
Bukan Joan namanya kalau berhenti menggoda istrinya, meski ipi Loly yang suha sedikit chubby itu sudah bersemu mendengar gombalan-gombalan dari Joan.
"Sudahlah Jo ! Jangan ganggu istrimu. Dia sedang makan." seru mama Joan yang kasihan melihat menantu kesayangannya tiada habisnya digoda suaminya sendiri. Walaupun begitu, mama Joan akui. Dia sangat bahagia dengan kebersamaan Joan dan istrinya yang kadang kala harus dipisahkan oleh kewajiban Joan pada negara.
"Iya ma. " jawab Joan masih dengan tawanya. Lucu melihat istrinya seperti ini.
Mama Fika hanya tersenyum senang melihatnya.
Dalam perjalanan pulang dari pantai kedua ibu nampak menikmati perjalanan sembari mengobrol seru. Saling menceritakan tentang masa kecil anak-anak mereka.
Sesekali Joan melirik ke belakang. Melihat sekilas kedua ibu yang sangat asik mengobrol itu.
"Kebersamaan seperti ini harus ku nikmati bukan? Aku tidak tahu sampai kapan akan tetap di posisi ini. Sebagai anak dari mereka." lalu melirik ke arah Loly yang sedang menguap menahan kantuknya.
"Aku juga tidak tahu, sampai kapan akan bisa melihat wajah yang selalu ku rindukan ini."
Lalu Joan mendesah pelan. Dan memfokuskan pandangan matanya pada jalanan di depannya.
Dalam hati Joan, ia merasa sangat bersyukur dengan yang ia rasakan. Karena tidak lama lagi ia akan pergi untuk kembali bertugas. Teman-temannya mengatakan akan ada misi lagi. Dan kali ini lebih berbahaya dari kemarin.
Bagaimana pun Joan harus kembali dengan selamat. Tetapi semua bergantung pada takdir apa yang akan membawa dirinya. Hidup atau mati.
Meski sudah terbiasa berjuang antara hidup dan mati demi negara. Kini Joan merasakan hal yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Perasaan bersalah karena harus membuat istrinya menunggu dirinya dengan tanpa kepastian. Andaikan saja dulu ia tidak kekeh ingin menjadi seorang abdi negara. Andai saja waktu dapat terulang kembali. Ia akan memilih tawaran dari ayahnya. Meneruskan usaha keluarga.
"Kenapa, hemm?" Joan menoleh ke arah istrinya ayang bersuara dengan mata yang sudah sayu.
"Kenapa?" Balik tanya Joan pada istrinya. Ia masih belum faham dengan pertanyaan Loly yang tiba-tiba.
"Kenapa kakak diam saja? Ada apa kak?"
Kedua ibu mulai menghentikan obrolan mereka karena suara Loly cukup terdengar oleh mereka. Mereka juga ingin tahu apa yang terjadi dengan Joan. Mengapa hanya diam saja. Tidak seperti biasanya yang selalu punya saja bahan pembicaraan saat sedang bersama istrinya.
Diamnya Joan menandakan ia memendam sesuatu dalam hatinya.
"Tidak kenapa-napa sayang. Tadi cuma sedang teringat kalau sebentar lagi aku akan kembali bertugas."
Kemudian Loly tersenyum menanggapinya. Dalam hati yang masih trauma dan ketakutan akan kejadian kemarin. Tapi ia cukup beruntung karena menjadi istri dari seorang abdi negara. Memperjuangkan negara meski nyawa menjadi taruhannya sekalipun. Negara saja dijaga, apalagi orang yang dicintainya?
__ADS_1
"Sebenarnya Loly masih tidak ingin ditinggal dulu sih kak. Tapi karena itu sudah menjadi kewajiban kak Joan. Loly ikhlas. Semoga apa yang kakak kerjakan mendapatkan Ridho dari Allah. "
Terang Loly dengan suara yang sangat lembut.
"Kamu tidak marah kan sayang?"
"Untuk apa Loly marah. Justru Loly sangat bangga bisa mendampingi seorang abdi negara khusus ini. Secara tidak langsung, aku juga sedang mengabdi pada negaraku. Melalui suamiku."
Joan pun tersenyum. Lalu melirik sekilas ke arah mamanya.
"Mama dengar itu? Istriku ini hebat kan ma?"
