
Drama sarapan bubur kacang hijau berakhir manis dengan adegan suap-suapan.
Sebenarnya hanya Loly yang disuapi oleh Joan. Tanpa sadar menghabis dua mangkuk bubur kacang hijau hasil tangan mama mertua.
Mama mertua Loly ini sangat baik dan sangat menyayangi Loly. Ia merasa sangat bersyukur saat tahu Joan putranya begitu menghargai istrinya. Ia bangga karena berhasil mendidik putranya dengan benar.
Di luar sana, banyak sekali ibu mertua yang merasa tersaingi oleh menantu perempuannya. Banyak sekali alasan yang akan mereka berikan jika berbicara tentang menantu perempuannya.
"*Anakku itu lelaki, jadi ya sudah seharusnya bakti padaku. "
"Istri itu orang lain. Akan ada mantan istri, tapi tidak akan pernah ada mantan ibu dan anak. "
"Aku yang melahirkan dia. Kalau sudah dewasa ya harusnya memperhatikan aku. "
"Kamu itu istrinya. Sudah ketemu saat gede. Lah aku yang sudah susah payah merawatnya. Enak saja hartanya kau nikmati begitu saja*. "
Dan... Masih banyak lagi omelan-omelan mertua. Merasa korban pencurian anak oleh menantu perempuan. Biasanya orang seperti itu terlalu banyak mendengarkan ceramah tentang keharusan seorang putra berbakti kepada ibunya.
Tapi ia lupa bahwa putranya kini sudah berumah tangga. Sudah memiliki tambahan kewajiban. Jika memang ia percaya dengan hasil didikannya, seharusnya tidak khawatir anaknya akan menelantarkan masa tua nya bukan?
Sejatinya, setiap pria yang sudah membangun bahtera rumah tangga ini sudah faham akan kewajibannya. Tentang keharusan memenuhi nafkah lahir dan bathin istrinya. Tentang menafkahi anak-anaknya. Juga para pria ini tidak akan pernah melupakan ibunya. Mereka akan selalu teringat bagaimana ia bisa sampai sekarang karena ibunya.
Mengenai menantu perempuan.
Memanglah benar mereka adalah orang asing yang diminta putramu dari keluarganya secara baik-baik. Dalam akadnya yang disaksikan para malaikat hingga berguncangnya ’Arsy di atas sana.
Secara otomatis, putramu itu telah mengambil setiap hak dan kewajiban ayahnya daripada menantu perempuanmu.
Wahai ibu mertua yang terhormat. Menantu perempuanmu itu seharusnya kau sayangi, kau kasihi. Dia juga anak berharga dari keluarganya. Tidak sepantasnya diperlakukan sebagai saingan merebut perhatian putramu.
Bukankah seharusnya kau turut bahagia saat putramu berhasil menyenangkan istrinya? Kau berhasil mendidiknya sehingga dapat memperlakukan wanitanya dengan benar.
Jika yang terjadi adalah sebaliknya. Putramu lebih mementingkanmu sebagai ibunya. Menuruti setiap titah yang kau lontarkan. Akhirnya putramu mengabaikan kewajibannya sebagai suami, sebagai ayah. Lalu istrinya tidak tahan hingga mengakibatkan perpisahan. Bukankah anakmu pula yang akan bersedih?
Apakah begitu inginmu ibu mertua?
Oleh sebab itulah mama Joan begitu menyayangi menantunya. Karena dengan bahagianya Joan, ia pun bahagia. Di masa tuanya apalagi yang ia harapkan selain kebahagiaan anak-anaknya. Melihat cucunya besar, ah indahnya...
...****************...
"Ma.. Kami pamit dulu ya. Nanti Loly akan ada bimbingan skripsi. Doakan lancar agar bisa wisuda tahun ini. "
"Iya sayang. Mama selalu mendoakanmu. Mendoakan kalian dan calon cucu mama ini."
"Kalian baliknya jalan kaki? Memangnya Loly gak capek? "
__ADS_1
"Emm.. Kayaknya jalan kaki ma. Tadi gak bawa motor. " Ringis Loly. Sebenarnya capek kalau harus jalan kaki lagi. Tapi..
"Sudah... Bawa motor mama dulu saja. Nanti biar Joan yang antarkan balik. "
"Mana kuncinya ma? " Tanya Joan.
Mama Joan mengedarkan pandangan matanya. Mencari di mana ia letakkan kuncinya selepas belanja sayur tadi subuh.
"Itu di meja. Kamu ambil sana. "
Ngeeeng.
Seperginya Loly dan Joan. Mama Joan segera masuk dan mengunci pintu.
"Kak, nanti antarkan aku ke kampusnya naik motor begini saja ya? Aku kangen naik motor. "
Dengan duduk menyamping Loly merapatkan tubuhnya yang semakin membengkak. Melingkarkan tangannya ke perut Joan meski tak sampai sepenuhnya.
"Naik mobil saja ya? Aku khawatir kalau kamu terlalu sering naik motor. "
"Kan selama kamu tugas akunya juga naik taksi online. Mana ada sering naik motor. "
Fix Loly ngambek. Bibirnya sudah monyong mengerucut lucu. Andai Joan tahu itu pasti sudah meraupnya hingga puas.
"Gimana kalau nanti sore saja. Kita jalan-jalan ke depan komplek sana. Cari jajanan buat stok camilan kamu. "
Ciitt.
