
Apa yang kamu tabur itulah yang akan kamu tuai di kemudian hari.
Bukan tidak mungkin jika Tuhan memberikan bonus nantinya. Dan bonus dari Tuhan pasti akan sangat berlimpah. Jadi pikirkan dengan baik, apa yang seharusnya kita tanam saat ini.
Jena masih merasa tidak menerima kesalahan yang sudah diperbuat olehnya. Walaupun sudah terbukti bersalah. Jena tetap melimpahkan kesalahannya kepada Loly.
Setelah mendapatkan hukuman berupa pengurangan poin dari dekan.
Keluar dari ruang dekan.
"Loly. Kamu akan sangat menyesal telah membuatku mengalami hal buruk sebelum masa perkuliahan dimulai. Lihat saja. Aku akan membayar dengan harga yang pantas untuk ini. Tunggu pembalasan dariku". Geram Jena.
Lain dengan Jena yang sedang marah-marah tidak jelas.
Apalah-apalah squad sedang berjalan santai bersama menuju ke rumah Vero untuk mengambil motor mereka lalu pulang.
Di perjalanan ke rumah Vero. Reni yang penasaran bagaimana bisa Evi dan Dona memiliki video rekaman saat Jena berencana menjebak Loly pun menanyakan kepada temannya.
"Vi kok kamu bisa punya rekamannya sih? ". Reni.
" Rekaman apa? " Evi tidak nyambung, karena sedang melamun.
"Ih dasar. Rekaman yang Jena mau ngejebak Loly". Reni.
" Iya. Kamu kok bisa punya? ". Erin juga penasaran.
" Gaes. Ceritanya nanti dulu. Kita masuk dulu. Sudah sampai rumah Vero nih. Masa ceritanya sambil berdiri di depan gerbang sih. Kan tidak keren" Celetuk Evi.
Astaga. Bisa-bisanya ini anak ya. Andri geleng kepala.
Setelah masuk, ternyata Andri dan Danar ingin langsung pulang.
Akhirnya tinggallah delapan orang di rumah Vero. Termasuk Vero.
Berkumpul melingkari meja.
Sambil mencomot kentang goreng. Evi mulai bercerita.
Saat itu sekitar pukul 00.35 wib. Evi yang merasa haus akan mengambil minum yang terletak di samping bantalnya.
Akan tetapi saat Evi sedang meraih botol minum, ia melihat bayangan seseorang yang akan masuk ke dalam tenda, dengan cara berjalannya yang mengendap sangat berhati-hati Evi mulai curiga akan ada pencurian.
Tanpa berfikir panjang Evi segera meraih hp nya dari dalam saku jaket yang ia gunakan sebagai bantal tidur.
Dengan berpura-pura tidur, dibantu penerangan lampu kecil Evi berusaha merekam sampai akhir.
Setelah orang itu keluar. Evi bergegas menuju tas Loly. Memeriksa apa yang sudah orang itu lakukan.
"Ternyata aku nemu in kamera di tas kamu Ly. Maaf ya. Aku buka-buka tas kamu tanpa ijin dulu". Evi juga merasa bersalah karena membuka barang pribadi temannya.
" Tidak apa Vi. Justru aku sangat berterima kasih kepada mu. Dona juga. Kalau kalian tidak memberikan rekaman itu pada panitia. Mungkin yang saat ini mendapat pengurangan poin adalah aku".
__ADS_1
"Dengan adanya bukti video rekaman dari kalian. Aku jadi terbebas dari kesalahan yang tidak aku perbuat. Terima kasih ya". Lanjut Loly.
Suasana yang haru membuat mereka saling memeluk.
Vero merasa sedikit jengah melihat drama ini. Dia ingin segera tidur dan memeluk gulingnya.
Tapi mendengar bahwa mereka yang menyelamatkan Loly. Vero berusaha untuk bernegosiasi dengan rasa kantuknya yang kian mendera.
" Terus.. Kok bisa Dona juga tahu. Kalian curang siih.. Reni gak dikasih tahu. Kan aku juga mau jadi super hero nya Loly". Reni mengeluh.
Hahahaha semua tertawa mendengar keluhan Reni. Ada-ada saja super hero.
"Jadi setelah aku menemukan kamera. Dona juga terbangun. Karena tas Loly berada di samping kepala Dona. Dia merasa terganggu". Jelas Evi.
" Iya benar kata Evi. Aku juga mengira ada yang mau mencuri barang Loly jadi langsung bangun". Dona.
"Iya. Nih bahkan aku di tabok sama Dona. Dia kira aku mau malingin Loly. Gila kali ya". Evi menggerutu.
" Ya maaf kali Vi". Dona meminta maaf.
"Sudah-sudah. Selanjutnya bagaimana bisa kamera itu tidak terlihat oleh panitia yang menggeledah". Erin penasaran. Diangguki oleh semua yang ada disana.
" Jadi saat subuh. Kami berdua pergi menemui panitia. Disana hanya ada kak Johan dan kak Ani" Dona.
"Lalu kami menceritakan semuanya".
