Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Cemburu Kok Seperti itu.


__ADS_3

Mengetahui pasangan kita cemburu itu ada kesenangan tersendiri bukan?


Begitu juga dengan Loly. Dalam hatinya serasa berbunga-bunga. Ia tahu suaminya cemburu dengan salah satu dari dua pria yang sempat berkunjung tadi. Bahkan Loly melihat sendiri, rahang Joan yang mengetat dengan kepalan tangan tertahan.


Ah, tidak menyangka. Ternyata dibalik sisi kalem dan santainya seorang Joan, bisa juga mengekspresikan diri saat cemburu.


Tapi.. Loh kok..


Pertanyaan macam apa itu?


Bisa-bisanya Joan memiliki kecurigaan terhadap keduanya? Loly kira hanya cemburu dengan salah satu dari mereka yang tadi. Ternyata..


Astaghfirullahal 'adhiim. Loly dibuat melongo seketika. Konyol sekali kecemburuan ini. Apakah ini yang dinamakan cemburu buta?


"Sayang. Tadi kan sudah berjanji. Jawab dong."


Joan mendesak agar Loly segera menjawab pertanyaan darinya. Ya pertanyaan konyol di luar ekspektasi Loly.


"Yang satu adalah rekan bisnis, dan yang satu senior di kampus. Apa yang membuat kakak ragu, hmm? "


"Bukan begitu sayang. Aku hanya tidak rela istriku ditatap dengan penuh cinta oleh lelaki lain." Tidak menyangka. Seorang ketua pasukan elit di kesatuannya itu bisa bertindak seperti ini. Bucin.


Jika di luar rumah, Joan menjadi pribadi yang kaku bak kanebo kering. Tapi di dalam rumah. Ia seorang suami yang tak lebih dari budak cinta istrinya. Ah jangan lupakan jika di hadapan mamanya. Joan akan menjelma menjadi pria yang manis dan ceria.


"Memangnya siapa yang menatap istrimu ini dengan penuh cinta suamiku? "


Dipanggil dengan sebutan sayang saja sudah membuta Joan salah tingkah sendiri. Kini malah dipanggil dengan sebutan suamiku. Serasa melambung tinggi ke angkasa. Andaikan Joan bisa meraih salah satu bintang, pasti akan dipersembahkan untuk Loly.


Dengan tergagap Joan menjawab. Meski keyakinannya sudah tidak diragukan lagi. Tapi panggilan suamiku masih terngiang di telinganya. Merasuk ke dalam hati dan menempati tempat khusus. Ah andai saja ada bingkai di dalam hati. Pasti akan Joan bingkai dengan indah susunan kata romantis dari Loly yang hampir mustahil diucapkan. Jarang sekali istrinya ini bisa romantis.


"Tadi, tadi dia menatapmu dengan penuh cinta Loly."


"Siapa kak? Tuan Chan? Atau kak Rayhan?"


Huuuft.


Joan menghela nafas besar demi menetralkan jantungnya yang berdetak tak karuan.


Bisa-bisanya istrinya setenang sekarang, di saat suaminya sedang dilanda rasa cemburu yang menyiksa jiwa.


"Ya seniormu itu sayang. " Jawab Joan dengan lancar. Ia sudah bisa menguasai emosinya. Tidak mungkin juga kan ia marah pada Loly? Loly tidak tahu menahu mengenai isi hati orang lain. Begitu pula dirinya. Tapi Joan sangat yakin 100%. Ia sesama pria. Melihat dari gelagat yang Rayhan tunjukkan, ia bisa menebak kalau Rayhan memiliki perasaan yang terpendam pada istrinya. Ah sial. Mario saja tidak membuatnya cemburu seperti ini. Lalu..


Kenapa Rayhan?

__ADS_1


"Ooh.. Dia." Loly tampak manggut-manggut santai. Sepertinya menggoda suami yang sedang cemburu boleh juga.


Tring.


Di atas kepala Loly seperti muncul sebuah neon berwarna kuning. Menunjukkan ia memiliki sebuah ide.


Idenya adalah menggoda suaminya. Sekaligus ingin tahu, seberapa besar perasaan Joan terhadapnya. Ia tahu Joan sangat mencintainya, tapi sebesar apa rasa yang sangat itu..


"Kenapa kakak cemburu karenanya?" Loly mengerutkan dahinya. Kepada Mario saja tidak se cemburu ini. Bagaimana mungkin dengan Rayhan yang hanya...


"Itu karena dia seperti ingin merebut mu dariku."


