
Hari-hari berlalu.
Loly dan Joan hanya menghabiskan waktunya di sekitaran rumah saja.
Subuh menjelang. Loly yang merasa sudah bersih dari tamu bulanannya pun segera membersihkan diri.
Tepat adzan subuh Loly sudah selesai membersihkan dirinya. Keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya sudah terduduk namun masih dengan mata terpejam.
Segera ia mengenakan mukenah dan membangunkan Joan.
"Kak, ayo bangun dulu. Kita sholatnya berjama'ah ya. "
"Iya, tunggu aku berwudlu dulu ya. "
Setelah Joan memasuki kamar mandi untuk berwudlu, Loly menggelar dua sajadah untuknya dan untuk Joan.
Sholat subuh telah selesai dilaksanakan.
Ini adalah pertama kali bagi Joan dan Loly melaksanan sholat berjama'ah.
Loly meraih dan mencium tangan kanan Joan. Dan dilanjutkan dengan Joan mencium kening Loly.
Setelah Loly melepaskan mukenah. Dan Joan melipat sajadah.
Seakan baru saja mendapatkan ingatan. Joan pun segera menoleh dan mempertanyakan kebenarannya.
"Jadi Loly sudah bersih ya.? "
"Sudah kak, kan sudah sholat. "
"Bukannya biasanya datang bulan itu satu minggu? "
"Memang kak, tapi selama ini Loly selalu 4 hari saja. "
"Ehm, jadi kita sudah bisa kan? "
"Sudah bisa apa kak? " tanya balik Loly.
"Sudah bisa melakukan malam pertama kita sayang. "
BLUSH..
Loly menunduk dengan pipi meronanya.
Apa yang harus aku lakukan ya nanti? Loly.
"Apa sekarang saja? " tanya Joan lagi.
Loly segera mendongak. Ini masih pagi hari. Nanti kalau orang rumah tahu bagaimana.
"Ini kan masih pagi kak. " cicit Loly.
Manisnya istriku kalau sedang malu-malu begini.
"Kemari lah sayang. "
Joan mengulurkan tangannya ke arah Loly. Dan digapai oleh Loly.
Joan menariknya bersama dengan Loly. Lalu memeluk Loly nya. Mengendus puncak Loly.
"Kita masih punya banyak waktu. Tidak harus pagi ini. " Ucap Joan.
"Jadi, simpan dulu malu-malu nya untuk nanti malam ya. " Lanjut Joan.
"Kak Joan ih. " Loly semakin menelusup ke dalam pelukan Joan.
"Aku suka sekali dipeluk istriku seperti ini. "
...****************...
Malam ini akan menjadi malam yang sangat bersejarah bagi keduanya.
Loly tengah bersiap mengenakan baju tidur berkain tipis pemberian dari Evi. Gunakan saat kalian malam pertama ya Loly. Begitu wanti-wanti Evi dalam sepucuk surat yang Loly temukan di dalam kado.
Loly menarik turun baju tidurnya.
Kok bisa ada baju setipis ini ya? Seperti saringan kedelai. Mana pendek banget lagi.
__ADS_1
Akhirnya Loly berbaring di ranjang sembari menunggu Joan yang masih berganti pakaian.
Krieek.
Joan telah selesai. Ia keluar dari kamar mandi.
Joan berjalan ke arah ranjang. Melihat Loly dahinya mengernyit.
Ada apa gerangan dengan istrinya? Kenapa membungkus seluruh tubuh dengan selimut? Apa dia sakit?
Bergegas Joan mendekati Loly. Mengecek suhu tubuh dengan cara menempelkan punggung tangannya ke kening Loly.
"Tidak panas. "
Loly hanya berkedip tidak mengerti, mengapa Joan malah menempelkan tangannya dan berkata tidak panas.
Ya memang tidak panas. Kan Loly tidak sakit.
"Loly sehat kok kak. "
"Lah terus kenapa malah memakai selimut sampai seperti ini? "
"Em, anu kak. Loly, Loly malu. "
Dengan cepat malah menutup muka menggunakan selimut. Jadilah Joan hanya dapat melihat bungkusan selimut yang berisi Loly.
Perlahan Joan mengintip pada sedikit celah.
"Malu kenapa sayang? "
"Aaaampp."
Karena terkejut, Loly tidak sengaja berteriak. Lantas Joan segera menutup dengan tangannya.
"Ssst. Nanti mama mendengar. Tenang ya. " bisik Joan.
