
"Baiklah aku tidak akan pergi ke acara Loly.
Bisakah kamu tidak pergi dari ku? "
Dasar Surya. Obsesinya terhadap Erika telah membuat otaknya tertutup. Tidak mampu berfikir logis.
Sungguh memang benar pepatah cobaan paling berat bagi lelaki adalah harta, tahta, wanita.
Dengan semangat Erika mengangguk berulang kali. Mengiyakan untuk tidak meninggalkan Surya karena telah menuruti keinginannya.
Sebenarnya, bukan Erika cemburu. Bahkan ia tidak mencintai Surya.
Hanya saja ia tidak menginginkan Surya akan berubah pikiran dan rujuk kembali bersama Fika.
Erika tahu, walaupun obsesi Surya terhadapnya masih tinggi. Tapi di hati Surya sudah mencintai Fika.
Bisa saja ia akan berubah pikiran setelah bertemu nanti. Ini tidak bisa dibiarkan.
Erika tidak rela kehilangan sumber uangnya.
"Halah. Membosankan sekali mama dan papa Surya ini. " Gumam Jena.
Surya mendengar suara Jena. Namun tidak jelas dengan gumaman dari mulutnya.
Hanya melirik dan berpamitan pada Erika. Akan membersihkan diri ke kamar.
"Baiklah mas. Aku akan menyiapkan makanan untukmu. Kita makan bersama Jena. "
"Ya."
Ceklek.
Setelah memastikan pintu kamar sudah terkunci. Barulah Surya mencoba menghubungi Fika.
"Assalamu'alaikum mas Surya. " Panggilan sudah dijawab.
"Wa'alaikumsalam. Apa benar Loly akan menikah minggu depan? "
"Iya benar. Tolong hadir ya, menjadi wali Loly. "
Surya membuncah. Takut melukai putrinya. Tapi juga tidak ingin kehilangan Erika.
"Sampaikan maafku pada Loly. Aku tidak bisa hadir dan menjadi wali nya. Besok aku akan mengirimkan surat kuasa agar bisa diwakilkan oleh hakim di sana. "
Tega sekali kamu mas Surya. Loly ini putri kandungmu. Dia putri kamu satu-satunya. Kamu sangat mencintai nya melebihi apapun. Tapi kini. Kau tidak hanya membuang ku. Lirih Fika menahan tangis dengan menggenggam erat telepon genggamnya.
"Baiklah. Nanti akan ku sampaikan. Jika bisa tolong diusahakan. " Tut.
Sial.
POV
Joan dan Loly sedang dalam perjalanan menuju butik untuk melakukan fitting.
Dibalik kemudi. Sesekali Joan menengok ke sampingnya.
"Berhenti melihat Loly kak. "
"Mubadzir." Singkatnya lalu melipat bibir menahan senyum.
Calon istrinya ini bukan wanita sederhana biasa.
Dibalik kesederhanaannya. Siapa sangka kalau dialah pemilik tunggal LF corp.
Bukan itu poin penting bagi Joan. Menurutnya mendapatkan Loly adalah anugerah. Dia yakin Loly adalah wanita yang tepat baginya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hmm? "
"Loly tidak tahu harus bahagia atau tidak.
Baru beberapa bulan lalu ibu bercerai dari ayah. Dan sekarang aku akan menikah. Aku tidak ingin meninggalkan ibu sendiri. "
__ADS_1
Dengan lembut Joan memanggil "Loly.. "
"Aku memang tidak menjanjikan yang abadi. Tapi aku akan berusaha demi kebahagiaanmu. "
"Kenapa kakak sebaik ini pada Loly?
Loly jadi merasa bersalah karena terlihat seperti belum menerima pernikahan kita nanti. "
"No problem baby. Saat ini kamu cukup fokus pada pernikahan kita saja. Mengenai yang lain. Kita urus nanti. "
"Iya. Terima kasih kak Joan. "
Kembali ke malam pernikahan Loly dan Joan.
"Apa kamu tidak gerah sayang. Kamu bisa melepas kerudung itu. Di sini tidak ada orang lain. "
"I-iya kak. "
Melihat itu Joan hanya tersenyum. Istri kecilnya sedang gugup.
"Kamu cantik sekali sayang. "
Baru pertama ini Joan melihat penampilan Loly tanpa kerudungnya segitiga favoritnya.
Dengan rambut panjang sepunggungnya. Loly memang terlihat lebih cantik. Digerai nya rambut hitam legam berkilau itu.