Huh. Kenapa Loly tidak tahu juga sih.


"Emm.. Iya juga sih. Lagian dia juga terlihat berbeda dari yang dulu. "


Siing.


Lirikan mata Joan bak belati yang siap menggoreskan luka.


Astaga. Lirikan macam apa itu. Dasar tukang cemburu. Gerutu Loly dalam hatinya.


"Apa maksud mu dia berbeda dari yang dulu sayang?"


"Aduh, gimana ya menjelaskannya. "


Joan masih setia menunggu penjelasan istrinya itu. Katanya tidak memiliki hubungan lebih. Tapi kok bisa tahu perbedaan pria itu saat ini dan dulu?


Setelah menjeda sebentar. Loly pun melanjutkan ucapannya.


"Ya dulu kak Rayhan itu tidak banyak bicara seperti yang tadi. Lalu..."


"Lalu apa sayang?"


Hahaha. Loly ingin tertawa sekarang. Wajah Joan memerah menahan cemburu tapi wajahnya melas sekali. Seperti puppy eyes. Aaa gemas deh.


Dengan menekan kata "sayang" saat bertanya. Joan menyatakan jangan menyembunyikan apa pun dariku. Atau aku akan mendatangi seniormu dan menghajarnya tanpa ampun.


"Ehem. Lalu, dia juga sepertinya lebih tampan dari yang dulu."


Duarrrrrr.


Hujan badai gerimis dan halilintar menyatu menjadi sebuah hantaman yang menampar Joan dengan kenyataan, istrinya menyebut pria lain tampan? Apa dirinya kurang tampan?

__ADS_1


Mampus kau Loly. Iseng sih jadi orang.


"Tampan?" tanya Joan kembali. Nada bicaranya pun berubah. Suaranya menjadi lebih rendah dan ah. Apa ia marah?


"Iya tampan. Tapi.."


Lagi-lagi Loly menjeda kalimatnya di saat genting. Suaminya itu sudah ingin mati penasaran saja rasanya. Yang jelas hanya satu. Joan tidak akan pernah rela jika istrinya jatuh ke pelukan pria lain. Siapa pun itu. Terutama Rayhan.


Tidak ingin lagi bertanya. Ia pasti akan dibuat kesal dengan jawaban yang entah serius atau hanya asal saja dari Loly. Ia hanya akan menunggu Loly menyelesaikan kalimatnya tanpa bertanya lagi.


Fix.


Joan sudah marah. Ia sudah diam seribu bahasa. Hanya merespon dengan mimik muka syok dan....


"Tapi masih lebih tampan pria di depan ku ini."


Ting. Loly mengedipkan satu matanya pada Joan. Ah lihat saja, ia dengan genitnya mencolek dagu suaminya.


Hah? Ini maksudnya apa? Kok ...


"Kak.. Kenapa diam?"


Joan masih melongo degan tingkah istrinya yang absurd itu. Bahkan tatapan mata Joan tidak teralihkan dari menatap istrinya. Ingin memastikan sendiri. Berani-beraninya menggoda suaminya yang sudah tersiksa oleh rasa cemburu yang setinggi gunung himalaya.


Kini Joan melihat istrinya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi kecil-kecil namun rapi.


"Kamu.."


Sudah sadar dari kebingungannya. Joan merangsek mendekati istrinya. Menghujani ciuman di sana-sini tanpa henti.


Hahaha. Tawa keduanya menggema memenuhi ruangan vvip yang menjadi tempat Loly.


"Lagian, cemburu kok seperti itu. Aku itu tidak mungkin mengkhianati mu kak. Kau suami ku."


"Ya aku percaya. Maafkan kebodohan suami mu ini ya sayang. Aku janji tidak akan mengulang hal yang sama."


Loly pun menganggukkan kepalanya pelan.


Ya beginilah rumah tangga. Tidak perlu menyikapi persoalan dengan emosi. Selain menguras tenaga. Tentunya akan ada hati yang tersakiti. Jika satu sudah menjadi api, maka yang satunya harus menjadi air bukan?


Kata orang tua. Harus ada yang mengalah agar semuanya berjalan selaras dan seimbang. Sama-sama emosi dan mempertahankan ego itu tidak akan menyelesaikan persoalan.


Apalagi hanya karena sebuah rasa cemburu.

__ADS_1


Makanya kita harus menguatkan pondasi kita, asalkan saling percaya. Semua hal akan bisa dilalui dengan mudah.


__ADS_2