Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Untuk Istriku, Loly.


__ADS_3

Kepergian Joan menyisakan duka yang kian mendera bagi semua orang. Terutama Loly.


Sebagai istri dia merasa belum maksimal menjadi istri untuk Joan. Belum sempat membuat bahagia Joan.


Baru satu bulan bersama. Itupun masih sering berpisah karena kewajiban Joan pada ibu pertiwi.


Takdir memang tiada yang tahu.


Tiada yang dapat menebak seperti apa hari esok. Bahkan satu detik ke depan sudah menjadi rahasia Ilahi.


Sejak berita duka tersampaikan. Loly menjadi tidak bersemangat melakukan apapun.


Untuk menelan makanan saja dia tidak bisa.


Separuh nyawanya telah pergi.


Ah rasa ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Apa harus secepat ini pernikahannya berakhir?


Mengapa Tuhan tidak memilih untuk mengambil nyawa Loly saja?


Loly tengah duduk bersandar di dekat jendela.


Di tangannya, ia menggenggam erat secarik kertas yang konon berisi surat terakhir dari Joan.


Bahkan hingga tiga hari setelah Joan dinyatakan tidak kembali, Loly masih belum sanggup membacanya.


Kali ini ia memberanikan diri untuk membuka liatan kertas itu.


Baru saja nampak sederet tulisan tangan Joan. Loly sudah menguraikan air mata.


Dada Loly terasa sesak.


Begini kah sakitnya kehilangan?


Isi surat Joan.


Untuk istriku, Loly.


*Hai sayangku.


Loly istriku tercinta.


Maafkan suamimu ini yang tidak bisa menepati janji untuk tetap kembali ke pelukanmu.


Loly.. Istriku yang paling cantik.


Kau tetaplah bintang yang paling bersinar di jagat raya ini.


Sayang..


Terima kasih karena sudah mau mendampingiku yang tidak sempurna.


Aku sangat mencintaimu istriku.


Rasanya tidak ada kata yang tepat untuk menjabarkan seberapa besar dan luasnya cintaku padamu.


Sayangku..


Maaf, kamu harus membaca tulisan ini.


Maaf karena harus meninggalkanmu sendiri.


Kamu adalah wanita yang hebat.


Kamu pasti bisa melalui hari-hari tanpaku.


Tapi.. Bolehkah aku meminta satu hal ?


Tetaplah bahagia sayang.

__ADS_1


Meski aku sangat tidak rela.


Tapi carilah penggantiku.


Carilah sosok yang mampu membuatmu lebih bahagia dari saat bersamaku.


Loly..


Jika suatu saat nanti kau sudah menemukan sosok yang tepat.


Tolong tetap doakan aku dalam setiap sujud mu.


Aku mencintaimu sayang.


Dari suami mu. Joan*.


Air mata Loly semakin luruh membasahi pipi.


"Loly juga mencintai kak Joan. Loly harus bagaimana kak? "


Bagaimana bisa Joan malah berpesan untuk mencari penggantinya ?


Bagaimana mungkin Loly dapat beralih pada hati yang lain, sedang hatinya saja sangat sakit saat ini.


"Kau jahat kak ! Kau sungguh tega meninggalkan aku di sini ! Kita sudah berjanji untuk saling berbahagia selama bersama. Kenapa kamu meninggalkan aku kak Joan? "


Hati Loly sangat sakit saat membaca surat itu. Surat yang berisikan tentang permintaan maaf juga penyesalan Joan yang tidak bisa kembali lagi.


Banyak sekali mimpi yang sudah dirangkai oleh Loly bersama Joan.


Namun kini harus musnah bersama kepergian Joan.


Joan..


Kata apa yang bisa menggambarkan kekecewaan Loly pada hidup ini.


...****************...


"Guys ke rumah Loly yuk. "


Ajak Dona yang tiba-tiba terdengar suaranya di tengah keheningan.


"Oke, setelah makan siang kita kesana. " Reni juga sudah merindukan Loly.


"Gimana kalau kita makan siang di rumah Loly saja? " usul Erin yang melirik ke arah teman-temannya. Sorot matanya mengatakan ayolah, daripada kita penasaran kenapa Loly tidak masuk kampus beberapa hari ini.


Setelah memikirkannya, akhirnya semua setuju untuk makan siang di rumah Loly.


Di tengah perjalanan menuju rumah Loly. Mereka mampir ke sebuah kedai dan membungkus makanan untuk di bawa sebagai makan siang nanti.


