
"Sayang... Kamu masih marah? " ragu-ragu Joan bertanya, mencari tahu apakah Loly masih marah atau tidak.
Kalau dilihat dari tingkah dan raut mukanya.
Merengut masam namun terasa manis bagi Joan.
Ternyata se senang ini ya dicemburui orang yang dicinta. Begini ya rasanya. Tanpa sadar bibir Joan tertarik membentuk lengkungan senyuman kecil.
"Huh. Senyum-senyum tidak jelas. Senang jadi tontonan para gadis? Suka, jadi pusat perhatian gitu? Sana ah. Jangan dekat-dekat dengan ku.
Hahaha
Joan semakin tergelak mendengar pengusiran dari bibir istrinya yang masih a mengerucut hingga sekarang.
Di basement salah satu mall kota. Bukannya segera keluar setelah parkir mobilnya. Kedua orang ini justru melanjutkan pertikaian karena bumbu-bumbu cinta.
Huaaaa...
Loh... Kok nangis. Aduuuh... Joan menepuk jidatnya. Lupa kalau orang hamil itu sedang sensitif-sensitifnya.
Sedangkan Loly sendiri merasa sangat kesal. Tidak suka miliknya dipandang penuh minat oleh banyak wanita di luaran sana. Terlebih, mereka masih gadis.
Tau sendiri kan, bagaimana seorang gadis yang masih lajang?
Hari-hari yang mereka lalui hanya untuk memikirkan diri sendiri, sehingga memiliki banyak waktu untuk merawat diri. Tidak seperti Loly sekarang. Sudah tidak gadis tentunya, ditambah bentuk tubuhnya yang menggembung bak ikan buntal karena hamil.
Dan kini dihadapannya sendiri, suaminya malah senyum-senyum sejak tadi. Bahkan sepanjang perjalanan dari kampus ke mall ini saja sudah mecapai jarak yang cukup jauh berkilo-kilometer.
"Sepertinya kakak sudah tidak cinta lagi ya sama aku? Aku gendut ya sekarang. Jadinya lebih suka diperhatiin sama mereka yang masih sexy."
Ditengah tangisnya, dengan sesenggukan Loly mengutarakan isi hatinya. Sebetulnya ia bangga memiliki suami tampan dan menarik seperti Joan. Tapi kenapa harus menarik perhatian orang lain? Aku saja sudah cukup. Tidak untuk yang lain. Begitulah maksud Loly.
Sebelum hamil, Loly sudah sering dibuat dongkol oleh rasa cemburu ini. Namun tidak lantas membuatnya secengeng sekarang.
"Cup cup cup... Kamu jangan ngomong gitu dong sayang. Cinta ku ini hanya untuk Loly."
"Benar?" mata Loly tampak berbinar cerah mendengar bujukan yang berisi pengakuan itu.
"Tapi..."
Loh kok tapi...
"Tapi apa? Sudah mulai terganti sama yang lain gitu? Iya?"
Astaga... Joan geleng-geleng kepala mendapati Loly kembali ke mode sewotnya.
LOly hanya menyaksikan saja. Tangan yang semula menggenggam kedua telapak tangannya itu kini berpindah sebelah ke atas perut buncit Loly.
"Lihat... Di sini anak kita. Maksudku tadi, aku mau mengatakan. Kalau nanti cinta ku akan semakin bertambah setelah kehadiran buah cinta kita. Bahkan sekarang aku sudah semakin mencintaimu sayang."
__ADS_1
"Bohong." Sinis. Loly tidak ingin dibohongi. Nalurinya sebagai wanita kali ini menebak salah.
"Sini. " Joan menangkup rahang istrinya. Mengalihkan pandang agar terfokus pada dirinya.
"Tatap mataku."
Loly pun menatap tanpa ragu. Mata bening dengan kornea hitam legam. Ah sungguh sempurna ciptaan Tuhan yang satu ini. Dalam hati Loly pernah timbul sebuah keraguan, mengapa lelaki seperti Joan inginkan dirinya yang mendampingi seumur hidupnya? Bukan tidak ingin. Tapi Loly sangat yakin bahwa di luaran sana, banyak sekali wanita yang memiliki kriteria lebih dari dirinya.
"Di mata ini hanya melihatmu dan anak-anak kita kelak." lalu Joan meraih tangan Loly, meletakkannya di dada bidangnya. Tepat pada posisi jantungnya berada.
"Setiap detak jantung ini berdetak seiring denyutan nadiku, hanya nama mu yang ku sebut. Hanya kamu sayang. Jadi, jangan bersedih karena mereka memiliki minat pada suamimu. Aku akan berusaha sebaik mungkin demi kita dan anak-anak kita."
"Terus.. Tadi kenapa malah tertawa? Kan aku jadi..."
"Sudah jangan mikir yang enggak-enggak. Gimana kalau mikir yang iya-iya saja."
Sumpah. Loly ingin menimpuk muka penuh maksud suaminya ini.
