahwa jika kamu memang benar mencintai seseorang. Maka kamu harus rela melepasnya demi kebahagiaannya. Menerima dan tetap bangkit. Untuk menunjukkan bahwa cintamu terhadapnya adalah yang istimewa."


"Apa maksudmu?"


"Meski Loly menikah secara dadakan. Tapi apa kau tidak melihatnya tadi? Dia sangat bahagia. Artinya dia mencintai suaminya. Dan kamu, tidak seharusnya berada di tempat yang sama dengan mereka."


"Ya. Aku tahu."


"Syukurlah. Semoga kamu bisa segera menata hatimu."


"Dan semoga hatimu segera terbuka untukku." gumam Dona dengan suara yang sangat kecil. Tapi masih bisa terdengar oleh Vero.


Lalu Vero menoleh sekilas ke arah temannya yang satu ini. Selama ini dia cukup disibukkan dengan perasaannya terhadap Loly. Bukannya tidak tahu. Vero juga tahu jika Dona menyimpan rasa lebih dari sekedar teman terhadapnya.

__ADS_1


"Maaf ya. "


Flashback off


__ADS_2