
Kring
"Selamat siang, di kediaman Bapak Surya Atmaja. Ada yang bisa Marni bantu? "
"Selamat siang mbok Marni. Saya Fika. "
"Masya Allah bu Fika. Bagaimana kabar ibu dan mbak Loly. "
"Kami baik-baik saja dan sehat mbok. Bagaimana kabar mbok Marni.? "
Dengan sesekali mengusap air mata mama Fika juga mbok Marni saling mengobrol menanyakan keadaan masing-masing. Apa saja kegiatan nya sekarang. Juga mengenai si cantik Loly. Begitu mbok Marni memberi julukan pada Loly.
"Mbok, apa bapak sedang di rumah? "
"Bapak sedang di kantor bu. Kalau nyonya Erika ada di kamarnya.
Apa yang bisa mbok Marni bantu bu Fika? "
"Tolong sampaikan kepada bapak ya mbok. Minggu depan Loly akan menikah. Tolong bapak hadir sebagai wali yang menikahkan Loly. "
"Masya Allah mbak Loly menikah?
Baik bu, biar nanti saya kabarkan kepada bapak. "
"Terima kasih mbok. Saya tutup dulu. "
"Baik bu. "
Tut.
Alhamdulillah, si cantik sudah menikah. Gumam-gumam kecil yang tanpa sadar lepas begitu saja dari mulut mbok Marni.
"Siapa mau menikah mbok? " Tanya Erika dengan ketusnya.
"An-anu nyonya. Mbak Loly yang akan menikah. "
Mbok Marni memilin pucuk kain sedikit lusuh yang ia kenakan.
Aduh, kenapa bisa keceplosan begini? Kalau begini bisa jadi bapak tidak akan bisa berangkat ke Surabaya. Batin mbok Marni.
"Oh si anak buangan itu mau menikah. Biarkan saja. Lebih baik dinikahkan saja daripada menjadi beban keluarga. "
Sarkas Erika mencibir Loly.
Nyatanya yang menjadi beban keluarga itu justru Erika dan putrinya yang sangat manja, Jena. Perpaduan yang pas untuk orang yang menyebalkan dan bisa merusak mood seseorang hanya dengan melihatnya saja.
"Kamu mbok. Cepat siapkan masakan yang enak untuk Jena. Harus sudah siap saat dia sampai. "
"Baik nyonya. "
Mbok Marni mengelus dada renta nya. Bergegas ia mengambil keranjang belanja lalu menuju ke pasar kota. Letaknya memang tidak jauh dari rumah. Tetapi pergi di siang terik begini pasti menguras tenaga lemahnya.
Kok bisa ya bapak menikah dengan wanita jahat itu. Padahal sudah mendapatkan wanita baik-baik seperti bu Fika. Sudah lah, bukan urusanku. Sore nanti harus sudah siap.
Setelahnya pulang dari pasar. Kini mbok Marni tengah membersihkan beberapa udang lobster yang sudah dibelinya tadi.
Saat tengah mengukus, ternyata Jena sudah tiba. Mbok Marni sudah memastikan bahwa benar Jena yang memasuki rumah. Dan ia tidak sendiri.
Aduh, aku harus cepat sebelum wanita jahat dan anaknya mengamuk. Kenapa lama sekali.
"Ma, Jena pulang nih ma. "
__ADS_1
"Emm. Sebentar ya kak. Jena panggil mama dulu. "
Jena berjalan menuju kamar mama nya. Saat mencapai tangga, mama pun terlihat.
"Aduh anak mama sudah tiba. "
"Iya nih ma, capek banget. "
Jena tengah menikmati momen ini. Bergelayut manja di pundak mama tercinta.
Dari ruang tamu, Seseorang yang diajak Jena pulang tadi tanpa sengaja melihat ke arah tangga pun bergidik. Manja banget nih cewek. Beda jauh sama Loly ku.
"Oh ya ma, Jena bawa teman itu di depan. "
"Benarkah? Pasti pacar kamu ya? Ganteng ga? "
Mama ini nyerocos gak jelas. Ganteng sih. Tapi bukan dia yang aku suka. Batin Jena.
"Ini pasti pacarnya Jena." Sambut mama Jena.
"Iya kan sayang. " Memastikan kepada Jena.
Yang dituduh sebagai pacar Jena pun hanya mampu meringis saja.
"Bukan tau ma. Dia itu kakak tingkat Jena. "
"Oalah. Tapi kalau kalian berpacaran mama setuju kok. "
"Ganteng dan cantik. Sepertinya kita sederajat."
