
Melewatkan waktu berarti sama dengan melewatkan kesempatan.
----------------------------------------------------
Hari minggu di malam hari akan menjadi libur Loly sebelum akhirnya kegiatan perkuliahan akan benar-benar aktif setelah ospek sebelumnya.
Loly ingin menikmati waktu nya dengan membaca novel yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu.
Dipandanginya lagi sebuah buku yang sudah ia ambil dari dalam kamar.
"Mungkin kita akan berpisah demi mimpiku dan kebahagiaan mama". Loly berbicara pada buku novelnya.
Huft. Nafas Loly sedikit berat.
Banyak hal melintas di pikiran Loly.
Terutama mengenai papa nya. Mengapa papa Surya lebih memilih untuk bersama dengan tante Erika dan Jena dibandingkan dengan mama Fika dan dirinya, yang sudah jelas anaknya sendiri.
Sudahlah. Anggap saja semua kejadian yang telah berlalu itu sebagai angin yang sedang lewat.
Loly benar-benar harus melupakan sakit hati nya. Agar bisa lebih fokus pada masa depannya.
"Jangan terpengaruh lagi Loly. Apapun yang mereka lakukan, bukan menjadi urusanmu. Urusanmu adalah mimpimu dan kebahagiaan mama Fika."
Loly sudah memutuskan untuk tidak lagi terpengaruh dengan perbuatan busuk tante Erika juga Jena. Karena ia yakin, mereka tidak akan berhenti sampai disini sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Apalagi setelah dipermalukan di depan umum saat di mall kemarin.
Buku yang sudah dibawa pun diletakkannya di meja samping tempatnya duduk saat ini.
Tring. Suara notifikasi hp. Sebuah pesan masuk dikirim oleh seseorang.
"Hai. Ini benar nomor Loly ya? ".
Siapa ini? Sudahlah abaikan saja. Batin Loly.
Saat sedang asyik melamun, Loly dikejutkan oleh suara hp nya lagi.
Huft. Siapa sih, ganggu banget deh. Gerutu Loly.
Kembali ia buka pesan yang baru saja ia terima.
" Wah. Aku terluka dicuekin oleh Loly. "
"Loly"
"Loly"
"Lolyyyyyy"
__ADS_1
Dasar. Tidak jelas.
Loly dibuat penasaran juga oleh pesan-pesan tersebut. Tapi bukan Loly kalau mau membalas pesan tanpa nama.
Tring.
Hmmm. Aku hanya akan membuka dan membaca saja. Jika tetap tanpa nama. Jangan harap balasan dariku. Loly tersenyum, mengejek pesan-pesan yang ia baca.
"Oke aku menyerah. Aku Mario. "
Oh Mario. Setelah mengetahui siapa yang mengirim pesan padanya. Loly pun mengetik pesan balasan.
"Ya".
Tulilulit.. Hp Loly kembali berbunyi. Tetapi bukan nada pesan masuk, melainkan ada panggilan masuk. Masih dari nomor yang sama, Mario.
Tut. Loly menggeser ikon berwarna hijau.
Loly : " Ya, halo".
Mario : " Hai Loly. Kamu lagi sibuk nggak? "
Loly : "kenapa"
Mario : " Jalan yuk. Aku lagi di cafe dekat rumah kamu loh. Aku jemput ya".
Loly sedikit berpikir, akan menerima atau menolak ajakan Mario. Tapi sekarang sudah jam delapan malam.
Mario : " Loly. Halo. Kamu masih disana? "
Loly : " Ehm. Ya kak. Masih. Maaf ya aku sedang lelah"
Mario : " Huuft. Ya sudah deh. Kamu istirahat saja. Sampai jumpa besok di kampus. Bye "
Loly :" Bye ".
Loly kembali meletakkan hp nya di meja, setelah memastikan tidak ada lagi pesan atau panggilan yang masuk.
Di belahan bumi yang lain.
Joan Andi Tama beserta squad sedang berjuang melawan kelompok mafia buruan dunia.
Di operasi gabungan bersama FBI kali ini tergolong berat. Mafia yang akan mereka tangkap itu merupakan gembong narkoba juga penjual organ manusia yang kejam.
Sebagai mafia jelas saja mereka sudah bersiap jika akan terjadi operasi penangkapan dirinya. Dia juga sangat teliti terhadap trik para pemburunya.
