
Sepanjang perjalanan pulang dari panti asuhan Loly hanya berdiam diri. Tidak seperti biasanya yang selalu suka menggoda mama Fika.
Hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan di benak mama Fika. Ia tahu Loly tidak sedang baik-baik saja.
Ketika sudah sampai di rumah pun, Loly langsung turun begitu saja tanpa memperhatikan yang lainnya.
Joan yang sedari tadi bertanya-tanya dengan diamnya Loly pun semakin heran.
"Susul istrimu dulu Jo. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu." mama Joan mendekati Joan dengan menepukkan tangan di bahu putranya.
"Iya ma. Jo masuk dulu."
"Iya nak."
Berhasil menyusul istrinya yang ternyata sedang minum air putih di dapur.
Joan mendudukkan dirinya dengan tenang di samping Loly. Karena sedang minum, Loly hanya melirik kedatangan Joan.
"Kakak mau minum juga?" tanya Loly setelah menghabiskan segelas air putih dengan sekali teguk. Seperti sedang kepanasan dan ingin mendinginkan tenggorokan. Padahal memang benar sedang panas tetapi hatinya.
"Tidak. Aku hanya sedang mencari mu."
"Apa kakak membutuhkan sesuatu?" tanya Loly lagi. Dia hanya sedang minum. Kenapa dicari?
"Sampai kapan kamu akan memanggilku kakak? Apa tidak ada panggilan yang lain?" bukannya menjawab, malah Joan mempertanyakan hal lain pada Loly.
Seketika Loly melupakan hal yang sedari tadi menyusupi hatinya dan membuat resah. Dengan canggung Loly menjawab "Eh, i..itu Loly harus memanggil apa?"
Sudah Joan duga. Loly tidak terpikirkan mengenai panggilan sayang seperti pasangan pada umumnya. Hati Joan sedikit kecewa. Dibandingkan itu, dia lebih kecewa karena Loly menyembunyikan sesuatu darinya. Tentang perasaannya yang tidak baik-baik saja itu. Apa Loly masih belum mempercayai Jan sebagai seorang suami?
Joan mengangkat tangan dan meletakkannya di atas kepala Loly, menepuknya pelan lalu membelainya.
"Apa saja, selain kakak tentunya." senyum Joan lembut sekali. Hingga menimbulkan rasa bersalah di hati Loly. Apa yang sedang dia pikirkan sehingga meragukan suaminya.
"Ma..mas." Loly sedikit terbata menyebutnya. Bukan mengapa, kalau berhadapan dengan Joan, entah mengapa Loly selalu saj diliputi rasa malu.
Senyum Joan kini semakin melebar. "Baiklah, itu juga bukan panggilan yang buruk." sebenarnya Joan sedikit berharap mendapatkan panggilan yang khusus dari istrinya ini. Tapi karena Loly sudah mau mengganti panggilan dari kakak menjadi mas, Joan rasa tidak masalah.
Ingat umur Jo. Haha
Tak selang beberapa lama mama Fika sudah berdiri di dekat dua sejoli ini. Melihat raut muka Loly yang sudah berubah tidak ditekuk lagi, mama Fika menghela nafas lega.
Syukurlah Loly sudah tidak sesedih sebelumnya.
"Mama mau ngapain?" tanya Loly. Karena sudah beberapa menit berlalu mama Fika hanya berdiri dan diam menatap ke arah Loly dan Joan yang sedang mengobrol ringan.
"Mama mau minum, tapi tadi sempat lupa mau apa." balas mama Fika.
Dasar mama Fika. Apakah faktor usia? Bukan gengs. Mama Fika hanya sedang tidak jujur saja pada Loly.
***
__ADS_1
Senyum yang sangat jarang terbit di bibir seorang tuan muda Rayhan, kini tidak luntur sejak ia mulai melihat rekaman video yang menampilkan betapa memukaunya seorang wanita yang sudah membuatnya resah dan tidak bisa menahan diri beberapa saat lalu.
"Luar biasa. Ternyata dia tidak hanya pandai secara akademik. Tapi juga cerdas. " celetuk Rayhan.
Chan yang sedari tadi menemani tuan mudanya itu menjadi terheran dibuatnya. Sejak kapan tuan mudanya memiliki keahlian untuk tersenyum seperti itu?
Biasanya senyum yang Rayhan tunjukkan adalah senyum yang akan mengakibatkan kehancuran bagi lawan bisnisnya atau pada seseorang yang berkhianat darinya. Tapi lihatlah itu! Tuan muda Rayhan tersenyum lebar hanya karena melihat video seorang wanita.
Sayang sekali nasib baik tidak berpihak pada Rayhan. Karena wanita yang berhasil membuatnya seperti itu sudah bersuami. Dia Loly. Rayhan tengah memutar rekaman yang telah Chan ambil secara diam-diam saat pertemuan Chan dengan Loly beberapa hari lalu.