Tidak lupa membeli jajanan juga sebagai camilan.


Setelah merasa cukup. Semua bergerak menuju rumah Loly.


***


Mobil yang di tumpangi Erin, Dona, Evi dan Reni kini sudah sampai dan sedang parkir di halaman rumah Loly.


Rumah ini tampak sepi.


Tumben.


"Assalamu'alaikum.. " Evi membuka suara sedikit lantang.


Dari dalam mbak Eni segera menyambut tamu yang datang tanpa diundang siang ini.


"Wa'alaikumsalam.. Temannya neng Loly ya..? "


"Iya mbak.. Loly nya ada ? "


Mbak Eni bingung harus mengatakan apa pada teman-teman Loly. Mau berkata ada, tapi takut Loly tidak mau diganggu.

__ADS_1


Mau berkata tidak ada, tapi orangnya sedang di dalam.


Mbak Eni pun mempersilahkan semuanya masuk. Lalu memanggilkan mama Fika.


Mama Fika yang mendengar kedatangan teman-teman Loly pun sangat senang.


Juga terselip harapan. Semoga dengan kedatangan teman-temannya ini, Loly menjadi sedikit terhibur.


Lalu mama Fika pun menemui teman-teman Loly yang sudah duduk rapi di ruang tamu.


"Tante.. "


Erin, Dona dan Reni pun menoleh ke arah dalam setelah mendengar Evi memanggil seseorang.


"Kalian sudah lama? "


"Kami baru saja tiba, bagaimana kabar tante? " sahut Evi.


"Tante sehat nak, kebetulan kalian ada di sini. "


Erin, Dona, Reni dan Evi menautkan kedua alisnya. Mengapa tante Fika berkata kebetulan ?


"Loly sedang bersedih. Karena suaminya gugur saat bertugas. Boleh tante minta tolong bantu hibur Loly? Siapa tahu dia akan merasa terhibur saat bersama kalian. "


Mama Fika berkata penuh harap. Dia sangat tidak tega kepada putrinya yang terus bersedih.


"Maksud tante? " Reni menyahut cepat.


Semuanya merasa syok. Joan gugur? Artinya Loly harus kehilangan suaminya di usia yang sangat muda. Dia harus menjadi janda yang ditinggal mati suaminya.


Malang sekali nasib temannya yang satu ini.


Semoga kamu tabah ya Loly.


Dan di sinilah sekarang semua berada.


Reni dan Dona menangis histeris seraya memeluk erat tubuh Loly.


Sedang Evi dan Erin berusaha tegar meski air mata tetap lolos dari persembunyian.


"Kenapa tidak memberi kabar ke kita, Ly? "


Reni bertanya dalam tangisnya.


Loly tidak menjawab satupun pertanyaan dari teman-temannya ini. Dia hanya menggelengkan kepala sambil menangis.


Berulang kali mencoba untuk tidak menangis. Namun tetap saja air mata sialan itu jatuh sendiri.


Lihat saja mata Loly sudah menyipit.


Suara-suara sumbang itu kini bercengkerama dalam keadaan duka.


Saling menyalurkan kekuatan. Berharap dan sangat berharap semoga hati Loly diberikan ketabahan dan kesabaran untuk menerima takdir yang sangat tidak indah ini.


Semua berusaha menghibur Loly. Hingga waktu makan siang tiba. Makan siang pun dilakukan di kamar Loly.


Loly yang semula menutup rapat mulutnya akhirnya terbuka.


Dia mau menerima suapan dari tangan teman-temannya.


Duo drama queen, Reni dan Dona kini sudah mampu menguasai emosinya.


Mereka bertingkah konyol demi membuat Loly tersenyum.


Akhirnya, memang ya, tiada hasil yang menghianati usaha. Akhirnya senyum Loly terbit dari bibir pucatnya.


"Terima kasih ya kalian sudah datang kemari. " suara Loly terdengar sangat lirih.


"Sama-sama, Loly. "


"Kapanpun kamu butuh, kami akan selalu siap menemani. Jadi jangan bersedih sendirian. Kamu masih punya kita, Loly. " Evi berkata dengan sangat lembut dan menenangkan. Hingga Loly kembali meneteskan air matanya.

__ADS_1


Tidak menyangka, teman-temannya ada di saat dia membutuhkan. Tanpa Loly minta..


__ADS_2