Setelah Dona dan Evi menceritakan bahwa Jena mau menjebak Loly. Panitia bermaksud akan memanggil dan menegur Jena. Tetapi Evi memiliki rencana untuk membuat Jena jera, agar tidak lagi melakukan hal itu kembali. Kemudian mereka meletakkan kamera di saku jaket. Karena para panitia sudah berkompromi, maka dibuatlah seakan tidak menemukan di manapun kamera Jena.
Sebenarnya tidak semua panitia tahu. Seperti Rayhan. Sebab semalam harus pulang dikarenakan oleh sesuatu yang mendesak.
Akhirnya Vero terbebas dari drama berkepanjangan para gadis rempong itu.
"Aahh... Nyaman sekali kasurku ini" Tidak lama Vero pun terlelap.
Hari ini adalah weekend.
Loly sudah sampai di rumah. Tadinya dia berencana akan mengajak mama untuk sedikit bersantai dengan melakukan perawatan di salon.
Sudah lama mereka tidak melakukan spa.
Saat Loly berhenti. Dia merasa heran melihat ada sebuah mobil terparkir rapi di depan rumah. Seperti mobil papa.
"Sudahlah Fika. Kamu serahkan saja berkas pengalihan perusahaan kepada kami. Kamu itu sudah bercerai dari mas Surya. Seharusnya tidak berhak atas perusahaan itu lagi" Suara seorang wanita dewasa tengah meremehkan mamanya.
Siapa itu? Tanya Loly.
"Sudah ku katakan berulang kali. Aku tidak tahu menahu soal perusahaan. Apalagi berkas pengalihan menjadi atas nama Loly".
"Itu suara mama. Apa maksudnya dengan pengalihan perusahaan atas namaku?" Loly berdiam diri di depan pintu yang sedikit terbuka karena tidak ditutup dengan benar.
Jangan-jangan tante Erika.. Mama..
"Lihat yang dibicarakan sudah datang. Cepat minta saja berkasnya dari anak itu mas. Anak yang aku kandung ini lebih berhak atas perusahaan keluarga kamu kan". Tante Erika merengek pada papa. Merayu dengan cara bergelayutan di lengan. Menyenderkan kepala di pundak papa.
__ADS_1
Cih tidak tahu malu.
"Loly. Kamu dengar yang dikatakan istriku ini kan. Segera berikan berkas itu padanya". Papa Loly berbicara dengan nada lembut. Tetapi tetap saja menyakitkan.
Mau mencuri hak ku? Huh.. Oke mari kita bermain.
" Papa. Berkas apa yang papa maksud. Loly tidak tahu apa-apa". Loly memasang wajah polos seakan tidak tahu sama sekali dengan yang para orang tua ini bicarakan.
"Mas. Dia itu hanya berpura-pura. Lihat saja wajahnya itu". Tante Erika.
Melihat tingkah menjijikkan tante Erika, mama dari Jena. Loly merasa tidak tahan lagi ingin mengusir mereka dari rumahnya.
" Ada apa sebenarnya pa?" Loly bertanya dengan nada yang sangat dingin.
"Tidak sopan sekali bicaramu! " Bentak papa Surya.
Loly tertegun. Berusaha menahan panasnya mata yang akan melelehkan air mata.
Baru kali ini papa membentak Loly.
"Baiklah. Dia memang bukan papaku lagi. Dia papa Jena sekarang. Jadi dia membentak pun tidak masalah". Loly menunduk sebentar untuk menahan ledakan amarahnya.
Huuft.. Menghirup nafas dan menahannya sebentar lalu menghembukannya kembali.
" Mas lihat sendiri bukan. Dia itu sangat tidak sopan padamu. Entah bagaimana didikan Fika selama ini". Tante Erika menghasut papa lagi.
Kali ini tidak ku biarkan mama menjadi sasaran mereka lagi.
Ku lihat mama yang hanya meneteskan air mata. Aku tahu, bukan mama tidak sanggup meluapkan amarahnya atau melawan mereka. Tetapi mama sudah tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Muak. Itu yang mama rasakan.
Ku lihat lagi papa dan istri barunya.
"Cih. Merepotkan sekali tante ini. Apa sudah sangat miskin sehingga mengemis berkas perusahaan yang jelas-jelas tidak aku ketahui? ".
" Tadi anaknya yang membuat ulah. Sekarang mama nya. Sebenarnya tercipta dari tanah sengketa sebelah mana kalian ini? Mengapa begitu busuk? ".
Tante Erika sangat emosi dan menahan marah karena ucapan Loly. Mendengar bahwa anaknya membuat ulah. Tante Erika jadi teringat dengan rencana yang anaknya ceritakan semalam.
Karena khawatir ia memutuskan pulang saja.
" Lihat saja Fika. Dan kamu. Anak tidak tahu diri yang sudah merebut hak dari anak yang ku kandung. Akan ku buat perhitungan pada kalian berdua". Geram tante Erika dengan suara tertahan.
"Anda jual saya beli" Sahut Loly.
Bagaimana nih menurut kalian?
Kira-kira apa yang akan tante Erika lakukan yaa??
jangan lupa tinggalkan jempol kalian disini yaa.
jika kalian menjadikan favorit novel ini. author akan sangat berterima kasih.
__ADS_1
selamat membaca. 😍