Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Pesona CEO Baru


__ADS_3

Semalam tepat sebelum mata Loly terpejam dengan sempurna. Baru saja akan lelap menuju tidurnya, HP yang sedari tadi sunyi tak bersuara tiba-tiba berdering.


Kriing.


"Siapa sih yang telepon malam-malam begini?" gerutu Loly karena matanya yang hampir lelap itu terganggu oleh dering telepon.


Dengan malas Loly membuka kembali matanya, lalu meraih HP nya yang tergeletak di meja kecil di samping tempat tidurnya.


"Mbak Tia." gumam Loly. "Ada apa malam-malam begini?"


Segera Loly menggeser tombol berwarna hijau ke atas. Dan terdengarlah suara mbak Tia.


"Assalamu'alaikum bu Loly. Mohon maaf telah mengganggu istirahat bu Loly. "


"Ada berita apa mbak Tia? " tidak mungkin mbak Tia nekat menghubunginya semalam ini jika tidak ada sesuatu yang genting, batin Loly.


"Sebenarnya bapak sudah mengetahui dalang dibalik kacaunya administrasi LF Corp bu. Tetapi bapak masih enggan mengambil tindakan. Saya khawatir jika hal ini dijadikan kesempatan oleh bu Erika dan orang-orang suruhannya untuk kembali mengacau."


Loly heran. Apa yang sudah membuat papa Surya merasa ragu untuk segera menghukum Erika? Jika karena cinta. Oh bulshitt. Tidak ada cinta yang begitu bodoh seperti kebutaan perasaan dan mata hati papa Surya demi Erika.


Loly terdiam memikirkan tindakan seperti apa yang seharusnya ia lakukan. Baru saja ia merasa sedikit tenang. Sudah ada saja permasalahan yang mengganggunya.


"Halo, bu Loly. Maaf apakah anda masih di sana?" mbak Tia sendiri sudah merasa gusar seharian ini. Sangat geram juga dengan Erika, bisa-bisanya bertindak di luar garis batasnya. Andai saja tuan besara masih ada, semua ini pasti tidak akan terjadi. Saat ini harapan satu-satunya mbak Tia adalah Loly. Sesuai pesan tuan besar, mbak Tia harus mendampingi Loly sampai ia siap.


"Iya mbak Tia. Persiapkan saja semua dokumen yang dibutuhkan. Lusa saya akan ke kantor. Karena besok saya masih ada ujian. "


"Baik bu. Akan saya persiapkan semuanya. Apakah masih ada yang harus saya persiapkan untuk lusa bu Loly?"


"Tidak ada mbak. Itu saja. Saya istirahat dulu."


"Baik bu. Selamat malam, selamat istirahat."


Tut.


Sambungan telepon telah terputus.


Loly menghembus kasar nafasnya berkali-kali hingga Joan terangun.


"Eh, kenapa bangun kak?" Loly sedikit terkejut dengan pelukan Joan dari belakangnya yang tiba-tiba.

__ADS_1


Joan semakin mengeratkan pelukannya. "Istriku tidak di sampingku, mana mungkin aku tidak terbangun sayang."


"Ada masalah apa lagi, hemm?"


Meski mata Joan terpejam. Tetapi telinganya bisa sedikit pembicaraan istrinya dengan seseorang melalui telepon tadi. Dari pendengarannya, Joan menyimpulkan bahwa LF Corp sedang tertimpa masalah.


"Masih masalah yang kemarin kak. Loly jadi bingung harus bagaimana."


"Kalau menurutku, sebaiknya kamu ambil semua kuasa di LF Corp. Jadi apapun yang menyangkut LF Corp harus melalui persetujuan tunggal darimu."


"Lalu papa? Dia pasti tidak terima dengan ini. Kamu tahu sendiri kan, gimana serakahnya papa."


"Emm, bagaimana kalau papa tetap menjalankan LF Corp tetapi semua keputusan tetap harus atas persetujuan mu. Jadi papa juga tidak perlu hengkang dari LF Corp."


"Ide bagus. Terima kasih kak. "


Beban berat di pundak Loly seperti terangkat dari dirinya. Joan memang suami terbaik.


"Ya sudah, ini sudah malam. Besok kamu ujian kan? Ayo istirahat."


Keduanya pun langsung tertidur dengan lelapnya.


***


Sesuai dengan perintah dari Loly melalui pesan singkat semalam. Pagi ini seluruh jajaran direksi telah berkumpul menduduki kursi di ruang meeting LF Corp.


"Bukannya masalah administrasi yang ganjil sudah terselesaikan ? Lalu kenapa kita dikumpulkan di sini?"


"Entahlah. CEO baru yang ingin kita semua berkumpul."


"Benarkah? Wah saya sungguh tidak sabar menanti gebrakan apa yang akan wanita muda itu lakukan."