Perlahan Loly mengangguk. Lalu Joan melepaskan tangannya.
Berikut masuk ke dalam selimut bersama Loly.
Dalam posisi yang sedekat ini, jantung Loly serasa mau meledak.
Loly hanya mengangguk.
Di bawah lampu yang terang. Joan dapat melihat penampilan Loly yang sangat berbeda dari biasanya.
Entah mengenakan pakaian apa yang hanya terlihat tali kecil di kedua pundak Loly.
Dan bagian depannya, Astaga. Apa dia mau menggodaku? Joan.
Hanya sebatas pinggang selimut itu menutupi tubuh Loly. Selebihnya Joan dengan bebas dapat melihat.
Gluk. Entah bagaimana mulanya, Joan diliputi dahaga.
Perlahan Joan mengusap kening Loly, menciumnya dengan lembut.
Joan berusaha berlaku selembut mungkin.
Karena ini adalah yang pertama bagi keduanya.
Berbekal dari insting dan hasrat. Keduanya telah melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan seorang suami dan istri.
Saling memiliki dengan cara menyatukan dua jiwa. Menyalurkan setiap rasa yang terbendung.
Bersamaan dengan lenguhan terakhir.
Lahar telah dimuntahkan. Memenuhi seisi rahim milik Loly.
Joan melihat Loly yang lemas di bawah kungkungannya.
Mengecup lembut bibir Loly.
"Terima kasih sayang. "
Loly hanya tersenyum. Tenaganya telah habis terkuras. Kegiatan yang sungguh tidak terkira.
Semakin menambah rasa cinta di antara keduanya.
__ADS_1
...****************...
Sore ini adalah hari kepulangan Joan ke rumahnya. Bersama Loly.
Tujuh hari sudah terlewati.
Setelah dilaksanakan doa bersama. Mama Fika melepas kepergian Loly bersama Joan suaminya untuk bergiliran pulang ke rumah besannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. "
Dari dalam tampak mama Joan terburu menuju ke depan. Beliau sudah sangat menanti kedatangan putra pertama bersama menantunya.
"Masya Allah.. Anak mama sudah datang. "
Joan melongo dibuatnya. Justru yang pertama kali di peluk erat oleh mamanya adalah Loly.
Loly dan mama sudah terlibat cipika cipiki sembari sesekali saling memeluk.
Bukan iri, Joan merasa sangat bahagia. Semoga kedua wanita yang ia cintai ini selamanya akan penuh kasih dan saling menyayangi.
Melihat sang mama masih asyik bersama Loly. Joan segera bergabung dengan memeluk kedua wanitanya.
Grep.
"Anak mama sudah menikah. Harus sayang sama istrinya ya. " ucap mama sembari mengusap rambut Joan.
"Kalau Joan bertingkah, lapor sama mama ya nak. " lanjutnya tertuju pada Loly.
Mereka bertiga tertawa bersamaan.
"Eh kok malah di depan pintu saja.
Ayo sini kita masuk dulu. Mama sudah masak makanan kesukaan Joan. "
"Oh ya. Boleh Loly bantu menyiapkan ma? "
"Boleh dong sayang. "
Dalam sekejap Loly sudah berada di dapur saja.
"Haah, mama ini gimana sih. Yang ditarik malah menantunya. Anaknya sudah dilupain nih sekarang. " gumam Joan dengan senyum bahagianya.
Akhirnya sudah di rumah juga. Joan.
Makanan telah tersaji di meja makan.
"Jo, ayo makan dulu sini. " ajak mama.
"Ya ma. "
Joan menuju ke meja dan menarik kursi untuk duduk.
Loly sudah bersiap mengambilkan nasi dan lauk untuknya.
"Udangnya mau berapa kak? "
"Emm, dua saja. Nanti kalau kurang biar ku ambil sendiri. "
"Oke."
Mama hanya tersenyum melihat cara Loly melayani Joan.
Dari usia Loly memang masih terbilang muda.
Tapi melihat dari caranya bersikap sungguh bisa dibilang dewasa.
"Mama mau Loly ambilkan juga? " tawar Loly.
"Boleh."
"Terima kasih nak. "
"Sama-sama ma, selamat makan. "
Disinilah tempat berkumpul yang paling santai.
__ADS_1
Sembari menikmati makanan. Sembari mengobrol. Bertukar cerita dan menjalin kebersamaan yang lebih erat.