Hai.. Tentaraku.

Hai.. Tentaraku.
Vero. Aku Tidak Mau Ada Penyesalan.


__ADS_3

Kata SAH sudah bergaung seisi ruangan telah sampai pada telinga Loly.


Rasa haru dan bahagia menyeruak menjadi satu. Tidak ada yang bisa melukiskannya selain tetes air mata kebahagiaan.


Digenggamnya tangan para sahabat yang sampai saat ini masih setia mendampingi. Dilihatnya satu persatu. Lamat ia perhatikan ekspresi Reni, Dona, Erin juga Evi yang baru saja tiba karena suatu urusan yang cukup mengejutkan baginya.


Semua merasakan kebahagiaan yang sama seperti Loly. Tapi ada yang lebih bahagia lagi. Mama Fika sangat bahagia dengan pernikahan ini.


Loly nya akan ada yang melindungi.


Berulang kali Joan mengusap air di pelupuk mata. Ia sangat bersyukur telah berhasil mempersunting sang tambatan hati.


Didampingi oleh beberapa tetua, Joan berjalan menuju salah satu ruangan tempat Loly berdiam.


Sejenak berhenti dan menoleh ke arah mama nya. Melalui sorot mata yang menyiratkan kebahagiaan. Bukan hanya dia yang berbahagia.


Sampailah ia di depan pintu yang masih tertutup. Dibaliknya telah berdiri Loly dan sahabatnya yang berada di sisi kanan kiri juga belakang. Turut serta menyambut sang pangeran.


TOK TOK TOK


Sedikit gemetar tangan Joan mengetuk pintu itu.


Krieek.


Pintu telah terbuka. Menampakkan sosok wanita cantik dalam balutan kebaya putih. Ditambah riasan hasil MUA terkenal di kota. Syar'i nan mempesona.


Masya Allah. Cantik nya bidadari surga ku. Joan.


Masya Allah. Dia suamiku. Loly


Menyambut Joan dengan kedua tangan meraih tangan Joan lalu mencium dengan takdzim.


Disanalah perasaan satu sama lain mulai terkait. Terjalin dengan erat. Loly dan Joan sudah halal.


Diantara rasa yang membuncah. Joan memberikan mahar nya kepada Loly.


"Loly, ini mahar dari ku. Mohon diterima ya. "


Dengan senyum yang mampu menawan siapapun itu. Loly mengangguk haru dan berkata


"Loly terima kak Joan. Terima kasih. "


Baru lah Joan meletakkan telapak tangannya di atas puncak Loly. Mendekati ubun-ubun dan berdoa memohon kepada Allah.


بَارَكَ اللهُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا فِي صَاحِبِهِ أَللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَاوَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَاعَلَيْهِ


“(Semoga) Allah memberkahi masing-masing dari kita dengan pasangannya. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan pasangannya, dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan pasangannya.”


Begitulah doa yang diucapkan.


Setelahnya Loly kembali mencium tangan Joan.


Semuanya meninggalkan ruangan. Bermaksud memberikan waktu kepada sang mempelai. Sebelum acara resepsi akan dimulai.


Tertinggal Joan dan Loly saja di sana.


Joan menarik Loly untuk menduduki bibir ranjang.


Gugup tiada terbilang. Mereka sama-sama diliputi rasa yang tidak biasa.


"Loly."


"Kak Joan. "


Kedua nya tersenyum.


"Loly saja duluan. "


Yang dipandangi justru tersenyum malu. Rona wajah yang tertutupi riasan itu kini tak terlihat. Blush on lebih mendominasi.


"Emm, kak Joan saja. Loly belum ada yang mau dibicarakan. "


"Benarkah? "


Lihatlah! Senyum nya menggoda sekali. Manis. Lesung di pipi nya. Ah, cantik sekali istriku.


"Iya. Kenapa kak Joan melihat Loly seperti itu? "

__ADS_1


Loly menunduk malu karena dipandangi suaminya.


Dengan lembut tangan Joan meraih dagu Loly. Diangkatnya sedikit. Mensejajarkan pandangan.


"Aku hanya memandang istriku.


Terima kasih sudah menerima ku untuk menjadi suami mu. "


"Bolehkah aku menciummu? "


Mata Loly melotot dibuatnya.


Aduh, bagaimana ini? Kenapa meminta ijin dulu. Kan kalau mau tinggal lakukan aja. Kalau ijin dulu kan aku jadi malu. Ayo Loly berfikir. Sebentar lagi resepsi dimulai. Loly berperang dengan hatinya sendiri.


TOK TOK TOK.


"Mbak Loly, kita foto dulu ya. Sudah ditunggu sama photografer. "


Akhirnya ada yang menolongku. Batin Loly lega.


Melirik ke arah Joan sebentar.


