Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Kenapa Sayang?


__ADS_3

"Sayang... Maaf, dua hari lagi aku harus berangkat tugas. "


Tes tes..


Belum juga ditinggal, Loly sudah meneteskan air mata. Menangis takut kesepian tanpa suaminya. Padahal di rumah ini masih ada mama Fika dan mbak Eni yang menemani. Terkadang mama Joan pun menemani dan menginap di kamar Loly. Menggantikan Joan saat harus bepergian menjalankan tugas negara.


Srek.


Loly pun beralih posisi membelakangi Joan. Sebelumnya mereka tengah baringan sembari bercerita dan merencanakan masa depan untuk calon buah hati. Dan tiba-tiba bayangan indah itu seketika lenyap menjadi bayangan hari-hari sepi Loly tanpa Joan.


Huh..


"Berapa lama? "


Joan tahu, wanita hamil itu perasaannya sangat sensitif. Dan ini lumrah. Semua karena lelahnya memboyong bobot janin di dalam perut, belum lagi karena ngidamnya yang sering kali membuat ibu hamil merasakan sakit di beberapa bagian tubuh. Terutama di awal kehamilan.


Loly bahkan sampai beberapa kali dilarikan ke rumah sakit karena kekurangan cairan.


"Kali ini sedikit lama. Maaf, ini... "


"Panggilan ibu pertiwi. " Potong Loly.


Ya, Loly sadar betul. Suaminya ini bukan hanya miliknya. Jiwa dan raganya juga menjadi milik negara. Harus siap kapan pun dan apa pun kondisinya apabila panggilan telah sampai di telinga. Dan saat pelantikan, Joan pun sudah di baiat bahwa negara adalah nomor satu.


Maka bersiaplah bila menikahi seorang prajurit. Mau tidak mau, rela atau tidak. Sudah keharusan bagi pasangan untuk selalu mendukung abdi negara yang berstatus sebagai suami atau istri.


Walau harus kehilangan orang yang dicinta sekalipun. Itulah resiko menjadi partner hidup seorang abdi negara. Karena mereka, berjuang demi keamanan negara, mengorbankan waktu, tenaga, hingga nyawa.


"Kalian harus siap kehilangan. Kau boleh mundur jika tidak mampu mendukung pengorbanan suamimu nanti. " Loly jadi teringat wejangan salah satu Jenderal saat mengajukan persetujuan menikah di kantor pusat tentara.


"Jangan merasa bersalah kak. Aku tahu kau sedang dilema. Jawablah panggilan ibu pertiwi kita. Kita anak negara yang sudah sepantasnya berkorban demi nya. "


"Tapi... "


"Aku tidak apa. Aku hanya sedang sensitif saja. Aku hanya merasa takut sendirian. "


Dalam hati Loly terasa lebih mengiris lagi. Ia teringat bagaimana kabar kematian Joan tempo lalu.


Loly tidak sanggup membayangkan, bila seandainya Joan hanya berpulang namanya saja. Bagaimana ia akan membesarkan anaknya seorang diri dan kekhawatiran seorang istri yang lain.


"Maafkan aku sayang. Doakan yang terbaik untukku, untuk kita. "


Loly merasakan kehangatan kasih sayang yang melimpah ketika Joan memeluk dirinya dari arah belakang. Tangan kekar itu mendarat sempurna di atas perut buncitnya.


Jabang bayi di dalam sana sangat tenang. Beberapa kali belakangan sudah mulai menendang halus.


Ah Loly jadi terbayang lagi harus berpisah beberapa bulan dengan Joan. Rasanya...


"Berapa lama kak? " Kembali Loly menanyakan hal yang sama. Tidak akan lega jika belum terjawab.

__ADS_1


"Tiga bulan. "


Fuuuh.


"Baiklah, karena papa harus berangkat bertugas, dedek yang menemani mama ya sayang. Kita harus selalu bersama mendoakan keselamatan papa. "


Joan tersenyum kecil mendengar celotehan Loly yang dibuat-buat ceria. Padahal Joan tahu, Loly sedang resah.


Apakah Loly masih trauma dengan berita yang dulu? Pikir Joan. Dia berharap, semoga Loly sudah melupakan kejadian buruk itu. Sehingga tidak akan memendam ketakutan seorang diri, saat ditinggal bertugas nanti.


"Ayo tidur. Sudah malam. Dia juga mau istirahat. "


Malam yang sunyi menenggelamkan kenangan kelam yang masih tersimpan di ingatan Loly dan Joan. Tidak ada yang dapat mengerti rasa itu kecuali yang benar-benar mengalaminya sendiri. Rasa takut, sedih dan putus asa karena kehilangan saat sayang-sayangnya. Berpikir terpisah jarak dunia dan akhirat. Tidak semua orang sanggup melaluinya.