Eh busyet. Ini nenek lampir dari mana ya. Baru juga ketemu. Nama gue saja dia belum tahu. Main sederajat saja.
"Mama apaan sih. "
"Iya Jen. Santai saja. "
"Jadi nama kamu siapa? "
"Perkenalkan saya Mario tante. Sepertinya sudah sore. Saya izin pamit pulang dulu ya. "
"Loh, kok sudah mau pulang? "
"Saya masih ada pekerjaan di kota ini juga tante. Permisi. "
Setelah kepergian Mario.
Drama pun dimulai.
"Jena lapar ini ma. "
"Sebentar ya. Biar mbok Marni siapkan makanan kesukaan kamu. Yuk ke ruang makan. "
"Lobster ma? "
"Iya sayang. Lobster asam manis kesukaan kamu. "
Jena sudah sangat tidak sabar. Mengingat setelah perjalanan jauh dari kota Surabaya ke Jombang. Perutnya sudah tidak bisa menahan lapar.
"Maaf nyonya. Lobsternya belum masak. Mohon ditunggu lima menit lagi. "
"Apa? Kenapa bisa belum siap? "
__ADS_1
"Ma. Jena sudah lapar sekali ini. "
"Kan sudah ku bilang mbok tua. Harus sudah siap saat Jena tiba. Gitu saja tidak mengerti sih. "
Dengan kesal Jena meraih air putih dalam gelas di depannya.
Byuur.
"Rasakan itu nenek tua. "
"Maafkan saya nyonya. Maafkan saya nona. Tadi saya lama karena menunggu angkot. "
"Itu bukan urusan ku nenek tua. "
"Ada apa ini? " Surya baru saja memasuki rumah sudah mendengar suara ribut.
"Ini loh mas. Pembantu kesayangan kamu ini. Diminta masakin kesukaan Jena malah asik teleponan. Sekarang Jena jadi kelaparan kan. "
Cetus Erika. Lihat apa yang akan dilakukan Surya mbok tua.
"Bagaimana bisa mbok. Memangnya mbok Marni berbicara dengan siapa di telepon? " Surya masih bertanya dengan sedikit lembut. Ingat hanya sedikit saja. Karena semenjak kepergian nyonya rumah ini Fika dan Loly. Surya menjadi orang yang gampang marah jika mendengar aduan Nyonya Erika.
"Ampun pak. Tadi ibu Fika menelepon dan mencari bapak. Beliau berpesan, minggu depan mbak Loly akan menikah. Dan meminta bapak untuk hadir sebagai wali nikah mbak Loly. "
Anakku Loly akan menikah? Dengan siapa dia menikah? Oh tidak. Anakku akan menikah. Dalam hati Surya.
Walau bagaimana pun. Ia sangat menyayangi Loly. Darah dagingnya. Hanya saja, ia sudah sangat dibutakan oleh obsesi cinta yang sebelumnya tidak bisa ia gapai.
"Jangan berfikir akan hadir di sana ya mas. "
Erika berteriak seakan Surya telah berselingkuh darinya.
Belum akan memperhatikan Erika. Surya kembali bertanya kepada mbok Marni.
"Apakah itu benar mbok? " Suaranya pun melunak.
Mbok Marni merasa haru. Suara lunak dan tegas ini mengingatkan nya pada momen saat masih ada bu Fika.
"Benar pak Surya. "
"Mas. Kamu jangan keterlaluan ya? "
Suara Erika menggema ke seluruh ruang makan.
Surya menoleh kesal pada Erika.
"Kamu bahagia kan? Kamu pasti sangat bahagia akan bertemu kembali dengan wanita itu. "
Ah drama.
Dasar tukang drama batin mbok Marni. Ia pun melipir pergi untuk menyiapkan makan saja pikirnya. Dari pada melihat drama menyebalkan ini.
"Erika. Aku ini suamimu. Aku hanya mencintai kamu. "
Surya berusaha merengkuh tubuh istrinya.
Mengelus dan menciumi puncaknya.
"Aku ke sana hanya untuk menjadi wali saja. Setelahnya aku akan segera pulang. Atau begini saja. Kamu ikut ke acara pernikahan Loly. "
Surya berusaha membujuk Erika. Berharap akan diizinkan, atau paling tidak hanya menikahkan Loly.
__ADS_1
"Tidak mas. Kalau kamu tetap pergi. Aku juga akan pergi meninggalkanmu. Aku tidak mau kamu bertemu wanita itu lagi. Dia. Dia itu sudah merebut mu dariku. "
Bagaimana bisa Fika yang merebut Surya dari Erika?