Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Ternyata Aku Merindukan Mu


__ADS_3

Sore yang begitu damai.


Setelah menyelesaikan ketiga mata kuliahnya. Loly kini tengah menikmati indahnya sore hari bersama sang suami.


Merasakan perbedaan yang belum begitu kentara antara sebelum dan sesudah menikah.


Satu minggu adalah waktu yang sangat singkat, sehingga Loly masih harus mempelajari banyak hal demi kelangsungan rumah tangganya.


Berbagai masalah rumah tangga bisa terjadi bahkan dari hal sepele sekalipun. Loly ingin mengantisipasi agar dapat meminimalisir hal-hal yang dapat memicu konflik antara dirinya dan sang suami.


Dipandanginya Joan yang tengah menikmati kopi hitam buatan Loly.


Tidak ku sangka, kami sudah menikah. Bahkan hari mendebarkan karena menanti pesan saja belum hilang rasanya. Loly.


"Apa sangat tampan?" celetuk Joan.


"Iya." jawab Loly tanpa sadar.


Hati Joan sangat girang mendengar jawaban Loly. Walau dalam keadaan melamun.


"Eh, apa kak?" tanya Loly kemudian. Dia merasa seperti ada yang aneh dengan jawabannya. Sehingga membuat Joan hanya tersenyum-senyum sendiri.


"Aku tadi bertanya, apakah aku sangat tampan?"


Loly menundukkan kepala dan sedikit malu-malu mendengar ulang pertanyaan Joan.


Apa tadi begitu kentara saat aku memandangi wajahnya? Tidaaaak, aku maluu. Loly


Joan semakin tersenyum dengan tingkah istrinya.


...****************...


Di tempat lain.


Jena mengamuk dan membanting barang-barangnya dari atas nakas.


Hari ini mood nya sangat berantakan. Membuatnya malas mengikuti kuliah lalu akhirnya ia membolos saja dengan shopping ke salah satu mall. Namun tetap saja belum membaik.


Jena berjalan mondar mandir di dalam kamar dengan menggigit ujung jarinya.


Dalam hatinya bertanya-tanya. Siapa sebenarnya suami Loly. Bagaimana mereka bisa berkenalan. Melihat dari mobil yang ditumpanginya saat menjemput Loly, sudah dipastikan itu bukan milik Loly.


Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus lapor ke mama.


Jena mencari ponselnya dan segera memanggil nomor mamanya.


Kenapa tidak diangkat sih. Mama ini lagi ngapain?


"Halo." suara dari ujung sana.


"Akhirnya mama jawab juga teleponku. Mama dari mana saja sih."


"Em, mama. Mama lagi di salon sayang. Ada apa?"


Mendengar jawaban sang mama. Jena menjadi ingat tujuan awal mencari mama.

__ADS_1


"Ma, Jena tuh kesal sekali dengan Loly. Dia belagu banget di kampus. Sok kecentilan padahal sudah menikah."


"Biarin aja sayang. Biarkan dia menikmati bahagianya sekarang. Nanti begitu berkas-berkas perusahaan papanya sudah ada di tangan mama. Kita akan buat dia dan mama nya menyesal."


Telepon telah berakhir.


Jena sedikit lebih tenang setelah berbincang dengan mamanya.


Dengan tawa anehnya ia berkata. "Aku sungguh tidak sabar menanti kehancuran Loly. Aku ingin dia juga merasakan derita yang ku alami. Aku benci dikasihani nya selama ini."


Dulu persahabatan antara Loly dan Jena bagaikan jarum dan benang. Tidak terpisahkan.


Keretakan antar keduanya bermula ketika Jena yang sering bersedih karena orang tuanya kerap bertengkar di hadapannya.


Mamanya yang sering berganti-ganti pasangan. Lalu papanya sibuk bekerja demi membayar hutang perusahaan agar tidak bangkrut.


Sedangkan ketika bertemu dengan Loly. Semuanya baik-baik saja. Kehidupan Loly dengannya sangat berkebalikan. Keluarganya nyaris hancur. Sedangkan keluarga Loly sangat harmonis. Lalu papa Loly, sangat memanjakan putrinya. Tidak seperti papanya.


Karena kesenjangan itulah Jena merasa, setiap kali Loly tertawa atau berusaha menghibur Jena. Justru membuat Jena salah paham. Jena seperti diolok-olok oleh sahabatnya itu. Ditertawakan dan dikasihani saja. Padahal semua yang Loly lakukan adalah murni dari lubuk hatinya. Loly sangat tulus kepada Jena.