"Kemari lah." Joan menepuk sebelah tempat ia menduduki ranjang.
Apa akan terjadi sekarang? Bagaimana ini? Kenapa aku gugup sekali? Loly.
Setelah Loly berada disampingnya.
Grep.
Dalam sekejap Loly sudah berada di pelukan Joan.
Menyalurkan rasa sayang yang selama ini tertahan oleh berbagai hal. Terutama karena belum halal. Tidak mungkin bagi mereka untuk melakukan ini.
Cup. Joan mencium kening Loly.
Ketika sudah waktunya Joan pun menanyakan "Apakah boleh? "
Loly yang sedang gugup itu hanya menganggukkan kepala.
Sehingga Joan pun tanpa ragu memulainya.
Memulai apa yang sudah seharusnya ia lakukan sebagai lelaki dan pengantin baru.
Melihat Loly yang masih gugup. Joan berusaha membuat Loly menjadi nyaman.
Perlahan demi perlahan Loly sudah tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan.
Keduanya sama bagai kehilangan dahaga.
Tiba-tiba kesadaran Loly kembali.
"Kak, Loly mau ke kamar mandi sebentar. Maaf. "
Joan yang sudah siap menuju medan perang itu melongo dibuatnya.
Ia terduduk di bibir ranjang dengan memandangi pintu kamar mandi.
Ck. Kenapa lama sekali? Joan.
Kriek.
Loly telah selesai. Tapi kenapa ia terlihat murung?
Joan yang melihat Loly keluar dari kamar mando dengan wajah ditekuk pun mendatangi Loly.
"Apa semua baik-baik saja sayang? Apa yang terjadi? "
__ADS_1
Joan teringat dengan satu hal. Salah seorang teman pernah bercerita bahwa ia gagal menikmati malam pernikahan karena sebuah halangan. Tamu bulanan istrinya.
Jangan-jangan ini juga terjadi pada dirinya.
"Maaf kak. Loly tidak bisa. "
Sesuatu yang sudah bersitegang di tubuh Joan pun melemah seketika.
Ia meneguk kasar ludahnya.
Harus menelan pahit hasrat yang sudah membumbung.
"Ehm. Apa karena itu? "
"Hah, itu apa kak? " Loly melongo dengan pertanyaan Joan yang hanya separuh.
Itu apa?
"Apa tamu bulanan kamu datang? "
Joan menolehkan kepala ke samping setelah pertanyaan dilontarkan.
Loly merasa bersalah karena tidak bisa melayani suaminya di malam pertama. Ia menunduk dan berulang kali meminta maaf pada Joan.
Melihat ini, pun Joan juga tidak tega.
Toh bukan salah Loly juga. Ini sudah menjadi kodrat seorang wanita yang mendapati tamu bulanan di setiap bulan nya.
Begitu pun Loly. Ia juga seorang wanita.
Lalu Joan memperhatikan Loly nya. Mengangkat dagu dan menatap dengan intens kelopak yang sedang menyiratkan rasa bersalah.
"Iya sayang. Kamu tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salahmu. "
"Hanya saja dia datang bukan pada waktu yang tepat. " Sambungnya.
Hah. Joan membuang nafas.
"Okay. Ada apa dengan wajah cantik istriku ini? Kenapa masih murung, hmm? "
Cup. Mendarat di bibir Loly. Cukup kecupan saja. Joan tidak ingin membangunkan hasrat lagi.
Joan kembali memeluk istrinya.
"Tidak masalah. Kita masih punya banyak waktu. "
Ia berusaha menghibur Loly. Juga menghibur hatinya.
"Begini saja sudah cukup. "
"Ini sudah malam. Kita harus istirahat. "
Keduanya meletakkan diri di pembaringan. Bersebelahan dengan posisi saling berhadapan.
Loly masih memandangi Joan. Begitupun sebaliknya.
Tangan Joan terulur, mengelus sayang istrinya hingga tertidur.
Tengah malam Joan masih belum bisa memejamkan matanya.
Mendapati Loly yang tertidur dengan wajah yang polos, hasrat Joan tumbuh lagi.
Hah..
Joan memutuskan untuk mandi dengan menggunakan air dingin demi menghilangkan hasratnya.
Setelah mandi, ia mendapati Loly masih tertidur dengan posisi yang sama.
Joan menyentuh pipi dan kemudian turun pada bibir kecil lalu cup.
Dasar. Aku harus menunggu satu minggu lagi jika ingin.
__ADS_1
Semoga saja belum ada tugas negara hingga saat itu.