Loly sudah terlelap begitu Joan mengusuk punggungnya dengan gerakan lembut. Istrinya ini sudah sering mengeluh lelah di punggung. Benar saja. Menyangga perut yang berisi makhluk bernyawa setiap waktu, pasti sangat menguras tenaga. Bagaimana kalau sembilan bulan nanti ya? Pasti bayi nya juga berat.


Inilah perjuangan seorang ibu. Mengandung sembilan bulan lalu harus bertaruh nyawa demi melahirkan bayi.


Kemudian masih harus menyusui ditengah keadaannya yang lemah setelah melahirkan.


Sungguh mulia kau ibu.


Joan mengerjapkan matanya beberapa kali.


Jika dipikirkan akan terasa semakin berat. Semoga dan semoga. Banyak harapan yang terselip dalam doa sebelum tidurnya.


***


Loly terbangun dengan sangat segar dan ceria. Tidak seperti semalam yang merasa akan kehilangan separuh dunianya.


Selepas Sholat subuh, Loly ditemani Joan berjalan kaki di sekeliling komplek.


Saran dari dokter, perbanyak olahraga agar badan tidak gampang lelah juga itu akan menguatkan ibu saat persalinan nanti.


Tanpa alas kaki. Loly dan Joan mengitari komplek yang hanya berjarak beberapa meter saja. Berbelok dan sampailah di rumah mama Joan.


"Assalamu'alaikum. Maa.. Loly lapar. "


Astaghfirullah.. Joan melotot gemas mendengar ucapan salam Loly. Bisa-bisanya salam disambung lapar.


"Wa'alaikumsalam sayangnya mama. Sini kebetulan mama lagi bikin bubur kacang hijau. Mau di antar ke sana nanti, eh kamu nya sudah kemari. "


"Ya sudah Loly makan sekarang saja ma. Loly lapar sekali. Tadi sudah jalan jauh banget. "


Loly mengeluh seakan susah berjalan kaki berkilo-kilo saja. Padahal hanya berputar komplek.


Sreet. Joan menarik kursi untuk istrinya.


Loly sudah duduk manis di kursi meja makan. Setelah itu mama Joan pun menghidangkan semangkok bubur kacang hijau yang masih panas.

__ADS_1


Mengepulkan asap berbau manis legit yang khas perpaduan kacang hijau, santan dan daun pandan.


"Emm.. Sedapnyaa... Loly sudah tidak sabar ma. "


Mama Joan pun tertawa senang mendengarnya. Loly menjadi semakin banyak bicara padanya semenjak hamil.


"Kipasin kak, biar cepat dinginnya. Aku sudah lapar sekali ini. "


"Iya sayang. Sebentar ya. "


Dengan patuh Joan mengangkat mangkok berisi bubur kacang hijau yang berasap. Mendekat ke arah kipas angin di sudut ruangan.


"Ya ampuun... " pekik Loly mengagetkan Joan dan mamanya. Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan ibu hamil itu.


"Kenapa? " tanya Joan dan mamanya bersamaan.


Joan gegas meletakkan mangkok yang dipegangnya ke atas meja. Memeriksa setiap inci tubuh istrinya.


"Kamu kenapa sayang? Ada yang sakit? " Raut wajah Joan tidak dapat menyembunyikan apa-apa. Demi apa pun. Saat ini Joan sangat ingin menggigit istrinya yang malah tertawa terbahak melihat nya khawatir begitu.


"Kamu ini kenapa sayang? Kenapa malah tertawa? Apanya yang lucu? " Tidak habis pikir.


Sabar... Sabar.. Istri sedang hamil Jo. Kalau kau kesal sekarang, mood bumil pasti akan memburuk. Dan hari mu tidak akan cerah lagi.


"Aku itu cuma lagi mencium bau bubur itu kak. Bubur yang kau kipasin itu baunya jadi kemana-mana. Menggoda iman. " Loly kembali terkekeh melihat wajah cengo Joan.


Cup.


"Suamiku tampan sekali sih. "


Wajah Joan bersemu merah mendapat kecupan dari istrinya.


Astaga Loly sama sekali tidak merasa bersalah setelah membuat khawatir dirinya. Malah mencium Joan di hadapan mertuanya.


Mama Joan pun menepuk pelan jidatnya.


Begini amat punya menantu hamil.


Ya Allah.. Berilah kesabaran pada hamba Mu ini. Cicit mama Joan dengan senyum tersemat manis di bibirnya.


Ia bahagia melihat putranya sangat mengkhawatirkan istrinya. Tandanya cinta mereka kuat.


...****************...


Bagaimana gengs...


Enaknya Loly ini diapain ya.. Hehee


Sejak hamil suka banget usil sama suaminya.

__ADS_1


Penasaran nggak gimana jahilnya Loly sejak awal kehamilannya?


Ku tunggu jempol dan komentar kalian tentang cerita ini ya.. See you 🥰


__ADS_2