***


Setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, Loly kini tengah merapikan tempat tidurnya.


Lalu mengganti pakaian yang ia kenakan menjadi piyama.


Setelah selesai, merebahkan tubuhnya. Baru ia memejamkan mata.


Loly merasakan badannya sangat berat. Seperti tertimpa sesuatu.


Cup. Joan mengecup kening guna meredakan keterkejutan istrinya.


Loly sudah tersenyum dengan semu merah di kedua pipinya. Joan semakin gemas dibuatnya.


Kini keduanya tengah terhanyut oleh aktivitas yang sangat melelahkan. Mereguk kenikmatan surga dunia yang memabukkan.


Di tengah pergulatan, ponsel Joan berdering.


Keduanya masih belum menyadari, namun karena bunyi yang berkali-kali itu mau tidak mau membuat fokus Loly terpecahkan.


Dengan nafas yang memburu Loly berusaha menghentikan Joan.


"Kak, ponsel kakak berbunyi. "


"Tunggu sebentar lagi."


Joan pun mempercepat gerakannya dan sampailah keduanya pada puncak kenikmatan itu.


Setelah selesai, Joan segera memisahkan diri dari istrinya.


Meraih kain sarung yang teronggok disamping ranjang. Lalu meraih ponselnya yang kembali berdering.


Dering pesan. Joan.


"Kembali bertugas. Zero."

__ADS_1


Diliriknya Loly yang masih terkulai di balik selimut tebal. Kemudian Joan bergegas membersihkan diri dan bersiap. Panggilan bertugas sudah memanggilnya.


Tak ingin membangunkan sang istri. Joan hanya pergi dengan meninggalkan ciuman di kening Loly. Juga secarik kertas yang berisi pesan pamit untuk bertugas.


Adzan subuh berkumandang.


Loly menggeliatkan tubuhnya yang terasa remuk redam. Dirabanya sebelah tempat ia berbaring. Kosong.


Loly pun segera membersihkan dirinya. Melakukan mandi besar sebagaimana mestinya setelah melakukan ibadah suami istri.


Lalu melaksanakan sholat subuh. Dilihatnya lagi di sekeliling kamar. Namun tetap tidak menemukan Joan.


Ketika akan mengambil pakaian di lemari. Ia menyadari sesuatu. Seragam dinas Joan tidak ada.


"Apa kak Joan sedang bertugas?"


"Kenapa tiba-tiba?"


Setelah bermonolog dengan dirinya. Loly memutuskan untuk keluar dari kamar.


Di dapur tampak mbak Eni sedang memasak untuk sarapan. "Mama mana mbak?"


"Eh neng Loly. Ibu di depan neng. "


Setelah berterima kasih. Loly berjalan ke depan untuk mencari mama.


Di halaman depan, tampak mama Fika tengah berdiri menghadap jalanan komplek. Menikmati sejuknya udara pagi hari.


Mama Fika sedikit berjingkat, dikejutkan oleh Loly yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Kamu ini. Sudah menikah kok masih sama saja manjanya." kendati demikian. Mama Fika tetap membalas pelukan Loly di tangannya.


"Semalam Joan pamit bertugas. Kamu tidur."


"Mama tahu?"


Semalam mama Fika tengah haus. Bermaksud ingin mengambil air minum dari dispenser yang terletak di dapur. Justru mendapati Joan yang sudah siap berseragam dinasnya.


"Jo, mau kemana?"


"Joan mendapat panggilan dadakan ma. Maaf tolong sampaikan pada Loly ya. Dia sudah tidur sangat nyenyak tadi. Joan tidak tega membangunkannya."


"Ya sudah. Biar nanti mama sampaikan yang pada Loly. Kamu hati-hati ya nak."


***


Sarapan sudah siap. Mama Fika dan Loly tengah bersiap menyantap sarapan yang telah disiapkan mbak Eni.


Sedangkan mbak Eni pamit belanja ke pasar.


Di tengah sarapan. Loly merasakan sesuatu yang berbeda. Ia yang sudah satu minggu ini terbiasa melayani suaminya. Kini merasa aneh setelah ditinggal Joan kembali bekerja.


Sehabis merapikan tempat tidur. Di meja kecil. Loly menemukan secarik kertas yang ditulis tangan oleh Joan.


"Sayang, aku harus kembali bertugas. Maaf tidak membangunkan mu. I love you."

__ADS_1


Belum sehari, ternyata aku merindukannya.


__ADS_2