Saat sedang mengisi peluru pistolnya hampir saja Joan tertembak. Beruntung di saat yang tepat, salah satu rekan Joan ada yang menyadari dan segera menarik tubuh Joan.
"Astaghfirullah. Hampir saja."
__ADS_1
Sekarang Joan lebih waspada lagi. Perburuan ini tidak boleh gagal. Banyak anak juga remaja yang menjadi korban dari para mafia tengik ini.
Baku tembak pun tak terelakkan. Dua anggota FBI terluka dan satu anggota squad Joan gugur di detik-detik terakhir.
Mengetahui itu Joan mempercepat gerakannya. Dan akhirnya sang ketua mafia dapat dilumpuhkan namun dalam keadaan sudah mati. Semua pun bernafas lega.
Pasukan yang terluka telah dibawa ke pusat medis. Dan yang gugur, jenazahnya akan dipulangkan ke tanah air.
Kabar gugurnya salah satu anggota Joan membuatnya sedikit tidak tenang. Adanya pasukan yang gugur ketika sedang beroperasi memang bukan yang pertama kali. Namun karena yang gugur adalah teman setia Joan. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan sang teman.
Esok harinya, anggota squad yang tersisa beserta pasukan FBI melakukan upacara penghormatan terakhir kepada jenazah pasukan yang sudah gugur. Setelahnya melakukan salam perpisahan.
Joan beserta anggota pasukan yang lain sudah kembali ke markas sementara mereka di negeri itu. Sesaat kemudian mereka mendapatkan perintah untuk beristirahat selama tiga bulan di perbatasan Libanon.
Istirahat bagi para pasukan khusus bukanlah berlibur dan santai di rumah serta bebas melakukan apa saja. Melainkan menjaga perdamaian di perbatasan negara. Dan sementara tidak berkutat dengan tugas yang seperti biasa mereka lakukan.
Setelah mendapatkan perintah. Semuanya segera berkemas dan berangkat ke perbatasan Lebanon. Bahkan mereka tidak diberikan kesempatan untuk libur dan pulang ke tanah air untuk menyapa keluarga.
Ini memang resiko menjadi seorang tentara. Siap jauh dari keluarga. Dan hidupnya untuk negara.
Loly mendesahkan nafasnya berulang kali.
Rindu mulai menyusupi relung hatinya.
Pencuri hatinya kini menghilang. Sudah beberapa hari ini tidak mengirimkan pesan sama sekali. Bahkan pesan terakhir yang ia balas masih bertanda centang satu. Apa sesuatu terjadi pada nya? Mengapa hp nya juga tidak aktif?
Untuk mengalihkan pikirannya Loly pun melanjutkan bacaan novelnya kembali. Dalam beberapa menit bacaan yang memang tinggal sedikit itu terselesaikan hingga akhir.
………………………………………………………………………………
MOHON MAAF
Maaf ya readers. Selama dua minggu kemarin othor sedang sakit. Jadi belum bisa melanjutkan cerita Loly.
Sempat opname juga sih. Tapi bukan sakit parah kok. Hanya demam dan kurang gizi saja. Karena othor muntah terus. Sempat khawatir juga sebenarnya. Takutnya covid. Karena katanya kasus omicron itu cepat menyebar.
Tapi alhamdulillah othor baik-baik saja setelah diinfus dan istirahat dengan baik.
Beberapa hari ini sudah mulai menulis lagi. Tapi apalah daya. Setelah sempat berhenti nulis dua minggu ini kok perbendaharaan kata othor yang sedikit ini jadi hilang.
Bingung dong. 😅
Kenapa bisa hilang? Kemana semuanya? Jadi di otak othor bener-bener kosong. Isinya cuma pengen tidur.
Bahkan pas ditanya suami, mau makan apa, pun gak kepikiran sama sekali. Di otak othor bener-bener blank. Gak tahu makanan dan gak bisa bayangin makan apa yang enak di makan.
Kalian pernah kayak gitu juga gak?
Dan alhamdulillah. Setelah dipaksa nulis sedikit-sedikit. Akhirnya bisa juga lanjut. Dan kalian tahu?? Episode ini butuh banget perjuangan untuk menemukan kosa katanya. Karena otak ini beneran kosong. 😭
__ADS_1
Mohon dukungannya ya gengs. Mohon doanya juga biar othor sehat-sehat terus. Biar bisa melanjutkan cerita Loly.
Makasih buat kalian yang masih setia menunggu Loly. Love you.. 🥰