Begitulah bisik-bisik yang terdengar sampai di telinga mbak Tia yang sudah tiba lebih dulu. Sedangkan papa Surya merasa tidak senang dengan hal ini. Dini hari seluruh jajaran baru mendapatkan pesan singkat yang berisikan tentang wajibnya seluruh jajaran hadir. Karena jika tidak Loly mengatakan harus siap angkat kaki dari LF Corp. Sehingga mau tidak mau yang sudah memiliki acara harus membatalkannya.


Tuk tuk tuk


Derap langkah kaki terdengar sampai di ruangan meeting.


Tampak semua yang hadir bergeming di tempat. Terperangah dengan kehadiran wanita muda yang digadang-gadang sebagai CEO baru yang memiliki hak mutlak sebagai pemilik LF Corp.

__ADS_1


Meski dari usianya sangat jelas terlihat masih muda. Namun tidak mengurangi sedikitpun wibawanya. Menggunakan setelan jas kantor yang tertutup dan rapi dengan hijabnya. Membuat yang melihat menunduk untuk menjaga pandangan matanya. Tidak ingin terpesona lebih jauh lagi.


"Selamat pagi." suara halus dan lembut dari Loly terdengar menggetarkan jiwa.


Serentak keseluruhan menjawabnya dengan sopan dan patuh. "Selamat pagi bu Loly."


"Gila, pesona wanita muda ini tidak main-main. Seperti kabar yang beredar. Sayang sekali dia sudah menikah."


Batin salah seorang yang hadir di pertemuan itu.


Seelah menyapa Loly langsung saja mendudukkan dirinya di kursi tengah yang selama ini kosong. Kursi itu hanya boleh diduduki oleh sang pemilik juga pewaris. Sedangkan papa Surya. Dia belum sampai pada tahap pewaris. Sehingga tidak pernah menduduki kursi kebesaran itu sekalipun seumur hidupnya hingga saat ini.


"Kenapa papa tidak mewariskan LF Corp padak? Malah pada putriku. Apakah papa mengharapkan perpecahan antara aku dan Loly semakin hancur?" Batin papa Surya mempertanyakan keputusan mendiang ayahnya. Kakek Loly.


Huuh, sudahlah. Lebih baik ikuti saja maunya Loly. Asalkan aku masih bisa mengurus peninggalan papa.


Mbak Tia menyerahkan sebuah map yang berisikan dokumen yang sudah diminta oleh Loly dipersiapkan untuk meeting hari ini.


Suasana dalam ruangan saat ini tampak hening namun berkebalikan dengan hati yang resah dari seorang Hans, yang tengah berdiri di belakang papa Surya. Diam-diam dia merasakan tidak enak di hatinya. Entah apa yang sudah mengganggu pikirannya. Tidak mungkin gadis ingusan ini mampu mendeteksi kebusukannya yang suah bersekongkol dengan Erika. Atasannya saja sampai saat ini belum melakukan tindakan yang berarti.


"Ehm, mohon maaf telah mengganggu jadwal anda semua. Di sini saya sebagai pengacara utama tuan besar akan menyampaikan satu berita penting. Bahwa mulai saat ini semua operasional LF Corp harus atas persetujuan dari ibu Loly. Tanpa tanda tangan darinya. Dinyatakan tidak sah."


Kasak kusuk mulai terdengar dari peserta meeting. Lalu kembali terdiam saat pengacara utama tuan besar kembali bersuara.


"Apabila ke depannya diketahui ada yang memalsukan atau berbuat curang maka silahkan bersiap dipecat secara tidak hormat dan akan di blacklist dari semua perusahaan yang bekerja sama dengan LF Corp."


Deg.


Semua tampak terkesiap dengan keputusan yang diambil oleh Loly tanpa berunding terlebih dahulu.


Diam-diam papa Surya tersenyum sangat tipis. Bangga karena darahnya mengalir di tubuh Loly. Di usia yang masih sangat muda ternyata pemikirannya sudah matang. Papa Surya sudah bersiap mengemas bawaannya dan akan pergi dari ruang meeting namun dihentikan oleh Loly.


"Maaf pak Surya, pertemuan belum selesai. Silahkan duduk dengan tenang. "


Tampak beberapa orang mengangguk-anggukkan kepala. "Profesional sekali dia. "


Papa Surya pun kembali ke dalam posisi yang semula.


"Untuk pak Surya. LF Corp akan tetap berjalan di bawah pengawasan bapak. Tetapi setiap perjanjian juga operasional harus mendapatkan tanda tangan dari bu Loly." terang pengacara.

__ADS_1


"Cukup sekian pertemuan kali ini. Selanjutnya akan disampaikan melalui dokumen terlampir yang akan dikirim melalui email. " lanjut sang pengacara.


"Pertemuan selesai. Terima kasih sudah hadir tepat waktu. Mari bekerja sama demi LF Corp." sambung Loly.


__ADS_2