"Ogah ya. Malam ini gak ada jatah. Sudah, aku mau belanja dulu. Sambil cuci mata."
"Hei sayang... Kau lupa ya, untung saja sedang hamil."
"Memangnya kenapa kalau tidak hamil? Mau KDRT?"
Astaghfirullah... Pikiran bumil ini buruk sekali. Joan angkat tangan deh.
"Kau akan gagal mendapatkan bekalmu tong. Sabar ya." Joan merutuki dirinya sendiri. Mengasihani "ehm" ny ayang harus bersabar buat iya-iya. Apalagi nanti, sepulang bertugas akan bertepatan dengan sembilan bulan usia kandungan Loly. Dengar-dengar harus berpuasa selama empat puluh hari setelah kelahiran anaknya.
***
Memasuki mall, Loly segera melangkahkan kakinya menuju outlet perlengkapan bayi.
Waah... Mata Loly berbinar cerah melihatnya. Di tempat yang sangat luas ini tersedia berbagai macam kebutuhan bayi. Mulai dari usia newborn hingga anak-anak berusia dua belas tahun. Tapi sepertinya untuk remaja juga tersedia. Cukup lengkap. Jadi Loly tidak perlu mencari perlengkapan melahirkannya ditempat yang lain lagi. Tidak perlu berpindah tempat.
"Ini akan menghemat waktuku." Pikir Loly.
Tanpa memperdulikan suaminya yang entah kenapa mendadak berwajah sedikit murung itu. Loly segera berburu keperluan bayinya.
Pertama ia akan menuju ke tempat baju-bu bayi newborn. Memilah-milah mana yang cocok. Karena ingin jenis kelamin anaknya menjadi kejutan, Loly jadi tidak bisa secara spesifik memilihkan baju untuk baby boy atau baby girl.
Akhirnya pilihan Loly jatuh pada warna yang netral. Hijau, putih dan tosca. Dari baju tidur, baju biasa , gurita , popok dan yang lain.
"Aku harus belanja apa lagi ya?"Loly masih berkeliling sambil berpikir.
"Sayang. Lihat deh! Kayaknya kita perlu beli ini."
Panggilan Joan menghentikan langkah Loly yang akan beralih ke rak mainan.
"Ah iya. Ita harus beli bak mandi, keperluan mandi dan bedak serta minyak telon. Tapi aku sudah capek berkeliling kak."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu duduk di kursi ini saja. Biar aku yang keliling mencari kebutuhan untukmu melahirkan dan keperluan bayi kita."
"Tapi... "
"Sudah sini duduk." Joan menyodorkan kursi dan mendudukkan istrinya.
"Kamu duduk di sini. Nanti aku akan membawa pilihanku kesini. Kamu bisa seleksi mana yang bagus dan tidak. Gimana? Apa kita pulang saja? Biar kamu belanja lagi kapan-kapan ditemani mama."
"Ya sudah kamu saja yang pilih. Aku nunggu di sini."
Loly sudah setuju. Kini hati Joan dibuat berdebar-debar melihat hamparan berbagai pakaian, aksesoris, dan lain-lain yang berbau tentang bayi. Rasanya tidak mengira akan menjadi seorang ayah dalam waktu dekat.
Baiklah, semua harus disiapkan dengan baik sebelum ia pergi. Agar Loly tidak kesusahan mencari apapun saat ia bertugas nanti.
Tanpa meminta bantuan para penjaga yang siap melayani, Joan berjalan kesana kemari. Mencari apa yang belum ia ambil. Sesekali menghampiri Loly untuk meminta pendapatnya.
Antusias calon ayah ini mengundang tawa Loly. Ia juga bersyukur. "Alhamdulillah, papa mu tidak malu berbelanja untukmu nak. Dia orang yang hebat. Kau bisa menjadi sepertinya nanti."
Huh huh..
Loly menoleh ke arah suaminya yang berjalan mendekat dengan peluh berjatuhan. Ruangan ini ber AC, tapi sepertinya Joan berkeringat karena terlalu lama berkeliling.
"Sudah kak?"
"Semua sudah ku letakkan di meja kasir. Sudah ku bayar juga. Sekarang kita makan dulu ya ,aku lapar."
"Nanti, barang belanjaan kita akan dikirim orang dari ini."
"Loh kok dikirim? Tidak kita bawa saja?"
"Enggak. Aku masih mau menunjukkan sesuatu padamu setelah ini. Sekarang ayao makan dulu. "
***
Haiiii...
Ada yang sudah gabung di grup chat "Teman mbak kim?"
Yuk gabung segera ya.. Di sana nanti, kita bisa bersilaturahim agar menjadi lebih dekat.
Aku ingin dekat dengan kalian gaiss.. Mengenal nama dan dari mana saja asal kota kalian. Barangkali ada yang masih satu kota denganku.
Oh ya,.. Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jempolan dan komentarnya yaaa..
Untuk pemberi gift terbanyak.
Siapapun itu, saat novel ini tamat. Kalian berhak mendapatkan gift away spesial dariku.
See you..
__ADS_1