Mama Joan pun tersenyum. Tidak menyangka dengan wanita muda di depannya ini memiliki pemikiran yang dewasa. Memang tidak salah Joan memilihnya menjadi pendamping hidupnya.
"Iya sayang. Semoga Allah selalu menjaga kebersamaan kalian. "
***
Keesokan harinya. Benar saja, kabar tugas yang Joan katakan sudah sampai pada Joan saat sedang sarapan bersama. Sehingga rencana mengantar Loly pergi ke kampus harus dibatalkan.
"Maaf ya sayang. InsyaAllah lain kali ketika sudah pulang, aku akan mengantarkan mu pergi kuliah seperti bisanya. "
"Iya kak. Sudah sana pergi. Sudah ditunggu kak Kevin tuh."
Kemudian Joan kembali memeluk erat istrinya, mencium kening Loly dengan lembut dan sedikit lama.
"Aku pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik."
"Iya suamiku."
Joan pun pergi bersama dengan Kevin menuju markas yang sampai saat ini pun tidak diketahui oleh siapapun dalam anggota keluarganya. Termasuk Loly.
Setelah kepergian Joan. Loly segera bersiap untuk berangkat kuliah. Dia mengambil tas lalu pergi untuk mengeluarkan motor matic kesayangannya yang sudah menganggur selama Joan berada di rumah.
"Bismillah. Kita berangkat ya pink. Bawa aku sampai ke kampus dengan selamat."
Loly berbicara dengan motor kesayangannya itu sambil tersenyum manis. Itulah kebiasaannya ketika akan menaiki motor kesayangannya yang sudah ia beri nama pink.
__ADS_1
Loly pun berangkat dan tak selang berapa lamma sudah sampai saja di aea parkir motor kampus.
Ketika pink sudah terparkir dengan sempurna. Loly pun berjalan santai menuju kelasnya sambil bersenandung lirih.
Bruk.
Tiba-tiba Loly terjatuh karena kakinya yang tidak sengaja menyandung sesuatu.
"Astaghfirullah.." lirih Loly. Kemudian ia mendongak untuk melihat seseorang yang ternyata adalah Jena.
"Butuh bantuan?" ejek Jena. Ketika melihat Loly menuju area parkir, Jena segera berjalan menyusul dan berdiri di pintu parkir. Lalu menyandung kaki Loly dengan sengaja. Sialnya saat itu Loly sedang tidak fokus melihat jalan di depannya. Sehingga harus terjatuh karena ulah Jena.
"Terima kasih. Aku tidak butuh bantuanmu." jawab Loly santai.
Jena memutar bola mata jengah. Sok-sok an sekali Loly ini. Mentang-mentang suaminya tidak jadi meninggal. Sekarang jadi sangat sok. Lihat saja beberapa minggu yang lalu, tampangnya itu sangat berantakan. Batin Jena.
Setelah berhasil berdiri sendiri Loly pun berjalan mendekat ke arah Jena. Jena sedikit mundur saat tahu Loly mendekat.
Kemudian Loly membisikkan satu kalimat yang berhasil membuat Jena syok seketika membelalakkan matanya.
"Tunggu kejutan dariku, mantan sahabatku. Sebentar lagi, lihat apa yang akan terjadi pada mama tersayang mu itu." bisik Loly dengan senyum miring di bibirnya.
Dalam sekejap tubuh Jena mematung mendengarnya. Pasalnya Jena sedikit mengetahui sepak terjang sang mama.
Sebagai model yang sudah berusia. Pasti sudah jarang laku. Tapi tidak dengan mamanya yang saat ini justru namanya menjadi naik daun di dunia sinetron.
Karena berhasil merayu para sutradara itulah satu-satunya cara yang Erika lakukan demi sebuah job. Sungguh serakah.
"Tidak mungkin Loly tahu keburukan mamanya ini." Jena sedikit ketakutan. Jangan-jangan Loly akan mengadu ke papa Surya. Ini tidak boleh terjadi. Menurut Jena.
Padahal tidak tahu saja. Jika Loly mengetahui lebih banyak dari sekedar perselingkuhan Erika.
Bahkan papa Surya sudah tahu lebih dulu tentang jalangnya seorang Erika.
Jena tidak tahu. Jika mamanya akan mengalami hal yang buruk karena telah mengacau bisnis peninggalan dari kakek Loly.
"Tunggu saja Je. Aku tidak sabar melihat ekspresi kalian nanti."
__ADS_1