***
Sore ini Loly tengah menikmati waktu santainya bersama Joan dengan menonton tayangan televisi di ruang tengah.
Ketika menampilkan adegan sepasang suami istri yang tengah bahagia menyambut kelahiran putra pertamanya itu berhasil membuat Loly tertunduk. Loly tidak mampu melihatnya. Sudah anniversary kedua, tapi kenapa ia belum kunjung hamil? Joan mejadi tahu apa yang telah mengganggu istrinya saat ini. Karena dia memergoki Loly yang menunduk sambil memegang perutnya yang kecil.
Apa istrinya ini sudah ingin punya anak ya? Walaupun tidak berniat menunda, tetapi dia juga heran kenapa kabar kehamilan Loly belum juga terdengar?
"Sayang.." suara lembut Joan menyapa telinga Loly, yang tengah resah.
Loly mendongakkan kepalanya lalu menoleh ke arah samping.. Menatap Joan dengan lemah. Matanya sudah berkaca-kaca.
Astaga. Joan merasa tercubit hatinya saat melihat istrinya begini.
Joan segera meraih Loly merapatkan diri dengan mengecup lembut kening istrinya.
"Kenapa, hmm?"
Jadi benar istrinya sudah ingin punya anak. Apa yang harus Joan lakukan.
"Emm, mungkin Allah masih ingin kita menikmati waktu ini." jawab Joan yang tidak dapat memuaskan hati Loly. Membuat Loly menarik diri dari rengkuhan Joan.
Bagaimana ini? Joan tidak pandai menghibur. Apalagi wanita.
"Bagaimana kalau kita memeriksakan diri ke dokter?" usul Joan. Joan melihat mata istrinya yang tadi redup berubah sedikit cerah. Ada harapan besar di sana.
"Boleh mas. Kapan kita ke dokter?"
"Besok. Bagaimana?"
Seketika senyum Loly surut. Mata yang menampakkan harapan itu juga meredup.
"Apa tidak bisa sekarang? Besok aku harus ke LF Corp." cicit Loly.
Setelah menimbang, Joan pun meraih handphone nya. Browsing jadwal dokter kandungan yang membuka praktek hingga malam hari. Dan ketemu.
"Baiklah, kita periksa sekarang. Ayo bersiap."
Dengan semangat yang menggebu, Loly bangun dari duduknya lalu melangkah masuk ke kamar untuk bersiap. Meninggalkan Joan yang masih terbengong di tempat, di ruang tengah.
Akhirnya Loly tidak bersedih lagi.
__ADS_1
Dan tibalah mereka di depan klinik tempat dokter kandungan membuka praktek.
Setelah mendaftarkan diri, kini Loly dan Joan duduk berdampingan di ruang tunggu. Di sana tampak lumayan ramai dengan pasien ibu hamil. Ada yang masih hamil muda dan ada yang sudah hamil dengan perut yang membesar karena mendekati hari lahir.
Berulang kali Loly mengeratkan pegangan tangannya pada Joan. Berulang kali juga ia menghembuskan nafas. Gugup. Jelas saja, ini adalah pengalaman pertama Loly menyambangi dokter kandungan.
Setelah menunggu selama beberapa jam. Kini tiba giliran Loly dipanggil.
"Ibu Loly Veronica."
"Ya saya."
Loly berjalan mendekati meja suster yang menyebutkan namanya tadi.
"Silahkan masuk bu, dokter Ima sudah menunggu di dalam."
"Permisi dok." sapa Loly ketika memasuki ruangan yang kemudian pintunya ditutup oleh asisten dokter.
"Ibu Loly Veronica, usia dua puluh tahun." sebut dokter Ima.
"Iya dok."
"Baik, ada yang bisa saya bantu bu Loly."
"Kedatangan kami kemari ingin memeriksakan diri. Karena saya belum kunjung hamil."
"Sudah berapa lama menikah bu Loly?"
"Sudah dua tahun dokter."
"Baiklah ibu silahkan berbaring yang, kita akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu."
Loly telah berbaring di brankar tempat dokter memeriksa pasien.
"Maaf ya bu." ucap dokter Ima yang kemudian menyingkap atasan Loly sedikit ke atas lalu mengoleskan gel dan menekannya menggunakan alat khusus.
"Rahimnya bersih ibu, tidak nampak ada miom ataupun kista."
Dokter Ima masih menggeser-geserkan alat itu di atas perut Loly.
"Haid terakhir ibu kapan?"
"Tanggal satu dokter."
Dokter Ima melirik ke arah kalender. Sekarang tanggal dua belas.
"Baiklah karena sekarang adalah hari ke dua belas. Bagaimana kalau sekalian kita lakukan pemeriksaan melalui usg transvaginal?"
Tanpa berpikir lama Loly mengiyakan usulan dokter Ima.
Lalu nampaklah hasilnya.
__ADS_1