
"Kenapa hanya mengaduk makananmu, sayang?"
"Tidak suka? Atau mau ganti menu saja?"
Mulut Loly terkunci rapat, pandangan mata mengarah ke piring saji tetapi tangannya hanya sibuk mengaduk makanan yang biasanya sangat ia sukai.
"Kamu khawatir dengan kondisi Jena?"
Mendengar itu, Loly hanya menganggukkan kepalanya pelan. Yang sedang ia pikirkan, sakit apa Jena? Kenapa ia masih perlu perawatan khusus? Seberapa parah? Penyakit seperti apa yang sedang Jena derita?
Loly tetaplah Loly. Wanita yang tetap baik hati meski sudah disakiti berulang kali. Ya, memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dia keturunan dari wanita cantik berhati baik, mama Fika.
"Bagaimana kalau nanti kita datangi rumahnya. Kita lihat keadaannya dan kita tanyakan secara langsung tentang dirinya? " tawar Joan. Ia tidak mau istri kesayangannya ini bersedih. Terlebih saat sedang mengandung buah cinta mereka. Kata dokter, ibu hamil dilarang stress.
Mendengarnya, seperti secercah harapan bagi Loly. Ia memang masih sakit hati tetapi hal itu bukanlah yang utama. Bagaimanapun, Jena sahabatnya yang paling baik saat dulu. Sebelum badai prahara menimpa rumah tangga mama Fika dan papa Surya. Meski kerap kali Jena membuatnya terluka, namun Jena sudahlah seperti saudara. Dan terlihat dengan jelas, Jena tidak melakukan hal yang menyakiti Loly dengan sepenuh hati. Karena Loly pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jena menangis setelah berbuat hal buruk pada Loly.
"Tapi aku belum siap bertemu dengannya sekarang. " Loly tertunduk lesu. Ah rasanya...
"Baiklah, katakan kalau sudah siap. Tapi ingat, kau tidak boleh pergi menemuinya tanpa aku ya sayang. Aku masih belum bisa percaya kalau dia sudah berubah. "
"Ya kak. Aku hanya akan pergi menemui Jena bersamamu. "
...****************...
Akhirnya Joan pergi memenuhi panggilan ibu pertiwi. Berdinas yang katanya kurang lebih selama tiga bulan. Baru saja menutup pintu depan rumah. Wajah Loly sudah banjir saja oleh air mata.
"Huhuhu... Kenapa kak Joan bisa setega ini meninggalkanku saat mengandung? "
Srooottt..
"Iyuuuh, kenapa aku bisa punya ingus sebanyak ini saat menangis? "
Loly sedang meratapi nasib yang menurutnya sangat tragis. Harus merelakan sang suami untuk memenuhi tugas selama berbulan-bulan. Bahkan bisa jadi saat ia melahirkan nanti, belum tentu akan ditemani oleh Joan, suaminya.
Puk. Banyak tisu yang sudah memenuhi antara sela meja dan kursi ruang tamu.
Ya.. Tisu yang kata Loly untuk mengusap ingusnya yang banyak itu. Hahaha.
...****************...
Dalam kehidupan, yang berlaku bukan hanya hukum masyarakat yang tidak tertulis. Ada yang lebih tinggi dari itu.
Yakni hukum alam. Hukum alam yang hakimnya sendiri adalah sang pemilik kehidupan. Dia Tuhan semesta Alam.
Seperti yang sudah kita ketahui daei syair para pepatah. Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai.
__ADS_1
Yang berlaku baik akan mendapatkan kebaikan dan yang berlaku buruk akan menerima keburukan pula.
Seperti yang Jena alami saat ini.
Sepulang bertemu yang tak disengaja dengan Loly di salah satu mall. Jena kembali larut dengan kesedihannya. Di usia yang sudah di vonis tak bertahan lama lagi itu, ia meratapi dirinya.
Menyesal? Apakah ia pantas untuk itu? Apakah Jena masih berhak untuk merasakan itu?
"Loly sudah sangat baik selama ini, tapi kenapa aku harus terhasut oleh mama? "
"Ya Tuhanku... Apakah pantas aku menerima maaf dari sahabatku Loly? Apakah pantas jika aku menginginkannya berada di sisiku saat ini? Aku merindukan kebersamaan kami. "
Orang tua mana yang tega melihat putrinya meratapi diri begitu?