"Maaf kak, ada yang memanggil. "


Segera ia berdiri dan menuju arah pintu.


Baru maju satu langkah. Ia kembali menoleh pada suaminya.


Joan sudah berdiri dengan menggenggam tangan Loly. Menghentikan langkahnya.


Cup.


Loly terkesiap oleh tingkah Joan. Tanpa pemberitahuan mengecup kening Loly.


Belum tersadar tiba-tiba pintu sudah terbuka. Sudah nampak para MUA dan beberapa saudara.


Puk.


Joan menepuk lembut pundak Loly.


"Kita keluar sebentar ya. "


Dasar kak Joan. Dia mencuri ciuman. Loly.


"B-baik kak. "


Bak raja dan ratu. Mereka berjalan beriringan sembari bergandeng tangan. Melewati banyak orang yang sungguh terpesona dengan kedua mempelai.


Yang laki-laki tampan, bertubuh tegap atletis dan berwibawa.


Sedangkan yang perempuan, cantik, mungil dan lembut menggemaskan.


Pasangan yang sangat cocok.


Mereka menghabiskan foto di ruang tamu. Tempat berlangsungnya akad tadi.


Bergaya ala pengantin baru. Ditangan photografer handal.


Para sahabat Loly pun berfoto bersama sang pengantin baru.


Cekrek.


Potret terakhir sebelum resepsi berhasil di tangkap oleh sang juru foto.


Kini Loly dan Joan sudah berada di ruang make up. Kamar Loly.


Saatnya berganti pakaian dan memperbaiki riasan.


Joan telah selesai dengan penampilan barunya.


Mengenakan seragam kebesarannya.


Begitupun Loly. Mengenakan gaun berwarna senada dengan yang dikenakan oleh Joan.


Keduanya sudah siap untuk melanjutkan ke acara resepsi.


Meski seorang angkatan. Pernikahan Joan dan Loly tidak diiringi oleh pesta pedang pora.

__ADS_1


Bahkan semua orang hanya tahu bahwa Joan adalah tentara biasa.


Tetapi kebenarannya Joan bukan lah seorang tentara biasa. Dia adalah kapten dari pasukan elit khusus. Sehingga identitasnya harus terjaga.


Satu demi per satu susunan acara telah dilaksanakan.


Kini saatnya para tamu undangan berpamitan kepada mempelai.


Keduanya adalah raja dan ratu sehari. Sehingga menduduki singgah sananya.


Tak hentinya Joan memandangi istri cantiknya. Sebentar-sebentar menciumi tangan sang istri di depan khalayak.


"Jangan malu Loly. Kita sudah halal bukan? "


Pertanyaan konyol, batin Loly.


"Iya kak. "


"Ya sudah. Kita salami dulu para tamu ini. "


Lalu berbisik pelan dengan senyum jahil.


"Aku tidak sabar menanti malam nanti. "


Loly hanya tersenyum pasrah dengan kekonyolan Joan.


Bisa-bisanya di depan banyak orang malah membicarakan itu.


Para tamu bergantian naik ke atas panggung tempat Joan dan Loly berdiam.


Bersalaman dan mengucapkan selamat juga mendoakan kebahagiaan bagi pengantin.


Kini tiba juga giliran apalah-apalah squad.


Dengan heboh membawa berbagai macam caption.


Loly pun dibuat tertawa olehnya.


Joan pun begitu.


"Apakah mereka semua teman kamu? " Bisiknya pada Loly.


"Mereka sahabat baru ku kak. " Loly menjawab dengan bisikan juga.


"Hei pengantin baru merencanakan apa? " Seru Erin.


"Jangan-jangan merencanakan malam.. " Omongan Dona tidak dilanjutkan karena sudah dibekap oleh Evi.


Loly sempat mendengar itu dan kemudian wajah nya berubah menjadi merah seperti udang rebus.


Malu. Satu-satunya kata yang tepat.


Joan justru dibuat gemas oleh wajah Loly yang merah itu. Menggemaskan. Batinnya.


Vero, sedari tadi hanya berdiam di antara huru hara para sahabatnya.


Mengetahui itu Dona lekas berjalan ke arah Vero. Mengapit tangannya dan mensejajari posisi Loly .


"Yuk foto. "


Ajaknya tanpa rasa bersalah.


Yang lain semakin bersorak.


Cekrek.


Berbagai gaya telah diabadikan.


Para tamu juga semua sahabat Loly sudah kembali ke kediaman masing-masing.


Joan dan Loly hanya tinggal berdua di dalam kamar.


Dahi Loly mengernyit heran.


Kok kamarnya berubah?


"Semoga kalian suka dengan kamar pengantinnya. " ucap mama Fika.

__ADS_1


"Ya sudah kalian istirahat dulu. Makan siangnya nanti biar diantar mbak Eni ke kamar saja. "


__ADS_2