Motor yang Loly dan Joan naiki telah sampai di rumah Loly. Terlihat mama Fika dan mbak Eni dengan raut kebingungan seperti mencari sesuatu.
"Mama lagi cari apa? Kok bingung gitu? "
"Cari apa? Kalian ini dari mana? Dicariin dari sejam yang lalau tidak ketemu dimana-mana. Ditelpon juga hp nya malah ditinggal di rumah. " Omelan mama Fika yang panjang kali lebar kali tinggi sudah kembali lagi.
Loly hanya meringis mendengarnya. Sedangkan Joan menahan senyumnya saat melihat ekspresi pasrah Loly.
"Kalau saja tidak kepikiran telpon besan mana tahu mama, kalau kalian sedang enak-enakan makan bubur kacang hijau di sana. Pamitnya jalan-jalan sebentar kok sampai jam delapan begini baru balik. Kalian ini... Bla bla bla.. "
"Mama itu khawatir sama kamu nak. Kamu sedang hamil. Meski Erika sedang dipenjara, mama tidak tenang karena Jena putrinya masih bebas. Mama khawatir dia tidak terima mamanya dipenjarakan. Dan... "
Ooh.. Ternyata mama Fika masih mengkhawatirkan hal itu. Benar juga sih. Setelah telepon dari om Jaya waktu itu Loly sudah tidak mendengar kabar Jena sama sekali. Bahkan tidak pernah bertemu di kampus. Kemana Jena?
Lolu harus waspada. Jangan sampai nanti Jena ingin balas dendam, dan Loly dalam keadaan belum siap. Semua harus disiapkan apapun situasi dan kondisinya. Saat ini Loly sedang mengandung calon anaknya. Ia harus melindungi apa yang harus dilindungi. Terutama anak dalam kandungan.
"Mama tenang saja ya. Allah selalu melindungi hamba Nya yang selalu bergantung padaNya. "
__ADS_1
Hanya kalimat itu yang bisa Loly lontarkan untuk menenangkan kekhawatiran mama Fika. Ia tidak bisa menjamin seperti apa isi hati Jena sekarang. Apakah sudah berubah dan bertaubat? Atau justru seperti yang ia dan mama Fika khawatirkan. Jangan sampai...
"Tapi kamu tetap harus berhati-hati nak. Kita ini tidak bisa tahu isi hati seseorang. Tidak bisa membaca pikiran orang lain. Apa salahnya tetap waspada? "
"Mama ku yang cantik ini pintar sekali. Terima kasih ya ma. Loly pasti akan berhati-hati. Kita masuk yuk. Loly mau siap-siap ke kampus nih. Mau bimbingan skripsi. "
Dua jam Joan berada di parkiran kampus. Duduk manis di dalam mobil dengan jendela terbuka. Mahasiswi yang berlalu lalang di area umum itu pun sesekali menggodanya.
Ah malas sekali digoda wanita-wanita genit begitu. Lebih manis Loly istrinya. Tak tahan dengan pikiran-pikiran melayang, Joan memutuskan keluar dari mobil.
Kebetulan Joan memarkirkan mobilnya di bawah pohon besar yang rindang. Menoleh ke kanan dan kiri tidak menemukan bangku yang dekat dengan mobilnya. Joan pun mendudukkan diri di atas kap mobil.
Memakai setelan kaos hitam polos yang dipadukan dengan celana jeans hitamnya. Membuat penampilan Joan tampak segar di mata yang memandang. Kulit bersihnya itu tampak mencolok dari pakaiannya. Dari kejauhan tampak seperti model sebuah mobil dalam pameran.
Loly keluar dari ruang dosen dengan wajah yang sumringah senang.
"Alhamdulillah... Tidak perlu perbaikan terlalu banyak. Hanya penulisannya saja. "
Berbicara sendiri dengan senyam-senyum tiba-tiba dahi Loly mengerut sempurna.
"Ada apa di parkiran? Kok sampai anak-anak pada ngumpul begitu? Artis kah? "
Tak mempedulikan yang lain. Loly tidak sabar memberitahukan kabar bahagia ini pada suaminya.
Pasti suaminya itu lelah menunggu di parkiran sendirian.
Ding song.
Rahang Loly terjatuh begitu melihat apa yang sedang terjadi.
"Oh begini kelakuanmu di belakang ku. Kau suka ya tebar-tebar pesona begitu? "
Dengan langkah cepat Loly menghampiri suaminya yang sedang duduk di atas kap mobil. Begitu fokus dengan ponsel di tangan hingga tidak menyadari istrinya akan sampai.
Pluk.
"Hei. Kau suka jadi pusat perhatian cewek-cewek kampus. "
Brak..
Tanpa menunggu suaminya. Loly melangkah mendahului memasuki mobil dengan menutup keras pintunya hingga berbunyi mengagetkan.
"Mati aku. " lirih Joan.
Ia baru menyadari jika telah menjadi pusat perhatian seperti yang istrinya katakan.
__ADS_1
Tak ingin membuat istrinya lebih marah. Ia bergegas memasuki mobil tanpa menghiraukan sapaan para cewek-cewek kampus yang sedang bergerombol itu.
"Gara-gara kalian, istriku jadi ngambek kan. " gerutu Joan. Ia kesal sekali sudah menjadi tontonan gratis begitu.