Jena menangis seorang diri di dalam kamarnya. Karena belum sempat makan siang, papanya, Jaya. Berniat akan mengantarkan sepiring nasi beserta lauk untuk Jena.
Namun baru di balik pintu, ia mendengar tangisan menyayat Jena.
Jaya pun tak bisa berbuat banyak. Karena semua ini berawal dari keburukan yang telah Erika dan Jena perbuat.
Meski begitu, Jaya akan berusaha untuk Jena, sang putri.
Jaya menghela nafas, mengatur diri agar Jena tak tahu jika Jaya mendengar tangisan putrinya tentang Loly, untuk yang ke sekian kalinya.
Tok tok tok.
Seutas senyum tulus seorang ayah tersemat di bibir Jaya. Melihat putrinya dengan mata sembab.
"Ah, cintaku, putriku. Tolong jangan bersedih. " eluh Jaya dalam hati. Tak sanggup rasanya melihat sang putri yang semasa kecil dulu ia timang-timang. Kini malah sedang menanggung kesakitan yang bisa merenggut nyawanya tanpa pamit.
Jena mengusap air matanya. Memandangi papanya dengan lekat.
"Jena minta maaf sudah jadi anak nakal pa. Jena tidak mau menjadi seperti mama. Jena mau Loly pa. "
"Ya, kamu makan siang dulu. Kita akan berusaha mendapatkan maaf dari Loly untukmu. Ingat kata dokter kan? "
Jena mengangguk lalu meraih makanan dari tangan Jaya, yang kemudian berganti mengelus rambut Jena dengan sayang.
...****************...
Beralasan rapat.
Yang biasanya ia kontrol dari rumah sejak mengambil kembali Jena dalam asuhannya. Nyatanya Jaya saat ini tengah berdiri di sebuah rumah.
"Jaya.. Kenapa hanya berdiri? Ayo masuk ! "
__ADS_1
"Oh Fika. Ya, aku permisi ke dalam. "
"Hey.. Kau ini seperti dengan siapa saja. "
Melihat Jaya yang tergagap bahkan ketika berdiri saja gugup sedemikian. Membuat Fika cemas. Ada apa gerangan dengan Jaya? Tidak seperti biasanya.
"Ehm.. Fika. Maaf jika aku lancang dan turut campur. Aku tidak tahu, apakah aku boleh bersikap seperti ini atau tidak. Tapi bolehkah jika aku meminta maaf untuk Jena padamu dan terutama Loly? "
Deg. Ada apa ini? Kenapa Jaya...
"Apa semua baik-baik saja, Jaya? Bagaimana dengan Jena? "
"Jena... Dia.. "
"Ya Jaya. Jena kenapa? "
"Dia menderita penyakit kronis, Fika. Dia sudah menyesali perbuatannya. Aku tidak tega melihatnya menangis setiap waktu. "
"Astaghfirullahal Adhiim.. Kronis bagaimana maksudmu? "
"Dia menderita kanker stadium akhir. Dan dokter.. "
"Apa Jaya, tolong jelaskan dengan benar. Bagaimana pun Jena. Dia juga putriku seperti Loly. "
"Kata dokter. Hidupnya tidak akan bertahan lama lagi. Aku harus bagaimana Fika. "
"Ya Tuhan.. Jena... Ini kamu serius, Jaya? Kau tidak sedang berbohong hanya demi maaf kan? Aku sudah memaafkan mereka Jaya. Kamu tidak perlu berbohong besar begini? "
"Aku tidak berbohong Fika. Jena memang sedang sakit. "
Melihat sorot mata sedih dan putus asa di wajah Jaya. Fika terhenyak seketika. Perasaan campur aduk yang saat ini ia rasakan.. Ah Jena.
"Ka.. Kamu tunggu sebentar. Aku akan memanggil Loly dulu. Dia harus tahu ini. "
"Tunggu, Fika! "
Mama Fika tak menyahuti lagi. Ia bergegas ke dalam memanggil Loly, yang saat ini sedang duduk manis di dalam kamar. Membaca novel yang sedang hits, hadiah dari suami tercinta.
Brak.. "Loly... "
Uhukk uhuuk uhuk.. Loly terbatuk karena terkejut.
"Ah, maaf sayang. Mama tidak tahu kamu sedang makan kue. "
Mama Fika memberikan minum lalu duduk di hadapan Loly.
__ADS_1
"Loly.. Dengarkan mama. Dan jawab pertanyaan mama. Apa kamu masih tidak ingin bertemu dengan Jena? Dia.. "